Teilen

Bab 7

Makjos
Stacy berdoa dalam hati agar jangan sampai terjadi sesuatu. Dia baru saja berjanji pada Willy bahwa dia akan membantu menjaga Hilda. Dia juga akan segera meninggalkan tempat ini, jadi tidak ingin menimbulkan konflik yang tidak perlu.

Jika sesuatu terjadi pada Hilda, Willy pasti akan kembali menghukumnya, mengurungnya di kamar gelap kecil di vila puncak gunung untuk introspeksi. Begitu teringat kamar gelap kecil itu, sekujur tubuhnya langsung gemetar.

Pada hari kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan, dia sendirian di rumah semalaman. Baru keesokan harinya Willy menjemputnya.

Tak seorang pun tahu bagaimana dia melewati malam itu. Dia bersembunyi di dalam lemari yang gelap gulita semalaman tanpa berani tidur. Sejak saat itu, dia menderita klaustrofobia yang sangat parah.

Willy mengetahui hal itu. Karena itu, dia tidak pernah berani meninggalkannya sendirian di rumah. Namun di kehidupan sebelumnya, sejak mereka bertunangan, Hilda sering memprovokasinya. Demi membela Hilda, Willy mengurung Stacy berkali-kali.

Jelas-jelas Hilda yang lebih dulu memancing masalah, tetapi Willy hanya memercayai perkataan Hilda. Yang paling penting, sebelum berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studi, masih banyak hal yang harus dia selesaikan. Dia tidak boleh dikurung.

Begitu Stacy berlari ke pintu ruang bawah tanah, hatinya langsung terasa dingin. Hilda membelakanginya. Di lantai terdapat genangan darah.

"Hilda! Jangan melakukan hal bodoh!" Stacy segera berlari cepat ke sisinya, tetapi pemandangan di depan mata membuatnya terperangah ketakutan.

Hilda sedang memeluk sesuatu yang berlumuran darah, lalu menoleh dan tersenyum jahat padanya. Kemudian, dia memasukkan benda berlumuran darah itu ke tangan Stacy sambil berteriak histeris.

"Stacy, kenapa kamu membunuh anjingku? Itu adalah anjing terapi yang menemaniku selama tujuh tahun! Gimana bisa kamu setega ini? Apa kamu nggak takut anakmu akan mendapat balasan?"

Baru saat itu Stacy menyadari bahwa benda di tangannya adalah anjing terapi yang dipelihara Hilda. Jeritan menyedihkan tadi berasal dari anjing itu. Hilda baru saja menyiksanya hingga mati dengan tangannya sendiri.

Stacy langsung mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi semuanya sudah terlambat. Belum sempat dia membuang bangkai anjing itu, kedua tangannya sudah ditekan kuat oleh Hilda.

"Kembalikan anjingku! Kembalikan padaku!" Tenaga Hilda begitu besar hingga Stacy sama sekali tak bisa melepaskan diri. Pada saat itulah, Willy muncul di belakang mereka.

"Stacy, apa yang kamu lakukan?" Dia membentak dengan marah sambil menggertakkan gigi.

Willy merasa seluruh darah di tubuhnya membeku. Sup pir rebus yang dibawanya jatuh ke lantai dan terciprat ke mana-mana. Dia hanya pergi sebentar, tetapi sudah terjadi kejadian seperti ini.

Saat itu, Hilda menangis hingga suaranya serak. Dia bersandar di dada Willy. "Willy, anjing itu menemaniku selama tujuh tahun penuh. Setiap malam dia yang menemaniku tidur. Tanpa dia, gimana aku bisa hidup? Lebih baik aku mati bersamanya saja!"

Willy segera memeluknya erat-erat dari belakang. "Hilda, jangan bicara omong kosong. Melihatmu seperti ini membuat hatiku sakit setengah mati! Kamu masih punya aku. Mulai sekarang, aku akan menemanimu tidur setiap malam ya?"

Setelah itu, dia langsung menoleh menatap Stacy. Tanpa memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan, dia membentak, "Stacy, aku menyuruhmu membantu menjaga Hilda, tapi kamu malah membunuh anjing terapinya?"

"Apa kamu merasa rangsangannya masih belum cukup? Apa kamu baru puas kalau benar-benar memaksanya mati? Usiamu masih muda, tapi hatimu sudah sekejam ini. Sepertinya aku memang terlalu memanjakanmu! Cepat minta maaf pada Hilda sampai dia memaafkanmu!"

Stacy ingin menangis tetapi tak mampu. Dia melihat Hilda tersenyum puas ke arahnya sambil mengucapkan dua kata tanpa suara. 'Aku menang.'

Namun, dia sudah tak sempat memikirkan itu. Dia hanya ingin meredakan amarah Willy secepatnya. Dia pun mencoba menjelaskan, "Om, sungguh bukan aku! Dia sendiri ...."

Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, sebuah tamparan keras sudah mendarat di wajahnya. Stacy merasa telinganya berdenging dan bau amis darah memenuhi mulutnya.

"Kamu masih berani berkilah! Apa mungkin Hilda sendiri yang menyiksa dan membunuh anjing terapi yang menemaninya selama tujuh tahun, lalu menjebakmu?"

"Dulu kamu sudah penuh kebohongan dan selalu memfitnah Hilda. Kukira setelah hamil kamu jadi lebih penurut, ternyata itu hanya perasaanku saja! Kamu memang nggak pernah berubah!"

"Sekarang juga, pergi dari sini dan kembali ke rumah Keluarga Jinara. Masuk ke kamar itu dan renungkan perbuatanmu dengan baik!"

Hati Stacy seolah-olah jatuh ke dalam jurang es. Pada akhirnya, dia tetap dikurung di kamar gelap kecil yang paling dia takuti.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 24

    Setelah keluar dari ruang dokter, wajah Willy dipenuhi keputusasaan.Ternyata sejak di dalam negeri dia sudah dijatuhi vonis mati. Datang ke sini untuk berobat hanyalah harapan terakhir. Namun, harapan terakhir itu pun hancur.Dia berjalan terhuyung-huyung kembali ke ruang rawat, tepat berpapasan dengan Wilbert yang baru kembali.Melihat ekspresinya, Wilbert langsung tahu bahwa dia sudah mengetahui semuanya."Willy, dokter bilang selama kamu mau menjalani pengobatan dengan aktif, masih ada harapan."Namun, kalimat itu saat ini terdengar begitu pucat dan tak berdaya.Willy mengangkat kepala lagi. Wajahnya sudah basah oleh air mata. "Kak, aku belum ingin mati. Aku bahkan belum berhasil mendapatkan kembali Stacy. Aku nggak terima ...."Dia memeluk kakaknya dan menangis tersedu-sedu. Baru setelah kelelahan menangis, dia kembali berbaring di ranjang untuk beristirahat.Dia menjadi jauh lebih serius menjalani pengobatan. Tingkat medis rumah sakit ini sudah kelas dunia, tetapi dia tetap meras

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 23

    Willy menatap Stacy tanpa berkedip. Dia tampak sedikit lebih tinggi, wajahnya juga terlihat lebih berisi. Sepertinya setelah meninggalkannya, hidup Stacy tetap berjalan dengan baik.Memikirkan hal itu, hati Willy diliputi rasa getir. Stacy bukan lagi gadis kecil yang dulu selalu suka menempel padanya.Dia mengangkat tangan, ingin seperti dulu mengusap kepala Stacy. Namun, tangan yang sudah terulur itu akhirnya ditarik kembali. "Stacy, aku ....""Om Willy, sudah lama nggak ketemu." Stacy melangkah maju menyapanya, lalu menoleh ke belakangnya sambil memanggil, "Om Wilbert."Dua panggilan om itu terucap tanpa pembedaan, begitu alami. Hati Willy yang semula berdebar seketika mendingin, tetapi dia tidak boleh menyerah.Kali ini, dia datang berobat dengan alasan sakit. Ini adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk mendapatkan Stacy kembali."Stacy, aku ingin bicara berdua denganmu sebentar, boleh?"Stacy tidak langsung menjawab, melainkan melirik Wilbert di belakangnya.Wilbert mengangguk

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 22

    Willy yang semula lesu tiba-tiba kembali bersemangat, mendesak kakaknya agar segera mengatur keberangkatan ke luar negeri.Melihat sikapnya yang begitu antusias, seharusnya Wilbert merasa senang. Namun, senyuman di wajahnya justru lebih pahit daripada tangisan. Jika Willy tahu kondisi penyakitnya yang sebenarnya .... Dia tidak berani melanjutkan pikiran itu.Di ranjang rumah sakit, Willy terus memainkan jepit rambut di tangannya sambil berulang kali memanggil nama Stacy dengan suara lirih. Melihat penampilan adiknya yang begitu penuh perasaan, wajah Wilbert dipenuhi kekhawatiran mendalam.Setelah mengambil keputusan, Wilbert menelepon Stacy yang berada di luar negeri. "Halo, Stacy, ini Om Wilbert. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."Stacy baru saja menyelesaikan satu rangkaian eksperimen. Dia cukup terkejut menerima panggilan ini.Sebelum meninggal, Indra pernah berpesan kepada orang-orang Keluarga Jinara agar tidak memberitahukan kabar kematiannya kepada Stacy. Indra tah

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 21

    Sejak Indra meninggal dunia, Willy hampir tinggal di perusahaan. Dia jarang pulang ke rumah lama. Setiap kali kembali ke sana, dia selalu teringat hal-hal yang menyedihkan. Dia tidak berani membiarkan dirinya rileks walaupun sesaat. Karena begitu berhenti bekerja, dia akan tenggelam dalam kerinduan yang tak berujung.Dalam waktu singkat, Willy berhasil membawa Grup Jinara ke tingkat yang baru, tetapi semua itu ditukar dengan kesehatan tubuhnya. Enam bulan kemudian, penampilannya menjadi begitu kurus dan menyedihkan.Suatu pagi, setelah selesai memimpin rapat pagi dengan jajaran eksekutif perusahaan, dia tiba-tiba roboh di ruang rapat. Ketika dia kembali sadar, sudah dua hari berlalu. Di atas ranjang rumah sakit, Willy bermimpi sangat panjang.Dalam mimpinya, dia melihat Stacy yang berusia 18 tahun, pada hari pesta ulang tahunnya, menyatakan cinta kepadanya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerimanya. Stacy begitu bahagia sampai melompat dan berputar-putar, lalu jatuh ke dalam pel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 20

    "Pulang? Om, aku nggak akan kembali ke Keluarga Jinara lagi. Tapi aku nggak akan melupakan jasa Keluarga Jinara kepadaku. Suatu hari nanti, ketika aku sudah mampu, aku pasti akan membalas budi kalian."Nada bicara Stacy tegas, membuat sedikit semangat yang baru saja muncul di hati Willy seketika lenyap."Kalau nggak ada urusan yang benar-benar penting, aku harap kamu nggak menggangguku lagi. Beban kuliahku sangat berat."Setelah menutup telepon, Stacy menghela napas panjang. Dulu dia merasa om kecilnya berbeda dengan pria lain. Tenang, tegas, dan pandai berpikir.Namun sekarang, dia baru menyadari pria tetaplah pria. Dulu dia bisa tergila-gila pada Hilda, ke depannya dia juga bisa tergila-gila pada perempuan lain.Stacy masih sangat muda. Masa depannya penuh dengan kemungkinan tak terbatas. Dia tak mau langkah hidupnya terhambat oleh urusan cinta dan perasaan. Dia tidak mengerti kenapa dirinya di kehidupan sebelumnya begitu bodoh, menaruh seluruh harapan pada satu orang pria. Padahal,

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 19

    Willy melancarkan pengejaran tanpa henti terhadap Stacy, sampai-sampai membuatnya benar-benar kewalahan.Dia mengira setelah semuanya dijelaskan dengan jelas, om kecilnya ini seharusnya sudah mengerti. Namun siapa sangka, Willy justru berkata ingin mengejarnya dan akan melamarnya.Entah bagaimana, hal yang dulu pernah dia khayalkan berkali-kali justru datang saat dia sudah menyerah pada perasaan itu.Akhirnya, dia benar-benar mengerti cinta yang dulu dia berikan kepada Willy memang merupakan sebuah beban baginya, karena sekarang dia sendiri sudah merasakan beban itu.Stacy hanya bisa menyatakan sikap dengan tegas agar dia menyerah, tetapi Willy justru seperti disuntik hormon, sama sekali tidak mau mendengarkan.Willy khawatir akan mengganggu studinya, jadi dia hanya menelepon Stacy saat waktu makan pagi, siang, dan malam. Setiap panggilan penuh dengan permohonan maaf yang tulus."Stacy, aku tahu kamu masih ngambek. Wajar kamu marah padaku, aku memang salah. Sekarang aku benar-benar men

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status