Share

Bab 2

Author: Ansa
Kristo benar-benar panik begitu melihat Renata.

Dia bergegas menaruh bayi di tangannya kembali ke ranjang bayi, lalu berjalan cepat ke arah pintu.

"Renata, kok kamu bisa ada di sini?"

Melihat Renata, raut wajah orang-orang lainnya juga langsung berubah.

"Kak ... Kak Ipar datang?"

"Kak Renata, kamu dengar penjelasan kami dulu! Kami tahu Winny melahirkan, jadi sengaja datang jenguk. Kalau Komandan, kami cuma kebetulan ketemu di jalan, terus sekalian ajak dia ke sini aja."

"Iya, Kak, Kakak jangan sampai salah paham."

Sudah sampai di tahap ini, rekan-rekan Kristo masih saja membantu membohonginya.

Mendengar mereka berkali-kali memanggilnya "Kakak Ipar", Renata merasa mual sampai ingin muntah.

Dia perlahan mendongak, menatap Kristo, lalu berkata dengan nada tenang, "Kristo, kalau kamu? Gimana penjelasanmu?"

"Renata, kamu jangan emosi ... kejadiannya persis kayak yang mereka bilang, kami cuma nggak sengaja ketemu aja."

"Udah sampai di tahap ini, kamu ternyata masih bohong!"

Hatinya rasanya seperti sudah terlalu lama direndam di dalam ruang es, padahal sebenarnya sudah hampir mati rasa.

Namun pada saat ini, Renata tetap hancur oleh kebohongan pria itu, dia mendadak mengangkat tangan dan menampar wajah pria itu dengan keras.

"Kemarin kamu bilang sama aku mau bawa pasukan latihan militer di perbatasan selama sebulan, kenapa? Latihan militernya sampai ke pos kesehatan ibu dan anak? Komandan Kristo, jalanmu cepat banget ya."

Wajah Kristo makin memucat, "Aku ... ada perubahan mendadak. Maaf, Renata, kamu jangan emosi, kamu lagi hamil ...."

"Ini semua salah aku! Renata, aku mohon kamu jangan pukul Kristo lagi."

Winny menggendong bayinya dan berlutut di hadapan Renata, "Kristo cuma kasihan sama aku, makanya dia terus-terusan ada di samping aku! Renata, aku nggak minta apa-apa, aku cuma janda, cuma mau cari pria buat rawat aku dan punya anak tempat bersandar! Aku nggak bakal rebut suamimu!"

"Kamu diam! Kamu sama Kristo bahkan udah punya anak, masih bilang nggak bakal rebut dia?"

Renata mengangkat tangan, baru saja hendak menamparnya, pergelangan tangannya sudah dicengkeram erat oleh Kristo.

"Renata, kamu boleh tampar aku, tapi jangan tampar Winny. Dia baru melahirkan, tubuhnya masih lemah banget."

Melihat pria itu membela wanita lain, Renata tertawa sinis, "Kristo, kamu bilang pergi dinas dan nggak bisa pulang selama sebulan, cuma demi selingkuh sama dia di sini, 'kan? Kok kamu bisa nggak tahu malu begini!"

Setelah menghempas tangannya dengan kuat, Renata masih ingin mengangkat tangan untuk menamparnya lagi.

Winny mendadak menggendong bayinya dan bangkit berdiri dari lantai, lalu menerjang ke hadapan Kristo.

Melihat wanita itu menerjang sambil menyodorkan bayinya, Renata tidak sempat menarik tangannya sehingga mengenai bayi itu.

"Owek!"

Bayi itu seketika terjatuh dari tempat tinggi.

Semua orang di tempat kejadian langsung panik.

"Anakku, anakku!" Winny menangis sambil menerjang untuk memeluk bayinya, "Renata, kenapa kamu tega banget! Bayiku baru lahir empat hari, kamu juga seorang ibu, kok hatimu bisa setega ini?"

Orang-orang lainnya juga bergegas mendekat dan menyalahkan Renata.

"Kak, kok kamu tega banget? Anak ini masih kecil banget, mau se-nggak suka gimanapun kamu, nggak boleh main tangan sama anak kecil dong!"

"Jatuh begini, nggak tahu bakal ada masalah apa. Komandan Kristo, harus cepat-cepat panggil petugas medis buat periksa!"

Kristo seketika ngamuk, dia menoleh dan menatap Renata tajam, "Renata, aku tahu kejadian hari ini memang salahku! Tapi itu putraku! Anak kandungku!"

"Masa?" Renata menatapnya, air mata menetes satu per satu, "Terus yang ada di perutku ini apa?"

"Sayang, kok kamu nggak nangis lagi? Sayang! Kristo, anak kita mau meninggal!"

Winny memeluk bayinya sambil menjerit, Kristo panik, "Petugas medis, cepat panggil petugas medis!"

Renata berdiri di depan pintu, berkata tanpa ekspresi, "Suruh mereka pergi cari! Kristo, aku kasih kamu satu kesempatan terakhir."

"Antara aku sama Winny, anakku sama anak Winny, kamu cuma boleh pilih satu! Kamu pilih siapa!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 23

    "Renata ...."Kristo tahu perkataan apa pun yang diucapkannya tidak akan pernah bisa menyampaikan rasa penyesalannya.Dia berlutut di tanah tepat di hadapan Renata, menatapnya dengan kedua mata yang memerah darah, "Aku tahu aku ngomong apa pun udah nggak ada gunanya, tapi kamu tega lihat anak sekecil ini tumbuh tanpa sosok ayah?""Siapa bilang dia nggak punya ayah?"Renata mengangkat alisnya, "Nanti aku bakal ketemu lelaki yang jauh lebih baik, dia bakal punya ayah. Walaupun nggak ada, dia juga nggak bakal sudi mengakui bajingan kayak kamu sebagai ayahnya! Kristo, kalau kamu masih punya sedikit aja hati nurani, sekarang juga balik dan jangan pernah muncul lagi di depan aku sama putriku! Kalau nggak, aku bakal bawa putriku pindah ke tempat yang nggak bakal pernah bisa kamu temukan!""Harus banget kayak gini?"Kristo menangis, dia benar-benar merasakan rasa sakit yang teramat dalam."Kenapa nggak bisa kayak tiga tahun lalu, kasih aku kesempatan terakhir sekali lagi? Sekali ini aja, boleh

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 22

    "Renata, bayinya belum meninggal, 'kan? Bayi kita belum meninggal, 'kan?""Renata, keluar ketemu aku! Aku mau lihat bayi kita, kenapa kamu tega bohongi aku! Kenapa bayinya belum meninggal, tapi kamu bilang udah meninggal!"Dia seperti orang gila menarik-narik pagar besi sambil berteriak keras, hingga para tetangga sekitar berhamburan keluar untuk menonton.Di dalam rumah, Renata sedang memangku bayinya sambil mengajak bermain. Saat mendengar suara berisik Kristo, sudut bibirnya mengukir segaris senyum sindiran.Pria itu masih punya muka buat bertanya kenapa?Kalau hari itu anak buahnya tidak luluh dan membawanya ke pos kesehatan.Jangankan bayinya, nyawanya sendiri mungkin sudah melayang.Bayi ini adalah buah perjuangan yang hampir menukarkan nyawanya, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kristo."Berengsek si Kristo ini, aku harus keluar buat hajar dia sampai sadar!"Kevin mengomel dan berniat menerobos keluar, tapi Renata yang melihat pria itu dikerumuni tetangga akhirnya mem

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 21

    "Si Kristo ini sebenarnya mau ngapain sih?"Begitu mengetahui hal ini, Kevin langsung mengomel, mau mendatangi rumah seberang untuk membuat perhitungan dengan Kristo.Renata tidak bisa melakukan apa-apa selain memintanya untuk tetap tenang.Kristo baru saja menyuruh asisten rumah tangga untuk memasukkan dan menata furniture barunya, begitu berbalik dia melihat Kevin sudah berdiri di belakangnya."Ayah! Akhirnya Ayah mau ketemu sama aku.""Tunggu dulu, ada baiknya Komandan Kristo jaga tata cara manggil orang. Kamu sama anakku udah cerai, aku bukan ayahmu, seterusnya juga nggak bakal jadi ayahmu."Kevin memotong ucapannya, lalu bertanya dengan suara berat, "Aku mau tanya, kamu beli rumah ini sebenarnya mau ngapain?""Ayah, aku tahu aku salah. Kedatanganku kali ini cuma mau mohon ampun dan minta maaf sama Renata."Kristo mengerutkan dahi, nadanya terdengar begitu rendah dan memohon, "Kalau Renata nggak mau maafkan aku, aku bakal tinggal di sini selamanya, sampai dia mau maafkan aku.""Hal

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 20

    Di kediaman Keluarga Adista.Waktu sudah sore saat Kristo sampai.Dia menaiki kereta seharian penuh hingga tubuhnya terasa sangat lelah.Namun, tanpa beristirahat sedikit pun, dia langsung bergegas menuju kediaman Keluarga Adista.Tiga tahun lalu, dia juga menjemput Renata dari tempat ini.Waktu itu di hadapan ayah dan ibu Renata, dia berjanji seumur hidup ini tidak akan pernah mengecewakan Renata lagi.Namun, baru tiga tahun berlalu, dia sudah membuat kesalahan lagi.Bahkan kesalahan kali ini jauh lebih parah ketimbang tiga tahun lalu.Dia tidak cuma malu bertemu Renata, tapi juga tidak punya muka lagi di hadapan ayah dan ibunya."Permisi Pak, cari siapa ya?"Asisten rumah tangga Keluarga Adista melihat pria itu celingukan di depan pintu, lalu menegurnya penuh waspada, "Kalau nggak ada urusan tolong pergi, atau saya panggilkan polisi."Itu adalah asisten rumah tangga baru yang tidak mengenali Kristo."Saya suaminya Renata, saya mau cari dia.""Kamu mantan suaminya nona kami?"Nasib da

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 19

    "Hahaha!"Kristo mendadak tertawa.Sampai di titik ini rasanya memang sudah pantas dapat karma dia, rasakan sendiri akibatnya!"Kristo, dengarkan penjelasanku dulu, kamu beneran salah dengar, anak itu anakmu!"Winny memberanikan diri berjalan mendekat untuk memegang lengannya, tapi langsung ditepis kasar oleh pria itu."Jangan sentuh aku, cewek murahan dan menjijikkan! Aku kasih kamu kesempatan terakhir, jujur sama aku, anak itu beneran anakku atau bukan!""Jangan sampai setelah hasil tes DNA keluar baru kamu menyesal, saat itu udah terlambat.""Kristo!"Begitu kalimat itu terucap, Winny seketika berlutut di hadapannya sambil menangis sesenggukan, "Waktu itu kecelakaan, hari itu aku telepon suruh kamu datang ke rumahku, tapi kamu nggak mau, aku emosi terus pergi minum-minum. Pas bangun tidur, aku ... itu beneran kecelakaan! Aku sama sekali nggak kenal sama cowok itu, setelah itu aku juga nggak pernah berhubungan lagi sama dia!""Kamu harus percaya sama aku, walau anak ini nggak ada hub

  • Membela Janda dan Buang Istri Sendiri   Bab 18

    Di dalam mobil, saat Kristo mendengar kabar dari anak buahnya, raut wajahnya sudah berubah sangat suram.Padahal stasiun kereta sudah tepat berada di depan mata, waktu keberangkatan kereta pun sudah makin dekat.Tapi, Winny malah nekat main gila mau mati segala!Kalau wanita itu mau mati sendiri ya terserah, ini malah mau bawa bayinya mati bersama. Wanita itu benar-benar sudah gila!"Gimana ini Komandan Kristo, apa kita tetap ke stasiun?""Winny itu orang gila, dia bisa melakukan hal gila apa aja. Kalau aku beneran pergi, dia mungkin benar-benar bakal bawa anak itu mati bareng."Kristo mengalihkan pandangannya dari stasiun, suaranya terdengar gemetar, "Putar balik.""Siap!"Mobilnya baru mau sampai di dekat rumah ketika anak buahnya menelepon lagi, mengabarkan kalau Winny kehabisan banyak darah dan sudah dilarikan ke pos kesehatan, sementara bayinya baik-baik saja.Karena sudah kelewatan jam keberangkatan, Kristo terpaksa menyusul pergi ke pos kesehatan.Baru tiba di depan pintu kamar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status