Se connecterHari mulai gelap dan matahari hampir terbenam saat akan melangkah Damar ingat akan Laras dan ritualnya. “Dua hari lagi aku akan mengadakan ritual untuk seseorang yang sudah membangunkanku.”
“Ritual?” Sekar terlihat bingung. Damar menjelaskan agar Sekar membawakan bahan sesajen lainnya dan kembang tujuh rupa. Ketika cahaya matahari sudah terbenam sepenuhnya wajah dan tubuh Damar berubah kembali muda bahkan Sekar yang masih di sana langsung terkejut karena baru pertama kali melihat perubahan secepat itu. Wajah Damar kembali menjadi muda saat usianya 25 tahun sama persis seperti umurnya saat itu. Ia yang dulu dikenal sebagai dukun paling tampan, selain kesaktiannya Damar memang terkenal rupawan dengan tubuh tinggi, bahu lebar, lengan, badan, terdapat otot-otot yang terbentuk sempurna hasil dari angkat kayu berat yang dari hutan. Tubuhnya memang kuat jadi tidak hanya ilmunya sebagai seorang dukun sakti saja. Banyak gadis desa yang sangat terpikat saat melihat tubuh terutama wajahnya yang benar-benar tidak bisa membuat wanita berpaling. Bahkan saat ini Sekar tertegun melihat Damar yang berubah menjadi pemuda yang sangat tampan. Bahkan ia tidak pernah melihat pemuda lain di desanya yang lebih tampan dari Damar. “Mbah? Eh, anu …!” Mulut Sekar jadi kelu saat ingin menyebut Damar dengan sebutan apa. Kalau panggil Mbah itu terlalu muda untuk penampilannya yang sekarang. Namun, Damar yang melihat itu malah tertawa saat melihat kebingungan terlihat jelas di wajah Sekar. “Hahaha … panggil Mbah saja seperti tadi. Toh, lagi pula usiaku jika dihitung dari zaman dulu sampai sekarang mungkin aku pantas dipanggil kakek buyut.” Yang dikatakan Damar membuat Sekar ikut tertawa karena itu terdengar lucu sekaligus benar. “Tapi seorang pria dengan wajah muda dan tampan seperti ini agak lucu kalau aku panggil Kakek Buyut!” Hari yang sudah semakin malam Damar merasa kalau sudah saatnya bagi Sekar untuk pulang karena berbahaya kalau sendirian pulang melewati hutan. “Sekar, hari sudah malam kamu sebaiknya pulang. Aku akan masuk ke dalam rumah. Tapi apa rumah ….” Di tangannya Sekar memegang korek api seperti biasa ia menyalakan setiap obor yang sudah diisi minyak yang dibawanya dari desa agar kediaman itu jadi terang. “Hmm, aku tidak masalah pulang di malam hari. Bagiku keluar masuk hutan sudah biasa tidak peduli hari gelap atau terang. Toh, meski begitu aku tetap bisa melihat roh halus yang sering disebut setan oleh mereka!” Ucapan Sekar membuat Damar merasa tidak enak karena demi merawat tempat ini dan dirinya yang masih tertidur selama ratusan tahun. Jujur saja ia merasa berhutang Budi kepada mereka. “Kalau begitu biar aku antar sampai keluar hutan, karena aku sudah bangun jadi tidak mungkin membiarkanmu pulang sendirian. Aku juga tidak menerima penolakan sebagai orang yang sudah tua kamu harus mematuhiku titik!” Perkataan Damar barusan tidak bisa ditolak Sekar jadi ia hanya mengangguk saja. Namun, bisa ditemani saat perjalanan pulang melewati hutan Sekar berpikir kalau itu hal yang bagus jadi ia tidak perlu berlari atau jalan terburu-buru seperti biasanya. “Tapi kan kam-eh, Mbah kan baru saja pulih. Masa harus memaksakan diri mengantarku?” “Memangnya kamu pikir aku ini siapa? Aku adalah dukun sakti hal sepele hanya mengantarmu itu bukanlah masalah!” ucap Damar membanggakan dirinya. “Hais … sia-sia aku khawatir, kalau gitu Mbah tolong antar aku,” pinta Sekar akhirnya setelah semua obor di kediaman tua itu menyala. Damar langsung mengantar Sekar keluar sampai hutan, mereka berjalan berdua secara berdampingan. Damar menyesuaikan langkah kakinya sama dengan Sekar. Mereka sempat berbincang sambil berjalan hingga akhirnya keluar dari hutan. Untuk pertama kalinya Damar menginjakkan kaki diluar hutan setelah sekian lama. “Cepat kembali, dari sini aku bisa pulang ke rumahku dengan aman!” Sekar melambaikan tangannya lalu berbalik pergi. Sedangkan Damar hanya menatapnya sampai bayangan punggung gadis itu sudah tidak terlihat lagi barulah ia kembali. Selama dua hari Sekar selalu datang ke tempat Damar ikut membantu untuk persiapan ritual yang dikatakannya kemarin. Pagi-pagi sekali Sekar melewati hutan sambil membawa keranjang yang berisikan bunga yang sudah dibungkus dalam plastik. Ia juga membawakan lilin-lilin berukuran kecil dan besar yang memiliki bau seperti kemenyan jika dibakar bahkan minyak kemenyan juga ada. Beberapa nampan, dan piring, kendi gelas yang terbuat dari tanah liat asli tanpa polesan keramik di permukaannya. Jadi selama waktu dua hari Sekar sudah membawakan semua benda itu dan yang lainnya. Akan tetapi, Damar juga membantunya mengangkat yang berat-berat jadi ketika pagi tiba ia akan menunggu Sekar di dekat hutan. Sampai tibalah hari ini, hari di mana ritual yang dijanjikan Damar akan segera dilaksanakan. Namun, saat sore hari Sekar baru akan memasuki hutan untuk menjadi asisten dukun yang membantu Damar karena keturunan keluarganya merupakan spiritual perdukunan juga. Jadi Sekar paham akan hal-hal dasar dalam ritual. “Mbah, kok malah jemput Sekar ke sini? Kan, semua barang-barangnya sudah dibawa semua ke dalam.” Damar melihat ke belakang Sekar. “Aku menunggu orang lain, dia orang yang pernah aku bicarakan padamu, wanita yang sudah membangunkanku. Sekarang aku sedang menunggunya.” Ternyata di belakang Sekar seseorang datang menuju ke arah hutan tempat mereka berdiri. Semakin berjalan mendekat wajah wanita itu jadi lebih jelas dan Damar sudah mengenalinya meski dari jarak yang cukup jauh. “Jadi wanita itu yang akan menjadi pelanggan pertama?” tanya Sekar. Tapi entah mengapa wajah Sekar berubah jadi masam saat melihat Laras yang mendekat. “Ya, dia yang akan melakukan ritual meminta keturunan. Dia adalah wanita yang sudah menikah tapi karena mandul jadi ia ingin memiliki anak dengan melakukan ritual yang dapat mengatasi kemandulannya.” Saat Damar mengatakan kalau Laras adalah wanita yang sudah menikah. Itu membuatnya merasa lebih baik hingga menghela nafas. Sekar perpikir, ‘Dia tidak mungkin terpikat pada wajah asli Mbah Damar kan? Kalau iya, itu akan sangat menyusahkan jika sampai dia terpikat.’ “Biar aku menghampirinya lebih dulu dan menyapanya. Aku juga akan memperkenalkan diri sebagai asisten yang melayani seorang dukun di tempat ini!” Sekar langsung berbalik menghampiri Laras bahkan sebelum Damar memberikan persetujuan ia sudah bertindak lebih dulu. “Halo, Mbak Laras ya?” tanya Sekar. Laras sempat kaget karena seorang gadis muda datang dengan sendirinya bahkan mengetahui namanya. “Ya benar, tapi ada apa ya?” Dalam hati Laras merasa sangat khawatir kalau orang lain mengetahui dirinya mendatangi dukun untuk meminta bantuan agar hamil. ‘Apa mungkin wanita ini mengikuti ku sampai ke sini lalu …!’ dalam hati ia gelisa. Tangan Laras memegang erat keranjang yang ada di tangannya. Keranjang itu berisikan ayam masih hidup yang sudah diikatnya bahkan ia juga menaruh telur yang disuruh Damar.Karena wajah mereka saling dekat. Damar akhirnya mencium bibir Ririn. Hingga mereka sempat berciuman dengan sangat lama. — Cahaya pagi menyinari ranjang tempat Smear tidur. Ia terbangun di dalam kamarnya sendiri. Namun, mengingat kalau semalam ia pingsan karena didorong oleh Ririn sampai pingsan. Jadi Sekar segera bangkit dari ranjang. “Awhh … sakit, rasanya belakang kepalaku masih terasa sakit!” Wajah Sekar mengernyit saat melihat ke arah cermin yang ada di depan meja rias. Cermin itu memantul ke arah ranjang tempat Sekar bangun. Wajahnya terlihat pucat tapi ia merasa ada yang aneh. Karena itu Sekar sebelah merah turun dari tempat tidurnya. Langkahnya keluar dari kamar lalu cepat menuju ke arah kamar tidur Ririn. “Mbak! Mbak Ririn!” Sekar mengetuk-ngetuk pintu barulang kali namun tidak ada jawaban dari dalam. Mendengar suar
Dia terus menggerutu karena rasa sakit berhubungan saat pertama kali membuat miliknya terasa sangat perih di dalam.Namun ini adalah kesempatan bagi Damar di saat roh itu terlihat lengah. Tangan Damar menarik tubuh Ririn agar mendekat ke pelukannya. Kemudian ia menahan wajah Ririn dekat dengannya, lalu membisikkan mantra. Roh yang mendengar mantra itu langsung tidak bisa bergerak, ia merasa seperti tidak bisa menggerakkan tubuh itu sesuka hatinya lagi. Jelas Damar sedang mengunci roh yang ada di dalam tubuh Ririn. Ia mencoba untuk membuat roh itu keluar dengan sendirinya karena tidak bisa menggerakkan tubuh Ririn. Jadi karena tidak berdaya, roh itu akan keluar dengan sendirinya. Meski tidak saat ini roh itu masih bersikeras untuk tetap tinggal tapi Damar tidak akan membiarkannya.Kedua tangan Damar menggerakkan pinggul Ririn dengan gerakan naik turun. Gerakannya tidak santai melainkan digerakkan dengan kasar. P
Mendengar itu Damar sampai menggoyangkan pinggulnya lebih dalam menghujam lubangnya.Tidak sampai di situ, ia bahkan mengangkat tubuh Dewi dan digendong menghadap ke arahnya. Kelamin mereka masih menyatu. Namun, milik Beni masuk lebih dalam di perut Dewi.“Huaanghh … ahh, ini terasa lebih dalam dari sebelumnya.”Desahan Dewi hanya sampai di halaman rumah saja. Dari dalam rumah tidak terdengar suara apapun. Sehingga Sekar yang sedang berusaha mengeluarkan roh yang ada di dalam tubuh Ririn kini membuatnya sibuk sendiri.Tanpa tahu apa yang terjadi saat ini di luar, tepar di halaman rumah. Damar masih terus mengangkat tubuh Dewi naik turun agar miliknya bisa keluar masuk dalam posisi digendong di depan.Damar merasakan lubang Dewi yang semakin menjepit lebih erat dari sebelumnya.Jelas dia sedang merasa sangat terangsang. Belum lagi Dewi sesekali melihat ke pintu rumah. Ia berharap Sekar tidak bisa melihatnya yang sedang dalam kondisi bercinta dengan Damar.“Huuh, aahh … rasanya kepala
“Akhh …! Apa yang kamu lakukan?!” Tubuh Ririn langsung ambruk tanah halaman depan rumah. Meski roh yang ada di dalam tubuh Ririn itu masih bersama yang. Tapi saat ini dia sedang melemah. Karena itu saat ini Sekar langsung menyeret tubuh Ririn masuk ke dalam rumah. Ia membawanya cepat-cepat pergi dari tempat ritual agar tidak mengacaukannya. Sampai di kamar Sekar memasukkannya kembali dan membaringkan tubuh yang lama itu di atas ranjang. Nafasnya memburu ketika menahan berat tubuh Ririn saat membawanya dan membantunya menaiki kasur. Untuk sementara ini dia tidak bisa pergi dari sini apakah harus menjaga diri tetap diam di kamar. Kalau sampai gadis itu keluar dari sana maka roh itu akan menggunakan tubuhnya untuk menjaga hutan ritual yang dilaksanakan oleh Damar. Bacaan mantra yang dilakukan oleh Damar masih berlangsung. Ia terus menyirami tubuh Dewi dengan air kembang tujuh rupa. Sementara itu kain yang dikenakan oleh Dewi saat ini sudah tidak lagi terpasang dengan benar.
Jika orang biasa orang yang tidak memiliki kemampuan khusus melihat hal-hal gaib, seperti yang dilihat oleh Sekar maupun Damar. Kolam itu akan terlihat jernih dengan air yang tenang. Tidak ada sesuatu apapun yang terlihat di dalamnya. Akan tetapi, terkecuali untuk seseorang yang sedang melakukan ritual seperti yang dilakukan oleh Dewi saat ini. Maka dia juga akan melihat ular yang berada di dalam kolam. Hingga merasa itu sangat terlihat mengerikan sekali jika sampai masuk ke dalam. “Mbak, harus masuk ke dalam!” Suara Sekar membiarkan kengerian yang ada di dalam kepala Dewi. Sehingga dia membuatnya menatap ke samping.“A-aku … aku rasa tidak bisa!”Kepala Dewi bergerak, dahinya mengernyit dengan keringat dingin yang ikut bercucuran. Sampai membuat wajahnya terlihat sangat pucat. “Mbak yakin? Bukannya Mbak yang sangat menginginkan anak?”Sekar mencoba untuk kembali membujuk agar Dewi mau kembali melanjutkan r
Selain wajahnya yang rupawan dengan tubuh yang bagus. Belum lagi pemuda itu saat ini sedang pakai baju yang ukurannya tidak sesuai dengan besar tubuhnya.Hingga terlihat sangat ngetat sekali, menempel di kulitnya sehingga menjiplak ke otot-otot tubuh.Itu membuatnya terlihat sangat seksi tanpa sadar Dewi merasa terpikat. Ia bahkan sampai menelan ludah, dan menggigit bibir bawahnya.Sampai-sampai Dewi tidak mendengar suara Damar saat memanggilnya. Karena ia sempat berada dalam khayalan fantasinya sendiri.Itulah mengapa ia tampak bengong.“ … Mbak Dewi, Mbak!”Tangan kokoh Damar akhirnya menyentuh pundak. Sedikit mengguncangnya sehingga membuat pandangan Dewi langsung tertuju padanya. “Ah, ya!”“Mbak kenapa malah bengong?”“Ayo kita jalan, itu ayamnya kan? Sini biar aku bantu bawakan.”“Ini tolong bawakan.”Damar meraih ayam yang masih hidup itu dibawakannya. Sambil berjalan







