LOGIN
“Kamu telah membangunkanku. Sebagai balasannya, Aku akan membantumu.”
Pria tua itu akhirnya terjaga setelah lebih dari seratus tahun tertidur, kini dipanggil oleh permohonan putus asa seorang wanita. “A-Aku... ingin memiliki anak. Tolong, bantu Aku mewujudkannya, Mbah. Apa pun yang harus Aku lakukan, Aku siap.” Wajah pria tua bernama Damar Wisesa seorang dukun sakti, tersenyum mendengar permintaan wanita itu meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Namun, di malam hari ia yakin tubuhnya akan berubah jadi lebih perkasa. Kembali ke tiga jam sebelum pertemuan itu … Suara kicau burung di udara hingga suara hewan lainnya juga terdengar, di sana tidak ada suara lain hanya itu dan langkah kaki seorang wanita yang menginjak ranting pepohonan. Namun, meski di sana tidak ada siapa-siapa tidak membuat langkah kaki wanita itu berhenti untuk melangkah. “Huuff … apa tempatnya masih jauh?” gumam wanita itu sambil kebingungan mencari arah yang diberitahu secara lisan oleh warga desa mengenai tempat yang akan ditujunya. Nafasnya memburu karena berjalan terburu-buru ditambah lagi udara di bawah bukit masih terasa dingin sehingga membuat nafas di mulut dan hidungnya jadi seperti asap mengembun di udara. Seorang wanita kaya yang putus asa mencoba untuk mendaki dan masuk lebih dalam ke area hutan. Namanya Laras Ayuningtias seorang wanita mandul yang tidak bisa memiliki anak. Namun, ia tidak menyerah agar bisa hamil Laras bisa melakukan segala cara termasuk yang ia lakukan saat ini. “Huh, mereka tidak membohongi ku, kan?” tanyanya pada diri sendiri. Sedari tadi ia terus berputar-putar di sana tidak menemukan apa-apa hingga wajahnya menunduk sambil berjalan dengan bahu yang layu ke bawah. Laras mulai berpikir kalau warga desa setempat telah membohonginya tentang seorang dukun sakti yang tinggal di sana. Sampai ketika kakinya tersandung papan kayu dari sebuah tempat masuk ke dalam kediaman yang sangat tua. Bukh! Laras terjatuh ke depan ia reflek memajukan kedua tangannya agar menahan tubuhnya saat terjatuh. Namun, di depannya terdapat pintu masuk ia tidak sengaja mendorong pintu yang sudah bobrok, akibat dorongannya pintu itu rusak dan tubuhnya terjatuh ke tanah. Gedebuk! “Aww … sssht! Ah, tangan dan lututku sakit!” pekik Laras sembari menyipitkan matanya meringis. Dengan cepat ia bangun dan melihat rumah tua yang tidak berpenghuni. Meski begitu halamannya rapi seolah dedaunan yang jatuh dari pohon di sana baru disapu bersih. “Siapapun, apa ada orang?!” Laras melangkah masuk ke dalam rumah tua yang seperti peninggalan zaman Majapahit. Langkah Laras terhenti di sebuah tempat seperti sebuah kuil tapi lebih mirip tempat jampi-jampi seorang dukun. Di sana ia yakin kalau dukun yang dicarinya itu benar-benar ada. Namun, setelah pandangannya menyapu sekeliling tidak ada siapa-siapa. Karena merasa lelah Laras duduk di depan tempat yang biasa dipakai untuk menaruh sesajen atau persembahan yang diperlukan. Pandangannya melihat ke depan yang seharusnya jadi tempat dukun untuk duduk tetapi hanya tirai hitam yang menutupi. Namun, Laras bisa melihat kalau ada sedikit bayangan sosok pria di balik tirai yang masih agak sedikit tembus pandang meski hanya seperti bayangan dengan hati gelisah membuat punggungnya terasa menegang. “Mbah Dukun, saya datang untuk meminta bantuan agar Mbah mau membantuku!” Laras menyatukan kedua tangannya lalu wajahnya menunduk. Matanya sempat terpejam sambil terus mengatakan kalimat yang sama selama beberapa kali. “Mbah, tolong jawab saya. Apakah Mbah mau membantu saya?” Laras masih tidak mendengar jawaban. Dalam hatinya mulai kecewa karena pria dibalik tirai tidak bicara hingga Laras tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Sampai ia berpikir mungkin saja dukun itu tidak mau karena sejak tadi dia hanya diam saja meski begitu Laras kembali menundukkan diri hingga merubah posisinya jadi agak sujud. “Uhuk, haah … siapa?” Suaranya saat berbicara terdengar serak khas seperti pria tua terdengar dari balik tirai. Mendengar suara pria tua itu Laras mulai mengangkat wajahnya. Pandangannya terus tertuju pada tirai hitam di depan. “Kenapa tidak menjawab? Aku tanya siapa?” Pria tua yang terbangun dari tidur panjangnya karena permintaan putus asa dari seorang wanita akhirnya membuka mata dan kesadarannya mulai pulih. “Saya Laras Ayuningtiyas datang dari kota ke sini untuk meminta bantuan pada Mbah! Saya siap membayar berapapun harganya!” “Hmm … kamu sudah membantuku untuk bangun kembali karena selama seratus tahun lebih tidak ada yang datang untuk membuat permohonan. Jadi jiwa dan ragaku tertidur cukup lama karena suatu alasan, sebagai imbalan aku akan coba membantumu!” Damar Wisesa dukun sakti yang raganya sudah lama tertidur akibat sebuah kutukan kegagalan dalam ritual kuno. Namun, hal itu malah membuatnya hidup sangat lama hingga sekarang barulah ia terbangun. Sebelum Damar tertidur gurunya yang sedang bertapa di bawah bukit itu sudah meramalnya kalau Damar akan bangun saat seseorang datang memohon dengan putus asa. Namun, karena dulu Damar dikenal sebagai dukun yang gagal maka tidak ada seorangpun yang mau mendatanginya hingga waktu yang cukup lama. Meski pernah terkenal sebagai dukun sakti mandraguna tapi hanya karena satu kesalahan semuanya berubah hingga semua orang menjauhinya, alih-alih mendatanginya yang selama ini sudah banyak membantu warga dalam berbagai ritual untuk memenuhi keinginan mereka “ … Mbah! Mbah!” Laras memanggilnya berulang kali karena Damar tidak menjawab. Damar langsung berdehem, “Ekhem, aku tidak mendengar jelas keinginanmu yang kamu ucapkan barusa.” Ingatan Damar sebelumnya baru saja pulih jadi ia sempat terdiam sejenak. Namun, sudut bibir Damar sempat melengkung saat melihat wajah wanita di depannya karena mengenali sosok asli dari jiwa Laras yang pernah hidup di masa lalu. Detik berikutnya tirai sekat pembatas yang menutupi tempat duduk Damar digesernya agar ia bisa melihat wajah Laras. “A-aku … menginginkan keturunan, tolong buat aku mengandung dengan cara apapun agar aku bisa hamil, Mbah!” “Hamil? Karena tidak bisa menghasilkan keturunan, kamu berniat datang ke sini agar aku membantumu untuk bisa hamil. Untuk siapa? Suamimu yang sudah berselingkuh itu?” Damar tetap tenang sambil mengangguk mencoba untuk memahami keinginan Laras. Namun, kekuatan tembus pandangannya sebagai dukun baginya hanya melihat wajah wanita dibdepannya saja ia sudah tahu apa yang dialaminya. “A-apa? Darimana Mbah tahu kalau suami saya berselingkuh?” tanya Laras dengan suara bergetar. Pandangan matanya melebar membuat Laras bisa melihat wajah Damar yang sudah tua di depannya. Namun, tatapan Damar sangat mendominasi ditambah lagi dia bisa tahu sampai sejauh itu. Dalam hati, ‘Pria ini bukan orang sembarang berarti apa yang dikatakan warga desa itu ada benarnya.’“Ahh … kamu mengagetkanku saja!” Dian mengelus dadanya.“Maaf, aku sudah membuatmu terkejut. Sebenarnya Mbah Damar menyuruhku untuk tidak langsung masuk ke dalam.”Sekar diam-diam memperhatikan penampilan Dian yang terasa berbeda. Dari aura dan wajahnya, jelas dia jadi lebih cantik dari sebelumnya.Tapi bagaimana bisa seperti itu? Apa mungkin ini karena susuk yang dimasukkan tadi?“Ehm, jadi sedari tadi kamu nunggu di depan pintu?” tanya Dian.“Nggak dari tadi juga sih. Aku baru aja kok. Soalnya dari tadi aku ada urusan di luar. Terus saat Mbah keluar, aku masuk dan dia bilang jangan masuk ke kamar gitu aja.”Sekar sengaja mendekat ke samping Dian untuk melihat wajahnya lebih dekat.“Mbah bilang kamu dari tadi kesakitan karena pemasangan susuk, ya? Emang sesakit itu?”Mendengar ucapan Sekar membuat Dian langsung mengingat kejadian, di mana Damar yang menghujam keperkasaan menusuk lubang miliknya dengan sangat da
Tangan Damar kembali mengeluarkan batang miliknya, lalu mengarahkannya sampai ke bibir lubang Dian.Di sana Damar menggesekkan batangnya yang sudah terasa panas itu di atas permukaan lubang Dian yang licin dan basah.“Ngghh … ahh, ahh, pelan dikit. Rasanya milikku akan robek, tahu!”Jari telunjuk Damar diarahkan di depan mulutnya.“Shuut …! Aku bahkan belum masuk semua ke dalam, kamu sudah merengek seperti ini.”Hanya karena gesekan saja Dian sudah merasa sangat kewalahan. Benda milik Damar terasa panas saat menggesek miliknya, terasa ada cairan yang keluar juga di ujungnya.“Haa … ahh, ngghh!”Kedua kaki Dian bergerak semakin melebar. Miliknya seolah meminta bagian lubang miliknya segera dihujam.“Mbah, aku tidak tahan jika seperti ini!”“Katanya kamu tidak mau cepat-cepat. Sekarang aku melakukannya dengan pelan, tapi kamu malah tidak tahan!”Kedua tangan Damar menahan di ranjang tepat di
Saat jarum itu baru saja masuk, seketika itu juga pengaruh dari kekuatan susuk membuat bagian intim milik Dian perlahan jadi mengecil tanpa dirasanya.“Apa sudah masuk?” tanya Dian.Ia segera mengubah posisinya jadi duduk, wajahnya menunduk dengan tatapan yang melihat ke arah bawahnya.Tangan Dian segera menyentuh permukaan bagian intim miliknya. Jarinya mencoba untuk mengecek apa yang berubah.Permukaan kulit bagian intimnya terasa berbeda. Apalagi saat tangannya masuk menyentuh bagian dalam.Hanya dengan satu jari saja yang masuk ke dalam, Dian sudah terengah-engah. Sebab, rasanya terasa berbeda sekali.“Uhh … satu jari saja susah dimasukkan!”Damar yang melihat itu hanya tersenyum, sambil terus menatap dengan saksama ketika Dian memasukkan jari ke dalam bagian intimnya.Sambil terus mengamati efek dari susuk yang dibuatnya.Bagian intimnya terasa sangat sempit sehingga satu jari saja sudah
Setiap kali Damar menghisap dadanya, bagian bawah tubuh Dian terasa berkedut-kedut. Damar merasa puas setelah menghisap dada Dian, sehingga ia pun melepaskan mulutnya. Ia melihat dada besar itu menjadi semakin bengkak dan ada bekas gigitannya di bagian ujung. Namun, dalam hati Damar merasa sangat puas dengan apa yang sudah dilakukannya. Ujung mata Damar terlihat menyipit, dengan sudut bibir yang melengkung. “Benar-benar wanita binal!” Tangan Damar mulai menyeka bagian mulutnya yang terlihat basah karena air liur. “Aku rasa saatnya bagian lainnya juga harus segera kita masukkan susuk ke dalamnya.” Arah mata Damar menatap langsung pada wajah Dian. Ia siap menunggu pemasangan susuk selanjutnya. “Jadi, di mana kamu ingin aku memasangnya lagi?” “Itu … di bagian sini!” Tangan Dian mulai melepaskan celana dalamnya yang basah, terlihat lengket
Wajah Dian mengangguk, kemudian pandangannya melihat ke bawah. Ia melihat tangan Damar mulai memasukkan jarum ke dalam dengan perlahan. Akan tetapi, rasanya tidak sesakit saat dimasukkan ke wajah tadi. Dian tidak tahu mengapa, tapi rasanya hanya berfokus pada rasa remasan tangan Damar tadi. “Apa tidak sakit?” tanya Damar. “Tidak, rasanya tidak sesakit saat tadi dimasukin ke area wajah.” Dian melihat tangan Damar yang sedang memasukkan kembali susuk ke dada yang satunya. Namun, anehnya Dian merasa meskipun tangan Damar memang terlihat keriput dan dia merupakan orang tua. Tapi Dian tetap merasa sangat nikmat akan sentuhan itu. Apa mungkin karena usianya, dia jadi lebih berpengalaman? Diam-diam Dian menatap wajah pria tua di hadapannya. Namun, ia merasakan getaran perasaan yang aneh. Jantungnya berdegup kencang dan juga pandangannya tidak bisa lepas dari tangan Damar yang sedang mem
“Baiklah, kita bisa atur itu.” Memasang susuk bukanlah hal yang susah baginya. Itu sangat mudah, jadi Damar segera melambaikan tangannya pada Sekar yang baru saja datang setelah mengantar Sari pulang. Saat melihat ke arah pondok, Sekar segera berjalan cepat ke sana karena dipanggil Damar. Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar saat menapaki lantai kayu di dalam pondok. “Haah … ada apa, Mbah?” tanya Sekar. “Ini, aku ingin kamu menyiapkan sebuah kamar di dalam. Aku akan memasangkan susuk pada pelanggan kita.” Hanya dengan melemparkan pandangan ke arah Dian, Sekar sudah tahu pada siapa susuk itu akan diberikan. “Ya, aku akan segera menyiapkannya, jadi mohon tunggu sebentar.” Sementara Sekar menyiapkan kamar yang sering digunakan untuk keperluan ritual, ia juga menyuruh Dian menunggu di ruang tamu dalam rumahnya. Sementara Damar menyelesaikan sisa pertemuannya dengan pelanggan lain yang datang menemuinya. Sampai satu jam berlalu … Damar baru saja selesai bertemu den







