Beranda / Rumah Tangga / Mempelai Tanpa Kontrak / Bab 34. Jadi makan malam?

Share

Bab 34. Jadi makan malam?

Penulis: Bara Islami
last update Terakhir Diperbarui: 2023-08-07 23:59:07
Tiba-tiba saja temannya itu pulang ke negara asalnya tanpa memberi tahu. Dia sungguh heran bagaimana temannya bisa tahan menghadapi Frisya yang cerewetnya minta ampun.

“Kayak, sia-sia saja selama ini aku belajar jauh-jauh keluar negeri, kalau nyatanya ilmu yang ku dapat nggak bisa kuterapkan.” Frisya menoleh pada Arvan, dia berjalan mundur di depan laki-laki itu. “Pernah nggak, sih, kamu ngerasa gitu, Van? Tiba-tiba saja merasa takut, merasa khawatir kalau yang kita kerjakan nggak sesuai ekspektasi?”

Kali ini Arvan tidak hanya menghela napas, namun juga memutar bola matanya. “Sebenarnya yang mau kamu katakan apa, sih, Sya? Dan tolong berhenti mengikutiku, bukannya kakimu sedang sakit?”

Frisya menghentikan langkahnya, begitupun Arvan yang jalannya terhalang.

Firsya tampak kikuk waktu Arvan menanyakan soal kakinya.

“Ng ..., kakiku sudah agak mendingan. Meski ..., sedikit sakit.” Setelahnya dia mencoba berpegangan pada Arvan.

Buru-buru Arvan menghindar, dia menarik tangan Frisya untuk ber
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mempelai Tanpa Kontrak   BAB 43. Pindah rumah

    Aeri mengarahkan senyumnya melihat kedatangan tidak terduga perempuan itu.Begitupun Arvan, namun tidak halnya dengan Senopati. Seakan papa-nya itu sudah menduga kedatangannya.“Hai,” sapa Frisya tanpa canggung ketika masuk tadi langsung menjadi pusat perhatian. “Mm ... maaf aku telat, karena masih ada kerjaan,” jelasnya.“Tidak apa-apa, kamu duduk di sini, Sya.” Rullistya tersenyum pada perempuan itu sebelum menyuruhnya duduk di sampingnya.“Kenapa dia ada di sini?” tanya Arvan bersikap dingin saat Frisya memberinya senyum.Arvan meminta penjelasan dari Senopati yang nampak tidak terlalu peduli.“Mama yang mengajaknya ikut serta.” Malah Rullistya yang menjawab.Bagaimana makan malam ini sampai terjadi meski awalnya Rullistya tidak setuju, karena Senopati berjanji untuk mengizinkan Frisya ikut serta.Bagi Senopati keberadaan perempuan itu bukanlah ancaman, karena itu d

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 42. Pertengkaran pasangan

    Semua orang menoleh pada Alvin, dibanding semua orang di sana, dialah yang paling menikmati keributan kecil ini.“Alvin kalau makannya sudah selesai, balik belajar sana.” Sayangnya dia malah diusir oleh sang papa.“Tapi aku belum selesai makan.” Kenyataannya dia sengaja menambah makanannya agar ada alasan untuk tetap di sana.“Alvin.” Namun satu kata penuh ketegasan dari sang Mama membuatnya langsung beranjak.Saat ini Mama-nya sedang sensitif, Alvin tidak mau menggali kuburannya sendiri dengan membuat marah sang Mama.Seusai kepergian Alvin, Arvan menyentil dahi istrinya itu. “Kalau ngomong jangan sembarangan.”“Makanya jangan sembarangan juga meremas pahaku.” Aeri menggeser kursinya agak menjauh dari Arvan. “Dikira nggak geli, apa,” lanjutnya membuat Arvan ingin sekali menjitaknya lagi.“Aeri itu istri pilihan Arvan. Pasti ada alasannya kenapa dia memilih Aeri. Lagipula Aeri adalah anak yang baik.” Ucapan Senopati membuat Rullistya menggebrak meja.“Baik apanya perempuan itu, malah

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 41. Makan Malam

    Sebenarnya dalam rangka apa makan malam itu diadakan?Suasananya saat makan terasa mencekam. Selain bunyi sendok dan piring beradu, tidak ada lagi suara yang terdengar.Aeri mengedarkan pandangannya memperhatikan semua orang di ruangan itu. Sepertinya memang tradisi di rumah ini untuk tidak bicara saat makan.Tapi bukan berarti suasana harus sesunyi ini. Kembali dadanya merasa sesak, sama sesaknya saat alerginya kumat."Uhuk ..., uhuk ...." Sialnya lagi dia harus tersedak di situasi sekarang.Arvan segera menyodorkan air putih padanya. Suaminya itu dengan lembut menepuk punggungnya."Kamu nggak apa-apa, Ri?" tanya Arvan.Aeri menunjuk pada punggungnya, "B ... huk ... biha lebih ... huk dikherasin?" pinta Aeri saat suaranya belum sepenuhnya jelas.Mengikuti perkataan Aeri, Arvan memukul punggungnya lebih keras lagi. Sayangnya dia terlalu mengerahkan tenaga, sampai-sampai badan Aeri terdorong ke depan."Sialan!" Tanpa sengaja umpatan itu lolos dari mulutnya.Rullistya yang mendengarnya,

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 40. Mama marah

    “Halo Bumer ketemu lagi kita, rasanya baru sebentar deh kita berpisah, kok, Bumer sudah di sini lagi, kangen, ya?”Rullistya memutar bola matanya, saat ini dia sedang menghubungi seseorang namun tidak kunjung di angkat. “Ini rumahku, terserah aku mau di mana, saja,” ketus Rullistya yang akhirnya duduk di sofa panjang agak jauh dari Aeri.Aeri manggut-manggut sambil mengulas tipis senyum jail. “Jadi Bumer di sini karena bosen tidak ada temannya, kayak aku?”Rullistya menghela napas, sebenarnya dia pun tidak mau satu tempat dengan perempuan kurang ajar ini. Namun, dia tidak bisa membiarkan Aeri sendirian di rumahnya, bisa-bisa perempuan itu benar-benar akan meracuninya dan anggota keluarganya. Dia tidak mau hal itu terjadi.Dan melihat bagaimana perlakuan Aeri pada Ratih tadi, menyuruh salah seorang pembantunya untuk mengawasi perempuan itu akan membahayakan mereka. Rullistya tidak sampai hati menyuruh mereka mengawasi perempuan berbahaya ini. Akhirnya, meski enggan, dia lah yang harus m

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 39. Mengadukan Bumer

    “Kamu ini-.” Ucapan Rullistya terhenti saat Aeri menunjukkan ponselnya yang sedang menelpon. Tertera di layar nama PapMer (Senopati) yang di bawahnya menunjuk angka 05.30.Aeri memencet tombol pengeras suara saat Senopati akhirnya bicara juga dari seberang setelah 5 menit lamanya hanya diam saja.“Mama mertuamu itu sebenarnya orang yang baik, kamu jangan masukkan ke dalam hati ucapan kasarnya itu, ya, Nak?” Berbeda dengan Rullistya yang selalu berapi-api, Senopati malah seperti pegunungan yang menyejukkan.“Papa?” ujar Rullistya.Aeri mengangguk, “Iya Bumer, dia Papa, suami Bumer, Papa mertuaku, Papanya suami ber...belahan jiwaku.” Hampir Aeri keceplosan bilang brengsek.Kali ini dia sedang bermain peran sebagai menantu menyebalkan di depan bumer sekaligus menantu yang baik untuk papmer. Jadi untuk hari ini tidak boleh ada kata kasar yang dia tujukan untuk anak mereka.Aeri tersenyum, meski jujur ingin sekali dia muntah mengatakan kalimat menggelikan itu.“Pap, jadikan makan malam kita

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 38. Like majikan like pelayan

    “Kamu, apa yang kamu lakukan di rumahku?!”Tanpa dipersilahkan, Aeri begitu saja masuk ke dalam rumah ini.“Aku nggak nyangka loh, ternyata Bumer sendiri yang bukakan pintu, terima kasih.”“Aeri!” teriak Rullistya saat Aeri tidak mengindahkan kata-katanya dan malah seenaknya menaruh semua bawaannya di meja sofa.Dahi Rullistya mengerut, melihat air dari daging membasahi meja.“Bisa nggak, sih, Bumer nggak usah teriak-teriak.” Aeri mengorek telinganya dengan jari.Rullistya memindahkan plastik berisi daging itu ke lantai. “Kamu nggak mau diteriakin, tapi di rumah orang kurang ajar begini.” Rullistya menunjuk pada genangan kecil air dari daging, membuat Aeri memutar matanya.“Hanya masalah kecil itu.”Tangan Rullistya mengepal, mencoba bersikap sabar. “Apa yang kamu lakukan di rumahku?!” Kembali Rullistya bertanya.Aeri melepas jaket yang sejak tadi dia kenakan, kini dia hanya memakai tanktop hitam dan celana jeans pendek berumbai. Penampilannya sontak membuat mata Rullistya akan keluar.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status