Share

Chapter 166

Penulis: Nyctus
last update Tanggal publikasi: 2026-09-16 16:13:06

Rafael memejamkan mata. Wajah Anindya kembali muncul. Kemudian muncul wajah Citra. Ia membandingkan keduanya tanpa sengaja. Citra membuatnya merasa harus terus menjelaskan dirinya. Anindya… membuatnya merasa tenang. Rafael segera membuka mata. Ia tidak menyukai kesimpulan itu.

“Bukan begitu.” Ia menggeleng sendiri.

Anindya hanya teman. Teman lama. Itu saja. Lagipula, Anindya sudah memiliki Arkana. Dan Rafael sendiri yang dulu memilih Citra. Ia tidak mungkin sekarang tiba-tiba mempertanyakan sem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 175

    Anindya masih menatap ponselnya beberapa saat setelah sambungan dengan Citra berakhir. Ia tidak tahu mengapa perasaannya justru semakin tidak tenang. Citra memang tidak mengatakan sesuatu yang mencurigakan secara terang-terangan. Tidak ada ancaman. Tidak ada tuduhan. Tidak ada pembicaraan panjang tentang Rafael. Bahkan Citra sudah berulang kali mengatakan bahwa ia tidak akan membicarakan Rafael ketika mereka bertemu nanti. Tetapi justru itu yang membuat Anindya merasa aneh.Ia akhirnya membuka daftar kontak. Jarinya berhenti pada satu nama. Arkana. Anindya menekan tombol panggil.Tidak lama kemudian, suara Arkana terdengar dari seberang. “Halo?”“Arkana.”“Hm?”“Aku baru saja ditelepon Citra.”Suara Arkana langsung berubah lebih serius. “Citra?”“Iya.”“Dia menghubungimu?”“Nomor baru.”Arkana diam sejenak. “Dia bilang apa?”Anindya menceritakan semuanya. Tentang permintaan maaf Citra. Tentang keinginannya bertemu secara langsung. Tentang bagaimana Anindya beberapa kali menolak. Tenta

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 174

    Ponsel Anindya bergetar ketika ia baru saja selesai membaca beberapa halaman bahan kuliah. Satu nomor tidak dikenal muncul di layar. Anindya membiarkannya. Beberapa detik kemudian, panggilan itu berhenti. Lalu masuk lagi. Anindya menghela napas sebelum akhirnya mengangkatnya.“Halo?”Tidak ada jawaban.Anindya menunggu beberapa detik. “Halo?”“Anindya?”Begitu mendengar suara itu, tubuh Anindya langsung menegang. Ia mengenalinya. “Citra?”“Iya.”Anindya tidak mengatakan apa-apa lagi. Ada jeda cukup panjang di antara mereka.“Aku tahu kamu mungkin tidak ingin menerima telepon dariku,” ujar Citra akhirnya. Suaranya terdengar jauh lebih pelan daripada biasanya. “Tapi aku ingin minta maaf.”Anindya mengernyit. “Untuk apa?”“Untuk kejadian di kampus.”Anindya bersandar di kursinya. “Kamu sudah minta maaf sekarang.”“Aku ingin minta maaf langsung.”“Tidak perlu.”Jawaban Anindya begitu cepat hingga Citra terdiam.“Aku serius,” lanjut Anindya. “Aku menerima permintaan maafmu. Jadi tidak perl

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 173

    Suatu siang, Rafael baru saja keluar dari perpustakaan ketika seorang teman berlari kecil menghampirinya. "Raf!""Apa lagi?""Citra di depan."Rafael langsung berhenti. "Di depan mana?""Depan perpustakaan."Rafael menoleh. Benar. Citra berdiri di dekat pintu. Matanya langsung menemukan Rafael."Rafael!"Rafael berbalik. "Astaga." Ia masuk kembali ke perpustakaan.Temannya tertawa kecil. "Ini serius?""Menurutmu?""Kalian seperti sedang main petak umpet.""Ini tidak lucu." Rafael berjalan menuju tangga belakang.Namun dari kejauhan, suara Citra masih terdengar. "Rafael! Tunggu!"Rafael mempercepat langkah. Ia tidak ingin bertengkar. Tidak ingin mendengarkan permintaan maaf lagi. Tidak ingin membuka kembali pembicaraan yang sudah ia tutup. Ia hanya ingin hidupnya kembali tenang.Pengejaran itu akhirnya mulai membawa konsekuensi bagi Citra sendiri. Semakin sering ia terlihat menunggu Rafael di kampus, semakin banyak mahasiswa yang mulai memperhatikan. Awalnya hanya bisik-bisik. Kemudian

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 172

    Sejak Rafael mengakhiri hubungannya dengan Citra, hidupnya justru terasa lebih ramai. Bukan karena pekerjaan. Bukan karena keluarga. Melainkan karena Citra.Hari pertama setelah mereka putus, ponsel Rafael tidak berhenti bergetar. Pesan masuk satu demi satu.'Rafael, kita perlu bicara.''Rafael, tolong angkat teleponku.''Aku tahu kamu masih marah.''Beri aku kesempatan untuk menjelaskan.'Rafael membaca beberapa pesan itu tanpa membalas. Awalnya ia masih berusaha mengabaikannya. Ia berharap Citra akan menerima keputusan tersebut setelah beberapa hari. Namun ternyata tidak.Hari kedua. Hari ketiga. Hari keempat. Pesannya justru semakin banyak. Bahkan ketika Rafael tidak menjawab, Citra tetap mengirimkan pesan baru.'Kenapa kamu tidak membalas?''Setidaknya jawab aku.''Aku cuma ingin bertemu.''Lima menit saja.'Rafael mulai merasa terganggu. Ia sudah menjelaskan semuanya ketika mereka bertemu. Ia sudah mengatakan bahwa hubungan mereka berakhir. Apa lagi yang harus dijelaskan? Namun C

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 171

    Citra tahu, kalau seperti ini terus Rafael akan pergi dan Citra tidak bisa membiarkan ini terjadi.Citra mulai berkaca-kaca. "Aku hanya ingin merasa aman.""Aku juga ingin merasa tenang dalam hubungan."Citra terdiam.Rafael melanjutkan, "Hubungan seharusnya menjadi tempat dua orang merasa nyaman. Bukan tempat aku merasa harus terus berhati-hati agar tidak memicu kecurigaanmu."Air mata Citra mulai jatuh. "Aku bisa berubah."Rafael menggeleng. "Aku tidak meminta kamu berubah demi aku.""Aku bisa belajar percaya.""Aku tidak ingin kamu menjalani hubungan ini dengan terus memaksa dirimu untuk menjadi orang lain.""Aku akan berusaha.""Aku tahu." Rafael menatapnya dengan ekspresi yang semakin serius. "Tapi aku juga harus jujur kepada diriku sendiri."Citra menahan napas."Aku sudah tidak bahagia," kata Rafael dengan wajah penuh rasa bersalah.Kalimat itu membuat Citra membeku."Aku tidak merasa tenang dalam hubungan ini. Aku tidak lagi menantikan waktu bersama seperti dulu. Setiap kali p

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 170

    Rafael akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon Citra, ketika Citra sudah mencoba menghubunginya entah keberapa kali. Kali ini, Rafael berjanji akan menemui Citra di rumahnya. Bukan untuk bertengkar. Bukan pula untuk menyalahkannya atas semua yang telah terjadi. Ia hanya ingin menyelesaikan hubungan mereka dengan baik-baik.Sudah terlalu banyak hal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Pertengkaran yang terus berulang, kejadian di kampus, video yang tersebar di media sosial, masalah dengan keluarga Mahendra, sampai hubungannya dengan Anindya yang ikut terseret.Rafael lelah. Namun kali ini, ia tidak ingin mengakhiri semuanya dengan kemarahan. Ia ingin berbicara dengan tenang.Ketika Rafael tiba di rumah Citra, Citra sudah menunggunya dan membukakan pintu dengan senyum lembut terpatri di wajahnya. Senyum yang dulu Rafael sukai dari Citra."Kamu akhirnya datang," kata Citra sambil mengajak Rafael duduk.Rafael duduk di hadapannya. "Iya."Beberapa saat mereka hanya terdiam.Cit

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 5

    Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 7

    Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 6

    Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 1

    Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status