Teilen

Bab 6

Makjos
Meskipun sangat ingin pergi, Stacy tidak ingin berdebat dengan Willy. Dia hanya bisa menuruti perkataannya dan lanjut berbaring.

"Terima kasih, Om," ucapnya pelan sebagai ungkapan terima kasih.

Tatapan Willy yang dingin tertuju pada wajahnya. Dia selalu merasa ada yang berbeda dari Stacy dibandingkan sebelumnya.

Dulu, Stacy paling suka menempel padanya. Begitu melihatnya, mulut kecilnya tak pernah berhenti berbicara. Kalau menghadapi situasi seperti hari ini, dia pasti sudah mengadu sambil menangis penuh keluhan.

Lagi pula, sudah lama sekali Stacy tidak memanggilnya "Om". Entah sejak kapan, gadis ini mulai memanggil namanya secara langsung.

Di luar, suara guntur bergemuruh, hujan deras masih terus turun. Stacy menghabiskan infus di bawah pengawasan Willy dengan patuh.

"Kamu ...." Willy baru saja ingin membuka mulut untuk menanyakan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini, kenapa dia menjadi begitu penurut, ketika tiba-tiba terdengar teriakan dari kamar sebelah.

Ekspresi Willy langsung berubah serius. Dia tanpa sadar berlari ke luar.

"Hilda pasti terbangun karena suara petir. Depresinya kambuh lagi, aku harus menemaninya."

Stacy mengangguk pelan. Dua garis air mata jatuh dari matanya. Meskipun dia tahu betul bahwa di hati Willy tidak ada dirinya, saat ditinggalkan seperti ini, hatinya tetap tak bisa menahan rasa perih.

Namun tak lama kemudian, sebuah tangan besar jatuh di atas kepalanya.

"Aku pergi sebentar, lalu kembali. Kamu tidur dulu. Nanti aku antar kamu pulang."

Willy sendiri tidak tahu mengapa, baru saja melangkah keluar kamar tidur, dia tanpa sadar berbalik lagi. Di dalam hatinya muncul sedikit rasa gelisah, seolah-olah Stacy bisa menghilang kapan saja.

Willy bergegas ke kamar sebelah, menggendong Hilda yang sedang meronta histeris menuju ruang aman di basemen.

Di kehidupan sebelumnya, depresi Hilda memang sering kambuh seperti ini. Setiap kali itu terjadi, Willy akan menemaninya di ruang yang disebut ruang aman itu selama berhari-hari dan bermalam-malam, sampai Hilda kembali pulih seperti biasa.

Stacy ingat, ketika putrinya baru berusia setengah tahun, putrinya tiba-tiba demam tinggi dan kejang di tengah malam. Dia ketakutan setengah mati dan terpaksa menelepon Willy, memohon agar dia mengantar anak mereka ke rumah sakit.

Namun, Willy justru memarahinya, mengatakan dia tidak tahu diri dan depresi Hilda sedang kambuh sehingga tidak bisa ditinggal. Willy pun menyuruhnya mencari cara sendiri.

Padahal saat itu, Stacy baru saja melahirkan. Apa yang bisa dia lakukan?

Dia hanya bisa menerobos hawa dingin dan salju sambil menggendong bayi itu keluar untuk menghentikan mobil. Dia bahkan tidak sempat mengganti jaket, berlari keluar hanya dengan mengenakan piama dan sandal rumah.

Dia tidak tahu sudah berapa kali berlutut di salju, sampai akhirnya ada sebuah mobil yang mau membawa mereka ke rumah sakit.

Begitu tiba di rumah sakit, putrinya langsung diberi surat pemberitahuan kondisi kritis. Saat itu, Stacy baru berusia 19 tahun. Dia belum pernah menghadapi situasi separah itu, sampai-sampai tangannya gemetar saat menandatangani dokumen.

Dia berlutut di depan ruang perawatan intensif, entah sudah berapa kali menelepon Willy, tetapi tidak satu pun yang diangkat. Setelah itu, dia justru disalahkan oleh Willy, diminta agar kelak tidak mengganggu mereka hanya karena hal sepele saat depresi Hilda kambuh.

Suara ketukan pintu terdengar. Stacy menarik kembali pikirannya.

"Hilda ingin minum sup pir rebus dari Restoran Mega. Aku keluar sebentar buat beli. Tolong bantu aku jaga dia dulu."

Stacy tertegun sejenak. Awalnya dia berniat mengirim pesan kepada Willy, lalu pergi dari sini. Namun, dalam situasi seperti ini, dia hanya bisa menyetujuinya.

Baru beberapa menit setelah dia pergi, Hilda keluar dari ruang aman. Dia memandang Stacy dengan penuh penghinaan. Sudut bibirnya terangkat mengejek, sama sekali tidak tampak seperti pasien depresi yang membutuhkan pendampingan setiap saat.

Sekilas saja, Stacy sudah bisa melihat bahwa Hilda hanya berpura-pura. Karena di kehidupan sebelumnya, dia sendiri pernah menderita depresi berat. Dia tahu betul seperti apa kondisi seorang penderita depresi yang sebenarnya.

"Apa gunanya kamu memaksanya menikahimu dengan anak di dalam perutmu? Orang yang dia cintai tetap aku. Ini sesuatu yang nggak akan pernah bisa kamu kalahkan."

Melihat Stacy tidak terpancing emosi seperti biasanya, Hilda merasa kesal. Namun, tiba-tiba dia tertawa. "Stacy, dulu dia sangat menyukaimu, tapi kelak dia akan sangat membencimu!"

Stacy tidak mengerti maksudnya dan menatapnya dengan bingung. Hilda justru tertawa keras, lalu kembali ke ruang aman di basemen. Tak lama kemudian, dari dalam terdengar jeritan yang memilukan.

Stacy terkejut. Dia segera berlari secepat mungkin menuju basemen.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 24

    Setelah keluar dari ruang dokter, wajah Willy dipenuhi keputusasaan.Ternyata sejak di dalam negeri dia sudah dijatuhi vonis mati. Datang ke sini untuk berobat hanyalah harapan terakhir. Namun, harapan terakhir itu pun hancur.Dia berjalan terhuyung-huyung kembali ke ruang rawat, tepat berpapasan dengan Wilbert yang baru kembali.Melihat ekspresinya, Wilbert langsung tahu bahwa dia sudah mengetahui semuanya."Willy, dokter bilang selama kamu mau menjalani pengobatan dengan aktif, masih ada harapan."Namun, kalimat itu saat ini terdengar begitu pucat dan tak berdaya.Willy mengangkat kepala lagi. Wajahnya sudah basah oleh air mata. "Kak, aku belum ingin mati. Aku bahkan belum berhasil mendapatkan kembali Stacy. Aku nggak terima ...."Dia memeluk kakaknya dan menangis tersedu-sedu. Baru setelah kelelahan menangis, dia kembali berbaring di ranjang untuk beristirahat.Dia menjadi jauh lebih serius menjalani pengobatan. Tingkat medis rumah sakit ini sudah kelas dunia, tetapi dia tetap meras

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 23

    Willy menatap Stacy tanpa berkedip. Dia tampak sedikit lebih tinggi, wajahnya juga terlihat lebih berisi. Sepertinya setelah meninggalkannya, hidup Stacy tetap berjalan dengan baik.Memikirkan hal itu, hati Willy diliputi rasa getir. Stacy bukan lagi gadis kecil yang dulu selalu suka menempel padanya.Dia mengangkat tangan, ingin seperti dulu mengusap kepala Stacy. Namun, tangan yang sudah terulur itu akhirnya ditarik kembali. "Stacy, aku ....""Om Willy, sudah lama nggak ketemu." Stacy melangkah maju menyapanya, lalu menoleh ke belakangnya sambil memanggil, "Om Wilbert."Dua panggilan om itu terucap tanpa pembedaan, begitu alami. Hati Willy yang semula berdebar seketika mendingin, tetapi dia tidak boleh menyerah.Kali ini, dia datang berobat dengan alasan sakit. Ini adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk mendapatkan Stacy kembali."Stacy, aku ingin bicara berdua denganmu sebentar, boleh?"Stacy tidak langsung menjawab, melainkan melirik Wilbert di belakangnya.Wilbert mengangguk

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 22

    Willy yang semula lesu tiba-tiba kembali bersemangat, mendesak kakaknya agar segera mengatur keberangkatan ke luar negeri.Melihat sikapnya yang begitu antusias, seharusnya Wilbert merasa senang. Namun, senyuman di wajahnya justru lebih pahit daripada tangisan. Jika Willy tahu kondisi penyakitnya yang sebenarnya .... Dia tidak berani melanjutkan pikiran itu.Di ranjang rumah sakit, Willy terus memainkan jepit rambut di tangannya sambil berulang kali memanggil nama Stacy dengan suara lirih. Melihat penampilan adiknya yang begitu penuh perasaan, wajah Wilbert dipenuhi kekhawatiran mendalam.Setelah mengambil keputusan, Wilbert menelepon Stacy yang berada di luar negeri. "Halo, Stacy, ini Om Wilbert. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."Stacy baru saja menyelesaikan satu rangkaian eksperimen. Dia cukup terkejut menerima panggilan ini.Sebelum meninggal, Indra pernah berpesan kepada orang-orang Keluarga Jinara agar tidak memberitahukan kabar kematiannya kepada Stacy. Indra tah

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 21

    Sejak Indra meninggal dunia, Willy hampir tinggal di perusahaan. Dia jarang pulang ke rumah lama. Setiap kali kembali ke sana, dia selalu teringat hal-hal yang menyedihkan. Dia tidak berani membiarkan dirinya rileks walaupun sesaat. Karena begitu berhenti bekerja, dia akan tenggelam dalam kerinduan yang tak berujung.Dalam waktu singkat, Willy berhasil membawa Grup Jinara ke tingkat yang baru, tetapi semua itu ditukar dengan kesehatan tubuhnya. Enam bulan kemudian, penampilannya menjadi begitu kurus dan menyedihkan.Suatu pagi, setelah selesai memimpin rapat pagi dengan jajaran eksekutif perusahaan, dia tiba-tiba roboh di ruang rapat. Ketika dia kembali sadar, sudah dua hari berlalu. Di atas ranjang rumah sakit, Willy bermimpi sangat panjang.Dalam mimpinya, dia melihat Stacy yang berusia 18 tahun, pada hari pesta ulang tahunnya, menyatakan cinta kepadanya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerimanya. Stacy begitu bahagia sampai melompat dan berputar-putar, lalu jatuh ke dalam pel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 20

    "Pulang? Om, aku nggak akan kembali ke Keluarga Jinara lagi. Tapi aku nggak akan melupakan jasa Keluarga Jinara kepadaku. Suatu hari nanti, ketika aku sudah mampu, aku pasti akan membalas budi kalian."Nada bicara Stacy tegas, membuat sedikit semangat yang baru saja muncul di hati Willy seketika lenyap."Kalau nggak ada urusan yang benar-benar penting, aku harap kamu nggak menggangguku lagi. Beban kuliahku sangat berat."Setelah menutup telepon, Stacy menghela napas panjang. Dulu dia merasa om kecilnya berbeda dengan pria lain. Tenang, tegas, dan pandai berpikir.Namun sekarang, dia baru menyadari pria tetaplah pria. Dulu dia bisa tergila-gila pada Hilda, ke depannya dia juga bisa tergila-gila pada perempuan lain.Stacy masih sangat muda. Masa depannya penuh dengan kemungkinan tak terbatas. Dia tak mau langkah hidupnya terhambat oleh urusan cinta dan perasaan. Dia tidak mengerti kenapa dirinya di kehidupan sebelumnya begitu bodoh, menaruh seluruh harapan pada satu orang pria. Padahal,

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 19

    Willy melancarkan pengejaran tanpa henti terhadap Stacy, sampai-sampai membuatnya benar-benar kewalahan.Dia mengira setelah semuanya dijelaskan dengan jelas, om kecilnya ini seharusnya sudah mengerti. Namun siapa sangka, Willy justru berkata ingin mengejarnya dan akan melamarnya.Entah bagaimana, hal yang dulu pernah dia khayalkan berkali-kali justru datang saat dia sudah menyerah pada perasaan itu.Akhirnya, dia benar-benar mengerti cinta yang dulu dia berikan kepada Willy memang merupakan sebuah beban baginya, karena sekarang dia sendiri sudah merasakan beban itu.Stacy hanya bisa menyatakan sikap dengan tegas agar dia menyerah, tetapi Willy justru seperti disuntik hormon, sama sekali tidak mau mendengarkan.Willy khawatir akan mengganggu studinya, jadi dia hanya menelepon Stacy saat waktu makan pagi, siang, dan malam. Setiap panggilan penuh dengan permohonan maaf yang tulus."Stacy, aku tahu kamu masih ngambek. Wajar kamu marah padaku, aku memang salah. Sekarang aku benar-benar men

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status