Share

Mbah Dukun Dambaan Wanita
Mbah Dukun Dambaan Wanita
Author: Lailiela

Bab 1

Author: Lailiela
last update publish date: 2026-07-02 10:27:23

“Kamu telah membangunkanku. Sebagai balasannya, Aku akan membantumu.”

Pria tua itu akhirnya terjaga setelah lebih dari seratus tahun tertidur, kini dipanggil oleh permohonan putus asa seorang wanita.

“A-Aku... ingin memiliki anak. Tolong, bantu Aku mewujudkannya, Mbah. Apa pun yang harus Aku lakukan, Aku siap.”

Wajah pria tua bernama Damar Wisesa seorang dukun sakti, tersenyum mendengar permintaan wanita itu meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Namun, di malam hari ia yakin tubuhnya akan berubah jadi lebih perkasa.

Kembali ke tiga jam sebelum pertemuan itu …

Suara kicau burung di udara hingga suara hewan lainnya juga terdengar, di sana tidak ada suara lain hanya itu dan langkah kaki seorang wanita yang menginjak ranting pepohonan. Namun, meski di sana tidak ada siapa-siapa tidak membuat langkah kaki wanita itu berhenti untuk melangkah.

“Huuff … apa tempatnya masih jauh?” gumam wanita itu sambil kebingungan mencari arah yang diberitahu secara lisan oleh warga desa mengenai tempat yang akan ditujunya.

Nafasnya memburu karena berjalan terburu-buru ditambah lagi udara di bawah bukit masih terasa dingin sehingga membuat nafas di mulut dan hidungnya jadi seperti asap mengembun di udara. Seorang wanita kaya yang putus asa mencoba untuk mendaki dan masuk lebih dalam ke area hutan.

Namanya Laras Ayuningtias seorang wanita mandul yang tidak bisa memiliki anak. Namun, ia tidak menyerah agar bisa hamil Laras bisa melakukan segala cara termasuk yang ia lakukan saat ini.

“Huh, mereka tidak membohongi ku, kan?” tanyanya pada diri sendiri.

Sedari tadi ia terus berputar-putar di sana tidak menemukan apa-apa hingga wajahnya menunduk sambil berjalan dengan bahu yang layu ke bawah. Laras mulai berpikir kalau warga desa setempat telah membohonginya tentang seorang dukun sakti yang tinggal di sana.

Sampai ketika kakinya tersandung papan kayu dari sebuah tempat masuk ke dalam kediaman yang sangat tua.

Bukh!

Laras terjatuh ke depan ia reflek memajukan kedua tangannya agar menahan tubuhnya saat terjatuh. Namun, di depannya terdapat pintu masuk ia tidak sengaja mendorong pintu yang sudah bobrok, akibat dorongannya pintu itu rusak dan tubuhnya terjatuh ke tanah.

Gedebuk!

“Aww … sssht! Ah, tangan dan lututku sakit!” pekik Laras sembari menyipitkan matanya meringis.

Dengan cepat ia bangun dan melihat rumah tua yang tidak berpenghuni. Meski begitu halamannya rapi seolah dedaunan yang jatuh dari pohon di sana baru disapu bersih.

“Siapapun, apa ada orang?!” Laras melangkah masuk ke dalam rumah tua yang seperti peninggalan zaman Majapahit.

Langkah Laras terhenti di sebuah tempat seperti sebuah kuil tapi lebih mirip tempat jampi-jampi seorang dukun. Di sana ia yakin kalau dukun yang dicarinya itu benar-benar ada. Namun, setelah pandangannya menyapu sekeliling tidak ada siapa-siapa.

Karena merasa lelah Laras duduk di depan tempat yang biasa dipakai untuk menaruh sesajen atau persembahan yang diperlukan.

Pandangannya melihat ke depan yang seharusnya jadi tempat dukun untuk duduk tetapi hanya tirai hitam yang menutupi. Namun, Laras bisa melihat kalau ada sedikit bayangan sosok pria di balik tirai yang masih agak sedikit tembus pandang meski hanya seperti bayangan dengan hati gelisah membuat punggungnya terasa menegang.

“Mbah Dukun, saya datang untuk meminta bantuan agar Mbah mau membantuku!”

Laras menyatukan kedua tangannya lalu wajahnya menunduk. Matanya sempat terpejam sambil terus mengatakan kalimat yang sama selama beberapa kali.

“Mbah, tolong jawab saya. Apakah Mbah mau membantu saya?” Laras masih tidak mendengar jawaban.

Dalam hatinya mulai kecewa karena pria dibalik tirai tidak bicara hingga Laras tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Sampai ia berpikir mungkin saja dukun itu tidak mau karena sejak tadi dia hanya diam saja meski begitu Laras kembali menundukkan diri hingga merubah posisinya jadi agak sujud.

“Uhuk, haah … siapa?”

Suaranya saat berbicara terdengar serak khas seperti pria tua terdengar dari balik tirai.

Mendengar suara pria tua itu Laras mulai mengangkat wajahnya. Pandangannya terus tertuju pada tirai hitam di depan.

“Kenapa tidak menjawab? Aku tanya siapa?” Pria tua yang terbangun dari tidur panjangnya karena permintaan putus asa dari seorang wanita akhirnya membuka mata dan kesadarannya mulai pulih.

“Saya Laras Ayuningtiyas datang dari kota ke sini untuk meminta bantuan pada Mbah! Saya siap membayar berapapun harganya!”

“Hmm … kamu sudah membantuku untuk bangun kembali karena selama seratus tahun lebih tidak ada yang datang untuk membuat permohonan. Jadi jiwa dan ragaku tertidur cukup lama karena suatu alasan, sebagai imbalan aku akan coba membantumu!”

Damar Wisesa dukun sakti yang raganya sudah lama tertidur akibat sebuah kutukan kegagalan dalam ritual kuno. Namun, hal itu malah membuatnya hidup sangat lama hingga sekarang barulah ia terbangun.

Sebelum Damar tertidur gurunya yang sedang bertapa di bawah bukit itu sudah meramalnya kalau Damar akan bangun saat seseorang datang memohon dengan putus asa. Namun, karena dulu Damar dikenal sebagai dukun yang gagal maka tidak ada seorangpun yang mau mendatanginya hingga waktu yang cukup lama.

Meski pernah terkenal sebagai dukun sakti mandraguna tapi hanya karena satu kesalahan semuanya berubah hingga semua orang menjauhinya, alih-alih mendatanginya yang selama ini sudah banyak membantu warga dalam berbagai ritual untuk memenuhi keinginan mereka

“ … Mbah! Mbah!” Laras memanggilnya berulang kali karena Damar tidak menjawab.

Damar langsung berdehem, “Ekhem, aku tidak mendengar jelas keinginanmu yang kamu ucapkan barusa.”

Ingatan Damar sebelumnya baru saja pulih jadi ia sempat terdiam sejenak. Namun, sudut bibir Damar sempat melengkung saat melihat wajah wanita di depannya karena mengenali sosok asli dari jiwa Laras yang pernah hidup di masa lalu.

Detik berikutnya tirai sekat pembatas yang menutupi tempat duduk Damar digesernya agar ia bisa melihat wajah Laras.

“A-aku … menginginkan keturunan, tolong buat aku mengandung dengan cara apapun agar aku bisa hamil, Mbah!”

“Hamil? Karena tidak bisa menghasilkan keturunan, kamu berniat datang ke sini agar aku membantumu untuk bisa hamil. Untuk siapa? Suamimu yang sudah berselingkuh itu?”

Damar tetap tenang sambil mengangguk mencoba untuk memahami keinginan Laras. Namun, kekuatan tembus pandangannya sebagai dukun baginya hanya melihat wajah wanita dibdepannya saja ia sudah tahu apa yang dialaminya.

“A-apa? Darimana Mbah tahu kalau suami saya berselingkuh?” tanya Laras dengan suara bergetar.

Pandangan matanya melebar membuat Laras bisa melihat wajah Damar yang sudah tua di depannya. Namun, tatapan Damar sangat mendominasi ditambah lagi dia bisa tahu sampai sejauh itu. Dalam hati, ‘Pria ini bukan orang sembarang berarti apa yang dikatakan warga desa itu ada benarnya.’

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
NoeraAmeera
wah... Mbah damar sakti mandraguna, sampai tau suaminya Laras selingkuh! Keren sih, aku suka baca ceritanya. Lanjut Author!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 97

    Tangan Damar menyentuh pucuk kepala Sekar, mengusapnya lembut.“Apa sekarang kamu tidak mau menjelaskannya? Hem …!”“Lihat, kamu malah bersembunyi.”Pinggang Sekar yang ramping saat tangan Damar memegangnya terasa rapuh. Jadi tangan Damar pun hati-hati saat mengangkat tubuhnya hingga membuat wajah Sekar tidak lagi bersembunyi.Karena Damar mengangkatnya, jadi tinggi wajah mereka jadi sejajar. Sehingga wajah mereka bisa saling menatap satu sama lain.“Mbah, kenapa tiba-tiba menggendongku?”Saat kakinya berada di udara tidak lagi menginjak lantai. Sekar memegang erat di kedua pundak Damar saat merasakan dirinya diangkat.“Itu karena kamu tidak berbicara dengan jelas atas apa yang kamu inginkan!”“I-itu …!” Kedua pipi Sekar menggembung, ia menyipitkan matanya sambil memukuli pelan dada Damar.“Padahal Mbah tahu itu, gimana sih!”“Eh, kamu jadi kesal?”Damar langsung tertawa, men

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 96

    Kali ini Damar membacakan mantra sambil meniupkannya ke arah bejana berisi air yang ada di hadapannya. Ia berusaha untuk membantai air yang ada di dalam bejana itu. Kemudian barulah Damar menambahkan seutas benang berwarna merah memasukkannya ke dalam air. Mulutnya masih berkomat-kamit membacakan mantra, dengan tangan yang terus bergerak di atas permukaan air. Di dalamnya benang merah itu sudah terendam sempurna sehingga meresap air yang ada di dalamnya. Setelah beberapa lama ia menyelesaikan mantra dan akhirnya kembali mengambil benang warna merah itu dari dalam air. Dengan benang berwarna merah itu Damar mulai membuat simpul hingga membentuk sebuah gelang yang harus dipakai oleh Raka. Saat sudah selesai dibuatnya, barulah benang itu terlihat seperti gelang. “Berikan tanganmu aku akan segera memasangkannya di tanganmu sekarang juga!” Raka mengulurkan tangannya se

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 95

    “Aku rasa sebaiknya biar pakai punyaku saja. Tabungan uang yang ada di dalam akun bankmu biar kamu saja yang simpan.”“Tidak, aku juga mau—”“Tidak Sekar, itu adalah hakmu. Tetapi bukankah bagus jika seperti itu? Bagaimana jika suatu saat nanti kita butuh uang dalam jumlah banyak secara mendadak?”“Bukankah nanti bisa pinjam uang yang ada di dalam akunmu? Anggap saja sebagai uang jaga-jaga untuk milikmu.”Sejenak Sekar juga memikirkan hal itu, tidak ada ruginya jika mereka menyimpan uang untuk jaga-jaga nanti jika terjadi sesuatu di lain waktu. Atau jika nanti ada sesuatu yang membuat mereka terdesak sehingga membutuhkan uang. Maka mereka pasti akan membutuhkan uang itu dengan segera jadi akhirnya Sekar pun mengangguk.“Baiklah, aku akan mendengarkan Mbah. Jadi uang di akun ku akan tetap tersimpan.”“Ya, buat seperti itu.” Sekar mendekatkan dirinya sampai menempel di bahu Damar.“Hari ini karena tidak

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 94

    “Dia akan segera sadar. Jadi duduklah dengan tenang,” ucap Damar.Saat melihat Suryani yang masih mencemaskan suaminya yang belum juga sadar.Namun seperti yang dikatakan oleh Damar barusan. Kalau Santoso akan segera sadar, baru beberapa saat damar mengatakan hal itu. Sekarang tangan Santoso mulai bergerak kemudian kelopak matanya akhirnya perlahan terbuka.Santoso sadarkan diri awalnya pandangannya terlihat buram, tetapi perlahan ia bisa melihat dengan jelas. Serta wajah Suryani yang langsung mendekat, menunduk melihat ke arahnya sambil berderai air mata.“Sayang kamu nggak apa-apa kan?”Suryani membiarkan suaminya membaringkan kepalanya di atas pahanya.“Sekarang aku merasa baik-baik saja. Tolong bantu aku duduk!”Santoso pun akhirnya duduk dibantu oleh istrinya. Ia menoleh pada Damar lalu menundukkan kepala sambil berkata,“Mbah Dukun, terima kasih atas bantuannya. Berkat Mbah, saya sekarang merasa

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 93

    Air yang berada di dalam bejana itu langsung berubah menjadi warna hitam. Itu berarti kekuatan gaib sudah diserap oleh benda itu. Sehingga itu sebabnya air berubah jadi hitam. Mantra yang dibacakan oleh Damar sambil diiringi dengan suara lonceng di tangannya. Membuat udara sekeliling mereka terasa berat.Jelas meskipun tidak terlihat tetapi kekuatan yang dipancarkan oleh Damar membuat situasi jadi seperti itu.Kekuatan gaib yang berasal baju yang direndam oleh Damar itu memiliki aura gaib yang sangat kental dengan ilmu hitam.Maka dari itu hanya merendamnya saja sudah terlihat kalau air yang ada di dalam bejana saat ini berubah menjadi semakin pekat dan warnanya lebih hitam dari sebelumnya.Mengucapkan mantra damar kembali membuka matanya sambil menunduk melihat ke air dalam bejana.“Aku rasa dukun yang mengendalikan suamimu ini memiliki tingkat kekuatan ilmu hitam yang tinggi.”“Jadi bagaimana Mbah?”

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Ban 92

    “Bagus, hanya itu saja yang kita perlukan. Dan semua barang ini sudah lengkap seperti yang Mbah inginkan.”Melihat itu Damar langsung mengusap kepala Sekar.“Kamu benar, ini semua sudah sama persis dengan apa yang aku minta padamu.”“Ya, kan, hehehe …!”Sekar sangat senang saat Damar memujinya. “Kalau begitu, ayo cepat bantu aku aku meletakkan semua benda ini ke atas meja. Kita perlu merapikannya!”Mendengar ucapan Sekar Damar pun segera bergegas untuk membantunya.Damar sebenarnya ingin mengajarkan beberapa ilmu yang dilakukan saat ritual pada Sekar. Namun, sepertinya ia harus mengajarkannya secara perlahan.Dengan memberitahukan caranya sedikit demi sedikit.“Jadi kali ini karena kita akan menjalankan ritual di siang hari. Jadi kamu hanya perlu melihat dari samping saja. Sekalian membantuku jika aku butuh bantuan.”“Iya, aku mengerti Mbah!” jawab Sekar.Saat mereka sibuk d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status