Share

Bab 99

Author: Lailiela
last update publish date: 2026-09-10 10:20:09

Mata Damar sempat menyipit, ia sedikit curiga dengan apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh pria di depannya.

“Itu Mbah, saya mencalonkan diri sebagai Bupati jadi kalau bisa buat juga agar aura saya terlihat menjanjikan.”

“Kalau bisa buat saya terpilih jadi Bupati ….”

Pria yang berbicara di depannya ini bernama Karno salah satu peserta yang ikut pemilihan Bupati setempat. Dia terus berbicara dan menjelaskan situasinya pada Damar.

Sejenak Damar berpikir men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 102

    Dengan tubuh gemetar Raka memberitahu Damar sambil memperagakan roh yang dilihatnya semalam.Damar memperhatikan reaksi Raka dengan seksama.“Jadi begitu, lalu sekarang apa kamu menyesal karena telah mengganti boneka itu?”“Jika kamu tidak melakukannya, mungkin saja saat ini kamulah yang menjadi korbannya. Kamu yang akan mati dan roh itu akan memakan seluruh isi kepalamu!”Mendengar itu Raka jadi semakin bergidik ngeri, dia yang tadinya merasa bersalah karena tidak meminta bantuan untuk menyelamatkan kakak tirinya. Namun, sebaliknya saat ini Damar baru saja menyadarkannya atas rasa bersalah yang dirasakannya senak semalam.“Yang Mbah katakan itu benar. Aku …!”Tangan Damar menepuk pundak Raka.“Apa yang terjadi tidak bisa kita kembalikan seperti semula. Jika kamu tidak melakukan hal itu maka kamu yang akan jadi korbannya.”“Semalam mungkin saja kamu berada di posisi itu dan hari ini dia menertawak

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 101

    Rasid juga berencana untuk segera melakukan ritual yang akan dijalankannya. Jadi karena itu juga saat ini Rasid lanjut berjalan.“Ternyata begitu, sekarang aku akan kembali ke kamar jadi sebaiknya kamu juga kembali ke kamarmu.”Rasid sempat menepuk pundak Raka sebelum pergi. Sedangkan Raka tidak mengatakan apa-apa lagi, ia hanya mengangguk saja.Saat di kamarnya Rasid segera memeriksa bawah ranjang, tangannya berusaha meraih boneka yang disimpannya di bawah ranjang.Tangannya memegang dengan erat boneka itu kemudian membawanya keluar dari kamar. Rasid keluar dari rumah dan berjalan ke belakang rumahnya.Rasid melihat sekelilingnya saat i tiba di bawah pohon belakang rumah. Memastikan tidak ada seorangpun yang mengikuti atau melihatnya.Namun, tanpa diketahuinya Raka diam-diam melihatnya dari kejauhan. Ia menyaksikan ritual yang akan dilakukan oleh Rasid.Tiba-tiba seorang pria yang tidak tahu dari mana datang mengha

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 100

    Di bagian belakang boneka itu ada lubang yang kecil, Damar memperlihatkannya saat sudah merendamnya dari genangan darah.“Lihat lubang di bagian sini, aku ingin kamu memasukkan apapun termasuk rambut, atau sesuatu lain yang dimiliki kakakmu.”“Lalu setelah itu apakah aku harus balik menyantetnya?” tanya Raka.Damar menggelengkan kepalanya. “Tidak, kamu hanya perlu menukarnya dengan boneka santet yang ada di kamar kakamu itu dengan boneka ini.”Mendengar itu tentu saja Raka sangat terkejut.“Apa dia memiliki boneka? Tidak, maksudku jadi dia menyantetku juga dengan boneka seperti ini?!”“Ya, dia melakukannya.”Seketika tangan Raka mengepal di pangkuannya.Damar memasukkan boneka itu ke dalam rendaman air tanah liat. Kemudian barulah ia merendamnya lagi ke dalam air kembang.Tangan bergerak di atas boneka yang baru saja dikeluarkan dari dalam rendaman air. Kemudian Damar menggunakan kekuatan spir

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 99

    Mata Damar sempat menyipit, ia sedikit curiga dengan apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh pria di depannya.“Itu Mbah, saya mencalonkan diri sebagai Bupati jadi kalau bisa buat juga agar aura saya terlihat menjanjikan.”“Kalau bisa buat saya terpilih jadi Bupati ….”Pria yang berbicara di depannya ini bernama Karno salah satu peserta yang ikut pemilihan Bupati setempat. Dia terus berbicara dan menjelaskan situasinya pada Damar.Sejenak Damar berpikir mengenai sistem pemerintahan di era ini jelas berbeda dari zaman dulu.Jadi itu adalah pemimpin setempat yang harus dipilih? Damar mengira kalau pemimpin akan berlanjut dari garis keturunan saja.Karno melihat Damar yang sejak tadi terdiam di hadapannya. Membuatnya kembali bertanya,“Jadi Mbah, gimana?”“Tentu saja bisa, tapi seperti yang kamu tahu kalau pengaruh air ini akan bergantung pada bayarannya.” Damar tahu kalau beberapa pejabat mungkin tidak m

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 98

    Sekar meminum obatnya, kemudian Damar masuk ke kamar mandi.—Esok harinya Damar berjalan keluar hutan bersama Sekar. Udara pagi masih terasa dingin.Cuaca masih terlihat gelap karena cahaya matahari belum menembus ke dalam hutan. Langkah kaki mereka berjalan cepat, setiap hembusan nafas yang keluar dari hidung membentuk embun tipis di udara.“Di mana kamu memarkirkan mobilnya?”“Ada di dekat sini. Aku sengaja memasukkannya sedikit ke dalam hutan yang areanya ada sedikit lahan kosong.”Saat mereka jalan sedikit ke depan barulah terlihat mobilnya.Pertama kali Damar melihat mobil ituatanya langsung membulat dengan kedua alis yang terangkat.“Ini terlihat masih baru. Apa kamu yakin kalau yang kami beli ini bekas?” tanya Damar.Sambil mendekati mobil itu Damar mengamatinya lebih seksama.Sekar menekan tombol kunci yang ada di tangannya. Sehingga mobil itu berbunyi dan sempat membuat Dama

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 97

    Tangan Damar menyentuh pucuk kepala Sekar, mengusapnya lembut.“Apa sekarang kamu tidak mau menjelaskannya? Hem …!”“Lihat, kamu malah bersembunyi.”Pinggang Sekar yang ramping saat tangan Damar memegangnya terasa rapuh. Jadi tangan Damar pun hati-hati saat mengangkat tubuhnya hingga membuat wajah Sekar tidak lagi bersembunyi.Karena Damar mengangkatnya, jadi tinggi wajah mereka jadi sejajar. Sehingga wajah mereka bisa saling menatap satu sama lain.“Mbah, kenapa tiba-tiba menggendongku?”Saat kakinya berada di udara tidak lagi menginjak lantai. Sekar memegang erat di kedua pundak Damar saat merasakan dirinya diangkat.“Itu karena kamu tidak berbicara dengan jelas atas apa yang kamu inginkan!”“I-itu …!” Kedua pipi Sekar menggembung, ia menyipitkan matanya sambil memukuli pelan dada Damar.“Padahal Mbah tahu itu, gimana sih!”“Eh, kamu jadi kesal?”Damar langsung tertawa, men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status