Teilen

Bab 2

last update Veröffentlichungsdatum: 07.07.2026 21:37:45

Tangan Damar menyentuh dagunya dengan percaya diri. “Aku bahkan bisa tahu apa yang sedang kamu sembunyikan selama ini. Atau bahkan melihat jauh ke dalam dirimu.”

“Kalau begitu Mbah pasti bisa membantu saya!”

Karena merasa ada harapan, Laras maju sedikit ke depan mencondongkan tubuhnya.

“Namun, apa kamu yakin mau melakukan ritual yang mungkin akan membuatmu menolak?”

Bagi Damar untuk membuat Laras hamil bukanlah hal yang baru pernah dilakukannya. Dulu seorang selir kejaraan bahkan sudah pernah mendatanginya untuk permintaan yang sama dan Damar berhasil membantunya hamil setelah melakukan ritual dengan caranya. Asalahkan sesajen dan keperluan ritual terpenuhi maka ia bisa melakukan ritual itu untuk kliennya.

Saat ini Laras sudah membulatkan tekatnya ia tidak mungkin menolak meski agak ragu apakah dia bisa melakukannya tapi Laras tetap mengangguk setuju.

“Aku … akan bersedia melakukannya. Ritual apapun itu Mbah, asalkan saya bisa hamil!”

Kalimat yang diucapkan Laras membuat Damar tersenyum meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Namun, di malam hari ia yakin tubuhnya akan berubah jadi lebih sehat dan perkasa jadi bisa bergerak leluasa untuk menjalankan ritual.

“Dengan satu syarat, kamu tidak boleh bertanya atau protes yang perlu kamu ketahui hanyal melakukan ritual saja.”

Lagi-lagi Laras mengangguk saat mendengar ucapan Damar.

“Aku berjanji tidak akan bertanya ataupun protes. Tetapi kapan ritualnya akan dimulai?” tanya Laras, yang mulai merasa tidak sabar untuk melakukannya.

“Hmm … datanglah dalam dua hari lagi karena aku perlu mempersiapkannya. Dan … sebaiknya kamu membawa beberapa sesajen yang aku butuhkan, jangan lupa untuk membawa ayam berwarna yang seluruh tubuhnya berwarna hitam dan beberapa telur juga.”

Damar menggerakkan kakinya perlahan karena ia baru saja sadar kembali jadi kakinya terasa ngilu saat digerakkan. Meski begitu ia berusaha memusatkan kekuatan energi supernaturalnya agar otot kakinya jadi lemas dan mudah digerakkan.

“Baiklah, aku akan datang dua hari lagi.” Laras baru saja berdiri.

“Ah, satu lagi kamu harus merahasiakan apa yang kamu lakukan. Jangan membawa orang lain ke sini atau memberitahukan pada mereka kalau kamu datang padaku. Tapi setelah ritual selesai barulah kamu bisa memberitahu mereka jika kamu mau.”

Laras langsung menjawab, “Aku akan mengingatkannya!”

Tubuh Laras berbalik, ia pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat karena hari mulai sore dan sebelum malam ia harus keluar dari hutan yang dilewatinya tadi.

Sementara Damar tetap berada di sana karena itu merupakan tempat tinggal gurunya jadi ia berniat untuk mencari gurunya. Namun, saat akhirnya berdiri dan melangkah keluar dari tempat tadi.

“Haah …! Apa itu?”

Damar terkejut saat melihat ke atas langit ada sebuah pesawat yang melintas. Di situ ia sadar kalau zaman sudah berubah dan ternyata ia sudah sangat lama tertidur. Damar mengira setidaknya dirinya terbangun setelah beberapa puluh tahun kemudian. Namun, ternyata waktu sudah berlalu sangat lama hingga ke masa depan yang sangat jauh.

Wajah Damar jelas terlihat sangat bingung sudah berapa jauh zaman berubah? pikirnya.

Kemudian Damar mengingat kalau Laras tadi memakai pakaian yang sangat berbeda dari zaman dulu yang hanya memakai secarik kain yang dililitkan. Berbeda dengan jahitan dan model baju Laras sangat bagus dan rapi dengan warna dan ada motif di bagian depan bajunya.

“Zaman sudah secanggih ini hingga mengahasilkan pakaian yang sebagus itu? Bahkan barusan ada sesuatu melintas di udara apa itu juga buatan manusia?”

Banyak pertanyaan di dalam pikiran Damar membuatnya gelisah saat berdiri di bawah pohon beringin di depan halaman rumah tua milik gurunya lalu di samping kiri ada sebuah bendungan air menyerupai kolam yang dalamnya sudah berlumut.

Damar pun yakin setelah melihat-lihat sekitar di sana hanya tersisa dirinya seorang diri. Tidak ada siapa-siapa yang akan membantunya seketika suasana jadi sangat sepi hanya suara hembusan angin yang terdengar dari celah pohon dan dedaunan.

“Aku benar-benar sendirian, dengan penampilan tua yang masih melekat,” gumamnya dengan nada lirih.

Namun, detik berikutnya ia segera menepuk kedua pipinya dengan keras. “Tidak! Karena sudah hidup sampai di era ini aku harus berusaha agar melepaskan kutukan yang melekat!”

Sek, sek!

Suara langkah kaki dari belakang terdengar awalnya Damar mengira kalau Laras kembali ke tempatnya lagi tetapi suara langkah kaki itu berbeda.

Prang!

Sebuah kendi terbuat dari tanah liat terjatuh dari tangan seorang wanita muda. Matanya membola saat menatap Damar yang sedang berdiri dan berbalik melihat ke arahnya.

Tangan wanita muda itu langsung menutup mulutnya yang hendak berteriak karena terkejut seakan baru saja melihat hantu.

“Hmmhph …!”

Gadis itu lalu mengucek-ucek matanya memastikan apa yang dilihatnya itu bukan hanya sekedar roh yang lepas dari tubuh. Karen ia bisa melihat hal-hal yang gaib tapi bisa melihat roh-roh yang gentayangan. Namun, saat melihat kaki Damar yang menginjak tanah ia jadi yakin kalau pria tua di hadapannya benar-benar manusia.

“Hidup, Mbah! Kamu hidup!” Akhirnya suaranya keluar setelah tangannya tidak lagi menahan mulutnya sendiri.

“Siapa kamu?!” tanya Damar karena seharusnya tidak ada siapa-siapa lagi di sana.

“Sekar namaku Sekar! aku cucu dari penjaga tempat ini. Tidak-tidak, maksudku tempat ini milik kakek buyutku yang harus dijaga oleh keluarga kami secara turun-temurun.

Sebenarnya yang selalu menjaga di sini adalah cucu laki-laki tetapi aku adalah keturunan terakhir yang tersisa. Jadi kakek menyuruhku sesekali datang ke sini untuk bersih-bersih dan melihat tempat ritual tempat Mbah tertidur.”

“Kamu tidak takut lagi padaku?” Damar melihat sikap Sekar yang cepat berubah.

“Tidak, tadi aku hanya terkejut saja mengira kalau Mbah sudah mati karena selama ini Mbah sudah tetap hidup meski tertidur. Aku juga bisa melihat jiwa atau roh seseorang jadi saat Mbah tertidur aku melihat jiwamu. Tapi …”

Sekar mengernyitkan keningnya karena jujur saja ia merasa aneh.

“Apa yang kamu lihat?”

Sekar melihat lebih dekat pada Damar. “Aku melihat kalau jiwa yang bersemayam dalam tubuhnya Mbah terlihat sangat muda. Tapi bagaimana bisa ya? Setiap kali aku bertanya pada kakek dia selalu tidak mau jawab.”

“Yang kamu lihat itu adalah jiwa asliku yang belum pernah menua karena aku mendapatkan kutukan setelah gagal melakukan ritual terlarang. Dulu aku masih muda tapi setelah kegagalan itu aku jadi menua dan tertidur.”

Damar hanya menjelaskan sedikit saja tapi setidaknya di sana ia tidak sendiri karena ada Sekar.

“Ohh … jadi ada kejadian seperti itu? Aku kira karena sudah lama tertidur jadi membuat Mbah menua.”

Apa yang dikatakan Sekar membuat Damar mengangguk setuju.

“Ya seharusnya mungkin memang begitu jika aku hidup normal sebelumnya mungkin saja akan menua dan mati. Namun, tidak demikian.”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 128

    Sehingga mereka bisa bicara dengan serius. Damar melihat Dewi yang sepertinya agak kedinginan setelah berjalan masuk ke hutan malam-malam sendirian.Damar mengambilkan selimut berukuran sedang lalu memberikannya kepada Dewi.“Pakai ini, kamu pasti kedinginan pergi ke sini malam-malam.”Tangan Dewi pun dengan cepat mengambil selimut itu dan memakainya. Rasa hangat langsung dirasakannya setelah itu.“Uhm … makasih ya, Mar.”Pandangan Dewi melihat sekeliling ruang tengah, dia sama sekali tidak melihat siapa pun di sana dan hanya ada Damar seorang.“Di sini nggak ada siapa-siapa, maksudnya kakek atau gadis bernama Sekar itu nggak ada?”Damar pun kembali beralasan, “Kakekku, dia ada urusan. Kalau Sekar, dia pergi kuliah ke Kota. Jadi di sini hanya aku seorang saja.”“Ah, begitu. Kebetulan sekali sebenarnya aku datang ingin bertemu denganmu.”Dewi pindah tempat duduk tepat di samping Damar. Dengan sengaja Dew

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 127

    “Jadi kiriman mantra guna-guna pemikat itu akan teralihkan pada boneka ini?”“Benar, boneka itu akan menyerap dan menanggung guna-guna pemikat itu. Maka secepatnya adik iparmu akan segera sadar dari pengaruh guna-guna dan akan kembali pada istrinya.”“Itu beneran, kan, Mbah?” tanya Joko memastikan.Damar menyentuh jenggotnya sambil mengangguk dengan yakin,“Iya, itu benar adanya, jadi kamu bisa tunggu saja. Akan tetapi, jika adik iparmu itu tidak juga kunjung pulang dan tidak ada yang terjadi, maka kamu bisa datang lagi ke sini.”Mendengar itu tentu saja membuat Joko jadi lebih tenang dan pastinya percaya pada Damar. Karena jika tidak berhasil maka ia hanya perlu datang ke sini lagi untuk menuntutnya.“Kalau begitu saya akan pulang ke rumah adik saya dulu. Untuk hasilnya akan ditunggu sampai dua hari ke depan, jika tidak berhasil maka saya akan datang lagi ke sini.”Damar dengan santai menjawab, “Ya, aku akan selalu

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 126

    “Hah, apa maksud Mbah Dukun? Mungkinkah adik ipar saya dalam bahaya?” tanya Joko.“Itu bisa saja terjadi, saat ini adik iparmu juga sering mengingat kembali istrinya. Namun, wanita itu tidak mau membiarkannya begitu saja. Karena hal itu dia terus menekan ingatan dengan ritual ilmu hitam.”Damar kembali menjelaskan, “Jika wanita itu terus melakukan hal itu secara terus-menerus. Maka hal itu akan membuat kondisi dari adik iparmu dalam bahaya. Jadi sebelum terlambat kita harus adakan ritual khusus itu secepatnya.”Joko sempat terdiam beberapa saat dan memikirkan kondisi adik iparnya dan juga adiknya jika dia sampai kehilangan suaminya.“Aku … tidak bisa membiarkan adik iparku dalam bahaya hanya karena wanita perebut itu!”Dengan tangan yang mengepal kuat Joko bertekad akan membuat adik iparnya kembali pada adiknya.Damar segera memanggil Ririn yang berada jauh dari pondok. Kemudian dia kembali melihat ke arah Joko.

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 125

    “Ya, aku harus mencari cara untuk mengeluarkannya. Apa sebaiknya aku gunakan artefak saja, ya?”“Uhm … bukankah maaf itu adalah milik para penyihir? Di zaman sekarang, bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan benda itu dari para penyihir.”Wurip kembali melanjutkan, “Bahkan aku dengar keturunan penyihir itu sudah punah. Aku rasa tidak akan ada kesempatan bagimu untuk memiliki artefak itu.”Damar tidak bisa menyangkal ucapan Wurip karena benar adanya.“Itu benar, tetapi aku masih ingin mencoba untuk mencari. Jika tidak bisa dapat maka aku akan mengambil paksa jasad itu dari Gunung Lewi.” Damar sudah bertekad akan mengeluarkan jasad itu, maka hanya menunggu masalah waktu saja.----Beberapa hari berlalu semenjak kunjungan ke Gunung Lewi waktu itu. Damar juga sudah semakin berlatih keras untuk melepaskan benang kutukan yang masih berada di tangannya.Meski sudah retak, tapi kekuatan dari kutukan itu masih mengikat, menahan 9

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 124

    Demi menghindari beberapa murid dari para tetua gunung yang jumlahnya lumayan banyak.Damar sampai menggerutu saat melihat beberapa anak murid yang hampir saja memergokinya,“Sial, mereka ada di mana-mana!”Sampai akhirnya Damar mempercepat langkah sampai ia tiba di sebuah ruangan yang mana saat menerawang dari jarak dekat.Maka ia bisa melihat ada jalur masuk yang tersambung dari dalamnya sampai ke gua batu. Namun, saat mencoba menerawang lebih jauh Damar tidak melihat apa-apa selain warna hitam pekat.“Akhh … sial, aku tidak bisa melihat lagi! Tapi bagaimana caranya agar aku bisa masuk?”Melihat di depan pintu ada anak murid mereka yang menjaga di depannya. Hal itu membuat Damar agak kesusahan.Tapi untungnya pergantian jam waktu istirahat makan siang. Jadi mereka meninggalkan tempat itu dan mencari yang lainnya untuk mengganti posisi jaga sementara.Celah itu dimanfaatkan oleh Damar untuk masuk. Namun, t

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 123

    Saat mereka sudah berada dalam perjalanan, di jalan raya Damar mulai fokus untuk menyetir mobilnya.Namun, sesekali ia melirik ke arah Wurip.“Jadikan kamu kan, sudah sering pergi ke Gunung Lewi. Jadi sebaiknya tunjukkan saja arahnya.”“Eh, tadi bukannya kamu bilang Sekar sudah memberitahumu cara memakai GPS di ponsel itu?”Wurip menunjuk ke arah ponsel Damar yang sudah diletakkan di samping setir.Tetapi, jujur saja Damar sendiri masih bingung memahami peta di GPS.Karena itu Damar berniat untuk jujur saja pada Wurip,“Aku rasa tidak bisa, aku belum memahaminya.”“Begitu, baiklah aku akan menunjukkan tempatnya padamu …” Wurip mulai mengarahkan lokasi Gunung Lewi pada Damar.Sehingga dia hanya tinggal fokus menyetir saja sampai mereka berdua akhirnya sampai di bawah kaki gunung.Damar mencari tempat untuk parkir di sana dan akhirnya sampai di sebuah area lahan kosong di mana beberapa kenda

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status