LOGINNamun, Laras tidak berhenti ia bahkan lebih dulu membuka celana Damar lalu mulai menyentuh batangnya yang ternyata sudah mengeras akibat sentuhan kedua wanita itu.
Dalam hati Damar, ‘Ugh ini benar-benar terasa sangat mantap. Mereka benar-benar memuaskan ku atas bawah!’ia pun mencium lebih dalam lagi bibir Sekar sambil menekan wajah gadis itu ke arahnya.“Hnggh …hmph!”Sekar merasakan lidah Damar yang meliuk-liuk di dalam mulut Sekar membuatnya hampir tiSekar meminum obatnya, kemudian Damar masuk ke kamar mandi.—Esok harinya Damar berjalan keluar hutan bersama Sekar. Udara pagi masih terasa dingin.Cuaca masih terlihat gelap karena cahaya matahari belum menembus ke dalam hutan. Langkah kaki mereka berjalan cepat, setiap hembusan nafas yang keluar dari hidung membentuk embun tipis di udara.“Di mana kamu memarkirkan mobilnya?”“Ada di dekat sini. Aku sengaja memasukkannya sedikit ke dalam hutan yang areanya ada sedikit lahan kosong.”Saat mereka jalan sedikit ke depan barulah terlihat mobilnya.Pertama kali Damar melihat mobil ituatanya langsung membulat dengan kedua alis yang terangkat.“Ini terlihat masih baru. Apa kamu yakin kalau yang kami beli ini bekas?” tanya Damar.Sambil mendekati mobil itu Damar mengamatinya lebih seksama.Sekar menekan tombol kunci yang ada di tangannya. Sehingga mobil itu berbunyi dan sempat membuat Dama
Tangan Damar menyentuh pucuk kepala Sekar, mengusapnya lembut.“Apa sekarang kamu tidak mau menjelaskannya? Hem …!”“Lihat, kamu malah bersembunyi.”Pinggang Sekar yang ramping saat tangan Damar memegangnya terasa rapuh. Jadi tangan Damar pun hati-hati saat mengangkat tubuhnya hingga membuat wajah Sekar tidak lagi bersembunyi.Karena Damar mengangkatnya, jadi tinggi wajah mereka jadi sejajar. Sehingga wajah mereka bisa saling menatap satu sama lain.“Mbah, kenapa tiba-tiba menggendongku?”Saat kakinya berada di udara tidak lagi menginjak lantai. Sekar memegang erat di kedua pundak Damar saat merasakan dirinya diangkat.“Itu karena kamu tidak berbicara dengan jelas atas apa yang kamu inginkan!”“I-itu …!” Kedua pipi Sekar menggembung, ia menyipitkan matanya sambil memukuli pelan dada Damar.“Padahal Mbah tahu itu, gimana sih!”“Eh, kamu jadi kesal?”Damar langsung tertawa, men
Kali ini Damar membacakan mantra sambil meniupkannya ke arah bejana berisi air yang ada di hadapannya. Ia berusaha untuk membantai air yang ada di dalam bejana itu. Kemudian barulah Damar menambahkan seutas benang berwarna merah memasukkannya ke dalam air. Mulutnya masih berkomat-kamit membacakan mantra, dengan tangan yang terus bergerak di atas permukaan air. Di dalamnya benang merah itu sudah terendam sempurna sehingga meresap air yang ada di dalamnya. Setelah beberapa lama ia menyelesaikan mantra dan akhirnya kembali mengambil benang warna merah itu dari dalam air. Dengan benang berwarna merah itu Damar mulai membuat simpul hingga membentuk sebuah gelang yang harus dipakai oleh Raka. Saat sudah selesai dibuatnya, barulah benang itu terlihat seperti gelang. “Berikan tanganmu aku akan segera memasangkannya di tanganmu sekarang juga!” Raka mengulurkan tangannya se
“Aku rasa sebaiknya biar pakai punyaku saja. Tabungan uang yang ada di dalam akun bankmu biar kamu saja yang simpan.”“Tidak, aku juga mau—”“Tidak Sekar, itu adalah hakmu. Tetapi bukankah bagus jika seperti itu? Bagaimana jika suatu saat nanti kita butuh uang dalam jumlah banyak secara mendadak?”“Bukankah nanti bisa pinjam uang yang ada di dalam akunmu? Anggap saja sebagai uang jaga-jaga untuk milikmu.”Sejenak Sekar juga memikirkan hal itu, tidak ada ruginya jika mereka menyimpan uang untuk jaga-jaga nanti jika terjadi sesuatu di lain waktu. Atau jika nanti ada sesuatu yang membuat mereka terdesak sehingga membutuhkan uang. Maka mereka pasti akan membutuhkan uang itu dengan segera jadi akhirnya Sekar pun mengangguk.“Baiklah, aku akan mendengarkan Mbah. Jadi uang di akun ku akan tetap tersimpan.”“Ya, buat seperti itu.” Sekar mendekatkan dirinya sampai menempel di bahu Damar.“Hari ini karena tidak
“Dia akan segera sadar. Jadi duduklah dengan tenang,” ucap Damar.Saat melihat Suryani yang masih mencemaskan suaminya yang belum juga sadar.Namun seperti yang dikatakan oleh Damar barusan. Kalau Santoso akan segera sadar, baru beberapa saat damar mengatakan hal itu. Sekarang tangan Santoso mulai bergerak kemudian kelopak matanya akhirnya perlahan terbuka.Santoso sadarkan diri awalnya pandangannya terlihat buram, tetapi perlahan ia bisa melihat dengan jelas. Serta wajah Suryani yang langsung mendekat, menunduk melihat ke arahnya sambil berderai air mata.“Sayang kamu nggak apa-apa kan?”Suryani membiarkan suaminya membaringkan kepalanya di atas pahanya.“Sekarang aku merasa baik-baik saja. Tolong bantu aku duduk!”Santoso pun akhirnya duduk dibantu oleh istrinya. Ia menoleh pada Damar lalu menundukkan kepala sambil berkata,“Mbah Dukun, terima kasih atas bantuannya. Berkat Mbah, saya sekarang merasa
Air yang berada di dalam bejana itu langsung berubah menjadi warna hitam. Itu berarti kekuatan gaib sudah diserap oleh benda itu. Sehingga itu sebabnya air berubah jadi hitam. Mantra yang dibacakan oleh Damar sambil diiringi dengan suara lonceng di tangannya. Membuat udara sekeliling mereka terasa berat.Jelas meskipun tidak terlihat tetapi kekuatan yang dipancarkan oleh Damar membuat situasi jadi seperti itu.Kekuatan gaib yang berasal baju yang direndam oleh Damar itu memiliki aura gaib yang sangat kental dengan ilmu hitam.Maka dari itu hanya merendamnya saja sudah terlihat kalau air yang ada di dalam bejana saat ini berubah menjadi semakin pekat dan warnanya lebih hitam dari sebelumnya.Mengucapkan mantra damar kembali membuka matanya sambil menunduk melihat ke air dalam bejana.“Aku rasa dukun yang mengendalikan suamimu ini memiliki tingkat kekuatan ilmu hitam yang tinggi.”“Jadi bagaimana Mbah?”







