แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Lailiela
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-07 21:38:08

Hari mulai gelap dan matahari hampir terbenam saat akan melangkah Damar ingat akan Laras dan ritualnya. “Dua hari lagi aku akan mengadakan ritual untuk seseorang yang sudah membangunkanku.”

“Ritual?” Sekar terlihat bingung.

Damar menjelaskan agar Sekar membawakan bahan sesajen lainnya dan kembang tujuh rupa.

Ketika cahaya matahari sudah terbenam sepenuhnya wajah dan tubuh Damar berubah kembali muda bahkan Sekar yang masih di sana langsung terkejut karena baru pertama kali melihat perubahan secepat itu.

Wajah Damar kembali menjadi muda saat usianya 25 tahun sama persis seperti umurnya saat itu. Ia yang dulu dikenal sebagai dukun paling tampan, selain kesaktiannya Damar memang terkenal rupawan dengan tubuh tinggi, bahu lebar, lengan, badan, terdapat otot-otot yang terbentuk sempurna hasil dari angkat kayu berat yang dari hutan.

Tubuhnya memang kuat jadi tidak hanya ilmunya sebagai seorang dukun sakti saja. Banyak gadis desa yang sangat terpikat saat melihat tubuh terutama wajahnya yang benar-benar tidak bisa membuat wanita berpaling.

Bahkan saat ini Sekar tertegun melihat Damar yang berubah menjadi pemuda yang sangat tampan. Bahkan ia tidak pernah melihat pemuda lain di desanya yang lebih tampan dari Damar.

“Mbah? Eh, anu …!”

Mulut Sekar jadi kelu saat ingin menyebut Damar dengan sebutan apa. Kalau panggil Mbah itu terlalu muda untuk penampilannya yang sekarang.

Namun, Damar yang melihat itu malah tertawa saat melihat kebingungan terlihat jelas di wajah Sekar.

“Hahaha … panggil Mbah saja seperti tadi. Toh, lagi pula usiaku jika dihitung dari zaman dulu sampai sekarang mungkin aku pantas dipanggil kakek buyut.”

Yang dikatakan Damar membuat Sekar ikut tertawa karena itu terdengar lucu sekaligus benar.

“Tapi seorang pria dengan wajah muda dan tampan seperti ini agak lucu kalau aku panggil Kakek Buyut!”

Hari yang sudah semakin malam Damar merasa kalau sudah saatnya bagi Sekar untuk pulang karena berbahaya kalau sendirian pulang melewati hutan.

“Sekar, hari sudah malam kamu sebaiknya pulang. Aku akan masuk ke dalam rumah. Tapi apa rumah ….”

Di tangannya Sekar memegang korek api seperti biasa ia menyalakan setiap obor yang sudah diisi minyak yang dibawanya dari desa agar kediaman itu jadi terang.

“Hmm, aku tidak masalah pulang di malam hari. Bagiku keluar masuk hutan sudah biasa tidak peduli hari gelap atau terang. Toh, meski begitu aku tetap bisa melihat roh halus yang sering disebut setan oleh mereka!”

Ucapan Sekar membuat Damar merasa tidak enak karena demi merawat tempat ini dan dirinya yang masih tertidur selama ratusan tahun. Jujur saja ia merasa berhutang Budi kepada mereka.

“Kalau begitu biar aku antar sampai keluar hutan, karena aku sudah bangun jadi tidak mungkin membiarkanmu pulang sendirian. Aku juga tidak menerima penolakan sebagai orang yang sudah tua kamu harus mematuhiku titik!”

Perkataan Damar barusan tidak bisa ditolak Sekar jadi ia hanya mengangguk saja. Namun, bisa ditemani saat perjalanan pulang melewati hutan Sekar berpikir kalau itu hal yang bagus jadi ia tidak perlu berlari atau jalan terburu-buru seperti biasanya.

“Tapi kan kam-eh, Mbah kan baru saja pulih. Masa harus memaksakan diri mengantarku?”

“Memangnya kamu pikir aku ini siapa? Aku adalah dukun sakti hal sepele hanya mengantarmu itu bukanlah masalah!” ucap Damar membanggakan dirinya.

“Hais … sia-sia aku khawatir, kalau gitu Mbah tolong antar aku,” pinta Sekar akhirnya setelah semua obor di kediaman tua itu menyala.

Damar langsung mengantar Sekar keluar sampai hutan, mereka berjalan berdua secara berdampingan. Damar menyesuaikan langkah kakinya sama dengan Sekar.

Mereka sempat berbincang sambil berjalan hingga akhirnya keluar dari hutan. Untuk pertama kalinya Damar menginjakkan kaki diluar hutan setelah sekian lama.

“Cepat kembali, dari sini aku bisa pulang ke rumahku dengan aman!” Sekar melambaikan tangannya lalu berbalik pergi.

Sedangkan Damar hanya menatapnya sampai bayangan punggung gadis itu sudah tidak terlihat lagi barulah ia kembali.

Selama dua hari Sekar selalu datang ke tempat Damar ikut membantu untuk persiapan ritual yang dikatakannya kemarin.

Pagi-pagi sekali Sekar melewati hutan sambil membawa keranjang yang berisikan bunga yang sudah dibungkus dalam plastik. Ia juga membawakan lilin-lilin berukuran kecil dan besar yang memiliki bau seperti kemenyan jika dibakar bahkan minyak kemenyan juga ada.

Beberapa nampan, dan piring, kendi gelas yang terbuat dari tanah liat asli tanpa polesan keramik di permukaannya. Jadi selama waktu dua hari Sekar sudah membawakan semua benda itu dan yang lainnya. Akan tetapi, Damar juga membantunya mengangkat yang berat-berat jadi ketika pagi tiba ia akan menunggu Sekar di dekat hutan.

Sampai tibalah hari ini, hari di mana ritual yang dijanjikan Damar akan segera dilaksanakan.

Namun, saat sore hari Sekar baru akan memasuki hutan untuk menjadi asisten dukun yang membantu Damar karena keturunan keluarganya merupakan spiritual perdukunan juga. Jadi Sekar paham akan hal-hal dasar dalam ritual.

“Mbah, kok malah jemput Sekar ke sini? Kan, semua barang-barangnya sudah dibawa semua ke dalam.”

Damar melihat ke belakang Sekar. “Aku menunggu orang lain, dia orang yang pernah aku bicarakan padamu, wanita yang sudah membangunkanku. Sekarang aku sedang menunggunya.”

Ternyata di belakang Sekar seseorang datang menuju ke arah hutan tempat mereka berdiri. Semakin berjalan mendekat wajah wanita itu jadi lebih jelas dan Damar sudah mengenalinya meski dari jarak yang cukup jauh.

“Jadi wanita itu yang akan menjadi pelanggan pertama?” tanya Sekar. Tapi entah mengapa wajah Sekar berubah jadi masam saat melihat Laras yang mendekat.

“Ya, dia yang akan melakukan ritual meminta keturunan. Dia adalah wanita yang sudah menikah tapi karena mandul jadi ia ingin memiliki anak dengan melakukan ritual yang dapat mengatasi kemandulannya.”

Saat Damar mengatakan kalau Laras adalah wanita yang sudah menikah. Itu membuatnya merasa lebih baik hingga menghela nafas.

Sekar perpikir, ‘Dia tidak mungkin terpikat pada wajah asli Mbah Damar kan? Kalau iya, itu akan sangat menyusahkan jika sampai dia terpikat.’

“Biar aku menghampirinya lebih dulu dan menyapanya. Aku juga akan memperkenalkan diri sebagai asisten yang melayani seorang dukun di tempat ini!”

Sekar langsung berbalik menghampiri Laras bahkan sebelum Damar memberikan persetujuan ia sudah bertindak lebih dulu.

“Halo, Mbak Laras ya?” tanya Sekar.

Laras sempat kaget karena seorang gadis muda datang dengan sendirinya bahkan mengetahui namanya.

“Ya benar, tapi ada apa ya?”

Dalam hati Laras merasa sangat khawatir kalau orang lain mengetahui dirinya mendatangi dukun untuk meminta bantuan agar hamil. ‘Apa mungkin wanita ini mengikuti ku sampai ke sini lalu …!’ dalam hati ia gelisa.

Tangan Laras memegang erat keranjang yang ada di tangannya. Keranjang itu berisikan ayam masih hidup yang sudah diikatnya bahkan ia juga menaruh telur yang disuruh Damar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 128

    Sehingga mereka bisa bicara dengan serius. Damar melihat Dewi yang sepertinya agak kedinginan setelah berjalan masuk ke hutan malam-malam sendirian.Damar mengambilkan selimut berukuran sedang lalu memberikannya kepada Dewi.“Pakai ini, kamu pasti kedinginan pergi ke sini malam-malam.”Tangan Dewi pun dengan cepat mengambil selimut itu dan memakainya. Rasa hangat langsung dirasakannya setelah itu.“Uhm … makasih ya, Mar.”Pandangan Dewi melihat sekeliling ruang tengah, dia sama sekali tidak melihat siapa pun di sana dan hanya ada Damar seorang.“Di sini nggak ada siapa-siapa, maksudnya kakek atau gadis bernama Sekar itu nggak ada?”Damar pun kembali beralasan, “Kakekku, dia ada urusan. Kalau Sekar, dia pergi kuliah ke Kota. Jadi di sini hanya aku seorang saja.”“Ah, begitu. Kebetulan sekali sebenarnya aku datang ingin bertemu denganmu.”Dewi pindah tempat duduk tepat di samping Damar. Dengan sengaja Dew

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 127

    “Jadi kiriman mantra guna-guna pemikat itu akan teralihkan pada boneka ini?”“Benar, boneka itu akan menyerap dan menanggung guna-guna pemikat itu. Maka secepatnya adik iparmu akan segera sadar dari pengaruh guna-guna dan akan kembali pada istrinya.”“Itu beneran, kan, Mbah?” tanya Joko memastikan.Damar menyentuh jenggotnya sambil mengangguk dengan yakin,“Iya, itu benar adanya, jadi kamu bisa tunggu saja. Akan tetapi, jika adik iparmu itu tidak juga kunjung pulang dan tidak ada yang terjadi, maka kamu bisa datang lagi ke sini.”Mendengar itu tentu saja membuat Joko jadi lebih tenang dan pastinya percaya pada Damar. Karena jika tidak berhasil maka ia hanya perlu datang ke sini lagi untuk menuntutnya.“Kalau begitu saya akan pulang ke rumah adik saya dulu. Untuk hasilnya akan ditunggu sampai dua hari ke depan, jika tidak berhasil maka saya akan datang lagi ke sini.”Damar dengan santai menjawab, “Ya, aku akan selalu

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 126

    “Hah, apa maksud Mbah Dukun? Mungkinkah adik ipar saya dalam bahaya?” tanya Joko.“Itu bisa saja terjadi, saat ini adik iparmu juga sering mengingat kembali istrinya. Namun, wanita itu tidak mau membiarkannya begitu saja. Karena hal itu dia terus menekan ingatan dengan ritual ilmu hitam.”Damar kembali menjelaskan, “Jika wanita itu terus melakukan hal itu secara terus-menerus. Maka hal itu akan membuat kondisi dari adik iparmu dalam bahaya. Jadi sebelum terlambat kita harus adakan ritual khusus itu secepatnya.”Joko sempat terdiam beberapa saat dan memikirkan kondisi adik iparnya dan juga adiknya jika dia sampai kehilangan suaminya.“Aku … tidak bisa membiarkan adik iparku dalam bahaya hanya karena wanita perebut itu!”Dengan tangan yang mengepal kuat Joko bertekad akan membuat adik iparnya kembali pada adiknya.Damar segera memanggil Ririn yang berada jauh dari pondok. Kemudian dia kembali melihat ke arah Joko.

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 125

    “Ya, aku harus mencari cara untuk mengeluarkannya. Apa sebaiknya aku gunakan artefak saja, ya?”“Uhm … bukankah maaf itu adalah milik para penyihir? Di zaman sekarang, bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan benda itu dari para penyihir.”Wurip kembali melanjutkan, “Bahkan aku dengar keturunan penyihir itu sudah punah. Aku rasa tidak akan ada kesempatan bagimu untuk memiliki artefak itu.”Damar tidak bisa menyangkal ucapan Wurip karena benar adanya.“Itu benar, tetapi aku masih ingin mencoba untuk mencari. Jika tidak bisa dapat maka aku akan mengambil paksa jasad itu dari Gunung Lewi.” Damar sudah bertekad akan mengeluarkan jasad itu, maka hanya menunggu masalah waktu saja.----Beberapa hari berlalu semenjak kunjungan ke Gunung Lewi waktu itu. Damar juga sudah semakin berlatih keras untuk melepaskan benang kutukan yang masih berada di tangannya.Meski sudah retak, tapi kekuatan dari kutukan itu masih mengikat, menahan 9

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 124

    Demi menghindari beberapa murid dari para tetua gunung yang jumlahnya lumayan banyak.Damar sampai menggerutu saat melihat beberapa anak murid yang hampir saja memergokinya,“Sial, mereka ada di mana-mana!”Sampai akhirnya Damar mempercepat langkah sampai ia tiba di sebuah ruangan yang mana saat menerawang dari jarak dekat.Maka ia bisa melihat ada jalur masuk yang tersambung dari dalamnya sampai ke gua batu. Namun, saat mencoba menerawang lebih jauh Damar tidak melihat apa-apa selain warna hitam pekat.“Akhh … sial, aku tidak bisa melihat lagi! Tapi bagaimana caranya agar aku bisa masuk?”Melihat di depan pintu ada anak murid mereka yang menjaga di depannya. Hal itu membuat Damar agak kesusahan.Tapi untungnya pergantian jam waktu istirahat makan siang. Jadi mereka meninggalkan tempat itu dan mencari yang lainnya untuk mengganti posisi jaga sementara.Celah itu dimanfaatkan oleh Damar untuk masuk. Namun, t

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 123

    Saat mereka sudah berada dalam perjalanan, di jalan raya Damar mulai fokus untuk menyetir mobilnya.Namun, sesekali ia melirik ke arah Wurip.“Jadikan kamu kan, sudah sering pergi ke Gunung Lewi. Jadi sebaiknya tunjukkan saja arahnya.”“Eh, tadi bukannya kamu bilang Sekar sudah memberitahumu cara memakai GPS di ponsel itu?”Wurip menunjuk ke arah ponsel Damar yang sudah diletakkan di samping setir.Tetapi, jujur saja Damar sendiri masih bingung memahami peta di GPS.Karena itu Damar berniat untuk jujur saja pada Wurip,“Aku rasa tidak bisa, aku belum memahaminya.”“Begitu, baiklah aku akan menunjukkan tempatnya padamu …” Wurip mulai mengarahkan lokasi Gunung Lewi pada Damar.Sehingga dia hanya tinggal fokus menyetir saja sampai mereka berdua akhirnya sampai di bawah kaki gunung.Damar mencari tempat untuk parkir di sana dan akhirnya sampai di sebuah area lahan kosong di mana beberapa kenda

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status