Share

Bab 4

Author: Sekar
Beberapa hari kemudian, Juan tiba-tiba menerima telepon dari Rayan.

Berbeda dengan pertemuan terakhir yang penuh ketegangan, kali ini nada bicara Rayan terdengar lebih mendesak dan gelisah.

"Juan, kamu bisa hubungi Anya nggak? Kita semua nggak bisa menghubunginya."

"Nggak, sejak putus, dia selalu menghindariku."

Juan mengernyit, tetapi tetap tidak menganggap hal ini serius. Bahkan saat Rayan mengusulkan untuk mencari Anya bersama, Juan dengan tegas menolaknya.

"Dulu kamu 'kan selalu menghindari dia? Kok tiba-tiba peduli banget?" tanya Juan dengan nada santai.

Di seberang telepon, terdengar keheningan sejenak, disusul tawa dingin. "Hah, kamu pikir semua orang itu berhati dingin dan nggak punya perasaan kayak kamu?"

Mendengar ucapan itu, raut wajah Juan seketika masam. Namun, sebelum dia sempat membalas, terdengar nada panggilan terputus dari ponselnya.

Melihat pria itu dibuat tak berkutik, Anya tak kuasa menahan tawa. Namun, setelah tertawa, dia justru merasa dirinya menyedihkan.

Ya, bahkan teman yang jarang bertemu saja bisa menyadari bahwa Anya sudah lama tidak muncul. Namun, mantan kekasih yang telah menjalin hubungan selama sepuluh tahun ini, dari awal sampai akhir tidak pernah bertanya kabar sedikit pun.

Sebuah tarikan kuat menyeret Anya pergi, membuatnya baru tersadar. Rupanya pria ini hendak menemui Raline untuk membeli perhiasan.

Anya duduk di atap mobil, memandangi pemandangan familier di tepi jalan yang perlahan menjauh. Juan menjemput Raline dan menuju ke mal terbesar di Kota Louwe. Sesampainya di toko perhiasan, Anya melayang di belakang mereka, menyaksikan Juan membiarkan Raline menggandeng tangannya, memamerkan kemesraan di depan umum.

Setelah berkeliling ke beberapa toko perhiasan, Raline akhirnya memilih perhiasan yang disukainya.

Juan melangkah maju dan mengeluarkan ATM untuk membayar. Tanpa sengaja, dia melirik ponselnya dan melihat sebuah notifikasi berita baru.

Dia membukanya secara refleks. Ternyata, berita itu melaporkan penemuan sesosok mayat perempuan di sebuah gunung tak jauh dari sana. Jasad itu ditemukan dalam kondisi wajah yang tak bisa dikenali lagi dan nyaris tanpa busana, menyisakan dugaan jelas tentang penderitaan yang dialaminya sebelum tewas.

Sambil menutup mata Raline yang refleks mendekat untuk mengintip, Juan membujuknya dengan lembut, "Sayang, jangan dilihat ya."

Selain mengabarkan bahwa pelakunya masih buron, berita itu juga menampilkan beberapa foto barang-barang pribadi yang ditemukan pada korban.

Kolom komentar di bawah berita itu dipenuhi banyak tanggapan, menandakan kasus ini sedang menjadi sorotan. Juan kembali melirik foto-foto tersebut. Salah satunya menampilkan sebuah gelang yang warnanya sudah agak memudar. Bukan perhiasan berharga atau model yang langka, justru karena modelnya yang sangat umum, Juan merasa gelang itu sangat familier.

Dia pernah memberikan gelang yang persis sama kepada Anya.

Entah mengapa, Juan tiba-tiba teringat panggilan telepon dari Rayan sebelum mereka berangkat tadi. Anya sudah lama tidak muncul. Seketika, rasa tidak tenang mulai merayap di hatinya.

Setelah mengantar Raline pulang, untuk pertama kalinya, Juan mengabaikan rayuan wanita itu yang memintanya tinggal. Dia langsung tancap gas menuju rumah Anya. Pintu rumah tidak terkunci, dengan satu dorongan ringan, pintu itu terbuka. Kondisi di dalam rumah sangat berantakan, seolah-olah baru saja dibobol maling.

Mengingat kembali berita yang baru saja dia baca, rasa cemas di dadanya kian mencekik. Tanpa membuang waktu, dia berbalik keluar, masuk ke dalam mobil, dan langsung memacu kendaraannya menuju kantor polisi.

Juan harus pergi mencari tahu.

Mobil sport hitam itu berhenti di depan kantor polisi. Baru saja dia turun dan bersiap melangkah masuk, ponselnya tiba-tiba berdering. Sekilas melihat nama Raline di layar ponsel, ekspresinya seketika berubah panik.

Setelah sambungan tersambung, terdengar isak tangis Raline yang merengek manja. Dia mengadu bahwa dirinya hanya ingin mengambil camilan, tetapi tak sengaja membentur sudut meja.

"Juan, sakit banget ...."

Mendengar rengekan itu, sosok Anya seketika lenyap dari benaknya. Juan tak lagi memedulikan hal lain, langsung berbalik masuk ke mobil dan memacu kendaraan menuju rumah Raline.

Anya yang duduk di atas atap mobil terpaksa ditinggalkan sendirian menatap ke arah kantor polisi dengan tatapan penuh kepahitan.

"Juan, cuma tinggal sedikit lagi, kamu bakal tahu aku udah meninggal."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 26

    Rayan mengantar Anya sampai ke depan asrama putri, lalu kembali ke asramanya sendiri.Teringat pada pesan dari Juan, Rayan tiba-tiba merasa kesal setengah mati. Dia tidak percaya Juan punya kemampuan sebesar itu hingga bisa memantau kecelakaan kecil di tanah air, padahal di sana sedang tengah malam.Kemungkinan terbesar adalah, di kehidupan sebelumnya, orang tua Anya juga mengalami kecelakaan mobil di waktu-waktu seperti ini. Itulah sebabnya Juan bisa mencari momen yang tepat untuk mengirim pesan.Perasaan mengetahui pacarnya memiliki rahasia dengan pria lain, benar-benar membuat hatinya dongkol.Di sisi lain, Anya tidak menyadari gejolak cemburu di hati Rayan. Baru saja melangkah masuk ke asrama, dia langsung dibuat kaget oleh tatapan dari teman-teman sekamarnya."Anya, aku denger orang tuamu kecelakaan. Parah nggak?"Merasakan kepedulian mereka, perasaan hangat seketika mengalir di lubuk hatinya. Dia menggeleng dan tersenyum pada mereka. "Cuma lecet sedikit, kok, nggak ada yang seriu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 25

    Juan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia hanya bisa melihat bahwa mereka tampak sangat bahagia.Itu adalah senyuman Anya yang sekarang tidak akan pernah ditunjukkan lagi di hadapannya.Dengan getir, dia mengalihkan pandangannya, menatap perabotan besar di dalam kamar yang sudah ditutupi kain putih, serta koper-koper yang sudah dikemas dan diletakkan di depan pintu untuk dibawa pergi. Juan pun memendam ucapan perpisahan itu jauh di dalam hati.'Selamat tinggal, Anya.'...Tahun ini, Anya menjadi mahasiswa tahun kedua.Dia menerima pernyataan cinta Rayan dan keduanya menjadi pasangan paling serasi yang terkenal di Universitas Louwe. Dalam hubungan asmara, mereka sangat harmonis dan penuh kasih.Sedangkan dalam akademik, mereka adalah yang terbaik di jurusan masing-masing.Namun, Anya yang di mata orang lain tampak tidak memiliki kekhawatiran apa pun, belakangan ini justru makin dilanda kecemasan.Sebab, di kehidupan sebelumnya, orang tuanya mengalami kecelakaan mobil dan

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 24

    Suara Anya terdengar jelas di telinga Rayan melalui telepon. Rayan tertegun sejenak, tetapi langsung segera paham.Sepertinya, di kehidupan sebelumnya, dia memilih untuk pergi ke luar negeri.Dia mengiyakan dengan suara pelan, lalu terdengar nada bicaranya yang lembut dan penuh kasih."Anya, aku mau kuliah bareng kamu."'Dan juga ingin bersamamu.'Dia menelan sisa kata-kata itu dan hanya menyuarakan kalimat pertamanya saja. Tak lama kemudian, suara ceria wanita itu pun terdengar dari seberang sana."Boleh! Kalau gitu, kita barengan ya."David dan Farel tidak tetap tinggal di Kota Louwe. Mereka akhirnya memilih universitas yang lebih cocok untuk mereka.Sebelum semua orang berpisah ke tujuan masing-masing, Anya dan teman-temannya mengadakan acara makan bersama untuk terakhir kalinya.Mereka mengobrol tentang kampus, tentang masa depan, dan baru di akhir obrolan mereka menyinggung nama Juan."Kayaknya dia bakal kuliah ke luar negeri, deh. Orang tua Juan udah mulai beres-beres barang dari

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 23

    Saat kembali ke tempat duduk, suasana di antara mereka kembali berubah. Juan tiba-tiba menyadari bahwa dirinya telah menjadi orang yang tidak dibutuhkan.Semua pesanan barbeku telah disajikan. Anya menerima makanan yang diberikan Rayan, dan sesekali saat menemukan yang sangat enak, dia akan menyodorkannya untuk dibagi bersama yang lain.Seolah semuanya berjalan seperti biasa. David dan Farel sesekali juga membagikan beberapa tusuk sate kepadanya, tetapi Juan selalu merasa, dirinya tidak bisa lagi membaur dengan mereka.Juan akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal dari liburan kelulusan ini. Hanya David dan Farel yang berbasa-basi mencoba menahannya beberapa kali, tetapi melihat Juan bersikeras ingin pergi, mereka pun membiarkannya.Begitu Juan pergi, sisa rombongan itu justru tampak makin menikmati liburan mereka.Setiap hari, mereka mengunggah berbagai foto ke media sosial. Sementara itu, Juan yang telah lebih dulu tiba di rumah, menatap foto-foto yang menampilkan kedekatan antara

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 22

    Anya mendorongnya keluar dan menutup pintu, membiarkan Juan beranjak pergi dengan raut wajah hampa dan jiwa yang seolah tertinggal.Sementara itu, di sudut lorong, hati Rayan seketika berkecamuk hebat.Sepertinya, dia baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Dari percakapan antara Anya dan Juan, sepertinya mereka kembali dari sepuluh tahun di masa depan. Di kehidupan sebelumnya itu, mereka saling mencintai selama sepuluh tahun, tetapi pada akhirnya, Juan mengkhianatinya dan jatuh cinta pada orang lain. Anya bahkan meninggal karena ulah Juan.Teringat pada niatnya untuk pergi ke luar negeri beberapa waktu lalu, Rayan hanya ingin menampar dirinya sendiri dengan keras.Bagaimana mungkin dia rela mundur dan menyerahkan Anya pada pria berengsek seperti itu!Dia berusaha sekuat tenaga menahan amarah di hatinya, menatap lekat-lekat pintu kamar Anya yang tertutup rapat, lalu diam-diam membulatkan tekad."Anya, kali ini, aku nggak bakal mau mengalah dan ngelepasin kamu ke siapa pu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 21

    Setelah ujian masuk perguruan tinggi selesai, tiba masa liburan paling santai sekaligus paling panjang sepanjang masa SMA.Saat menghadiri acara kumpul kelas, Anya mendengar beberapa teman dekat sedang berdiskusi untuk pergi berlibur bersama setelah lulus. Bagaimanapun juga, setelah masuk kuliah, waktu bagi mereka untuk berkumpul lagi akan sangat sedikit.Anya memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya. Dia tahu bahwa selain Rayan, semua orang akan tetap tinggal di Kota Louwe. Rayan, satu-satunya yang akhirnya memilih kuliah di luar negeri, tidak mengurangi intensitas komunikasi dengan ketiga sahabatnya. Empat tahun kemudian, dia juga akan kembali ke tanah air. Jadi, bagi mereka, tidak ada istilah berpisah. Meski begitu, saat Rayan mengusulkan pergi liburan kelulusan, Anya tetap tidak menolaknya.Cuaca di bulan Juni belum terlalu panas. Mereka memilih sebuah destinasi wisata tepi laut sebagai tujuan. Begitu pesawat mendarat, mereka langsung bergegas menuju hotel.Karena Anya adalah sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status