MasukNicolle menoleh pada Mia dan memberikan kode supaya wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah. Dia tidak ingin Mia kembali membocorkan hal lain pada Raiden tanpa disadari.
Mia menoleh sekilas ke arah Raiden, lalu kembali pada Nicolle. “S-saya permisi.” Mia segera berbalik dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Pintu utama tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan Nicolle dan Raiden yang masih berdiri berhadapan di halaman rumah. Tidak ada jalNaomi tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar tulus.Kepergian dari Palvenia terasa berat. Namun mengetahui masih ada orang-orang yang peduli padanya membuat dada Naomi menghangat.“Saya akan rutin menghubungi Dokter Henry dan Perawat Olivia,” janji Naomi.Henry mengangguk pelan.“Saya akan menagihnya jika Dokter Nicolle lupa.” Pria paruh baya itu melirik ke arah Olivia yang masih berdiri membeku seperti patung. “Ah ya, berpamitan pada Perawat Olivia pasti lebih sulit.”Olivia langsung menoleh. “Dokter Henry!”“Semoga berhasil, Dokter Nicolle,” lanjut Henry tanpa rasa bersalah.Naomi tertawa kecil. Kemudian dia menoleh ke arah Olivia.“Ada waktu sebentar untuk mengopi?” tanya Naomi.Mata Olivia perlahan memerah.“Kalau mau pergi, pergi saja, Dokter,” sahut Olivia berusaha terdengar tegar. “Palvenia dan Lavel masih satu negara. Zaman sekarang,
Senyum di wajah Naomi sudah menghilang bahkan sebelum mereka tiba di depan ruang Direktur Utama RSPU.Kotak perhiasan kecil yang dibawanya terasa dingin di tangan kiri.Sementara itu, Raiden berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara. Namun dari langkah pria itu, siapa pun bisa melihat bahwa suasana hatinya sama sekali tidak baik.Begitu mereka sampai di depan pintu ruangan, salah satu penjaga langsung mengangkat tangan.“Maaf, Mayor.” Pria itu tampak gugup. “Yang diizinkan masuk hanya Dokter Nicolle.”Naomi bahkan belum sempat bereaksi.Raiden sudah melangkah melewati penjaga itu.“Kalau begitu anggap saja saya tuli.”“Mayor–”Raiden sama sekali tidak berhenti.Pria gagah itu membuka pintu dan mempersilakan Naomi masuk lebih dulu.Di dalam ruangan, Dante sudah duduk santai di sofa. Di sebelahnya terdapat ayah dan ibunya. Ketiganya menoleh bersamaan saat Naomi dan Raiden masu
Naomi membuka mulut.Namun sebelum sempat menjawab, ponselnya berdering nyaring. Getaran itu memecah ketegangan yang menyelimuti koridor.Naomi menunduk.Nama yang muncul di layar membuat dahinya sedikit mengendur.[Mayor Raiden.]Olivia ikut melirik layar ponsel itu.“Dari Mayor Raiden?” tebak Olivia.“Iya.” Naomi mengangguk pelan.“Kalau begitu saya lanjut bekerja dulu, Dokter.”Tanpa menunggu jawaban, Olivia langsung berbalik.Beberapa langkah kemudian wanita itu masih sempat melambaikan tangannya.“Dokter berutang cerita pada saya!” teriak Olivia.“Ya, ya.” Naomi tidak bisa menahan senyum tipis.Naomi mengangkat ponselnya.“Ya, Raiden?” Naomi menempelkan ponsel ke telinga sambil menatap lobi rumah sakit yang terlihat ramai dari kejauhan.Namun senyum kecil yang sempat muncul itu lenyap hanya dalam hitungan detik.Wajah Naomi dengan cepat
Sesuatu menghimpit dada Naomi. Tatapannya masih terpaku pada pintu ruangan tempat Clara dirawat.Naomi memang belum lama mengenal Clara. Bahkan beberapa minggu lalu mereka masih saling menatap sinis hampir setiap kali bertemu.Namun sekarang, wanita itu terbaring tidak sadarkan diri. Naomi tidak bisa menghentikan satu pikiran yang terus berputar di kepalanya.‘Clara mengalami semua ini karena aku,’ batin Naomi sambil mengepalkan tangan.“Bagaimana dengan keluarganya?” Raiden menatap Henry dengan wajah serius. “Apa mungkin ada yang datang?”Naomi menoleh sekilas. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan Raiden.Dalam situasi seperti ini, emosi keluarga korban bisa meledak kapan saja.Jika keluarga Clara tahu bahwa kecelakaan ini mungkin berkaitan dengan konflik Naomi dengan seseorang, bukan tidak mungkin mereka akan menyalahkan Naomi.Meski Naomi tidak terlibat secara langsung.Henry menggeleng pelan. “Tidak
Raiden perlahan melepaskan pelukannya. Kedua tangan pria itu berpindah ke bahu Naomi.Tatapan mereka bertemu di bawah sorot lampu helipad yang terang.“Jangan bicara sembarangan,” pinta Raiden. “Tidak akan ada yang berani melakukan hal buruk padamu, selama kamu ada di bawah pengawasanku.”Naomi tahu pria itu tidak menyukai kalimat yang baru saja dia ucapkan.Kalimat tentang dirinya yang bisa saja mati. Karena itu, Naomi hanya tersenyum tipis.Senyum kecil yang tidak berhasil menghilangkan kekhawatiran dari wajah Raiden.Beberapa saat kemudian, mereka meninggalkan rumah sakit.Karena Raiden sedang berada di Palvenia, pria itu bersikeras mengantar Naomi kembali ke rumah yang dulu pernah ditempati Naomi dan Aveline.Rumah itu masih sama. Tenang, sepi, dan penuh kenangan.Begitu masuk ke dalam, Naomi baru saja meletakkan tasnya ketika Raiden sudah bergerak lebih
Naomi membeku.Sementara itu, Dante justru tertawa.“Lihat wajahmu,” gumam Dante.Jantung Naomi berdebar sangat kencang.Darah seolah mengalir mundur dari wajahnya. Tubuhnya terasa ringan sekaligus lemas.Namun bertahun-tahun hidup dalam kebohongan membuat Naomi terbiasa menyembunyikan kepanikan.Naomi perlahan menarik napas, memaksa dirinya tetap tenang.“Aku tidak mengerti kenapa kamu menyebut nama mendiang kakakku,” tukas Naomi.Tatapan Dante semakin dalam. Lalu pria itu tersenyum licik.“Awalnya aku juga menyangkal itu. Namun kemudian aku mengingat sesuatu,” balas Dante. “Malam itu kamu bilang bahwa dirimu yang sekarang bukanlah dirimu yang sebenarnya. Kamu bilang ada banyak masa lalu yang kamu sembunyikan. Itu alasanmu untuk terus mendorongku menjauh. Sekarang semuanya menjadi jelas.”Dante tertawa pelan.Naomi ingat dia pernah mengatakan hal itu saat Dante terus mendesaknya membe
Ting! Pintu lift berdenting pelan begitu tiba di lantai tujuh. Naomi melangkah keluar lebih dulu tanpa menoleh ke belakang. Umpannya sudah dilempar. Sekarang tinggal menunggu apakah Clara akan memakannya atau tidak. Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangan Naomi. “Ikut saya,
“Namun di sisi lain, Mayor Raiden kembali mengimbau masyarakat untuk ikut mengawal proses penyelidikan agar kasus ini berjalan secara transparan dan tanpa intervensi.”Naomi yang semula hanya mendengarkan sambil lalu kini mengalihkan seluruh perhatiannya pada layar ponsel.Repor
Dante mengernyitkan dahi. “Ya. Ada apa?”Naomi tidak langsung menjawab. Tatapannya tertahan pada wajah pria itu.Haven Bistro adalah boks makanan yang tidak seharusnya berada di mejanya, menggantikan boks makanan Odden Table dari Raiden.Dante baru saja p
Pesan singkat itu membuat sendok di tangan Naomi berhenti di udara.Beberapa detik lalu Naomi masih menikmati makan siangnya dengan tenang. Kini jantungnya seperti dijepit sesuatu yang dingin.Naomi buru-buru mengetik balasan.“Serius? Tapi ada catatan di







