Share

Bab 6. Rencana Reuni

Aku mengabaikan sejenak orang yang sedang mengawasiku. Tidak peduli dia siapa yang penting disini aku tidak merasa mengganggunya.

“Tidak terasa kita sudah tua begini!” Sahut Angga. Hampir dua belas tahun tidak saling bertemu, jadi ada rasa rindu akan kebersamaan serta kekompakan kami dulu.

“Iya, rasanya kangen banget sama teman-teman sekolah,” Maya menimpali ucapan Angga.

“Kalian kompak sekali!” Sahutku begitu saja. Sepertinya menjodohkan mereka yang masih sama-sama lajang adalah rencana yang cukup baik. 

“Bagaimana kalau aku bikin acara reuni untuk teman sekelas?” Sebetulnya itu ide bagus, tapi pasti nanti aku bertemu dengan Dara. Sahabat yang dulu menjalin hubungan dengan Mas Bagas sebelum kami bercerai. Ah, biarkan saja. Aku juga sudah tidak peduli dengan mereka. 

“Ide bagus itu, Angga. Nostalgia jaman sekolah!” Aku pun menyetujui ide Angga mengadakan acara reuni. Tidak masalah jika nanti ada yang akan menggangguku. Aku sudah tahu resiko yang nantinya aku hadapi.

“Kita catat semua teman-teman kita beserta nomor ponselnya!”

Saat itu juga Angga meraih buku kecil di tas kerjanya dan mendata semua teman-teman sekolah kami. Kami bertiga sibuk dengan data dan usulan dari Maya. Maya begitu antusias dengan adanya reuni ini. Aku sedikit merasa aneh dengan sikap Angga padaku. Sesekali dia mencuri pandang padaku. Semoga ini bukan hal yang aneh, tetapi hal yang wajar.

Usai mendata nama teman-teman, sekarang Angga membentuk sebuah grup. Grup yang hanya berisi teman sekelas kami. Grup menjadi ramai karena saling bertukar kabar. Rencana reuni akhirnya disetujui penghuni grup. Aku senang, namun ada sedikit yang harus aku khawatirkan. 

“Aku tidak sabar bertemu Eva, Meri, Rana dan semuanya!” Maya sudah membayangkan bertemu dengan teman-teman yang dia rindukan. Apalagi teman-teman kami sudah banyak yang bekerja di luar kota. Sangat sulit jika harus bertemu setiap hari. Pasti nanti akan menjadi acara yang paling meriah. Ditambah beberapa teman mengajukan sebagai donatur demi berjalannya acara reuni ini. 

“Wah. Semua antusias sekali. Saat ini ada lima juta uang yang masuk. Dari teman kita yang jadi owner dodol durian!” Angga tidak menyangka, saat ini juga uang sumbangan masuk ke rekeningnya.

“Aku juga mau jadi donatur. Mana rekeningmu!” aku meraih ponselku dan mencari aplikasi M banking. Aku mengirim sejumlah uang pada Angga supaya acara bertambah lancar. Maya juga melakukan hal yang sama seperti kami, mendukung acara dengan mengirim dana kepada Angga.

“Semoga usaha kalian lancar!” Kami mengaminkan doa baik Angga pada kami.

“Enaknya acara ini diselenggarakan dimana ya?” Kami mulai berpikir akan lokasi yang nantinya digunakan sebagai tempat reuni.

“Gedung Graha Santika gimana?” Maya memberi usulan reuni diselenggarakan di sebuah gedung.

“Ballroomnya terlalu luas, Maya. Kita cuma tiga puluh orang. Apa tidak mubadzir nanti?” Aku merasa ballroomnya kurang cocok untuk peserta yang tidak terlalu banyak.

“Ballroom hotel Marion bagaimana? Tidka terlalu luas dan jamuan makanannya enak-enak!” Usul Angga lagi-lagi cukup bagus. Tempat tidak perlu luas, asalkan bisa membaur jadi satu.

“Baiklah, aku setuju!” Akhirnya tempat sudah ditentukan. Tinggal waktu, yang nanti bisa didiskusikan bersama teman-teman yang lain di grup.

Usai pertemuan, kami berpisah dan kembali ke tujuan masing-masing. Aku dan Maya memilih ke sebuah butik yang cukup terkenal. Bukan karena kami suka gaya hidup boros, namun aku membutuhkan baju yang bahannya nyaman. 

Aku memilih beberapa gamis untukku dan juga untuk Ara. Ada banyak pilihan model dan juga warna sesuai usia. Rencananya aku akan ke asrama mengunjungi anak gadisku.

“Wah! Ini pasti cocok untuk Ara.”

Maya tertuju pada sebuah sepatu yang cukup cantik. Sepatu untuk gadis remaja dengan warna dan motif yang unik. Selera Maya tetaplah bagus sejak dulu.

“Kamu tidak perlu repot-repot membelikan Ara, May!” Aku tidak nyaman jika terlalu merepotkan Maya seperti ini.

“Ih! Aku mau beli sepatu ini untuk keponakanku, Ris. Jangan ditolak!” Akhirnya aku menurut saja dengan Maya. 

Usai membayar, kami berencana langsung pulang ke kediaman masing-masing. Akan tetapi, Maya menarik tanganku hingga kami berada ke tempat yang menurutnya tidak terlihat oleh seseorang yang dihindarinya.

“Ada apa, May?”

“Lihat disana!” Aku terkejut melihat Dara tengah bersama lelaki yang berbeda. Dia bukanlah Mas Bagas. Dara terlihat begitu mesra dengan bergandengan tangan bersama lelaki itu. Bahkan sesekali terlihat seperti pasangan kekasih.

“Ck, wanita apaan itu!” Seru Maya sambil terus memperhatikan Dara. 

“Sudah biarin aja, itu bukan urusan kita!” Aku tarik tangan Maya mengambil jalan yang lain supaya tidak terlihat oleh Dara. Sebenarnya akan lebih bagus jika berpapasan dengannya, karena bisa membuatnya terkejut.

Kami akhirnya berpisah di lokasi parkir. Maya memesan taksi online sedangkan aku mengendarai mobilku sendiri. Melihat Dara dengan lelaki lain membuat ingatanku berputar-putar. Untuk apa dia bermesraan dengan lelaki lain padahal juga sudah punya suami. Tidak mungkin lelaki itu bagian dari keluarganya karena terlihat tadi sesekali mereka mencium pipi.

“Ini bukan urusanku!” Gumamku menguatkan diriku sendiri. Aku menyalakan mobil dan kemudian melajukannya.

Ponselku kembali berdering dan ternyata dari nomor baru. Aku menyangka jika itu dari Angga hingga aku menerima panggilannya.

[Hallo] Aku tetap beranggapan jika nomor tersebut adalah milik Angga.

[Rista, apa yang kau lakukan pada Lala?” Nyaris saja jantungku berhenti berdetak ketika tiba-tiba saja Mas Bagas membentakku. Aku menepi sejenak dan bicara baik-baik dengannya.

[Kamu tidak terima Lala dipenjara?] Aku kirim bukti rekaman Lala saat di restoranku. Menurutku sikap Lala cukup memalukan jika sampai tersebar kemana-mana.

[Rekaman apa ini?] Sepertinya Mas Bagas tidak terima dengan rekaman yang aku kirim padanya.

[Simak saja] Balasku kemudian kembali melajukan mobilku menuju ke kediamanku.

Berkali-kali ponselku berdering dari Mas Bagas dan aku sama sekali tidak mau menerima panggilannya. Pasti nanti akan ribut lagi, apalagi dia tidak pernah mau mengakui kesalahan keluarganya atau bahkan dirinya sendiri.

Sesampai di rumah, aku disambut sang Ibu di teras. Tanpa menunggu Ibu bertanya, aku ceritakan semua yang terjadi seharian ini. Mulai datangnya keluarga benalu yang meminta makanan gratis serta meminta hak ditambah sikap mantan ipar yang berakhir dalam jeruji besi.

“Astaghfirullah! Kenapa mereka tidak hentinya berbuat jahat padamu, Nak!” Ibuku mengusap dadanya, aku paham jika Ibu tidak rela jika anaknya diganggu terus menerus meski sudah bercerai. Diajak rujuk setelah kubuktikan kesuksesanku setelah mereka puas menghinaku, namun sekarang seakan tidak ada hentinya mereka menggangguku.

“Sudah, Bu. Rista pasti bisa melawan mereka semua! Buktinya, aku bisa melawan mereka hingga salah satu anaknya masuk penjara!”  Aku paling tidak menyukai jika sampai ibuku turut memikirkan nasib rumah tanggaku. Tidak lain alasanku hanya demi menjaga kesehatan sang Ibu. Ibuku akhirnya bisa kembali tersenyum. Ini sangat membahagiakan jika sudah melihat Ibu tenang dan tersenyum. Meski receh tapi sudah membuatku senang.

Teringat acara reuni tadi, sebenarnya aku juga sudah tidak sabar. Aku sangat merindukan semua temanku! Kecuali Dara. Sahabat yang pernah berselingkuh dengan suamiku dulu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status