Share

6. Tamu Laki-Laki Naomi

Penulis: prasidafai
last update Tanggal publikasi: 2026-03-25 09:00:24

Raiden berjalan menaiki tiga anak tangga menuju pintu utama. Dia sempat berhenti di gagang pintu, mendadak ragu untuk masuk.

Biasanya, Naomi akan berdiri di balik pintu utama setiap kali Raiden pulang. Wanita itu akan tersenyum lembut, lalu mengatakan sesuatu.

“Raiden? Kau pulang lebih cepat hari ini?

Atau mungkin ….

“Jangan duduk dulu. Cuci tanganmu, Sayang. Makan malam hampir siap.”

Namun kali ini Raiden tidak melihat siapa pun di sana.

Raiden melepas dasinya sambil berjalan ke ruang tamu.

Aroma cokelat manis yang selalu identik dengan kehadiran Naomi di rumah ini, kini tidak tercium lagi.

Raiden menyapu pandangannya ke sekeliling rumah dengan raut wajah datar.

Tidak ada air mata di wajahnya, tetapi dada pria itu terasa kosong, seperti lubang besar yang tidak bisa diisi apa pun.

Raiden pernah berpikir bahwa dia sudah tidak lagi mencintai Naomi.

Sejak hari dia mengetahui bahwa Naomi mengandung anak pria lain, hatinya terasa mati. Perasaan yang dulu hangat berubah menjadi dingin, bahkan pahit.

Raiden merasa dikhianati dan dipermainkan.

Pria itu merasa seluruh pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan.

Namun kenyataan bahwa Naomi benar-benar pergi, tetap terasa seperti pukulan keras yang tidak pernah Raiden duga.

Raiden mengangkat tangan dan menekan pelipisnya.

Kepala pria itu berdenyut. Migrainnya datang lagi.

“Lucy!” panggil Raiden.

Tidak ada jawaban.

“Lucy!” panggilnya lagi, sedikit lebih keras. “Di mana obat sakit kepala yang biasa Naomi simpan?”

Tetap tidak ada jawaban.

Raiden mengernyitkan dahi.

“Apa Lucy masih berada di pemakaman?” tanya Raiden pada dirinya sendiri.

Raiden menoleh ke arah dapur.

“Ah … sudahlah.”

Raiden menghela napas panjang dan melonggarkan kancing pertama kemejanya sambil berjalan menuju dapur.

Lampu dapur masih menyala. Segala sesuatu tampak rapi seperti sebelum Naomi pergi dari rumah.

Raiden berdiri di depan laci dapur, lalu menariknya terbuka.

“Bukan di sini,” desah Raiden saat melihat sendok dan garpu yang tersusun rapi.

Dia menutupnya kembali dan membuka laci lain.

Beberapa bungkus obat terlihat di dalamnya.

Raiden mulai mengaduk-aduk isi laci, mencoba menemukan obat sakit kepala yang biasa Naomi berikan padanya saat migrainnya kambuh.

Namun sebelum tangannya menemukan apa yang dicari, suara pintu utama yang terbuka mengalihkan perhatian pria itu.

Raiden berhenti bergerak. Ada langkah milik dua orang yang datang.

Suara Lucy terdengar lebih dulu.

“Sera, kau yakin kita tidak perlu mengatakan apa pun pada Kak Raiden?”

Raiden mengerutkan alis.

“Lalu menurutmu kita harus bagaimana?” Sera terdengar sedikit panik. “Pria itu jelas mengatakan sesuatu yang sangat aneh tadi!”

Raiden menutup laci perlahan.

Pria itu sedikit memiringkan kepala. Dia tidak berniat menguping.

Namun kata-kata mereka membuat Raiden tidak bisa bergerak.

“Benarkah pria itu mengatakan begitu?” tanya Sera lagi, seperti sedang memastikan.

“Aku sudah bertanya padanya beberapa kali,” jawab Lucy pelan. “Dia tidak pernah punya hubungan apa pun dengan Kak Naomi.”

Raiden membeku.

Jantung Raiden seperti berhenti berdetak.

Di ruang tamu, Sera terdengar menarik napas tajam.

“Lalu … bagaimana dengan bayi dalam kandungan Kak Naomi?”

Ada jeda beberapa detik, sebelum akhirnya Lucy menjawab, “Ya jelas itu anak Kak Raiden.”

Raiden merasakan sesuatu meledak di dalam dadanya.

“Tidak mungkin anak pria itu,” lanjut Lucy.

Detik berikutnya, Raiden berjalan cepat menuju ruang tamu dengan rahang mengeras.

Lucy dan Sera baru saja meletakkan tas mereka ketika sosok tinggi Raiden muncul dari lorong dapur.

“Kak Raiden ….”

Lucy terkejut.

"Kami pikir, Kakak belum pulang," ucap Sera dengan mata membola.

Namun Raiden sudah berdiri di depan mereka dengan tatapan tajam seperti pisau.

“Apa yang barusan kau katakan?”

Suasana ruangan langsung membeku.

Lucy menelan ludah dengan susah payah.

“K-Kak Raiden–”

“Aku bertanya,” potong Raiden penuh penekanan, “apa yang barusan kau katakan?”

Sera menatap Lucy dengan gugup.

Sementara Lucy sendiri tampak pucat.

Raiden melangkah lebih dekat.

“Bayi dalam kandungan Naomi, itu anakku?” tanya Raiden tegas.

Lucy menggigit bibirnya. Tangan gadis itu gemetar dan matanya berair.

“Aku … aku juga baru tahu, Kak.”

Raiden tidak berkedip. “Jawab pertanyaanku!"

Lucy menatap lantai beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Iya …” Suara Lucy hampir tidak terdengar. “Itu anak Kak Raiden.”

Lucy menunduk. Isak tangisnya mulai terdengar.

Raiden berdiri diam seperti patung. Sementara pikirannya berkelana.

Selama berbulan-bulan, Raiden yakin Naomi mengandung anak pria lain.

Raiden juga yakin istrinya berselingkuh dan semua cinta yang pernah mereka miliki hanyalah kebohongan.

Namun sekarang, apa yang sebenarnya terjadi?

“Pria itu sendiri yang mengatakan dia tidak pernah menyentuh Kak Naomi,” lanjut Lucy di tengah isak tangisnya. “Aku sudah bertanya padanya berkali-kali.”

“Dia bahkan terlihat marah ketika aku menuduhnya.” Sera menambahkan pelan.

Raiden menatap mereka berdua bergantian dengan datar. Namun tangannya perlahan mengepal.

“Kenapa baru sekarang kalian mengatakan ini?!” bentak Raiden.

Lucy mendongak, memperlihatkan wajahnya yang basah oleh air mata.

“A-aku baru bertemu pria itu tadi siang setelah pemakaman Kak Naomi,” jawab Lucy terbata-bata. “Dia datang mencariku.”

“Dia mengatakan semua rumor itu salah. Kak Naomi tidak pernah berselingkuh dengannya,” sambung Lucy dengan suara bergetar.

Raiden menghela napas panjang.

Namun napas itu terasa seperti serpihan kaca di dadanya.

“Lalu selama ini .…?” gumamnya.

“Aku pertama kali mendengar soal Kak Naomi sering menerima tamu laki-laki dari para tetangga di sini, jadi aku berusaha memberi tahu Kak Raiden. Aku juga tidak tahu kenapa semua orang bisa berpikir begitu.” Lucy menutup mulutnya dengan tangan.

Raiden tertawa pahit. Dia menatap langit-langit rumah dengan tatapan kosong.

“Jadi selama ini …” Raiden menelan ludah. “Istriku tidak berselingkuh?”

Lucy tidak berani menjawab.

Raiden tertawa lagi. Kali ini lebih pelan dan terdengar menyakitkan.

“Dan bayi yang dia kandung …” Tangan Raiden mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. “Itu anakku?”

Lucy menunduk. Air mata jatuh di pipinya semakin deras.

Sera segera merangkulnya, berusaha menenangkan gadis itu.

Raiden mengalihkan pandangan ke jendela.

Langit di luar sudah mulai gelap.

Beberapa jam yang lalu dia berdiri di pemakaman militer, menyaksikan peti mati Naomi diturunkan ke dalam tanah.

Raiden bahkan tidak meneteskan air mata saat itu.

Karena dia yakin Naomi telah mengkhianatinya.

Namun sekarang ….

Raiden menutup matanya sebentar. Satu tetes air mata mengalir dari sana.

“Jadi …”Suara Raiden terdengar serak ketika dia berbicara lagi. “Bukan hanya istriku yang pergi, tapi aku juga telah kehilangan anakku sendiri?!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
rianur378
m****s kau Raiden,,,
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
rasain Rayden...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   228. Satu Kali Lagi

    Tasya perlahan menghentikan gerakan tangannya. Pisau yang sedari tadi digunakan untuk mengiris lemon diletakkan pelan di atas talenan. Suara kecil dari logam yang menyentuh kayu terdengar begitu jelas di tengah dapur yang mendadak sunyi. Wanita paruh baya itu berbalik. Wajahnya dipenuhi penyesalan. Mata Tasya yang mulai memerah menatap Naomi cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas berat. “Sejak sebelum kita bertemu di pemakaman dan melihat Dante,” ucap Tasya lirih, “Mama sebenarnya sudah menyadari kalau kamu adalah Naomi.” Naomi membeku. Bibirnya sedikit terbuka. Jantung wanita itu berdetak lebih cepat. Tasya menundukkan kepala sesaat. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. “Itu sebabnya, waktu itu Mama memaksamu mengantar Mama pulang,” lanjut Tasya sambil menggenggam kedua tangan Naomi yang mulai dingin. Naomi menatap wajah wanita paruh baya itu tanpa berkedip. “Mama sengaja memasak ayam kukus lemon …” Tasya tersenyum pahit. “Makanan kesukaanmu.” Naomi m

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   227. Misi Raiden Setelah Menikah

    Malam itu adalah malam terakhir mereka menginap di vila kecil yang menghadap laut. Selama satu minggu penuh, Naomi dan Raiden meninggalkan segala urusan dunia, hanya berdua untuk saling menikmati. Tidak ada panggilan kerja, tidak ada jadwal, hanya hembusan angin laut dan suara ombak yang menemani setiap detik keintiman mereka. Tubuh Naomi masih persis seperti yang Raiden ingat. Lembut, hangat, dan begitu responsif di bawah sentuhannya. Begitu pula tubuh Raiden. Otot-otot pria itu tegang dan kulitnya yang terbakar oleh sentuhan Naomi, semuanya masih sama seperti dulu, bahkan lebih kuat dan penuh hasrat setelah sekian lama menahan rindu. Kini, di ranjang besar yang berantakan, Raiden berbaring telentang di samping Naomi dengan napas terengah-engah. Dada bidangnya naik turun cepat, keringat menetes di pelipis dan lehernya. Tangan kanan Raiden masih berada di pinggang Naomi, jari-jarinya sesekali mengusap kulit halus istrinya. Naomi menoleh, rambutnya yang acak-acakan menjuntai di b

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   226. Pesta Sehari Penuh

    Air mata Naomi terus mengalir. Dada Naomi terasa sesak oleh begitu banyak perasaan yang bercampur menjadi satu. Tidak pernah sekalipun Naomi membayangkan bahwa pria yang dulu pernah melepaskannya kini berdiri di hadapannya sambil mengucapkan janji yang begitu indah. Janji yang jauh lebih hangat, lebih dewasa, dan jauh lebih berarti daripada janji yang pernah mereka ucapkan bertahun-tahun lalu. “Kini giliran mempelai wanita.” Pendeta tersenyum lembut. Naomi menarik napas panjang. Dia menggenggam kedua tangan Raiden lebih erat. Tatapan mereka bertemu. Senyum tipis menghiasi bibir Naomi. “Raiden, suamiku.” Raiden terkekeh pelan mendengar panggilan itu. Naomi ikut tersenyum. “Kalau ada seseorang yang mengatakan kepadaku bertahun-tahun lalu bahwa suatu hari aku akan kembali berdiri di altar ini bersamamu, mungkin aku akan menangis karena me

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   225. Jauh Lebih Indah

    Naomi membeku. Wanita itu menutupi mulut, sementara matanya membelalak.Semua ini benar-benar di luar dugaannya.Jantung Naomi berdetak begitu cepat hingga telinganya sendiri seolah dapat mendengar iramanya.Hening hanya berlangsung beberapa detik. Lalu dari berbagai sudut studio terdengar sorakan.“Terima!”“Terima!”“Terima!”Naomi menoleh ke kanan dan ke kiri. Barulah saat itu dia benar-benar memperhatikan wajah-wajah yang sejak tadi duduk di dalam studio.“Papa?”Vance berdiri sambil tersenyum lebar dan mengacungkan kedua ibu jarinya.Di sampingnya, Brandon ikut bertepuk tangan.Alex sudah berdiri sambil bersiul keras.Olivia melambaikan kedua tangannya dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Clara tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk penuh semangat.Di baris belakang, Tasya duduk dengan mata sembap, tetapi kali ini senyumnya jauh lebih tenang.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   224. Sangat Terlambat

    “Apa yang dia punya dibanding aku?”Rahang Raiden masih mengeras saat mengucapkan kalimat itu.Naomi justru tersenyum semakin lebar.Wanita itu mendongak, lalu mengangkat kedua tangannya untuk memegang rahang Raiden.Dengan gemas, Naomi menarik wajah pria itu hingga sedikit menunduk. Jarak mereka kembali menjadi begitu dekat.“Bercanda,” bisik Naomi dengan nada jahil.Raiden masih menatapnya tanpa berkedip.“Lagipula, aku tidak mungkin balas menciummu kalau punya pria lain,” lanjut Naomi sambil tersenyum tipisBeberapa detik berlalu.Raiden mengembuskan napas panjang.“Kurang ajar.”Naomi terkekeh puas.“Aku cuma–”Belum sempat kalimatnya selesai, Raiden sudah kembali mendekat, berniat mencuri satu kecupan lagi.“Ehem!”Suara deham yang sengaja dikeraskan membuat keduanya langsung membeku.Naomi dan Raiden spontan menjauh. Mereka menoleh ber

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   223. Dibanding Aku

    “Mari, ikut saya, Bu. Kita akan menyusul Sera.” Brandon membukakan pintu mobil untuk Tasya. Wanita paruh baya itu mengangguk pelan. Wajahnya masih sembap akibat terlalu lama menangis. “Terima kasih.” Brandon membantu Tasya masuk ke kursi penumpang sebelum mengitari mobil menuju kursi pengemudi. Mobil perlahan meninggalkan halaman apartemen, mengikuti arah ambulans yang telah lebih dahulu membawa Sera. Tatapan Tasya kosong mengarah ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, tetapi semuanya tampak buram di balik genangan air mata yang terus mengisi pelupuk matanya. Brandon beberapa kali melirik ke arah Tasya. “Ibu butuh sesuatu?” Tasya menggeleng pelan. “Saya hanya sedang berpikir, sebenarnya sejak kapan saya gagal menjadi seorang ibu.” Brandon mengembuskan napas panjang. “Saya rasa bukan Ibu yang gagal

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   185. Tertunda Lagi

    Tok. Tok. Tok.Ketukan di jendela mobil membuat Naomi tersentak.Naomi hampir melompat dari kursinya.Sementara Raiden hanya menoleh tenang ke arah sumber suara.Begitu melihat siapa yang berdiri di luar, Naomi langsung menarik kedua tangann

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   154. Jalan-jalan

    Vance terdiam lama. Sorot mata pria paruh baya itu bergetar saat menatap putrinya sendiri yang kini duduk di samping ranjang dengan air mata membasahi pipi. Naomi menunduk, masih menggenggam tangan Vance erat-erat seolah takut pria itu kembali jatuh sakit kalau dia melepaskannya. Monitor jantu

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   125. Pikiran Kotor

    Nicolle membaca surat penugasan Raiden yang sudah berpindah ke tangannya, dengan wajah datar sambil berdiri di sudut posko enam yang agak sepi, jauh dari hiruk-pikuk tenaga medis yang masih bergerak di lorong utama. Cahaya pagi yang jatuh tepat di atas kertasnya, membuat tinta hitam di sana terliha

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   123. Sepasang Kekasih Provokatif

    Raiden menoleh pelan ke arah Nicolle. Entah kenapa, kalimat terakhir Nicolle terasa seperti tamparan baginya.“Pria yang katanya sangat mencintai saya, ternyata sibuk menyenangkan wanita lain, sementara saya dan anaknya tengah berjuang untuk tetap hidup.”Raiden memper

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status