Accueil / Romansa / Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku / 87. Pria yang Mendidik Naomi

Partager

87. Pria yang Mendidik Naomi

Auteur: prasidafai
last update Date de publication: 2026-04-28 21:07:45

Vance pernah bilang kalau selalu ada kemungkinan telepon mereka disadap.

Jadi baik Nicolle, maupun Vance, tidak boleh menyebut nama asli masing-masing jika memang harus berkomunikasi menggunakan telepon.

Kode ‘Melati’ adalah untuk Nicolle.

“Jelaskan kenapa kau bertemu Badai!” Suara berat itu menghantam telinga Nicolle tanpa peringatan.

Tidak ada sapaan, apalagi basa-basi.

Jantung Nicolle langsu
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (6)
goodnovel comment avatar
rianur378
terus setelah ini apa Nicole?
goodnovel comment avatar
rianur378
iya heran sama Naomi,,, padahal dia udah ganti identitas mestinya lebih santai dari pada memikirkan yang belum tentu terjadi,,,terus setelah ini apa?
goodnovel comment avatar
rianur378
apa ku bilang,,, kenapa Nicole g titipin Ave ke kakek nya aja?dan kenapa Nicole harus mengasingkan diri padahal dia udah ganti identitas? apa Nicole masih mengharapkan kembali pada Raiden padahal keluarga Raiden g suka sama Naomi? keluarga toxic itu bahkan Raiden pun terpengaruh,,,huh
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   217. Henti Jantung

    Suara gaduh terdengar samar di telinga Naomi.“Tekanan darah turun. Cepat, pindahkan ke ruang operasi!”“Jalur infus kedua sudah terpasang!”Kelopak mata Naomi bergerak pelan.Cahaya lampu yang menyilaukan langsung menyambut Naomi. Pandangannya masih kabur. Langit-langit putih rumah sakit bergerak perlahan di atas kepalanya.Naomi merasa tubuhnya berguncang mengikuti laju brankar yang didorong cepat di sepanjang koridor.Wajah-wajah panik para tenaga kesehatan menjadi pemandangan pertama yang berhasil ditangkap matanya.“Bu? Bu, apa Anda bisa mendengar saya?”Seorang dokter berlari di samping brankar sambil menyorotkan senter kecil ke mata Naomi.Naomi berusaha menjawab. Bibirnya sedikit terbuka. Namun rasa nyeri luar biasa langsung menjalar hingga ke rahangnya.“Ugh ....”Suara yang keluar hanya erangan pelan.“Jangan dipaksa bicara,” ujar dokter itu cepat. “Kami akan menanga

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   216. Raiden Memanggil

    Naomi menarik napas pendek.“Dante Emilio,” jawab Naomi.Di seberang telepon, Vance langsung terdiam.Beberapa detik kemudian terdengar suara kursi bergeser, seolah pria paruh baya itu baru saja menegakkan duduknya.“Putra pemilik RSPU yang kamu curigai sebagai dalang di balik kecelakaan Clara?” tanya Vance memastikan.“Iya, Pa,” jawab Naomi.Vance mengembuskan napas pelan.“Kalau soal itu, bersabarlah sekitar dua hari lagi,” pinta Vance.“Kenapa?” Naomi mengernyit.“Bukti terakhir sedang diverifikasi,” jawab Vance.Naomi langsung mendesah. “Bukannya tadi Papa bilang bisa menyelesaikannya sebelum aku sampai rumah? Perasaanku tidak enak, Pa. Dante sedang ada di Lavel.”“Dan ...” Naomi menggigit bibir bawahnya. “Dia sepertinya memiliki hubungan dengan Lucy.”Beberapa detik berikutnya tidak ada suara apa pun dari ujung telepon.Keheningan itu justru membuat Naomi semakin

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   215. Tukang Ngambek

    “Tante ....”Suara Naomi nyaris tidak terdengar.Melihat wanita yang selama bertahun-tahun selalu tampak tegar kini menangis tanpa mampu mengendalikan diri, dada Naomi terasa sesak.Tanpa berpikir panjang, Naomi bangkit dari kursinya. Dia perlaahan memeluk Tasya.Pelukan itu membuat Tasya sesaat membeku. Detik berikutnya, seluruh pertahanan wanita paruh baya itu runtuh.“Maaf ... maaf ....” Isaknya pecah semakin keras.Tasya membalas pelukan Naomi sambil menangis tanpa suara. Bahunya bergetar hebat. Air mata terus mengalir hingga membasahi bahu dan dada pakaian Naomi.Naomi hanya mengusap pelan punggung wanita paruh baya itu.Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Kadang, tangisan adalah cara terbaik untuk mengeluarkan semua penyesalan yang terlalu lama dipendam.Naomi memejamkan mata.Selama ini Naomi selalu berpikir bahwa orang-orang yang menyakitinya harus menerima balasan dari tanga

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   214. Dihukum

    Naomi perlahan meletakkan sendoknya.“Papa hanya ingin Raiden fokus pada kasus,” ucap Naomi tenang. “Dan supaya Raiden bisa fokus, tentu Papa harus melindungi orang-orang yang Raiden sayang.”Tasya mengangguk pelan.Senyum tipis muncul di bibir wanita paruh baya itu, tetapi matanya masih menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.“Ya,” balas Tasya lirih. “Untuk itu saya sangat berterima kasih. Namun tetap saja, sepertinya sebanyak apa pun kami meminta maaf dan berterima kasih, itu tetap tidak akan setimpal dengan apa yang terjadi pada Naomi.”Naomi hanya membalas dengan senyum tipis yang terasa canggung.Bagaimanapun juga, orang yang sedang meminta maaf kepadanya tidak tahu bahwa Naomi yang dibicarakan sedang duduk tepat di depannya.Keheningan kembali memenuhi meja makan.“Kenapa saya merasa Tante seperti orang yang berbeda dibanding saat hari pemakaman Lucy, bahkan dibanding saat kita bertemu di rumah sakit

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   213. Seperti Putri Sendiri

    Pisau di tangan Tasya berhenti tepat di tengah potongan wortel. Bahu Tasya sedikit menegang. Mata yang tadi tenang kini tampak berkaca-kaca.Tasya berbalik menatap Naomi sambil tersenyum. Senyum yang begitu tulus hingga membuat Naomi sedikit kehilangan kata-kata.“Tidak perlu,” jawab Tasya lembut. “Kecuali kamu mau istirahat, silakan pakai kamar depan.”Naomi berkedip. Reaksi itu sama sekali tidak sesuai dengan yang dia bayangkan.Kalau ini terjadi sembilan tahun lalu, Tasya mungkin sudah menyerahkan sapu, pel, lap meja, dan daftar pekerjaan rumah lain sebelum Naomi sempat duduk.Namun sekarang? Wanita paruh baya itu justru mempersilahkannya beristirahat.“Kenapa kami diperlakukan berbeda?”Pertanyaan itu keluar begitu saja.Tasya terdiam.Sementara Naomi menggenggam sandaran kursi. Sebenarnya bukan itu yang ingin dia tanyakan.Yang ingin Naomi ketahui adalah kenapa Tasya berubah? Kenapa wanita

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   212. Menjadi Tamu

    “Dokter Nicolle mengenalnya?” Bisikan itu muncul tepat di belakang telinga Naomi.“Ah!” Naomi tersentak keras. Jantung Naomi seperti melonjak ke tenggorokan. Secara refleks dia melompat menjauh sambil memegangi dada.Beberapa langkah darinya, Tasya berdiri dengan wajah penuh penyesalan.“Maaf.” Wanita paruh baya itu mengangkat kedua tangannya. “Saya tidak bermaksud membuat Dokter kaget.”Naomi mengembuskan napas panjang. Dadanya masih naik turun akibat kejutan mendadak itu.“Tidak apa-apa,” jawab Naomi setelah napasnya kembali normal.Naomi melihat Tasya membawa sebuket bunga mawar putih segar. Tampaknya wanita paruh baya itu hendak mengunjungi makam Lucy.Pandangan Naomi kembali mengarah ke makam Lucy.Dante masih berada di sana.Pria itu berdiri membelakangi mereka. Bahunya sesekali bergetar. Entah sedang menangis atau tenggelam dalam pikirannya sendiri. Yang jelas, dia sama sekali tidak men

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   150. Yang Seharusnya Bertemu, Akan Menemukan Jalannya

    Dokter itu melirik Naomi, seolah memastikan apakah wanita itu boleh mendengar tentang kondisi Vance atau tidak.“Dia aman,” sela Brandon meyakinkan.Dokter itu akhirnya menganggguk.“Jenderal Vance sudah melewati masa kritis.”Naomi mengembu

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   149. Naomi, Raiden, dan Lavel

    Naomi mengangkat kedua alisnya. “Pindah rumah sakit?” ulang wanita itu pelan, jelas terkejut. Tatapan Naomi langsung beralih pada Brandon, meminta penjelasan lebih lanjut. “Tidak dijelaskan alasan dan ke mana Mayor dipindahkan. Data seor

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   145. Terbagi Dua

    Naomi perlahan menoleh.Tiga pasang mata memindai Naomi dari ujung kepala hingga ujung kaki.Naomi membalas tatapan itu satu per satu.Lucy tampak paling kacau di antara mereka. Rambut wanita itu sedikit berantakan, napasnya terengah, dan kedua matanya se

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   147. Terserah Kamu

    Naomi menatap Lucy beberapa detik tanpa berkedip.Senyum tipis di bibir wanita itu tidak berubah sedikit pun, tetapi justru itulah yang membuat Lucy perlahan kehilangan kata-kata.Koridor rumah sakit mendadak terasa sunyi.Lucy yang biasanya selalu pandai

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status