แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Lailiela
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-07 21:38:55

“Berendamlah di dalamnya,” ucap Damar.

Sedangkan Laras hanya diam tapi ia mulai membuka matanya perlahan, rasa takutnya hilang karena tadi ia mengira kalau ular-ular itu mungkin saja akan menggigitnya. Akan tetapi ternyata tidak apa-apa hanya saja dia merasa geli sekali karena kakinya merasakan tubuh ular-ular licin sedang bergerak.

Kemudian tangan Damar menyentuh pundak Laras membantunya untuk menurunkan tubuhnya masuk ke dalam kolam yang tingginya hanya mencapai atas lutut agak lebih dikit.

Sehingga saat tubuh Laras berendam permukaan air mencapai dadanya saat ia sudah berendam.

“Ahh …! Hmph, Mbah rasanya geli!” teriak Laras.

Saat sadar kalau di depannya bukan Damar si pria tua yang dikenalnya. Laras berhenti berteriak lalu mencoba menahan perasaan geli setiap kali ular bergerak di menyentuh tubuhnya.

Namun, lama kelamaan gerakan ular-ular itu yang terasa licin menyentuh kulit Laras kini mulai terasa aneh. Bahkan di bagian bawah sana ia merasakan ada yang masuk ke dalam kainnya, ular itu naik perlahan sampai ke paha beberapa ada yang melilit di kaki. Saat ekor ular menyentuh kemaluannya, Laras entah kenapa malah merasa terangsang.

"Hnggh hhaah! Ahh … Mbah, aku tidak kuat!”

“Tahanlah sebentar lagi. Aku akan mempercepat ritual malam ini.” Damar menyirami air kembang pada Laras sampai air di dalam kendi habis.

Wajah Laras memerah nafasnya berat membuatnya terengah-engah. Entah mengapa di tengah kondisinya yang seperti itu ia malah membayangkan wajah pria muda yang ada di hadapannya (Damar) sedang membelainya dengan lembut.

“Hmmha … ahh! Geli … ahh, rasanya di sana sangat hnggh!” Laras merasa seakan-akan bercinta dengan pemuda itu.

Tubuhnya sampai bersandar di tepi kolam sambil menyentuh dirinya sendiri. Halusinasi membuatnya melihat Dukun muda akan menyentuhnya lebih dalam dan bahkan saat ini dia sedang naik ke atas tubuhnya. Namun …

Splas!

Tangan Damar dan Sekar menarik tubuh Laras dari dalam kolam.

“Mbak! Mbak Laras ritualnya sudah selesai. Sekarang Mbak harus bilas tubuhnya dengan air bersih lagi karena kita akan pulang.”

“Baiklah, aku akan segera membersihkan diri dulu.”

Tapi saat akan pergi Laras sempat melihat ke arah pemuda yang hampir bercinta dengannya dalam halusinasi tadi. Ia belum tahu kalau itu adalah wujud asli Damar yang sebenarnya.

Tapi Sekar langsung menghalangi pandangannya dengan berdiri menghalangi pandangan Laras.

“Mbak, aku temenin aja soalnya gelap karena barusan aku sekalian bawakan baju Mbak yang dipakai tadi.”

Melihat Sekar yang membantunya Laras pun berpikir akan lebih baik kalau ditemani. Selain gelap Laras merasa kalau ia tidak akan takut sendirian.

“Gimana Mbak mau aku temenin nggak?” tanya Sekar lagi karena Laras belum menjawab setuju.

“Ehm … baiklah, tolong temenin ya,” jawab Laras.

Setelah mereka pergi Damar kembali membereskan peralatan ritual yang dipakainya tadi. Memasukkannya ke dalam rumah dan beberapa lilin mulai dipadamkan dan dibawa masuk. Obor-obor ikut dimatikan dan hanya menyala di bagian depan rumah agar tetap terang.

Ketika Damar mengingat wajah Laras yang berada di dalam kolam tadi. Ia berpikir apakah ritual yang dilakukannya berlebihan? Tapi sejak dulu ia pernah melakukan ritual serupa seperti itu juga dan semuanya berhasil membuat para wanita itu hamil.

Namun, jujur saja penampilan Laras saat mendesah dan terengah-engah di kolam membuat Damar bahkan ikut menegang ia kembali merasakan hasratnya ikut terpancing untuk pertama kalinya setelah beberapa ratus tahun berlalu.

Hal itu sudah membuat 'miliknya' sampai berdiri itulah mengapa Damar mempercepat ritual.

Tidak lama kemudian Laras dan Sekar baru saja kembali. Damar yang juga sudah selesai memasukkan peralatan ke rumah ia segera mengajak dua wanita cantik itu masuk.

“Aku rasa sebaiknya kalian berdua masuk saja karena hujan akan segera turun sebentar lagi jadi karena itu aku tidak alian tidak bisa pulang sekarang.”

Damar bisa memprediksi cuaca hanya dengan kekuatannya jadi ia tahu persis kalau hujan akan cukup lama. Meski begitu rumah tempatnya tinggal tidak ada kamar lain selain kamarnya. Area yang di tempatnya itu.

Belum lama Damar mengatakan kalau akan turun hujan, sekarang air hujan sudah mulai berjatuhan ke tanah hingga perlahan hujan jadi semakin sangat lebat.

Laras dan Sekar segera berlari masuk ke dalam rumah mengikuti Damar. Di dalam rumah dengan penerangan seadanya dan hanya ada bayangan mereka saat menutupi cahaya lilin.

Suasana juga terasa dingin tetapi Laras memikirkan ada yang kurang di antara mereka.

“Hujannya lebat banget, tapi Mbah Damar nggak ikut masuk? Sejak tadi aku juga tidak melihatnya.” Laras melihat keluar pintu dan hujan semakin lebat.

“Itu karena sebenarnya ….”

Sekar menatap Damar yang masih dalam bentuk seorang pemuda tampan. Gadis itu melirik Damar berharap dia sata yang menjelaskannya pada Laras.

Mendengar ucapan itu Damar pun akhirnya angkat bicara, “Aku adalah pria tua yang tadi kamu temui. Penampilanku yang sekarang adalah wujud asliku sebagai seorang laki-laki muda.

Dahulu jauh di zaman sebelum saat ini, aku yang merupakan dukun muda yang sangat sakti. Tanpa sengaja melakukan kesalahan saat melakukan ritual karena itu aku dikutuk jadi tua dan bahkan tertidur selama ratusan tahun.”

“Jadi dia benar-benar Mbah Dukun itu?” Wajah Laras menoleh ke arah Sekar sambil terkejut setelah mendengar pengakuan Damar.

Satu anggukan dari Sekar lalu menjawabnya, “Dia adalah Mbah Dukun Damar yang tadi menyambutmu. Intinya saat malam hari sampai sebelum matahari terbit wajah dan tubuhnya akan berubah. Kembali ke bentuk wujud aslinya sebagai pemuda.”

Wajah Laras semakin terkejut karena baru mengetahui semua itu meski sulit untuk dipercaya tapi mengingat kalau Damar adalah dukun sakti. Hal itu menjadi mungkin saja terjadi dan memang benar tapi siapa sangka pria tua yang terlihat renta itu kini benar-benar berubah jadi pemuda yang sangat tampan.

“Aku tidak tahu itu … aku kira kalau dia bukan Mbah Damar. Sejak tadi aku mengira kalau kalian menggantinya dengan dukun lebih muda untuk melakukan ritual.”

“Tidak mungkin menggantinya karena hanya Mbah Damar saja yang bisa melakukan ritual itu,” sanggah Sekar.

“Ya, aku juga merasa janggal karena Mbah Damar Dukun sakti jadi tidak mungkin tiba-tiba digantikan oleh Dukun muda.” Mulut Laras kembali terdiam.

Sedangkan Sekar kini diam-diam melihat ke arah Damar wajah tampannya sangat sulit untuk dilewati atau berpaling darinya. Kesempatan bisa duduk bersama saat malam dan melihat wajah tampan itu untuk pertama kalinya Sekar merasa bersyukur karena hujan turun sangat lebat dan tidak kunjung reda.

Jadi ia bisa melihat wajah tampan itu lebih lama, tetapi tiba-tiba Sekar berpikir bagaimana penampilannya sekarang? Karena tadi ia sempat kehujanan dan berlari-lari pasti penampilannya sangat berantakan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 65

    “Ayo Mbak ikut aku masuk.”Sekar berjalan lebih dulu di depan sambil menggandeng tangan Ririn masuk. Ririn yang berjalan di belakang Sekar, diam-diam ia malah tersenyum. Senyumannya terlihat sangat misterius, seolah ada sesuatu yang disembunyikannya. Sehingga akhirnya mereka pun sampai di kamar tamu. Kamar itu adalah tempat belum pernah ditempati oleh Ririn sebelumnya, karena hari itu dia sempat pingsan sehingga mereka membawanya masuk ke kamar itu, untuk berbaring.“Ini kemarin yang pernah Mbak tempatin waktu itu. Menginap di sini nggak apa-apa kan?”“Ya nggak apa kok, ini tuh udah bagus banget tempatnya. Aku juga nggak keberatan harus tinggal di sini sebentar. Lagiankan cuma untuk satu malam saja.”“Kalau gitu mbak jangan keluar dari sini ya, soalnya di depan sana bakal ada ritual.”Dengan senyum lembut, Ririn menjawab,“Iya tenang aja kok, aku nggak akan keluar dari sini. Lagian ini cuma satu mala

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 64

    “Apa jimat ini akan membuatnya tertidur?”“Tidak, tapi jika dia sudah tertidur di atasnya makan Jimat itu akan menjaganya tetap tertidur sampai kamu pulang ke rumah tanpa sepengetahuannya.”“Aku menambahkan mantra khusus. Seolah malam ini dia sedang berhubungan badan denganmu. Jadi ketika kamu hamil maka dia tidak akan merasa curiga tentang ayah dari anakmu.”“Aku mengerti! Sekarang aku akan langsung menaruh jimat ini di bawah bantalnya. Agar malam ini dia bisa tertidur lelap.”“Ya, setelah itu kamu baru bisa datang ke sini. Mungkin nanti yang akan melanjutkan ritual berikutnya adalah cucuku. Dia yang akan memimpin ritual pelaksanaan malam ini.”“Baiklah Mbah, aku akan datang lagi ke sini saat suamiku sudah tertidur.”“Nanti cucuku akan menunggu di depan hutan, dari sana dia akan menemanimu agar tetap aman saat melewati hutan.”Mendengar itu Dewi jadi merasa lebih tenang karena dia tidak sendirian saat akan melewati

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 63

    Sebagai satu-satunya murid Gurunya selalu menjaga tempat istirahat Damar. Bahkan sampai akhir hayatnya, Sang Aji selalu berpesan kepada anak cucuknya agar menjaga tempa Damar beristirahat. Ia juga bilang, kalau tidak diperbolehkan bagi siapapun yang mendatangi tempat Damar tertidur. Bahkan tidak terkecuali Dhanyang pun ikut mengasihi Damar sebagai murid dari suaminya. “Bagaimana mungkin aku bisa melupakan, kebaikan itu? Mungkin aku tertidur tetapi jiwaku dapat melihat semuanya.” “Dari generasi ke generasi, aku melihat keturunan dari Guruku yang terus menjaga tempat ini. Bahkan sampai yang terakhir, di mana Sekar sebagai yang tersisa di antara mereka.” “Tadinya penjaga tempat ini selalu dilakukan oleh para keturunan laki-laki saja. Tapi semua itu berubah sejak setahun yang lalu di mana gadis itu selalu datang membawakan persembahan, membersihkan halaman.” “Bahkan sampai semua tempat yang ada di sini dia bersihkan. Tunggu sepertinya aku mengingat sesuatu yang sempat aku lupakan”

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 62

    Bahkan rasa sakit dari pelet itu sudah tidak lagi terasa. Hanya saja ia merasakan agak mual. Namun, itu masih bisa ditahannya.Tangan Damar mengambil gayung yang terbuat dari batok kelapa itu, lalu mengambil air yang ada di dalam kolam dan mulai memandikan Soni dengan air itu.Sementara Sekar, bersiap dia mulai membakar kemenyan lalu meletakkannya dekat dengan air kolam. Tidak lupa segar menambahkan garam di atas kemenyan. Dengan begitu Damar bisa langsung membacakan mantra untuk memanggil kekuatan penyucian untuk membersihkan subuh Sony dari santet Getih Ireng.Kemudian Damar mulai menyiramkan air suci dari ubun-ubun hingga telapak kaki sambil memerintahkan energi hitam keluar."Darah keruh kembali jernih, ikatan kutuk terputus sekarang!”Wuzsshh!Tiba-tiba angin juga ikut bertiup. Tubuh Sony pun mulai bereaksi, tiba-tiba ia muntah darah berwarna kehitaman diiringi rasa panas di area dadanya, rasa panas hebat seperti menggerogotinya. Itu tanda energi sedang dikeluarkan.“Ohokk huoo

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 61

    “Jadi bagaimana, apa kamu mau meminjamkan kekuatanmu?”“baiklah aku akan pinjamkan, tapi setelah itu aku akan menagihnya kembali. Oh ya, tapi ini tidak gratis.”Damar mengangkat alisnya saat tahu Hyang Wurip mencoba untuk bernegosiasi dengannya. “Tidak gratis?”“Yah, katakan pada garis kecil itu.”Wurip menunjuk ke arah Sekar yang sedang membersihkan area bawah pohon besar di halaman. “Dia harus membuatkan persembahan yang sangat lezat untukku besok. Gimana sepakat?”“Baiklah aku akan menyuruhnya untuk menyiapkan persembahan untukmu.”Sejenak Damar sempat bergeleng kepala dia tidak menyangka kalau Wurip akan ketagihan dengan apa yang dibuat Sekar. Harus ia aku juga kalau makanan ataupun minuman yang dibuat oleh Sekar itu rasanya memang sangat enak. “Bersiaplah untuk menerima sebagian spiritual milikku!”Cahaya berwarna biru, adalah esensi dari kekuatan spiritual yang dimi

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 60

    Tangan Damar menghamburkan kembang tujuh rupa ke arah Soni, sambil membaca mantra khusus. Suara lonceng di tangannya berbunyi. “Lalu apa yang harus saya lakukan Mbah, untuk menghilangkan pelet ini?” Tubuh Soni semakin lemas, sambil batuk-batuk ia menahan sakit yang dirasakannya.“Kita akan mengadakan ritual, tapi sebelum itu sebaiknya untuk mengobati yang sudah terlanjur mengenaimu.”“Apa ada yang bisa saya lakukan untuk itu?”’“Kumpulkan 7 jenis daun suci (bidara, kelor, sirih, daun pandan wangi, daun jeruk purut, daun sirih gading, daun alpukat), kunyit tua, jahe merah, garam kasar/laut, air mata air atau air sumur tua.”Soni menyuruh bawahannya yang berada di samping untuk mencatat yang dikatakan Damar barusan.“Lalu setelah itu? Apa perlu di masak atau …?”“Ya, dengan cara: Rebus semua bahan, dibacakan mantra penawar & doa, ditiupkan. Padamu saat mandi dari kepala ke kaki saat subuh mendekat

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status