Teilen

Bab 8

Makjos
Stacy tidak tahu bagaimana dia melewati malam itu. Dia seolah-olah kembali ke malam ketika orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan.

Saat sinar matahari pertama di pagi hari masuk ke ruangan, barulah dia merasakan sedikit kehidupan kembali ke dalam tubuhnya.

Saat itu, dia baru menyadari bahwa seprai di bawah tubuhnya sudah tercabik-cabik oleh cengkeraman tangannya. Lengan dan telapak tangannya pun penuh dengan bekas luka berdarah akibat kuku yang menancap terlalu dalam.

Willy menugaskan orang untuk mengawasinya. Kehidupan sehari-harinya diatur sepenuhnya mengikuti standar ibu hamil, bahkan makanan bergizi selalu diantarkan tepat waktu ke kamarnya tiga kali sehari.

Ponsel Stacy disita. Orang yang menjaganya setiap kali pun hanya datang dan meletakkan barang lalu pergi, tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun kepadanya.

Dia sangat cemas. Sekarang dia sama sekali tidak bisa menghubungi dosennya. Ponsel dan dokumen-dokumen pentingnya semuanya ada di dalam ransel yang disita.

Seminggu sebelum pernikahan, Willy menyuruh orang mengantarkan gaun pengantin untuk dicoba, tetapi tetap tidak mengizinkannya keluar. Namun, Stacy tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan ingin menitipkan pesan kepada orang yang datang agar disampaikan kepada Willy.

"Bu Stacy, saat ini Pak Willy nggak berada di dalam negeri. Semua urusan ini diatur oleh asistennya. Maaf, aku nggak bisa membantu menyampaikan pesanmu."

Dia pergi ke luar negeri? Tanggal pernikahan mereka sudah sangat dekat. Bagaimana mungkin Indra mengizinkannya pergi ke luar negeri pada saat seperti ini? Selain itu, Stacy sudah tiga hari tidak kembali ke rumah lama. Kenapa Indra sama sekali tidak menanyakannya?

Setelah menjawab pertanyaannya, staf itu pergi ke samping untuk menelepon. Setelah melaporkan beberapa kalimat singkat, dia menyerahkan ponselnya kepada Stacy dan memberi isyarat agar dia menjawab.

Stacy mengira itu adalah telepon dari Willy, sehingga begitu membuka mulut dia langsung mengakui kesalahannya. Dia tidak punya waktu lagi. Tujuh hari lagi dia akan terbang ke luar negeri. Sebelum itu, dia harus meninggalkan tempat ini.

Namun, orang di seberang telepon bukanlah Willy, melainkan asistennya.

"Bu Stacy, sebelum pergi, Pak Willy berpesan kalau kamu bisa menyadari kesalahanmu, aku harus menyampaikan bahwa beliau akan kembali ke rumah lama pada pagi hari di tanggal pernikahan untuk menjemput pengantin dan memenuhi janjinya menikahimu."

Stacy sama sekali tidak peduli soal menikah atau tidak. Dia hanya ingin segera keluar dari sini. Dia mengejar dan bertanya, "Dia di mana? Boleh aku bicara langsung dengannya lewat telepon?"

Orang di seberang telepon terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada meminta maaf, "Pak Willy bilang kalau kamu menanyakan hal ini, aku harus memberi tahu dengan jujur. Bu Hilda mengalami depresi yang makin parah karena rangsangan darimu, jadi Pak Willy membawanya ke luar negeri untuk bersantai."

"Selain itu, Pak Willy juga berpesan ke pihak rumah lama kalau kondisi tubuhmu kurang nyaman karena hamil, jadi dia membawamu ke luar negeri lebih awal untuk bulan madu. Pak Willy menegaskan berkali-kali, saat kembali ke rumah lama nanti jangan sampai salah bicara."

"Kalau nggak, beliau nggak keberatan mengurungmu sekali lagi, membiarkanmu mengandung di sana sampai melahirkan anak itu."

Hati Stacy nyeri hebat, seolah-olah ditusuk oleh senjata tajam. Namun, dia segera menepis emosi yang dulu membuatnya sangat menderita. Dia harus memikirkan cara untuk keluar.

Bukan berarti dia tidak pernah terpikir untuk berpura-pura sakit perut. Sekarang dia sedang hamil, para penjaga pasti tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Namun, jika demikian, begitu dokter memeriksanya, fakta bahwa dia sudah keguguran akan terbongkar. Willy yang marah sangat mungkin akan mengurungnya lebih lama.

Dia tidak bisa mengambil risiko itu, hanya bisa terus menunggu. Beberapa hari ini dia bersikap sangat patuh. Para penjaga pun melonggarkan kewaspadaan mereka. Dengan persetujuan Willy, dia diperbolehkan berjalan bebas di dalam vila.

Sehari sebelum pernikahan, banyak orang datang ke vila. Semuanya adalah staf yang mempersiapkan pernikahan keesokan harinya.

Stacy menunjukkan sikap sangat kooperatif, lalu mengajukan permintaan kepada asisten Willy untuk mengambil kembali ranselnya, agar dia bisa menggunakan ponselnya sendiri untuk memberi tahu dosennya tentang pernikahannya.

Asisten itu mengembalikan ranselnya dan menatap langsung saat Stacy menelepon dosennya, baru kemudian berbalik pergi.

Stacy memanfaatkan kesempatan itu untuk menyembunyikan dokumen-dokumen penting di dalam ranselnya ke balik ujung gaun pengantin.

Setelah mengetahui bahwa karena tidak bisa menghubunginya, dosennya telah membantu mengurus semua prosedur terkait lebih dulu, Stacy pun menghela napas lega.

Kemudian, dia kembali merepotkan dosennya untuk membantunya menghubungi pengacara dan mengurus pengalihan kepemilikan rumah pengantin mewah bernilai ratusan miliar yang diberikan Willy kepadanya, menjadi atas nama Hilda.

Setelah menutup telepon, Stacy melirik ke arah pintu. Asisten memberinya ruang dan tidak berniat menyita ponselnya untuk sementara.

Stacy membuka Instagram. Dia tidak punya waktu untuk membaca pesan-pesan yang belum dibaca, melainkan langsung membuka linimasa Hilda.

Hilda memperbarui banyak foto. Semuanya adalah foto-foto mesra dirinya dan Willy sedang berlibur di luar negeri, dengan keterangan yang sangat ambigu.

Stacy tahu, semua unggahan itu hanya bisa dilihat olehnya seorang dan memang sengaja untuk memprovokasinya.

Dia menunduk dan tersenyum kecil, mengambil tangkapan layar satu per satu, lalu merapikan semuanya, termasuk foto-foto yang sebelumnya pernah dia simpan beserta foto lembar operasi keguguran, lalu menjadwalkannya untuk dikirim ke surel Willy.

Waktu pengiriman ditetapkan tepat saat dia naik pesawat. Stacy mengangkat kepala dan menatap ke luar jendela. Seharian penuh dia mencoba pakaian, mempelajari setiap tahapan prosesi pernikahan. Kini, langit di luar sudah benar-benar gelap.

Setelah menyelesaikan semua itu, dia menyerahkan ponselnya kepada asisten dengan sukarela.

Pada saat itu, ponselnya justru berdering. Dia menatap layar dengan gugup. Jantungnya hampir copot. Dia baru saja berdiskusi dengan dosennya bahwa besok pagi dia akan dijemput kembali ke rumah lama Keluarga Jinara. Itu adalah kesempatan terbaiknya untuk melarikan diri.

Saat melihat nama Willy tertera di layar, hatinya yang panik akhirnya sedikit tenang. Suara Willy terdengar dari seberang telepon. Nadanya jauh lebih lembut dibanding biasanya. "Stacy, tunggu aku dengan patuh. Besok pagi aku akan menjemputmu."

"Mm."

Setelah menutup telepon, Stacy mengikuti asisten kembali, menunggu Willy datang menjemputnya keesokan pagi.

Saat fajar baru saja menyingsing, orang-orang di rumah lama sudah mulai sibuk. Memanfaatkan keadaan ketika hari belum sepenuhnya terang, Stacy diam-diam mengenakan pakaian pelayan dan menyelinap keluar lewat pintu belakang.

Dosennya sudah menunggu di sudut jalan dekat pintu belakang dengan mobil yang menyala. Dia melangkah cepat menuju sudut jalan itu. Sebelum naik ke mobil, dia menoleh dan menatap vila itu untuk terakhir kalinya.

Mulai sekarang, dia bebas! Di kehidupan ini, Willy akan dihapus sepenuhnya dari dunianya!

'Selamat tinggal, semua yang ada di sini! Selamat tinggal, Willy!'
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 24

    Setelah keluar dari ruang dokter, wajah Willy dipenuhi keputusasaan.Ternyata sejak di dalam negeri dia sudah dijatuhi vonis mati. Datang ke sini untuk berobat hanyalah harapan terakhir. Namun, harapan terakhir itu pun hancur.Dia berjalan terhuyung-huyung kembali ke ruang rawat, tepat berpapasan dengan Wilbert yang baru kembali.Melihat ekspresinya, Wilbert langsung tahu bahwa dia sudah mengetahui semuanya."Willy, dokter bilang selama kamu mau menjalani pengobatan dengan aktif, masih ada harapan."Namun, kalimat itu saat ini terdengar begitu pucat dan tak berdaya.Willy mengangkat kepala lagi. Wajahnya sudah basah oleh air mata. "Kak, aku belum ingin mati. Aku bahkan belum berhasil mendapatkan kembali Stacy. Aku nggak terima ...."Dia memeluk kakaknya dan menangis tersedu-sedu. Baru setelah kelelahan menangis, dia kembali berbaring di ranjang untuk beristirahat.Dia menjadi jauh lebih serius menjalani pengobatan. Tingkat medis rumah sakit ini sudah kelas dunia, tetapi dia tetap meras

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 23

    Willy menatap Stacy tanpa berkedip. Dia tampak sedikit lebih tinggi, wajahnya juga terlihat lebih berisi. Sepertinya setelah meninggalkannya, hidup Stacy tetap berjalan dengan baik.Memikirkan hal itu, hati Willy diliputi rasa getir. Stacy bukan lagi gadis kecil yang dulu selalu suka menempel padanya.Dia mengangkat tangan, ingin seperti dulu mengusap kepala Stacy. Namun, tangan yang sudah terulur itu akhirnya ditarik kembali. "Stacy, aku ....""Om Willy, sudah lama nggak ketemu." Stacy melangkah maju menyapanya, lalu menoleh ke belakangnya sambil memanggil, "Om Wilbert."Dua panggilan om itu terucap tanpa pembedaan, begitu alami. Hati Willy yang semula berdebar seketika mendingin, tetapi dia tidak boleh menyerah.Kali ini, dia datang berobat dengan alasan sakit. Ini adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk mendapatkan Stacy kembali."Stacy, aku ingin bicara berdua denganmu sebentar, boleh?"Stacy tidak langsung menjawab, melainkan melirik Wilbert di belakangnya.Wilbert mengangguk

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 22

    Willy yang semula lesu tiba-tiba kembali bersemangat, mendesak kakaknya agar segera mengatur keberangkatan ke luar negeri.Melihat sikapnya yang begitu antusias, seharusnya Wilbert merasa senang. Namun, senyuman di wajahnya justru lebih pahit daripada tangisan. Jika Willy tahu kondisi penyakitnya yang sebenarnya .... Dia tidak berani melanjutkan pikiran itu.Di ranjang rumah sakit, Willy terus memainkan jepit rambut di tangannya sambil berulang kali memanggil nama Stacy dengan suara lirih. Melihat penampilan adiknya yang begitu penuh perasaan, wajah Wilbert dipenuhi kekhawatiran mendalam.Setelah mengambil keputusan, Wilbert menelepon Stacy yang berada di luar negeri. "Halo, Stacy, ini Om Wilbert. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."Stacy baru saja menyelesaikan satu rangkaian eksperimen. Dia cukup terkejut menerima panggilan ini.Sebelum meninggal, Indra pernah berpesan kepada orang-orang Keluarga Jinara agar tidak memberitahukan kabar kematiannya kepada Stacy. Indra tah

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 21

    Sejak Indra meninggal dunia, Willy hampir tinggal di perusahaan. Dia jarang pulang ke rumah lama. Setiap kali kembali ke sana, dia selalu teringat hal-hal yang menyedihkan. Dia tidak berani membiarkan dirinya rileks walaupun sesaat. Karena begitu berhenti bekerja, dia akan tenggelam dalam kerinduan yang tak berujung.Dalam waktu singkat, Willy berhasil membawa Grup Jinara ke tingkat yang baru, tetapi semua itu ditukar dengan kesehatan tubuhnya. Enam bulan kemudian, penampilannya menjadi begitu kurus dan menyedihkan.Suatu pagi, setelah selesai memimpin rapat pagi dengan jajaran eksekutif perusahaan, dia tiba-tiba roboh di ruang rapat. Ketika dia kembali sadar, sudah dua hari berlalu. Di atas ranjang rumah sakit, Willy bermimpi sangat panjang.Dalam mimpinya, dia melihat Stacy yang berusia 18 tahun, pada hari pesta ulang tahunnya, menyatakan cinta kepadanya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerimanya. Stacy begitu bahagia sampai melompat dan berputar-putar, lalu jatuh ke dalam pel

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 20

    "Pulang? Om, aku nggak akan kembali ke Keluarga Jinara lagi. Tapi aku nggak akan melupakan jasa Keluarga Jinara kepadaku. Suatu hari nanti, ketika aku sudah mampu, aku pasti akan membalas budi kalian."Nada bicara Stacy tegas, membuat sedikit semangat yang baru saja muncul di hati Willy seketika lenyap."Kalau nggak ada urusan yang benar-benar penting, aku harap kamu nggak menggangguku lagi. Beban kuliahku sangat berat."Setelah menutup telepon, Stacy menghela napas panjang. Dulu dia merasa om kecilnya berbeda dengan pria lain. Tenang, tegas, dan pandai berpikir.Namun sekarang, dia baru menyadari pria tetaplah pria. Dulu dia bisa tergila-gila pada Hilda, ke depannya dia juga bisa tergila-gila pada perempuan lain.Stacy masih sangat muda. Masa depannya penuh dengan kemungkinan tak terbatas. Dia tak mau langkah hidupnya terhambat oleh urusan cinta dan perasaan. Dia tidak mengerti kenapa dirinya di kehidupan sebelumnya begitu bodoh, menaruh seluruh harapan pada satu orang pria. Padahal,

  • Memendam Cinta Bertahun-tahun Pada Om yang Memikat   Bab 19

    Willy melancarkan pengejaran tanpa henti terhadap Stacy, sampai-sampai membuatnya benar-benar kewalahan.Dia mengira setelah semuanya dijelaskan dengan jelas, om kecilnya ini seharusnya sudah mengerti. Namun siapa sangka, Willy justru berkata ingin mengejarnya dan akan melamarnya.Entah bagaimana, hal yang dulu pernah dia khayalkan berkali-kali justru datang saat dia sudah menyerah pada perasaan itu.Akhirnya, dia benar-benar mengerti cinta yang dulu dia berikan kepada Willy memang merupakan sebuah beban baginya, karena sekarang dia sendiri sudah merasakan beban itu.Stacy hanya bisa menyatakan sikap dengan tegas agar dia menyerah, tetapi Willy justru seperti disuntik hormon, sama sekali tidak mau mendengarkan.Willy khawatir akan mengganggu studinya, jadi dia hanya menelepon Stacy saat waktu makan pagi, siang, dan malam. Setiap panggilan penuh dengan permohonan maaf yang tulus."Stacy, aku tahu kamu masih ngambek. Wajar kamu marah padaku, aku memang salah. Sekarang aku benar-benar men

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status