INICIAR SESIÓN“Sayaaang ….” Seperti biasa, Kaluna selalu menyambut Satria di depan pintu.Satria yang baru saja turun dari mobil mengangkat keresek di tangannya.Sorot mata Kaluna langsung berbinar.“Ketan bakar … pesenan kamu,” kata Satria begitu langkahnya sampai di teras, di depan Kaluna.“Maaciiii ….” Kaluna mengecup pipi Satria.Cup.“Aku mandi dulu ya ….” Satria merangkul Kaluna masuk ke dalam rumah.“Eh … aku ambilin handuk dulu ya.” “Enggak usah sayang … nanti aku ambil sendiri … kami makan aja ketan bakarnya sama ibu ya.” “Sudah pulang, Nak?” Ibu mendengar suara Satria langsung menyambut.“Iya Bu.” Satria mengecup punggung tangannya.“Ibu, Satria bawa ketan bakar … kita makan berdua yuk!” “Waaa … boleh-boleh.” Kaluna duduk di samping Ibu.Satria mengecup puncak kepala Kaluna sebelum akhirnya pergi ke kamar mengambil handuk.“Wangi apa ini?” Bapak baru saja masuk ke dalam rumah, pulang dari masjid.“Ini Pak, Satria bawa ketan bakar … Bapak mau?”“Mau dooonk.” Bapak du
Lift privat berhenti tepat di lantai tertinggi.Ting.Pintu terbuka.Om Kaivan melangkah keluar dengan satu tangan masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang ponsel.Beberapa staff yang berpapasan langsung membungkuk hormat.“Siang, Pak.”Kaivan hanya mengangguk kecil sambil terus berjalan menuju ruangannya.Begitu pintu kaca bertuliskan President Director tertutup—Kaivan melempar tubuhnya ke kursi kebesaran.Tatapannya sempat jatuh pada kartu nama yang tadi sempat ia berikan kepada Ratu.Lalu tanpa berpikir panjang—ia menekan salah satu nama di kontak favoritnya.Zyandru.Nada sambung baru berdering dua kali—langsung diangkat.“Om Kaivan …..” Suara berat di sana terdengar datar seperti biasa.Kaivan tersenyum kecil.“Lagi sibuk?”“Enggak juga … Kenapa?”Kaivan menyandarkan tubuhnya.“Tadi Om ketemu cewek kamu.”Di seberang sana mendadak sunyi.Beberapa detik.Lalu suara Zyandru terdengar lebih pelan dari sebelumnya.“Siapa? Ratu?”Kaivan tersenyum t
Pagi keesokan harinya, Kaluna dan Satria kembali ke Lembang.Gedung bertingkat berganti hamparan kebun teh.Sampai akhirnya mobil Satria memasuki jalan desa.Meski udara menusuk hingga tulang, namun kali ini—entah kenapa—Kaluna merasa jauh lebih hangat.Karena tangan kirinya sejak tadi tidak pernah lepas dari genggaman Satria di atas console tengah.Tidak ada banyak obrolan selama perjalanan dari Jakarta menuju Bandung.Kadang Satria hanya melirik sekilas.Kadang mengusap punggung tangan Kaluna dengan ibu jarinya.Sesederhana itu.Tapi cukup membuat hati Kaluna terasa penuh.Sampai akhirnya mobil berhenti di halaman rumah bapak dan ibu.Kaluna menelan ludah.Jantungnya berdebar kencang.Tangannya mulai dingin.“Aku takut…,” bisiknya pelan.Satria menoleh.Tatapannya lembut.“Takut kenapa?”Kaluna menggigit bibir bawah.“Aku pergi tanpa bilang … aku pasti bikin ibu sama bapak khawatir.”Satria tersenyum kecil.Tangannya terangkat, mengusap kepala Kaluna.“Tenaaaan
“Kamu udah makan, sayang?” Satria bertanya sambil menutup pintu.Mereka baru saja sampai di kamar hotel milik AG Group.Langkah Kaluna berhenti di tengah kamar suite itu, dia membalikan badan.Matanya kembali basah.“Sayaaang … aku salah apa?” Satria mendekat.Mengusap pipi Kaluna yang basah.“Maafin aku … Maafin aku …..” Kaluna terisak, seketika itu juga Satria membawanya ke dalam pelukan.“Aku yang mau minta maaf sama kamu sampai kamu pergi enggak kasih tahu aku … aku salah apa?” Satria mengecup kepala Kaluna dalam.Kaluna mengurai pelukan, dia menarik tangan Satria menuntunnya duduk di sofa.“Tapi kalau aku cerita, kamu enggak akan marah, kan?” tanya Kaluna hati-hati.Satria tersenyum kecil, tangannya mengusap kepala Kaluna lembut.“Apa pernah aku marah sama kamu?” Kaluna menggelengkan kepala.“Kalau aku cerita, apapun itu yang menyakiti hati kamu … Kamu enggak akan benci sama aku?” Kaluna bertanya lagi mencari keyakinan.Satria terpekur sebentar sampai akhirnya di
Malam telah larut.Jam di dinding rumah keluarga Gunadhya sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.Udara Jakarta terasa berbeda dari Lembang.Lebih hangat. Lebih padat. Lebih sesak.Namun di teras samping mansion megah itu, suasananya justru terasa begitu dingin.Kaluna masih berlutut.Dress cream yang dikenakannya kini sudah kusut di beberapa bagian.Rambut panjangnya semakin berantakan.Wajah cantiknya tampak sembab.Bibirnya pucat.Dan tubuhnya sesekali bergetar menahan lelah.Di sampingnya—bunda Arshavina masih duduk bersimpuh.Sesekali mengusap pundak Kaluna.Sesekali menghapus air mata sendiri.Bahkan dari tadi—wanita yang masih cantik diusianya meski tak lagi muda itu belum berhenti menangis.“Luna .…” Suara bunda terdengar pecah.“Cukup, Sayang … ayo bangun, nanti lutut kamu sakit .…”Kaluna menggeleng lemah.“Ayah belum janji, Bun ... Luna enggak mau pulang tanpa hasil, kasian Satria … Bu, dia berjuang mati-matian membahagiakan Luna … kedua orang tuanya
Siang sudah berganti malam ketika mobil Satria yang dikendarai Kaluna akhirnya memasuki kawasan elite Pondok Indah.Lampu-lampu taman di sepanjang jalan menyala hangat.Deretan mansion megah berdiri angkuh.Semuanya masih sama.Tidak ada yang berubah.Rumput-rumput dipangkas sempurna.Air mancur menyala indah.Petugas keamanan membungkuk hormat begitu tahu Kaluna yang mengemudikan mobil tersebut.Dengan perlahan mobil memasuki gerbang rumah keluarga Gunadhya.Namun anehnya—untuk pertama kalinya sejak kecil—Kaluna tidak lagi merasa pulang.Tangannya masih menggenggam setir erat.Napasnya memburu. Matanya sembab. Dan dadanya terasa begitu penuh.Bukan karena rindu. Melainkan karena marah.Karena hari ini—Kaluna datang bukan sebagai putri manja keluarga Gunadhya.Tapi sebagai istri Satria.Sebagai perempuan yang sedang memperjuangkan suaminya.Setelah mobil berhenti di area carport—Kaluna langsung turun.Tidak peduli rambutnya sedikit berantakan.Tidak peduli wajahnya p
“Parkir di sana aja,” kata Kaluna sembari menunjuk space parkir kosong di depan loby restoran.“Aku antar kamu sampai loby dulu.” “Enggak usah, kita parkir aja dulu nanti barengan ke restonya.”Kaluna tidak ingin memperlakukan Satria seperti driver.Akhirnya Satria menurut dan langsung memarki
Pintu ruang kerja Kaluna terbuka pelan.Satria masuk dengan langkah tenang seperti biasa. Jasnya sudah dilepas menyisakan kemeja putih yang digulung hingga sikut.Ia berhenti beberapa langkah dari meja Kaluna.“Anda memanggil saya, Nona?”Nada suaranya formal. Terlalu formal.Kaluna yang sedan
“Ya udah deh, oke.”Satria yang berdiri di dekat mobil dengan pintu kabin belakang terbuka, sempat terlihat bingung.Kenapa Kaluna bersedia menerima ajakan dinner itu?Kenapa Kaluna tidak menjaga perasaannya?“Satria, kamu bawa pakaian ganti aku, kan?”“Bawa Nona … ada di
Siang itu langit Jakarta terlihat pucat di balik kaca gedung-gedung tinggi.Mobil sedan hitam mewah CEO anak perusahaan AG Group berhenti perlahan di depan gedung kantor Andre Pratama Group. Bangunan modern dengan fasad kaca itu memantulkan cahaya matahari siang yang terik.Satria turun lebih dul







