ログイン“Saya hanya berdiri di sini.” Raiden tidak mengubah posisinya sedikit pun. “Kenapa Dokter Nicolle marah-marah?”
Nicolle menatap Raiden tidak percaya. Alis Nicolle langsung bertaut. Beberapa detik wanita itu hanya menatap Raiden tanpa berkata apa-apa. Dalam hati, Nicolle benar-benar bingung. Bagaimana pria ini bisa naik pangkat hingga Mayor? Hal sepele yang secara logis bisa membuat siapa pun kesal saja tidak Raiden mengerti.Gideon berdeham pelan sambil menatap satu per satu orang yang masih berada di halaman belakang. Semua mata tertuju kepadanya, menunggu apa pun yang akan keluar dari mulutnya.Semua orang, kecuali Vance. Karena hanya mereka berdua yang selama ini mengetahui cerita itu.Gideon akhirnya menoleh pada bawahan paling setianya itu.“Bagaimana, Vance?” tanya Gideon pelan. “Ini cerita tentang kedua putrimu. Saya akan menghormati keputusanmu sebagai ayah mereka.”Seketika seluruh perhatian beralih kepada Vance.Pria itu diam cukup lama. Lalu mendengkus.“Rencananya, cerita ini tidak akan disembunyikan selama ini,” ucap Vance akhirnya. “Perasaan bersalah saya pada Naomi begitu besar. Sampai-sampai saya takut menceritakan kondisi kesehatan adiknya.”Vance menatap putrinya.Jantung Naomi berdegup lebih cepat.“Sekitar 28 tahun lalu,” lanjut Vance pelan, “saat Naomi berusia tiga tahun, Nicolle yang baru berusia satu
Naomi hampir saja berdiri mengikuti Vance dan Brandon ke dalam rumah. Namun sebuah tangan menahan pundaknya.“Jangan.” Suara Raiden terdengar tegas. “Kamu di sini saja. Jaga Aveline dan yang lain.”Naomi menoleh.Tatapan mereka bertemu sesaat.Pria itu sudah mengenakan ekspresi yang biasa Raiden pakai sebelum menghadapi sesuatu yang berpotensi berbahaya.Naomi mengangguk pelan.Raiden mengusap puncak kepala Naomi singkat sebelum berbalik.Begitu Raiden pergi, Alex langsung mengikuti dari belakang tanpa banyak bicara.Melihat itu, Naomi spontan menoleh ke arah putrinya.“Aveline, sini sayang.”Gadis kecil itu yang sejak tadi sibuk memperhatikan dekorasi pesta langsung berlari kecil mendekat.“Ada apa, Ma?”“Tidak ada apa-apa.” Naomi menarik Aveline berdiri di dekatnya. “Di sini saja dulu.”Aveline menurut tanpa membantah.Sementara itu, Olivia dan Henry saling
Naomi tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar tulus.Kepergian dari Palvenia terasa berat. Namun mengetahui masih ada orang-orang yang peduli padanya membuat dada Naomi menghangat.“Saya akan rutin menghubungi Dokter Henry dan Perawat Olivia,” janji Naomi.Henry mengangguk pelan.“Saya akan menagihnya jika Dokter Nicolle lupa.” Pria paruh baya itu melirik ke arah Olivia yang masih berdiri membeku seperti patung. “Ah ya, berpamitan pada Perawat Olivia pasti lebih sulit.”Olivia langsung menoleh. “Dokter Henry!”“Semoga berhasil, Dokter Nicolle,” lanjut Henry tanpa rasa bersalah.Naomi tertawa kecil. Kemudian dia menoleh ke arah Olivia.“Ada waktu sebentar untuk mengopi?” tanya Naomi.Mata Olivia perlahan memerah.“Kalau mau pergi, pergi saja, Dokter,” sahut Olivia berusaha terdengar tegar. “Palvenia dan Lavel masih satu negara. Zaman sekarang,
Senyum di wajah Naomi sudah menghilang bahkan sebelum mereka tiba di depan ruang Direktur Utama RSPU.Kotak perhiasan kecil yang dibawanya terasa dingin di tangan kiri.Sementara itu, Raiden berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara. Namun dari langkah pria itu, siapa pun bisa melihat bahwa suasana hatinya sama sekali tidak baik.Begitu mereka sampai di depan pintu ruangan, salah satu penjaga langsung mengangkat tangan.“Maaf, Mayor.” Pria itu tampak gugup. “Yang diizinkan masuk hanya Dokter Nicolle.”Naomi bahkan belum sempat bereaksi.Raiden sudah melangkah melewati penjaga itu.“Kalau begitu anggap saja saya tuli.”“Mayor–”Raiden sama sekali tidak berhenti.Pria gagah itu membuka pintu dan mempersilakan Naomi masuk lebih dulu.Di dalam ruangan, Dante sudah duduk santai di sofa. Di sebelahnya terdapat ayah dan ibunya. Ketiganya menoleh bersamaan saat Naomi dan Raiden masu
Naomi membuka mulut.Namun sebelum sempat menjawab, ponselnya berdering nyaring. Getaran itu memecah ketegangan yang menyelimuti koridor.Naomi menunduk.Nama yang muncul di layar membuat dahinya sedikit mengendur.[Mayor Raiden.]Olivia ikut melirik layar ponsel itu.“Dari Mayor Raiden?” tebak Olivia.“Iya.” Naomi mengangguk pelan.“Kalau begitu saya lanjut bekerja dulu, Dokter.”Tanpa menunggu jawaban, Olivia langsung berbalik.Beberapa langkah kemudian wanita itu masih sempat melambaikan tangannya.“Dokter berutang cerita pada saya!” teriak Olivia.“Ya, ya.” Naomi tidak bisa menahan senyum tipis.Naomi mengangkat ponselnya.“Ya, Raiden?” Naomi menempelkan ponsel ke telinga sambil menatap lobi rumah sakit yang terlihat ramai dari kejauhan.Namun senyum kecil yang sempat muncul itu lenyap hanya dalam hitungan detik.Wajah Naomi dengan cepat
Sesuatu menghimpit dada Naomi. Tatapannya masih terpaku pada pintu ruangan tempat Clara dirawat.Naomi memang belum lama mengenal Clara. Bahkan beberapa minggu lalu mereka masih saling menatap sinis hampir setiap kali bertemu.Namun sekarang, wanita itu terbaring tidak sadarkan diri. Naomi tidak bisa menghentikan satu pikiran yang terus berputar di kepalanya.‘Clara mengalami semua ini karena aku,’ batin Naomi sambil mengepalkan tangan.“Bagaimana dengan keluarganya?” Raiden menatap Henry dengan wajah serius. “Apa mungkin ada yang datang?”Naomi menoleh sekilas. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan Raiden.Dalam situasi seperti ini, emosi keluarga korban bisa meledak kapan saja.Jika keluarga Clara tahu bahwa kecelakaan ini mungkin berkaitan dengan konflik Naomi dengan seseorang, bukan tidak mungkin mereka akan menyalahkan Naomi.Meski Naomi tidak terlibat secara langsung.Henry menggeleng pelan. “Tidak
Aveline mengangguk pelan. Wajah gadis kecil itu penuh rasa bersalah. Alis kecil Aveline bertaut dan bibirnya gemetar menahan isak tangis yang belum selesai. “Aku bilang dia jahat, tapi dia dolong aku,” jawab Aveline terputus-putus. “Telus aku ambil lego, aku tidak sengaja sek
Lampu lalu lintas di persimpangan jalan menyala merah. Nicolle terlambat menyadari, setengah detik sebelum akhirnya kakinya menginjak rem dengan cukup keras untuk membuat tubuhnya terdorong ke depan. Dari belakang, klakson panjang langsung menyalak.
“Ada renovasi kecil dan Tuan Dante ikut membantu para tukang bangunan.” Olivia tersenyum lebar, matanya berbinar. “Pertunjukan pagi hari yang bagus, Dokter Nicolle harus melihatnya. Ayo!” “Nanti, Olivia, aku harus–” Sebelum Nicolle sempat menolak, tangan Olivia sudah
“Apa?!” Nicolle tidak bisa menahan diri untuk tidak memekik. Nicolle langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Meski terlambat, karena reaksi spontan tanpa filter itu sudah terdengar. Sama sekali tidak mencerminkan seorang dokter yang menerima laporan kondisi







