Share

Bab 4

Author: Lailiela
last update publish date: 2026-07-07 21:38:28

“Perankan aku Sekar, asisten Mbah Damar yang akan membantu dalam ritual yang akan dilakukan untuk Mbak Laras!”

“Ah, begitu ya. Tapi ….” Laras menoleh ke belakang Sekar di sana Damar sedang berdiri menunggu mereka.

Karena melihat Damar sekarang Laras jadi percaya kalau Sekar benar-benar orang suruhannya.

“Mbak sudah lihatkan? Itu Mbah Damar sudah menunggu Mbak dari tadi. Sini aku bantu bawain yang ini dan ayo kita segera ke sana!” ajak Sekar sembali membantu Laras membawakan telur yang dibawanya dalam kantongan plastik.

Karena Sekar bersikap ramah Laras merasa sedikit terbantu dan suasana akan jadi ramai jika dia ada. Pikir Laras diam-diam.

Akhirnya mereka bertiga kembali memasuki hutan dan saat cahaya matahari mulai terbenam mereka sampai di dalam kediaman lama.

Di sana Laras melihat kolam yang dekat dengan pohon beringin. Kolam yang tadinya berlumut itu sudah dibersihkan sebelumnya hanya saja terlihat mengerikan karena tidak hanya berisikan air tetapi …

“Haah … ah! Ada ularnya, Mbah mau saya berendam di dalam kolam bersama ular-ular itu?”

Wajah Laras sangat terkejut apalagi saat melihat ular-ular itu yang bergerak-gerak di air dan di dalamnya tidak hanya ada satu ular saja karena di dalamnya cukup banyak.

“Bukankah sudah aku bilang sebelumnya untuk tidak bertanya ataupun protes? Kamu pilih mana berendam di dalamnya atau tidak sama sekali?” Damar kembali mengingatkan persyaratan yang pernah diajukannya jika ingin melakukan ritual.

Laras masih melihat ngeri ke dalam kolam tetapi ia tidak punya pilihan lain, selain berendam saat melakukan ritual.

“Sekarang ganti pakaianmu dengan kain panjang ini. Pakai dengan cara melilitnya di tubuh dan ujungnya diikat pada bagian atas menutupi dada. Sekar cepat bantu dia berganti pakaian.”

Kali ini Laras langsung mengangguk dan mengambil kain panjang bermotifkan batik Jawa asli berwarna coklat yang berada di atas nampan.

Sekar yang mendengar itu juga langsung ikut bersama Laras masuk ke dalam rumah. Mereka menggunakan kamar tempat yang Damar tempati karena ruangan itu lebih tertutup berbeda dengan ruangan lain yang semuanya berjendela tapi tidak ada penutupnya.

Meski rumah itu terlihat sangat tidak layak tapi setidaknya di bagian kamar Damar masih sedikit lebih baik daripada tempat lain di kediaman tua itu. Namun, meski begitu Laras tidak berani berkata apa-apa tentang tempat itu.

Sekar melihat wajah Laras lebih dekat saat membantunya memakaikan kain jarik yang dililitkan sampai menutupi dadanya hingga pemasangan selesai. Dalam hati Sekar cukup kagum melihat kecantikannya.

Namun, saat berpaling Sekar langsung membuka pintu kamar dan melihat keluar jendela ternyata matahari sudah benar-benar terbenam hingga langit mulai gelap. Itu berarti Damar sudah kembali ke wujud aslinya lalu Sekar kembali melihat Laras yang sudah siap untuk ritual.

Rambut panjangnya yang terurai dengan indah, tubuh yang berisi terutama di bagian dadanya sangat montok bahkan ia saja sangat iri melihat ukuran itu yang berbanding jauh dengan miliknya. Di mata Sekar, Laras sudah seperti seorang putri keraton saja.

Laras yang melihat Sekar sedang menatap ke arahnya tapi hanya terdiam membuatnya heran.

“Sekar, ada apa? Di kainnya ada yang salah?” tanya Laras.

Seketika Sekar yang terdiam kembali merespon. “Tidak ada yang salah, pemasangannya sudah bagus kok. Aku hanya tertegun melihat kecantikan Mbak Laras. Ayo cepat kita keluar mbah Damar pasti sudah menunggu di tempat ritual.”

Tangan Sekar menuntun jalan keluar karena di dalam rumah hanya ada penerangan lilin seadanya dan cahayanya masih terasa gelap seperti remang-remang. Jadi Sekar membawa Laras dengan hati-hati agar dia tidak jatuh.

“Jangan melangkah buru-buru karena gelap Mbak bisa saja terjatuh.”

Mendengar ucapan Sekar membuat Laras berpegangan erat pada tangan Sekar yang sedang menuntunnya keluar.

Sementara di luar cahaya dari obor yang dipasang di beberapa titik tempat ritual membuat cahaya lebih terang. Damar yang sudah berubah menjadi seorang pria tampan yang mempesona membuat Laras tidak mengenali sosok itu.

Saat mereka baru saja keluar Laras melihat seorang pemuda yang sangat tampan berdiri di dekat kolam sambil menaburi bunga ke dalamnya. Laras melihat bibir pria muda itu sedang berkomat-kamit karena sedang membaca mantra.

Kemudian Laras menyadari kalau pria tua itu tidak ada di sana dan hanya ada mereka bertiga saja. Dirinya, Sekar, pria muda yang tidak diketahui namanya. 'Lalu dimana Mbah Dukun berada?’ tanyanya dalam hati.

Sekar menunjuk ke tengah-tengah lilin yang dinyalakan dengan bentuk melingkar di dekat kolam berisikan ular-ular.

“Mbak, berdirilah di dalam lingkaran itu!”

“Ta-tapi … di mana Mbah Damar?” tanya Laras pandangannya menyapu sudut tempat lain mencari sosok seorang pria tua tapi tidak juga ditemukannya.

“Itu … sebenarnya Mbah Damar ada di sana!”

Telunjuk Sekar menunjuk ke arah pria muda yang sudah berada di sampingnya sedang mulai membacakan mantra. Tetapi Laras tidak mendengar apa yang dikatakan Sekar ia hanya menatap pemuda yang ditunjuk Sekar.

Laras pun memilih diam karena sedang proses ritual dimulai maka mereka mulai bersiap.

Angin sempat bertiup kencang hingga membuat api bergoyang. Namun, api di obor tidak ada satupun yang padam.

Wajah Laras masih kebingungan tapi karena ingat ucapan Damar tadi saat proses jangan banyak tanya atau protes. Ia pun memilih diam dan membiarkan pria muda itu membacakan mantra padanya sembari menghamburkan butiran beras padanya.

“Hong Hyang Hanging Amarta, Martini Sarwa Huma.

Kuwat kandungan, subur rahim,

Metu benih, tuwuh dadi jabang bayi.

Sing reksa jagad, paring berkah,

Anak waras, selamat lahir lan batin.”

Mantra yang diucapkan dalam bahasa Jawa, Laras tidak terlalu paham dan hanya mengerti sedikit saja tapi ia tetap mengikuti prosesnya sambil terus dibacakan mantra.

Setelah itu Damar mengambil air di dalam kendi lalu meminum air tanpa meneguknya ke dalam mulut lalu menyemburkannya ke lingkaran lilin di sekeliling Laras.

“Burrh …!”

Tetapi lilin-lilin itu tidak padam meski terkena semburan air. Kemudian Damar menuntun Laras sambil memegang tangannya keluar dari lingkaran lilin.

Sekarang menuju kolam berisikan ular tadi meski permukaannya tertutupi oleh bunga tapi Laras sudah tahu kalau ular-ular itu masih berada di sana. Ia dengan reflek mengeratkan genggaman tangannya pada dukun muda di sampingnya.

Tubuh Laras jadi gemetar karena takut tapi ia harus tetap menahannya sambil mengangkat satu kakinya untuk melangkah masuk ke dalam kolam.

Wajahnya benar-benar pucat pasi dahinya bahkan mengernyit, rasa ngeri dan takut membuatnya hampir menahan kakinya di udara agar tidak masuk. Namun, Laras kembali teringat akan keinginannya yang begitu kuat jadi akhirnya ia pun berhasil mencelupkan kaki ke dalam kolam.

Permukaan air bergelombang saat satu kaki Laras sudah masuk. Tetapi sambil memejamkan mata ia kembali memasukkan satu lagi kakinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 128

    Sehingga mereka bisa bicara dengan serius. Damar melihat Dewi yang sepertinya agak kedinginan setelah berjalan masuk ke hutan malam-malam sendirian.Damar mengambilkan selimut berukuran sedang lalu memberikannya kepada Dewi.“Pakai ini, kamu pasti kedinginan pergi ke sini malam-malam.”Tangan Dewi pun dengan cepat mengambil selimut itu dan memakainya. Rasa hangat langsung dirasakannya setelah itu.“Uhm … makasih ya, Mar.”Pandangan Dewi melihat sekeliling ruang tengah, dia sama sekali tidak melihat siapa pun di sana dan hanya ada Damar seorang.“Di sini nggak ada siapa-siapa, maksudnya kakek atau gadis bernama Sekar itu nggak ada?”Damar pun kembali beralasan, “Kakekku, dia ada urusan. Kalau Sekar, dia pergi kuliah ke Kota. Jadi di sini hanya aku seorang saja.”“Ah, begitu. Kebetulan sekali sebenarnya aku datang ingin bertemu denganmu.”Dewi pindah tempat duduk tepat di samping Damar. Dengan sengaja Dew

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 127

    “Jadi kiriman mantra guna-guna pemikat itu akan teralihkan pada boneka ini?”“Benar, boneka itu akan menyerap dan menanggung guna-guna pemikat itu. Maka secepatnya adik iparmu akan segera sadar dari pengaruh guna-guna dan akan kembali pada istrinya.”“Itu beneran, kan, Mbah?” tanya Joko memastikan.Damar menyentuh jenggotnya sambil mengangguk dengan yakin,“Iya, itu benar adanya, jadi kamu bisa tunggu saja. Akan tetapi, jika adik iparmu itu tidak juga kunjung pulang dan tidak ada yang terjadi, maka kamu bisa datang lagi ke sini.”Mendengar itu tentu saja membuat Joko jadi lebih tenang dan pastinya percaya pada Damar. Karena jika tidak berhasil maka ia hanya perlu datang ke sini lagi untuk menuntutnya.“Kalau begitu saya akan pulang ke rumah adik saya dulu. Untuk hasilnya akan ditunggu sampai dua hari ke depan, jika tidak berhasil maka saya akan datang lagi ke sini.”Damar dengan santai menjawab, “Ya, aku akan selalu

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 126

    “Hah, apa maksud Mbah Dukun? Mungkinkah adik ipar saya dalam bahaya?” tanya Joko.“Itu bisa saja terjadi, saat ini adik iparmu juga sering mengingat kembali istrinya. Namun, wanita itu tidak mau membiarkannya begitu saja. Karena hal itu dia terus menekan ingatan dengan ritual ilmu hitam.”Damar kembali menjelaskan, “Jika wanita itu terus melakukan hal itu secara terus-menerus. Maka hal itu akan membuat kondisi dari adik iparmu dalam bahaya. Jadi sebelum terlambat kita harus adakan ritual khusus itu secepatnya.”Joko sempat terdiam beberapa saat dan memikirkan kondisi adik iparnya dan juga adiknya jika dia sampai kehilangan suaminya.“Aku … tidak bisa membiarkan adik iparku dalam bahaya hanya karena wanita perebut itu!”Dengan tangan yang mengepal kuat Joko bertekad akan membuat adik iparnya kembali pada adiknya.Damar segera memanggil Ririn yang berada jauh dari pondok. Kemudian dia kembali melihat ke arah Joko.

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 125

    “Ya, aku harus mencari cara untuk mengeluarkannya. Apa sebaiknya aku gunakan artefak saja, ya?”“Uhm … bukankah maaf itu adalah milik para penyihir? Di zaman sekarang, bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan benda itu dari para penyihir.”Wurip kembali melanjutkan, “Bahkan aku dengar keturunan penyihir itu sudah punah. Aku rasa tidak akan ada kesempatan bagimu untuk memiliki artefak itu.”Damar tidak bisa menyangkal ucapan Wurip karena benar adanya.“Itu benar, tetapi aku masih ingin mencoba untuk mencari. Jika tidak bisa dapat maka aku akan mengambil paksa jasad itu dari Gunung Lewi.” Damar sudah bertekad akan mengeluarkan jasad itu, maka hanya menunggu masalah waktu saja.----Beberapa hari berlalu semenjak kunjungan ke Gunung Lewi waktu itu. Damar juga sudah semakin berlatih keras untuk melepaskan benang kutukan yang masih berada di tangannya.Meski sudah retak, tapi kekuatan dari kutukan itu masih mengikat, menahan 9

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 124

    Demi menghindari beberapa murid dari para tetua gunung yang jumlahnya lumayan banyak.Damar sampai menggerutu saat melihat beberapa anak murid yang hampir saja memergokinya,“Sial, mereka ada di mana-mana!”Sampai akhirnya Damar mempercepat langkah sampai ia tiba di sebuah ruangan yang mana saat menerawang dari jarak dekat.Maka ia bisa melihat ada jalur masuk yang tersambung dari dalamnya sampai ke gua batu. Namun, saat mencoba menerawang lebih jauh Damar tidak melihat apa-apa selain warna hitam pekat.“Akhh … sial, aku tidak bisa melihat lagi! Tapi bagaimana caranya agar aku bisa masuk?”Melihat di depan pintu ada anak murid mereka yang menjaga di depannya. Hal itu membuat Damar agak kesusahan.Tapi untungnya pergantian jam waktu istirahat makan siang. Jadi mereka meninggalkan tempat itu dan mencari yang lainnya untuk mengganti posisi jaga sementara.Celah itu dimanfaatkan oleh Damar untuk masuk. Namun, t

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 123

    Saat mereka sudah berada dalam perjalanan, di jalan raya Damar mulai fokus untuk menyetir mobilnya.Namun, sesekali ia melirik ke arah Wurip.“Jadikan kamu kan, sudah sering pergi ke Gunung Lewi. Jadi sebaiknya tunjukkan saja arahnya.”“Eh, tadi bukannya kamu bilang Sekar sudah memberitahumu cara memakai GPS di ponsel itu?”Wurip menunjuk ke arah ponsel Damar yang sudah diletakkan di samping setir.Tetapi, jujur saja Damar sendiri masih bingung memahami peta di GPS.Karena itu Damar berniat untuk jujur saja pada Wurip,“Aku rasa tidak bisa, aku belum memahaminya.”“Begitu, baiklah aku akan menunjukkan tempatnya padamu …” Wurip mulai mengarahkan lokasi Gunung Lewi pada Damar.Sehingga dia hanya tinggal fokus menyetir saja sampai mereka berdua akhirnya sampai di bawah kaki gunung.Damar mencari tempat untuk parkir di sana dan akhirnya sampai di sebuah area lahan kosong di mana beberapa kenda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status