Share

17. Bertemu Lagi

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-04-02 21:03:15

“Oke … ini nyaman,” ucap Nicolle yang tengah duduk di depan cermin meja riasnya.

Wanita itu sedikit membungkuk, mendekatkan dirinya dengan cermin. Sebuah lensa kontak baru sudah terpasang di mata kiri Nicolle.

Di meja rias itu, botol kecil cairan antibakteri masih terbuka. Dua kotak lensa kontak baru tergeletak di sampingnya.

Lensa itu sudah direndam selama 24 jam penuh sebelum Nicolle menggunakannya, sesuai instruksi di kemasan.

Nic
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   37. Nicolle-ku

    Di RSPU, tidak ada yang tidak mengenal Dante Emilio. Meski Dante tidak memakai scrubs, atau pun seragam medis lainnya, dan tidak memiliki jabatan resmi sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit ini, sosoknya tetap jauh lebih terkenal daripada ayahnya sendiri, pemilik RSPU. Wajah tampan Dante sangat mudah diingat, terutama dalam ingatan para wanita. Cerita tentang bagaimana Nicolle Phyer yang selalu bersikap dingin, secara tidak sengaja mengubah Dante dari playboy yang mengoleksi banyak wanita menjadi pria yang hanya mengejarnya selama dua tahun, sudah tersebar cukup jauh di beberapa kalangan RSPU. Bahkan Dante-lah yang menginisiasi renovasi rooftop menjadi taman, begitu mengetahui Nicolle sering mencari udara segar di sini saat awal bertugas. Para koas baru di hadapan Nicolle pasti sudah mendengar versi cerita itu. Dante menatap mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki penuh penilaian.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   36. Jam Istirahat

    Kartu ucapan itu masih berada di tangan Nicolle ketika wanita itu menoleh ke kanan. “Di boks makanan kamu, ada kartu ucapan seperti ini?” tanya Nicolle pelan, tidak mau menarik perhatian yang lain. Nicolle mengangkat sedikit kartu yang tadi dia temukan. Residen itu berhenti mengunyah. Dia melirik kartu di tangan Nicolle sebentar, lalu menggeleng. “Tidak ada, Dokter.” “Tidak ada?” Nicolle memastikan lagi. “Tidak,” jawabnya santai. “Cuma makanan saja.” Nicolle mengangguk pelan. “Begitu, ya.” Dia tersenyum tipis sebelum menurunkan kartu itu kembali ke dalam boks. Wanita itu merasa sedikit lega. Berarti para residen tidak tahu kalau Dante yang mengirim semua boks ini. Namun Nicolle juga tidak berniat memberitahu mereka. Biarkan saja mereka mengira kalau Nicolle yang mengirimkannya. Itu lebih baik. Semakin sed

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   35. Penggemar Rahasia atau Penggemar Berat?

    Nicolle spontan tersenyum tipis. Namun dia segera menghapusnya. “Dasar tidak tahu diri,” gumam Nicolle pelan. Dia meraih catatan itu, menggumpalkannya dalam genggaman, dan membuangnya ke tempat sampah di bawah meja. Kemudian Nicolle mengambil ponselnya, memotret boks makanan itu, dan mengirim foto ke grup residen. “Kenapa belum ada yang mengambil?” Pesan itu belum genap satu menit terkirim ketika pintu ruang residen sudah terdorong terbuka. Seorang residen tahun pertama masuk setengah berlari, matanya langsung jatuh pada boks makanan di atas meja Nicolle. “Wah, hari ini boks makanannya datang lagi, ya?” Dia mendekat dengan antusias. “Kami kira tidak ada yang datang seperti kemarin, jadi tidak begitu berharap.” Dia melirik ke arah Nicolle dengan mata berbinar. “Boleh buat saya, Dokter?” “Ambil saja.” Residen itu tersenyum lebar seketika

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   34. Dokter Penanggung Jawab

    “Mama Aveline tidak mau menjawab?” Nicolle tidak perlu menoleh untuk tahu itu suara milik siapa. Suara langkah wanita itu mendekat. Iris berhenti tepat di hadapannya. Dia melipat tangan di depan dada sambil sedikit menengadahkan dagu. Wanita itu tampak rapi seperti biasanya. Rambut ditata sempurna, riasan wajah nyaris tanpa cela, dan tas bermerek menggantung di lengannya. “Bagaimana, Mama?” desak Iris sambil tersenyum sinis. “Dijawab dong?” Nicolle menghela napas panjang. “Saya tidak seperti itu,” jawab Nicolle sambil mengangkat kedua alisnya. “Memangnya saya terlihat seperti wanita yang bisa disimpan?” Nicolle begitu percaya diri. Meski tidak merias wajah atau memakai pakaian bermerek seperti Iris, wanita itu masih terlihat jauh lebih menarik. Nicolle memang terlalu bersinar untuk sekadar menjadi wanita simpanan. Iris membuka mulut, l

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   33. Raiden Berhenti Mengirim Makanan?

    Tidak ada siapa-siapa yang mendekati meja Nicolle hari ini. Nicolle menatap layar monitor di ruang pengawas CCTV itu sampai matanya sedikit memerah. Meja kerja Nicolle di ruang residen terlihat jelas dari sudut kamera, dan selama delapan jam terakhir, tidak satu pun orang yang meletakkan boks makanan di sana. Bukan terlambat atau diambil duluan. Namun memang tidak dikirim. “Tidak ada siapa-siapa yang pergi ke meja Dokter.” Satpam di sebelah Nicolle ikut memperhatikan layar. Kemudian dia menoleh. “Mungkin flashdisk Dokter jatuh di koridor? Saya bantu carikan ya, Dokter?” Nicolle menoleh ke arah pria itu. Nicolle memang memakai alasan flashdisk hilang untuk mendapatkan izin masuk ke sini. Alasan yang paling tidak memerlukan banyak penjelasan. “Tidak perlu, Pak. Terima kasih.” Nicolle berdiri sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Saya beli saja yang baru.”

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   32. Selamat Bertugas!

    [Dokter Nicolle Phyer, selamat atas jabatan barunya.] Kalimat itu muncul di layar komputer Nicolle dalam bentuk dokumen resmi yang baru saja masuk ke surelnya. Surel dari Henry itu tiba pukul empat sore kurang sepuluh menit. Nicolle hampir tidak percaya ketika membukanya. Dokumen resmi berlambang RSPU, lengkap dengan tanda tangan para petinggi rumah sakit dan Henry di bagian paling bawah, menyatakan dengan tegas bahwa mulai hari ini, dr. Nicolle Phyer resmi ditunjuk sebagai dokter penanggung jawab Mayor Raiden Vargas. Nicolle mematung di depan layar komputer di ruang residen, jemarinya tidak bergerak di atas keyboard. Henry menyelesaikan dokumen resmi itu hanya dalam beberapa jam setelah mereka berbicara di lorong. Nicolle pasti sangat membuat Henry murka hingga pria paruh baya itu bisa melakukan hal segila ini. Dering ponsel di atas meja memutus lamunan Nicolle.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   25. Daripada Menunggu Dia Datang

    Nicolle tersentak. Wanita itu memutar tubuh sebelum otaknya sempat memberi perintah, dan selama satu detik penuh, semua filter yang biasanya dia pasang rapi di antara pikiran dan mulutnya mendadak tidak berfungsi. “Raiden?” Nama itu k

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   24. Menutup Pintu

    Beberapa detik pertama, tidak ada yang bersuara. Di kejauhan, tawa anak-anak yang belum pulang masih terdengar samar. Nicolle tidak langsung menjawab. Wanita itu masih menatap Iris dengan tenang, tetapi kali ini lebih dingin dari sebelumnya. Sudah sejak lama, Nicolle tidak menyukai perkumpulan

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   23. Komite Orang Tua

    “Iris Cooper, B.A.,” jawab wanita itu sambil menyibakkan rambutnya ke belakang bahu. Deretan gelang emas di pergelangan tangannya bergerincing pelan. Cahaya matahari siang memantul pada logam kuning itu, membuat kilauannya semakin mencolok. Dua huruf t

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   22. Dua Tahun Lagi

    Abu terakhir surat itu mengendap di dasar asbak. Nicolle menarik napas panjang. Dia mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pena. Kemudian tangannya mulai bergerak. “Papa jangan khawatir. Aku bisa menjaga diri di sini. Memang yang terpenting untukku adalah tidak lagi bertemu dengan Raiden. A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status