Compartir

Chapter 38

Autor: Nyctus
last update Fecha de publicación: 2026-05-10 15:48:36

Bagi Anindya Wijaya, ada banyak orang berpengaruh di hidupnya. Guru yang cerewet. Teman yang berisik. Lelaki dingin di kursi roda yang membuat emosinya naik turun. Namun jika bicara tentang orang yang paling ia hormati... Jawabannya selalu satu: Neneknya.

Ratih Wijaya, perempuan yang membesarkan bisnis keluarga setelah kakeknya wafat, adalah sosok yang disegani banyak orang. Di ruang rapat, suaranya bisa membuat direksi diam. Di rumah, tatapannya saja cukup membuat pelayan berlari lebih cepat.
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 68

    Sikap Arkana cukup memberi kejutan bagi Anindya dan bukannya Arkana tidak tahu tentang hal itu. Di sisi lain ruangan, Arkana menggenggam pena terlalu erat. Ia mendengar napas Anindya berubah. Mendengar semangat gadis itu turun. Dan bagian dirinya ingin langsung menarik kata-kata tadi. Namun bagian lain menahan. Karena justru itulah masalahnya. Ia mulai terlalu lembut padanya. Terlalu nyaman. Terlalu ingin dekat.Jika nanti Anindya sadar hidup nyata tak seindah bayangannya... maka semakin dekat mereka sekarang, semakin sakit saat hancur. Lebih baik ia menarik jarak lebih dulu. Lebih aman begitu. Setidaknya begitu yang ia paksa percaya.Sore hari, Anindya pulang lebih diam dari biasanya. Neneknya langsung menyadari.“Kamu berantem?” tanya Neneknya.“Tidak.”“Nilai jelek?”“Tidak.”“Laki-laki?”Anindya menatap neneknya. “Kok tahu?”“Karena wajahmu terlalu mahal untuk rusak gara-gara matematika.”Ia menghela napas dan menjatuhkan diri ke sofa. “Dia dingin.”“Bukannya memang dingin?”“Ini

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 67

    Arkana menghentikan kursi rodanya di sisi Anindya sambil menatap Rafael. Pandangannya sulit dijelaskan maknanya.“Sudah selesai?” tanya Arkana pada Anindya.Rafael menegakkan tubuh. “Ini urusan kami.”“Sekarang urusanku juga.” Nada Arkana tenang.Dan justru itu lebih menekan. Anindya menoleh cepat. “Kamu dengar?”“Cukup.”Arkana tak melihat Anindya. Matanya tetap pada Rafael.“Kamu banyak bicara soal hidup orang lain," kata Arkana.Rafael membalas tajam. “Aku bicara fakta.”Arkana memiringkan kepala sedikit. “Fakta atau ketakutanmu sendiri?”Rafael mengepal tangan. Arkana melanjutkan, “Kalau kau meragukan dia, itu urusanmu. Kalau kau meragukan aku, itu lucu. Dan kalau kau datang untuk merendahkan kondisiku di depan dia...”Arkana berhenti sejenak. Tatapannya menusuk lurus. “Maka kau jauh lebih kecil dari yang kupikir.”Sunyi. Berat. Rafael belum pernah merasa dipandang serendah itu tanpa suara tinggi. Anindya berdiri di samping Arkana dengan dada berdebar. Ia menatap profil wajah pria

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 66

    Di sisi lain sekolah, Rafael melihat dari kejauhan. Anindya berdiri di depan Arkana sambil tersenyum cerah. Arkana memegang kertas nilainya. Mereka tampak seperti pasangan bahkan sebelum resmi menjadi apa-apa. Rafael merasakan sesuatu yang makin sering datang akhir-akhir ini. Penyesalan. Bukan hanya karena kehilangan perhatian Anindya. Tapi karena baru sadar gadis itu bersinar saat diberi ruang untuk berkembang. Dan dulu... ia justru sering memadamkannya.Citra yang berdiri di samping Rafael menangkap arah pandangnya.“Kamu lihat Anindya lagi.”Rafael menoleh cepat. “Aku cuma kebetulan.”“Sudah sering kebetulan.” Nada Citra lembut, namun ujungnya tajam.Rafael menghela napas. “Kamu terlalu sensitif.”“Dan kamu terlalu tidak jujur pada diri sendiri.”Citra tersenyum kecil setelah berkata begitu. Lalu berjalan lebih dulu. Rafael berdiri diam. Ia mulai lelah dengan kalimat-kalimat yang terasa seperti cermin.Sore hari di perpustakaan, Anindya sedang mengerjakan soal ketika tiba-tiba menu

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 65

    Sikap Arkana yang membiarkan Anindya tertidur dengan posisi bersandar di bahunya adalah suatu pemandangan yang sangat aneh dilihat. Untuk pria yang menjaga jarak selama ini, itu sudah hampir seperti pengakuan. Sayangnya momen itu tak berlangsung lama.Suara pintu perpustakaan terbuka. Rafael masuk untuk mencari referensi tugas. Ia berhenti begitu melihat pemandangan di depan. Anindya tertidur di bahu Arkana. Arkana tidak menolak. Dan ekspresi pria itu...tenang. Seolah hal tersebut wajar. Arkana bahkan merasa tidak perlu repot-repot menyingkirkan Anindya dari bahunya atau terlihat ekspresi terganggu dari wajahnya.Dada Rafael menegang. Ia tak tahu kenapa langkahnya terasa berat. Anindya dulu pernah tertidur saat menunggunya di ruang musik. Saat itu ia membangunkannya dengan kesal karena merasa terganggu. Kini ia melihat pria lain memberi apa yang tak pernah ia berikan: kenyamanan.Rafael menggenggam buku di tangannya terlalu erat. Arkana mengangkat kepala dan melihat Rafael. Tatapan ke

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 64

    Latihan soal yang diberikan Arkana cukup sulit. Namun kemajuan Anindya di bidang akademis memang mulai terlihat dari cara dan kecepatannya menyelesaikan soal. Setengah jam kemudian, Anindya mengangkat tangan.“Aku selesai.”Arkana memeriksa jawabannya. “Nomor tiga salah.”“Mustahil.”“Nomor lima juga.”“Fitnah.”“Nomor delapan bahkan kreatif sekali salahnya.”Anindya merebut kertasnya. “Kamu jahat.”“Kamu lemah.”“Aku sedang berusaha.”“Aku tahu.”Nada suaranya lebih lembut dari kata-katanya. Anindya mendadak diam. Arkana sadar ucapannya, lalu berdeham kecil. “Lanjut nomor sebelas.”Anindya tertawa. “Kamu lucu kalau gugup.”“Aku tidak gugup.”“Telingamu merah.”“Belajar.”Di luar perpustakaan, seseorang berhenti melangkah. Rafael Mahendra. Ia awalnya hanya lewat sepulang kelas tambahan. Namun suara tawa Anindya membuatnya menoleh. Dari balik kaca, ia melihat pemandangan yang kini terlalu sering berulang.Anindya duduk di depan Arkana dengan wajah hidup dan cerah. Arkana yang terkenal

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 63

    Anindya mulai menyesali keputusannya dalam membuat pertaruhan kepada Arkana dulu. Pertaruhannya terancam gagal.“Kenapa dulu aku suka bicara besar?” gumamnya sambil menepuk meja.Jawabannya sebetulnya mudah. Karena dulu ia terlalu percaya diri. Dan terlalu terpikat wajah tampan di kursi roda. Siang itu, ia pergi ke perpustakaan. Tempat favorit yang kini terasa seperti ruang latihan neraka. Arkana sudah ada di sana. Kemeja gelap sederhana. Ekspresi tenang. Tumpukan buku di meja.Saat melihat Anindya datang dengan wajah menderita, sudut bibirnya naik tipis. “Kamu tampak kalah perang.”“Aku baru lihat jadwal kelas XII.”“Itu baru pembuka.”“Aku ingin mundur dari pendidikan.”“Ditolak.”“Aku ingin menikah kaya saja.”Arkana menatapnya datar. “Kamu sudah kaya.”“Benar juga.”Anindya duduk di depan Arkana lalu menunduk lemas. “Kalau aku gagal masuk kampusmu gimana?”Arkana membuka buku tanpa tergesa. “Maka kamu gagal.”“Kejam sekali.”“Itu fakta.”“Aku butuh dukungan emosional.”“Aku sediak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status