Teilen

Bab 2

Makjos
Setelah Stacy kembali dari rumah sakit, dia langsung pulang ke rumah lama Keluarga Jinara. Pengajuan untuk program pendalaman studi sudah dia serahkan. Sepuluh hari lagi, dia akan terbang ke Negara Framos.

Begitu melangkah masuk ke rumah, kakek Willy langsung memanggilnya. Barulah saat itu dia menyadari bahwa beberapa senior Keluarga Jinara juga hadir. Stacy menatap sekeliling. Seperti yang sudah diduganya, Willy tidak terlihat di sana.

Sejak kejadian tak terduga ketika mereka tidur bersama, Willy terus menghindarinya. Meskipun akhirnya Willy setuju untuk menikahinya karena tekanan keluarga, sikapnya terhadap Stacy tak pernah lagi seperti dulu.

Melihat Stacy masuk, pandangan para senior tanpa sadar tertuju ke perut bagian bawahnya.

"Stacy, cepat duduk di samping Kakek Buyut. Beri tahu Kakek Buyut, kamu ingin pernikahan seperti apa supaya om besarmu dan istrinya bisa mengaturnya."

Kakek Willy, Indra, mengeluarkan sebuah kotak kayu tua, yang sekilas tampak sudah berusia cukup lama.

"Ini gelang yang dulu pernah dipakai nenek buyutmu. Katanya, kelak aku harus menyerahkannya sendiri kepada istri Willy. Stacy, cepat pakai!"

Stacy hendak menolak. Dia akan segera pergi dari tempat ini. Gelang itu adalah untuk istri Willy. Dia tidak boleh menerimanya.

Namun pada saat itu juga, pintu didorong hingga terbuka dari luar. Willy masuk. Pandangan mereka bertemu. Barulah dia menyadari bahwa di belakangnya berdiri seorang wanita berkulit putih dan cantik, Hilda, cinta pertamanya.

Melihat wajah Willy yang suram, Indra yang memang sudah agak kesal langsung memasang ekspresi serius. Begitu melihat Hilda ikut masuk, tatapannya semakin suram.

"Aku memanggilmu pulang untuk membicarakan pernikahanmu dengan Stacy. Apa maksudmu bawa orang luar pulang?!"

Wajah Hilda yang pucat langsung memerah. Dia menarik ujung pakaian Willy dengan gugup. Willy memberinya tatapan meyakinkan, lalu Hilda pun mengikutinya masuk.

"Soal pernikahan, kalian saja yang putuskan. Kenapa harus memanggilku pulang? Aku lagi bahas sesuatu sama Hilda. Tapi karena kalian mendesak, aku hanya bisa membawanya ikut ke sini."

Namun, setelah menyadari tatapan para senior yang tak bersahabat, dia pun menambahkan, "Aku dan Hilda cuma teman."

Indra mendengus dingin, lalu mulai membicarakan pernikahan Willy dan Stacy di depan Hilda. Di permukaan, Willy tampak mendengarkan dengan setengah hati, tetapi Stacy menyadari gerakan ambigu yang dia lakukan bersama Hilda di bawah meja.

Hilda mengaitkan kakinya dengan kaki Willy, menggeseknya berulang kali.

Stacy tiba-tiba teringat kehidupan sebelumnya. Setelah menikah, Willy sering membawa Hilda muncul di hadapannya, seolah-olah sengaja memamerkan kemesraan mereka.

Seperti sekarang, tanpa peduli orang lain, mereka melakukan gerakan kecil yang menjijikkan tepat di depannya. Hilda bahkan sengaja memperlihatkan tanda-tanda ambigu kepadanya.

Jika ini adalah Stacy di kehidupan sebelumnya, dia pasti akan merasa sangat muak. Namun sekarang, dia sudah tidak merasakan apa-apa lagi.

Indra memanggil nama Stacy beberapa kali berturut-turut, barulah dia tersadar kembali.

"Stacy, jangan khawatir. Walaupun waktunya agak mepet, aku sudah berdiskusi dengan om besarmu dan istrinya. Semua tata cara yang seharusnya ada, nggak akan ada yang kurang."

Om Besar menanyakan siapa saja dari pihak Keluarga Yusman yang berencana diundang, agar besok dia bisa langsung menyuruh orang mengirimkan undangan. Sementara itu, istrinya tersenyum sambil menarik tangan Stacy, menasihatinya tentang hal-hal yang perlu diperhatikan pada masa awal kehamilan dengan penuh perhatian.

Indra sengaja berdeham, barulah Willy menoleh ke arah mereka.

"Willy, pernikahanmu dengan Stacy ditetapkan tanggal sepuluh. Beberapa hari ini kamu harus patuh dan tinggal di rumah. Bantu kakak serta kakak iparmu persiapkan pernikahan. Ngerti?!" Indra memukulkan tongkat di tangannya dengan keras ke lantai. Ekspresinya sangat serius.

Barulah Willy menarik kembali kakinya dengan enggan, lalu menggumamkan persetujuan.

Begitu mendengar tanggal pernikahan ditetapkan pada tanggal sepuluh, wajah Stacy seketika menegang. Hari itu juga adalah hari keberangkatannya ke Negara Framos untuk mengikuti program pendalaman studi.

Dia berpikir, kali ini tidak akan ada seorang pun yang tahu bahwa dia tidak akan menikah dengan Willy.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 24

    Setelah keluar dari ruang dokter, wajah Willy dipenuhi keputusasaan.Ternyata sejak di dalam negeri dia sudah dijatuhi vonis mati. Datang ke sini untuk berobat hanyalah harapan terakhir. Namun, harapan terakhir itu pun hancur.Dia berjalan terhuyung-huyung kembali ke ruang rawat, tepat berpapasan dengan Wilbert yang baru kembali.Melihat ekspresinya, Wilbert langsung tahu bahwa dia sudah mengetahui semuanya."Willy, dokter bilang selama kamu mau menjalani pengobatan dengan aktif, masih ada harapan."Namun, kalimat itu saat ini terdengar begitu pucat dan tak berdaya.Willy mengangkat kepala lagi. Wajahnya sudah basah oleh air mata. "Kak, aku belum ingin mati. Aku bahkan belum berhasil mendapatkan kembali Stacy. Aku nggak terima ...."Dia memeluk kakaknya dan menangis tersedu-sedu. Baru setelah kelelahan menangis, dia kembali berbaring di ranjang untuk beristirahat.Dia menjadi jauh lebih serius menjalani pengobatan. Tingkat medis rumah sakit ini sudah kelas dunia, tetapi dia tetap meras

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 23

    Willy menatap Stacy tanpa berkedip. Dia tampak sedikit lebih tinggi, wajahnya juga terlihat lebih berisi. Sepertinya setelah meninggalkannya, hidup Stacy tetap berjalan dengan baik.Memikirkan hal itu, hati Willy diliputi rasa getir. Stacy bukan lagi gadis kecil yang dulu selalu suka menempel padanya.Dia mengangkat tangan, ingin seperti dulu mengusap kepala Stacy. Namun, tangan yang sudah terulur itu akhirnya ditarik kembali. "Stacy, aku ....""Om Willy, sudah lama nggak ketemu." Stacy melangkah maju menyapanya, lalu menoleh ke belakangnya sambil memanggil, "Om Wilbert."Dua panggilan om itu terucap tanpa pembedaan, begitu alami. Hati Willy yang semula berdebar seketika mendingin, tetapi dia tidak boleh menyerah.Kali ini, dia datang berobat dengan alasan sakit. Ini adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk mendapatkan Stacy kembali."Stacy, aku ingin bicara berdua denganmu sebentar, boleh?"Stacy tidak langsung menjawab, melainkan melirik Wilbert di belakangnya.Wilbert mengangguk

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 22

    Willy yang semula lesu tiba-tiba kembali bersemangat, mendesak kakaknya agar segera mengatur keberangkatan ke luar negeri.Melihat sikapnya yang begitu antusias, seharusnya Wilbert merasa senang. Namun, senyuman di wajahnya justru lebih pahit daripada tangisan. Jika Willy tahu kondisi penyakitnya yang sebenarnya .... Dia tidak berani melanjutkan pikiran itu.Di ranjang rumah sakit, Willy terus memainkan jepit rambut di tangannya sambil berulang kali memanggil nama Stacy dengan suara lirih. Melihat penampilan adiknya yang begitu penuh perasaan, wajah Wilbert dipenuhi kekhawatiran mendalam.Setelah mengambil keputusan, Wilbert menelepon Stacy yang berada di luar negeri. "Halo, Stacy, ini Om Wilbert. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."Stacy baru saja menyelesaikan satu rangkaian eksperimen. Dia cukup terkejut menerima panggilan ini.Sebelum meninggal, Indra pernah berpesan kepada orang-orang Keluarga Jinara agar tidak memberitahukan kabar kematiannya kepada Stacy. Indra tah

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 21

    Sejak Indra meninggal dunia, Willy hampir tinggal di perusahaan. Dia jarang pulang ke rumah lama. Setiap kali kembali ke sana, dia selalu teringat hal-hal yang menyedihkan. Dia tidak berani membiarkan dirinya rileks walaupun sesaat. Karena begitu berhenti bekerja, dia akan tenggelam dalam kerinduan yang tak berujung.Dalam waktu singkat, Willy berhasil membawa Grup Jinara ke tingkat yang baru, tetapi semua itu ditukar dengan kesehatan tubuhnya. Enam bulan kemudian, penampilannya menjadi begitu kurus dan menyedihkan.Suatu pagi, setelah selesai memimpin rapat pagi dengan jajaran eksekutif perusahaan, dia tiba-tiba roboh di ruang rapat. Ketika dia kembali sadar, sudah dua hari berlalu. Di atas ranjang rumah sakit, Willy bermimpi sangat panjang.Dalam mimpinya, dia melihat Stacy yang berusia 18 tahun, pada hari pesta ulang tahunnya, menyatakan cinta kepadanya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerimanya. Stacy begitu bahagia sampai melompat dan berputar-putar, lalu jatuh ke dalam pel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 20

    "Pulang? Om, aku nggak akan kembali ke Keluarga Jinara lagi. Tapi aku nggak akan melupakan jasa Keluarga Jinara kepadaku. Suatu hari nanti, ketika aku sudah mampu, aku pasti akan membalas budi kalian."Nada bicara Stacy tegas, membuat sedikit semangat yang baru saja muncul di hati Willy seketika lenyap."Kalau nggak ada urusan yang benar-benar penting, aku harap kamu nggak menggangguku lagi. Beban kuliahku sangat berat."Setelah menutup telepon, Stacy menghela napas panjang. Dulu dia merasa om kecilnya berbeda dengan pria lain. Tenang, tegas, dan pandai berpikir.Namun sekarang, dia baru menyadari pria tetaplah pria. Dulu dia bisa tergila-gila pada Hilda, ke depannya dia juga bisa tergila-gila pada perempuan lain.Stacy masih sangat muda. Masa depannya penuh dengan kemungkinan tak terbatas. Dia tak mau langkah hidupnya terhambat oleh urusan cinta dan perasaan. Dia tidak mengerti kenapa dirinya di kehidupan sebelumnya begitu bodoh, menaruh seluruh harapan pada satu orang pria. Padahal,

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 19

    Willy melancarkan pengejaran tanpa henti terhadap Stacy, sampai-sampai membuatnya benar-benar kewalahan.Dia mengira setelah semuanya dijelaskan dengan jelas, om kecilnya ini seharusnya sudah mengerti. Namun siapa sangka, Willy justru berkata ingin mengejarnya dan akan melamarnya.Entah bagaimana, hal yang dulu pernah dia khayalkan berkali-kali justru datang saat dia sudah menyerah pada perasaan itu.Akhirnya, dia benar-benar mengerti cinta yang dulu dia berikan kepada Willy memang merupakan sebuah beban baginya, karena sekarang dia sendiri sudah merasakan beban itu.Stacy hanya bisa menyatakan sikap dengan tegas agar dia menyerah, tetapi Willy justru seperti disuntik hormon, sama sekali tidak mau mendengarkan.Willy khawatir akan mengganggu studinya, jadi dia hanya menelepon Stacy saat waktu makan pagi, siang, dan malam. Setiap panggilan penuh dengan permohonan maaf yang tulus."Stacy, aku tahu kamu masih ngambek. Wajar kamu marah padaku, aku memang salah. Sekarang aku benar-benar men

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status