Home / Rumah Tangga / Me Versus Gundik Suamiku / Bab 5. Kalang Kabut 

Share

Bab 5. Kalang Kabut 

Author: Pisces Man
last update Huling Na-update: 2025-08-05 13:08:27

"Akhirnya aku bisa bebas menguasai semua hartanya Gerry," ucap Trinita sembari menyesap segelas wine.

"Aku senang Tante mendengarkan saranku. Lagian kenapa dulu Tante setuju kalau Gerry menikah dengan wanita kampungan itu?" tanya seorang wanita muda yang bernama Gisela.

Trinita lantas berdecak keras sembari menatap tajam wanita itu.

"Aku sudah melarang Gerry untuk berhubungan dengan wanita kampungan itu, tapi anak itu bersikeras dengan keinginannya dan bahkan sampai mengancam akan kabur dari rumah."

Gisela semakin mengembangkan senyum saat mendengar ucapan Trinita.

"Tapi akhirnya Gerry sadar kalau wanita itu nggak layak untuknya. Buktinya dia bersedia berhubungan denganku dan berjanji

 akan menceraikan wanita kampungan itu setelah kembali ke Indonesia."

"Kalau saja Gerry sempat ketemu kamu sebelum memutuskan menikahi wanita kampungan itu, sudah Tante bujuk dia agar menikahimu," ucap Trinita dengan nada menyesal.

"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, Tante. Aku bersedia menunggu Gerry menceraikan wanita kampungan itu," sahut Gisela dengan nada maklum.

"Ah. Sudahlah. Jangan lagi membicarakan wanita kampungan itu, membuat Tante kesal saja." Dengus Trinita yang kini menuang gelas wine kedua.

"Maafkan aku, Tante. Aku hanya terlalu bersemangat karena kita telah berhasil menyingkirkan wanita kampungan itu."

Gisela yang sadar sudah melakukan kesalahan, akhirnya kembali berbicara manis untuk menarik simpati Trinita.

"Baiklah. Sekarang cepat ikuti Tante ke kamar Gerry untuk mengambil semua surat berharga milik anak Tante," ucap Trinita.

Namun sebelum keduanya sempat berdiri dari duduknya, terdengar suara seorang wanita dengan nada sinis.

"Sepertinya aku mencium adanya persengkonkolan antara Ibu dan dia untuk menguasai harta Mas Gerry."

Trinita menoleh dan melihat Lucinda, putri bungsunya berdiri di ambang pintu dengan bertolak pinggang.

"Memangnya ada yang salah? Harta Gerry itu adalah harta keluarga ini juga. Enak saja kalau sampai wanita kampungan dan anaknya itu yang menikmati," desis Trinita.

"Tapi Kayla itu anaknya Mas Gerry. Kenapa Ibu tega mengambil hak cucu Ibu sendiri," protes Lucinda.

"Halah! Jangan banyak banyak omong. Ibu tahu kalau kamu sebenarnya juga mengincar hartanya Gerry."

Lucinda terdiam karena apa yang dikatakan oleh Trinita memang benar adanya.

"Tunggu apalagi. Kalau kamu memang menginginkan hartanya Gerry, ayo cepat ikuti Ibu dan Gisela," ucap Trinita dengan nada tajam.

Akhirnya Lucinda mengikuti langkah kaki keduanya, meskipun di dalam hati terus mengucap kata maaf untuk Erika dan Kayla.

Tapi apa boleh buat, dia membutuhkan dana untuk membayar hutang sang suami yang hampir mencapai 200 juta. 

Dalam hati Lucinda berkata jika hidup ini begitu lucu, hanya demi harta yang tak dapat dibawa mati, manusia dapat menggunakan cara licik untuk mendapatkannya. Termasuk juga dengan ... dirinya.

Di dalam kamar, Trinita mulai membongkar lemari baju sang putra. Dia mengeluarkan semua barang dan mengakibatkan kamar itu berantakan seperti kapal pecah.

Namun bukannya berhenti, Trinita beralih membongkar meja rias dan lemari plastik yang ada di kamar Gerry.

Setelah menghabiskan waktu 30 menit, pencarian mereka bertiga berbuah nihil. Sebab tidak ada satupun surat berharga milik Gerry yang berhasil mereka temukan.

"Sialan! Ke mana surat-surat berharga itu? Seingat Ibu sebelum Gerry berangkat ke Belanda, dia bilang kalau menyimpan surat-surat itu di kamar." 

Trinita yang kesal akhirnya mengumpat.

"Apa jangan-jangan wanita kampungan itu yang mengambilnya, Tante?" tanya Gisela sembari mengetuk-ngetuk telunjuk kanan pada ranjang.

"Wanita kampungan itu tidak mungkin melakukannya. Jelas-jelas Tante melihat apa yang dia bawa sebelum meninggalkan rumah ini," ucap Trinita dengan nada tajam.

"Kemungkinan itu pasti ada, Tante. Apalagi Gerry sudah tiga bulan berada di Belanda. Pasti dia yang menyembunyikannya," balas Gisela dengan nada tak kalah sinisnya.

'Bagaimana ini? Kalau benar Mbak Erika yang menyimpan semua surat itu, maka aku nggak akan bisa menjual satupun hartanya Mas Gerry,' gumam Lucinda di dalam hatinya.

"Kita coba cari di bagian lain rumah ini. Siapa tahu saja, Gerry yang memindahkannya tanpa sepengetahuan wanita kampungan itu."

Setelah mengucapkan itu, Trinita menuju kamar lain dan mulai membongkar semua yang ada di sana. Lagi-lagi wanita itu berteriak frustasi, sebab tidak menemukan apa yang dia cari.

"Sial! Ternyata Ibu terlalu meremehkan wanita kampungan itu. Sudah pasti dia yang membawa semua surat itu!" teriak Trinita dengan nada frustrasi.

Baik Lucinda maupun Gisela tidak berani bicara, karena tidak ingin terkena semburan amarah Trinita.

Belum juga reda kekesalan Trinita, terdengar suara bel. Wanita itu menggeram kesal dan memerintahkan Lucinda untuk membuka pintu.

Dengan hati dongkol, Lucinda menuruti perintah sang ibu. Meskipun gerutuan terus keluar dari bibirnya.

"Ya. Sebentar. Jadi orang kok nggak sabar banget ...."

Lucinda tak dapat melanjutkan perkataannya, sebab di ambang pintu telah berdiri seorang wanita seusia dengan Trinita.

"Di mana Erika dan cucuku?" tanya wanita yang adalah ibu Erika.

Lucinda yang tak dapat menjawab hanya terdiam, dan itu semakin menyulut emosi Yuni-ibu Erika. Wanita paruh baya itu mendorong adik ipar sang putri, agar dia dapat masuk ke dalam rumah.

"Erika! Kamu di mana?!" tanya Yuni dengan berteriak.

Trinita yang masih berada di dalam kamar langsung mendengus keras, merasa terganggu dengan tamu yang jelas-jelas tidak dia undang itu.

Dengan hentakan kaki keras, Trinita melangkah dan berhadapan dengan sang besan.

"Kebetulan sekali kau datang. Bilang sama anakmu untuk mengembalikan semua surat berharga Gerry. Jangan jadi pencuri!" teriak Trinita sembari menunjuk Yuni.

Meskipun sempat terkejut dengan sikap kurang ajar Trinita, pada akhirnya Yuni tersenyum lebar. Dia melangkah mendekati sang besan hingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa centi.

"Kami sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Erika, tadinya kami khawatir dengan nasib anak dan cucu kami ...."

Yuni sengaja menggantung kalimatnya, ingin mengetahui bagaimana reaksi Trinita. Dan saat melihat wanita itu yang kalang kabut seperti ini, membuatnya lebih bersemangat untuk memprovokasi sang besan.

"Tapi kami sekarang nggak perlu khawatir, karena Erika pasti berada di tempat yang aman," ucap Yuni sambil melipat tangan di dada, menyeringai penuh kemenangan.

Trinita segera menyambar ucapan Yuni. "Apa maksudmu?!"

"Maksud saya ... Erika dan Kayla pasti sudah berada di tempat yang aman beserta dengan surat-surat berharga itu. Dan jangan harap aku akan diam saja, saat anak dan cucuku diperlakukan dengan tidak adil."

Setelah mengatakan itu, Yuni segera meninggalkan rumah ini. Dan berbeda dengan yang diucapkannya di depan keluarga sang menantu, dia bertekad untuk mencari keberadaan Erika dan Kayla.

Sesampainya di luar rumah Gerry, Yuni segera menghubungi sang suami dan berkata jika Erika dan Kayla sudah tidak berada di rumah itu.

"Papa tahu kekhawatiran Mama, tapi sekarang lebih baik Mama pulang dulu biar kita bisa menentukan langkah selanjutnya." 

Yuni segera menghela napas panjang setelah mendengar ucapan sang suami. Dia segera menyalakan mobilnya.

"Oke. Mama akan segera pulang."

Setelah memastikan tak ada yang mencurigakan di sekitar rumah Gerry, Yuni pun beranjak pergi. Langkahnya cepat, seperti ingin lari dari kenyataan. Dia baru menyadari air matanya menetes ketika buliran itu mengenai punggung tangannya.

"Tuhan tolong lindungi anak dan cucu hamba. Jangan biarkan malapetaka menghampiri mereka."

Seiring dengan doa yang Yuni lantunkan, mobilnya meninggalkan kediaman Gerry dengan membawa beribu kekecewaan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Me Versus Gundik Suamiku   113

    "Cukup! Aku mau makan dengan tenang. Jadi cepat keluar dari sini."Namun bukannya pergi, Kennan justru berdiri dan berjalan memutari meja. Dia berhenti tepat di samping kursi Amanda. Tangan pria itu bergerak ragu, tapi pada akhirnya mendarat di sandaran kursi Amanda, mengurung wanita itu secara halus."Kenapa Mbak harus marah? Apa karena apa yang saya katakan itu benar?" bisik Kennan di dekat telinga Amanda. Amanda terpaku saat hembusan napas Kennan mengenai kulit lehernya. Ditambah dengan aroma parfum Kennan yang maskulin justru membuatnya pening. Perasaan tidak nyaman yang dia keluhkan sejak tadi kini bermuara pada satu titik, ketakutan bahwa perkataan Kennan benar."Ken, jangan begini ...," lirih Amanda, keberaniannya menguap entah ke mana."Lihat saya, Mbak Manda," pinta Kennan lembut.Tangan Kennan kini beralih menyentuh dagu Amanda, memaksa gadis itu untuk berpaling dan menatap matanya.Saat mata mereka bertemu, Amanda melihat kilat gairah dan rasa kagum yang tertahan. Suasan

  • Me Versus Gundik Suamiku   112

    "Sial! Kenapa semakin lama, aku nggak nyaman sama Kennan?" gerutu Amanda saat sudah berada di dalam kamarnya.Rasa lelah membuat Amanda ingin tidur, tapi rupanya pasukan cacing kelaparan yang ada di dalam perutnya lebih dominan.Dia menghela napas kasar dan memaksakan diri keluar dari kamar untuk mandi sebelum memasukkan makanan ke dalam perutnya.Terlalu banyak pikiran membuat Amanda lupa mengunci pintu kamar mandi, sampai terjadi hal yang tak terduga. Seseorang membuka pintu kamar mandi saat dia sedang membilas rambutnya.Amanda membeku saat bertatapan dengan Kennan yang melihatnya tak berpakaian. Waktu seolah berhenti berputar. Suara gemericik air dari shower yang tadinya menenangkan, kini terdengar seperti dentum genderang perang di telinga Amanda.Matanya membelalak sempurna, kontras dengan wajahnya yang memerah padam hingga ke leher. Di ambang pintu, Kennan berdiri mematung dengan tangan yang masih memegang gagang pintu. Ekspresi pria itu sulit diartikan. Antara terkejut, bing

  • Me Versus Gundik Suamiku   111

    "Untung saja tekanan Bapak normal, karena saya tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau sampai tekanan darah Bapak di atas 150."Keenan segera membereskan alat pengukur tensi ke dalam tas ransel yang selalu dia bawa."Terima kasih karena kamu sudah bertindak cepat," ucap Hosea setelah menghela napas lega."Sama-sama, Pak," sahut Kennan sembari tersenyum lebar."Loh. Ada apa sama kamu, Hosea?" tanya Yuni yang baru saja kembali dari arisan."Mas Hosea sempat marah-marah saat aku cerita tentang Gerry yang mengancamku, Mah. Untung saja tekanan darahnya tidak melonjak tinggi," jelas Erika yang membuat Yuni mengangguk."Nak Hosea. Sepertinya sekarang mudah marah, ya?" tanya Yuni sembari menatap iba pria yang duduk di kursi roda itu."Iya, Tante. Dan saya juga tidak tahu kenapa gampang sekali marah-marah," jawab Hosea dengan wajah lesu."Itu hal yang wajar karena Nak Hosea sedang sakit. Nanti kalau sudah sembuh mood kamu juga bakal membaik," ucap Yuni memberi dukungan."Bagaimana kalau seka

  • Me Versus Gundik Suamiku   110

    Melihat ketegangan yang jelas pada wajah keduanya, membuat Keenan membuka suara. "Pak. Biar saya tutup pintunya."Toni mengangguk dan mendahului keduanya memasuki rumah."Sepertinya Erika ada di dapur, sedang menyuapi Kayla," ucap Toni."Boleh kami ke dapur, Pak?" tanya Hosea sopan."Tentu boleh. Kalian juga boleh ikut makan siang. Saya permisi ke kamar mandi dulu," jawab Toni yang langsung menaiki tangga.Kennan langsung mendorong kursi roda Hosea ke dapur. Keduanya melihat Erika yang sedang menyuapi Kayla di kursi khusus bayi."Er. Apa kamu dan Kayla baik-baik saja?" tanya Hosea dengan nada panik."Aku baik-baik saja, Mas. Karena kebetulan ada Mas Revan, jadi Gerry tidak dapat mengancamku lebih jauh," jawab Erika yang masih menyuapi Kayla."Sebenarnya kenapa tiba-tiba Gerry mengancammu, Er?" tanya Hosea."Aku juga nggak tahu, Mas. Tadi aku lagi di supermarket mau belanja, tiba-tiba Gerry ngamuk-ngamuk nggak jelas," jawab Erika yang kini mengelap mulut Kayla yang belepotan."Tapi ke

  • Me Versus Gundik Suamiku   109

    Tak terasa sudah tiga minggu Kennan menjadi perawat Hosea, dan selama itu juga tidak ada masalah besar yang terjadi.Kemampuan Kennan dalam mengurus Hosea ternyata melebihi ekspektasi semua orang. Hosea bahkan merasa nyaman yang berakibat juga pada proses kesembuhan dirinya."Sejauh ini perkembangannya cukup bagus, dan kalau terus seperti ini Pak Hosea mulai bisa melakukan terapi di minggu keenam," jelas dokter ortopedi dengan senyum mengembang."Terima kasih banyak, Dok. Saya merasa lega saat mendengarnya," jawab Hosea dengan mengulas sebuah senyum."Tapi mesti perkembangannya bagus, Bapak jangan memaksakan diri untuk bekerja, apalagi jika Bapak sampai ingin memaksakan diri ingin mengikuti jalannya persidangan klien Bapak."Hosea menggeram kecil saat dokter ortopedi itu memberikan peringatan. Padahal dia sudah berniat untuk menghadiri persidangan Erika. Dia melirik ke arah Kennan yang tak menampilkan ekspresi apapun, tapi Hosea tahu jika pria itu pasti akan melakukan apa yang diper

  • Me Versus Gundik Suamiku   108

    "Mah. Mas Hosea itu laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi dan tegap. Sementara Mama dan aku itu perempuan, kita berdua tak mungkin kuat jika harus mengangkatnya. Memangnya Mas Hosea tidak butuh ke kamar mandi?"Deborah mengusap kasar wajahnya saat menyadari kebenaran ucapan Amanda, dia segera duduk karena merasa tegang. Dia bahkan menuang air dari dalam teko ke sebuah gelas bermotif bola."Kamu benar. Kita harus segera mencari perawat pria untuk Hosea," ucap Deborah setelah menghabiskan segelas air."Aku akan segera membuat iklan dan memasukkan beberapa syarat," sahut Amanda.Deborah terdiam, seperti teringat akan sesuatu. Tak lama dia memandang Amanda penuh arti. "Manda. Mama baru sadar kalau kamu tidak berangkat ke kantor sejak Hosea masuk rumah sakit. Memangnya atasanmu mengizinkan kamu libur?"Amanda tertawa kecil. "Mamah nggak usah khawatir, aku sudah bilang atasanku untuk bekerja dari rumah selama tiga minggu. Makanya Mama lihat aku yang bawa laptop ke rumah sakit.""Ah begi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status