MasukTangan Damar menyentuh dagunya dengan percaya diri. “Aku bahkan bisa tahu apa yang sedang kamu sembunyikan selama ini. Atau bahkan melihat jauh ke dalam dirimu.”
“Kalau begitu Mbah pasti bisa membantu saya!” Karena merasa ada harapan, Laras maju sedikit ke depan mencondongkan tubuhnya. “Namun, apa kamu yakin mau melakukan ritual yang mungkin akan membuatmu menolak?” Bagi Damar untuk membuat Laras hamil bukanlah hal yang baru pernah dilakukannya. Dulu seorang selir kejaraan bahkan sudah pernah mendatanginya untuk permintaan yang sama dan Damar berhasil membantunya hamil setelah melakukan ritual dengan caranya. Asalahkan sesajen dan keperluan ritual terpenuhi maka ia bisa melakukan ritual itu untuk kliennya. Saat ini Laras sudah membulatkan tekatnya ia tidak mungkin menolak meski agak ragu apakah dia bisa melakukannya tapi Laras tetap mengangguk setuju. “Aku … akan bersedia melakukannya. Ritual apapun itu Mbah, asalkan saya bisa hamil!” Kalimat yang diucapkan Laras membuat Damar tersenyum meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Namun, di malam hari ia yakin tubuhnya akan berubah jadi lebih sehat dan perkasa jadi bisa bergerak leluasa untuk menjalankan ritual. “Dengan satu syarat, kamu tidak boleh bertanya atau protes yang perlu kamu ketahui hanyal melakukan ritual saja.” Lagi-lagi Laras mengangguk saat mendengar ucapan Damar. “Aku berjanji tidak akan bertanya ataupun protes. Tetapi kapan ritualnya akan dimulai?” tanya Laras, yang mulai merasa tidak sabar untuk melakukannya. “Hmm … datanglah dalam dua hari lagi karena aku perlu mempersiapkannya. Dan … sebaiknya kamu membawa beberapa sesajen yang aku butuhkan, jangan lupa untuk membawa ayam berwarna yang seluruh tubuhnya berwarna hitam dan beberapa telur juga.” Damar menggerakkan kakinya perlahan karena ia baru saja sadar kembali jadi kakinya terasa ngilu saat digerakkan. Meski begitu ia berusaha memusatkan kekuatan energi supernaturalnya agar otot kakinya jadi lemas dan mudah digerakkan. “Baiklah, aku akan datang dua hari lagi.” Laras baru saja berdiri. “Ah, satu lagi kamu harus merahasiakan apa yang kamu lakukan. Jangan membawa orang lain ke sini atau memberitahukan pada mereka kalau kamu datang padaku. Tapi setelah ritual selesai barulah kamu bisa memberitahu mereka jika kamu mau.” Laras langsung menjawab, “Aku akan mengingatkannya!” Tubuh Laras berbalik, ia pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat karena hari mulai sore dan sebelum malam ia harus keluar dari hutan yang dilewatinya tadi. Sementara Damar tetap berada di sana karena itu merupakan tempat tinggal gurunya jadi ia berniat untuk mencari gurunya. Namun, saat akhirnya berdiri dan melangkah keluar dari tempat tadi. “Haah …! Apa itu?” Damar terkejut saat melihat ke atas langit ada sebuah pesawat yang melintas. Di situ ia sadar kalau zaman sudah berubah dan ternyata ia sudah sangat lama tertidur. Damar mengira setidaknya dirinya terbangun setelah beberapa puluh tahun kemudian. Namun, ternyata waktu sudah berlalu sangat lama hingga ke masa depan yang sangat jauh. Wajah Damar jelas terlihat sangat bingung sudah berapa jauh zaman berubah? pikirnya. Kemudian Damar mengingat kalau Laras tadi memakai pakaian yang sangat berbeda dari zaman dulu yang hanya memakai secarik kain yang dililitkan. Berbeda dengan jahitan dan model baju Laras sangat bagus dan rapi dengan warna dan ada motif di bagian depan bajunya. “Zaman sudah secanggih ini hingga mengahasilkan pakaian yang sebagus itu? Bahkan barusan ada sesuatu melintas di udara apa itu juga buatan manusia?” Banyak pertanyaan di dalam pikiran Damar membuatnya gelisah saat berdiri di bawah pohon beringin di depan halaman rumah tua milik gurunya lalu di samping kiri ada sebuah bendungan air menyerupai kolam yang dalamnya sudah berlumut. Damar pun yakin setelah melihat-lihat sekitar di sana hanya tersisa dirinya seorang diri. Tidak ada siapa-siapa yang akan membantunya seketika suasana jadi sangat sepi hanya suara hembusan angin yang terdengar dari celah pohon dan dedaunan. “Aku benar-benar sendirian, dengan penampilan tua yang masih melekat,” gumamnya dengan nada lirih. Namun, detik berikutnya ia segera menepuk kedua pipinya dengan keras. “Tidak! Karena sudah hidup sampai di era ini aku harus berusaha agar melepaskan kutukan yang melekat!” Sek, sek! Suara langkah kaki dari belakang terdengar awalnya Damar mengira kalau Laras kembali ke tempatnya lagi tetapi suara langkah kaki itu berbeda. Prang! Sebuah kendi terbuat dari tanah liat terjatuh dari tangan seorang wanita muda. Matanya membola saat menatap Damar yang sedang berdiri dan berbalik melihat ke arahnya. Tangan wanita muda itu langsung menutup mulutnya yang hendak berteriak karena terkejut seakan baru saja melihat hantu. “Hmmhph …!” Gadis itu lalu mengucek-ucek matanya memastikan apa yang dilihatnya itu bukan hanya sekedar roh yang lepas dari tubuh. Karen ia bisa melihat hal-hal yang gaib tapi bisa melihat roh-roh yang gentayangan. Namun, saat melihat kaki Damar yang menginjak tanah ia jadi yakin kalau pria tua di hadapannya benar-benar manusia. “Hidup, Mbah! Kamu hidup!” Akhirnya suaranya keluar setelah tangannya tidak lagi menahan mulutnya sendiri. “Siapa kamu?!” tanya Damar karena seharusnya tidak ada siapa-siapa lagi di sana. “Sekar namaku Sekar! aku cucu dari penjaga tempat ini. Tidak-tidak, maksudku tempat ini milik kakek buyutku yang harus dijaga oleh keluarga kami secara turun-temurun. Sebenarnya yang selalu menjaga di sini adalah cucu laki-laki tetapi aku adalah keturunan terakhir yang tersisa. Jadi kakek menyuruhku sesekali datang ke sini untuk bersih-bersih dan melihat tempat ritual tempat Mbah tertidur.” “Kamu tidak takut lagi padaku?” Damar melihat sikap Sekar yang cepat berubah. “Tidak, tadi aku hanya terkejut saja mengira kalau Mbah sudah mati karena selama ini Mbah sudah tetap hidup meski tertidur. Aku juga bisa melihat jiwa atau roh seseorang jadi saat Mbah tertidur aku melihat jiwamu. Tapi …” Sekar mengernyitkan keningnya karena jujur saja ia merasa aneh. “Apa yang kamu lihat?” Sekar melihat lebih dekat pada Damar. “Aku melihat kalau jiwa yang bersemayam dalam tubuhnya Mbah terlihat sangat muda. Tapi bagaimana bisa ya? Setiap kali aku bertanya pada kakek dia selalu tidak mau jawab.” “Yang kamu lihat itu adalah jiwa asliku yang belum pernah menua karena aku mendapatkan kutukan setelah gagal melakukan ritual terlarang. Dulu aku masih muda tapi setelah kegagalan itu aku jadi menua dan tertidur.” Damar hanya menjelaskan sedikit saja tapi setidaknya di sana ia tidak sendiri karena ada Sekar. “Ohh … jadi ada kejadian seperti itu? Aku kira karena sudah lama tertidur jadi membuat Mbah menua.” Apa yang dikatakan Sekar membuat Damar mengangguk setuju. “Ya seharusnya mungkin memang begitu jika aku hidup normal sebelumnya mungkin saja akan menua dan mati. Namun, tidak demikian.”“Jadi bagaimana, apa kamu mau meminjamkan kekuatanmu?”“baiklah aku akan pinjamkan, tapi setelah itu aku akan menagihnya kembali. Oh ya, tapi ini tidak gratis.”Damar mengangkat alisnya saat tahu Hyang Wurip mencoba untuk bernegosiasi dengannya. “Tidak gratis?”“Yah, katakan pada garis kecil itu.”Wurip menunjuk ke arah Sekar yang sedang membersihkan area bawah pohon besar di halaman. “Dia harus membuatkan persembahan yang sangat lezat untukku besok. Gimana sepakat?”“Baiklah aku akan menyuruhnya untuk menyiapkan persembahan untukmu.”Sejenak Damar sempat bergeleng kepala dia tidak menyangka kalau Wurip akan ketagihan dengan apa yang dibuat Sekar. Harus ia aku juga kalau makanan ataupun minuman yang dibuat oleh Sekar itu rasanya memang sangat enak. “Bersiaplah untuk menerima sebagian spiritual milikku!”Cahaya berwarna biru, adalah esensi dari kekuatan spiritual yang dimi
Tangan Damar menghamburkan kembang tujuh rupa ke arah Soni, sambil membaca mantra khusus. Suara lonceng di tangannya berbunyi. “Lalu apa yang harus saya lakukan Mbah, untuk menghilangkan pelet ini?” Tubuh Soni semakin lemas, sambil batuk-batuk ia menahan sakit yang dirasakannya.“Kita akan mengadakan ritual, tapi sebelum itu sebaiknya untuk mengobati yang sudah terlanjur mengenaimu.”“Apa ada yang bisa saya lakukan untuk itu?”’“Kumpulkan 7 jenis daun suci (bidara, kelor, sirih, daun pandan wangi, daun jeruk purut, daun sirih gading, daun alpukat), kunyit tua, jahe merah, garam kasar/laut, air mata air atau air sumur tua.”Soni menyuruh bawahannya yang berada di samping untuk mencatat yang dikatakan Damar barusan.“Lalu setelah itu? Apa perlu di masak atau …?”“Ya, dengan cara: Rebus semua bahan, dibacakan mantra penawar & doa, ditiupkan. Padamu saat mandi dari kepala ke kaki saat subuh mendekat
“Maaf, aku baru ingat kalau ada air mineral di dalam tas. Ini minum dulu, biar segar dan nggak ngantuk.”“Akhirnya, tadi aku merasa haus. Terima kasih.”Damar meraih botol air mineral langsung membukanya dan meneguk sampai tiga kali tegukkan.“Ahh … rasanya lega!” Botol itu kembali disodorkannya pada Sekar. Sedangkan saat melihatnya minum Sekar juga jadi haus. Sisa air itu kini dihabiskan oleh Sekar, barulah botolnya ia buang pada tempat sampah yang tersedia di dalam bus.Damar minumnya keluar jendela ternyata hari sudah mulai sore. Warna jingga di langit sekarang sudah lebih dominan. Tepat setelah mereka sampai di desa, Damar berjalan kaki bersama Sekar saat itu matahari sudah hampir terbenam. “Bentar lagi malam, nginep di rumahku dulu?” tanya Sekar.“Kurasa tidak, aku harus segera pulang dan sebaiknya kamu berada di desa. Karena aku ada urusan penting yang ini aku bicarakan dengan Hyang Wurip
Tangan Sekar mencengkram kuat tangan Damar.Melihat Sekar yang terlihat tidak bisa bernafas dengan cepat Damar mengeluarkan miliknya dari dalam mulut Sekar.“Uhuk, uhuk!” Sekar sempat terbatuk, lalu menstabilkan nafasnya sejenak. “Apa kamu sudah tidak apa-apa?” tanya Damar.“Huh, iya aku sudah tidak apa!”Setelah itu Damar mengangkat tubuh Sekar naik ke atas tubuhnya. “Akhh …!” Sekar memegang di kedua sisi pundaknya. Damar membantunya bergerak di atas.Perlahan Sekar memasukkan milik Damar masuk ke dalam miliknya sampai terasa full di dalam.“Ahh, nggh! Ahh rasanya dalam sekali!”Seluruh tubuh Sekar sampai gemetar, ia merasakan milik Damar yang semakin membesar dan terasa penuh.Dengan cepat Damar menggerakkan pinggul Sekar sampai naik turun terus bergerak masuk. Sekar langsung memeluk Damar, menyandarkan wajahnya di pundaknya. “Apa rasanya seenak
Namun, agar mengkhawatirkan penampilannya jika rambutnya di sanggul seperti ini. Maka ia takut pipinya akan terlihat chubby karena memperlihatkan seluruh area wajahnya yang bulat. “Apa seperti ini aku terlihat cantik?”“Cantik, rambutmu cocok diikat seperti itu!”Jawaban Damar membuat Sekar ingin segera melihat cermin, jadi ia pun membuka ponselnya lalu menekan aplikasi kamera. Melihat bayangannya di dalam ponsel membuat Sekar tersenyum.Ternyata ia benar-benar terlihat sangat cantik. Apa yang dikatakan Damar barusan tidak bohong, jadi diam-diam ia terkekeh pelan.“Benar sekali, ternyata aku sangat terlihat cocok dengan model rambut seperti ini. Tapi sepertinya ini akan cepat lepas.”“Tidak apa, nanti aku sanggul lagi. Sekarang kamu fokus makan saja dulu.”Mendengar itu, Sekar tidak ingin membantahnya. Sebaliknya ia mulai makan dengan tenang sampai kenyang.Saat makan malam mereka sudah habis, Damar kali i
Di sana tidak terlalu ramai, tetapi sangat cocok bagi mereka berdua untuk duduk sejenak. Jadi Sekar pun ke salah satu tempat duduk. “Bagaimana kalau kita juga duduk di sinj?” Damar ikut melihat tempat yang ditunjuk oleh Sekar. “Aku rasa kita sebaiknya masuk dulu. Atau kamu mau duduk di sini sendiri, karena aku tidak bisa lihat sebentar lagi ….”Ucapan Damar menggantung masih mengandung maksud, tetapi ia menoleh ke arah matahari yang sudah akan tenggelam. Saat Sekar melihat ke arah matahari yang hampir terbenam, seketika itu ia jadi paham sehingga ia berlangsung menutup mulutnya lalu mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Damar.“Astaga, aku hampir melupakan itu. Maaf, ayo cepat sekarang kita harus segera masuk ke dalam. Sebelum Mbah membuat semua orang di sini tiba-tiba heran.” Langkah mereka berdua pun jadi lebih cepat. Saat berjalan masuk menuju kamar di penginapan itu. Waktu Damar tidak cukup,







