Share

Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu
Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu
Author: Anonima

Bab 1

Author: Anonima
Pikiran Erik benar-benar hanya dipenuhi oleh keselamatan anak haramnya. Namun, pernahkah pria itu memikirkan bahwa Zia lahir prematur? Sejak kecil, putri mereka itu selalu lemah dan sering sakit-sakitan.

Bagaimana mungkin tubuh ringkih Zia bisa bertahan setelah kehilangan satu ginjalnya?

Lampu ruang operasi yang menyala merah bagaikan pedang yang bergantung tepat di atas kepala Vanya. Suaranya bergetar hebat.

"Erik, anak haram itu memang anakmu, tapi apa Zia bukan anakmu juga?!"

"Aku mohon sama kamu, suruh mereka hentikan operasinya, ya?"

Di akhir kalimatnya, air mata Vanya luruh berjatuhan ke lantai.

Erik yang merasa iba mengecup sudut mata istrinya yang basah, tetapi dekapannya sama sekali tidak mengendur.

"Vanya, kamu tenang aja. Cuma kehilangan satu ginjal, Zia nggak bakal kenapa-napa kok."

Vanya benar-benar kecewa mendengarnya. Dia memberontak sekuat tenaga, lalu menggigit bagian antara ibu jari dan telunjuk Erik dengan amat keras.

Bahkan hingga rasa anyir darah tercecap di mulut Vanya, Erik tidak melepaskan cengkeramannya, tetap mengunci tubuh wanita itu di tempatnya tanpa bergeming.

Entah berapa lama waktu telah berlalu, lampu ruang operasi akhirnya padam.

Dokter keluar dari sana, membawa sebuah kotak khusus sambil berjalan terburu-buru menuju lantai atas.

Wajah Erik langsung berubah gembira. Dia seketika melepaskan cengkeramannya, lalu melangkah pergi dengan tergesa-gesa.

Vanya langsung berlari tertatih-tatih menerobos masuk ke dalam ruang operasi.

Melihat putri kecilnya terbaring di atas meja operasi dengan wajah yang pucat, rasa bersalah yang teramat sangat seketika datang menggulung dan menenggelamkan perasaannya.

"Zia, maafin Ibu. Ibu datang terlambat, maafin Ibu."

Zia membuka matanya dengan lemah. Tangan mungilnya berusaha terangkat, mengusap pipi Vanya.

"Ibu, Ayah bilang, dia mau ajak aku ke taman hiburan? Tapi, kenapa aku malah di rumah sakit? Apa Zia nakal dan bikin Ayah marah?"

Mendengar suara putrinya yang kebingungan, hati Vanya terasa seperti diiris-iris. Tenggorokannya tercekat, tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.

Bagaimana bisa dia mengatakan kepada putrinya yang baru berusia lima tahun itu bahwa dia sama sekali tidak salah? Kenyataan pahitnya adalah, Erik, ayahnya sendiri, saat ini hanya memedulikan anak haramnya dan tidak ada lagi tempat untuk Zia di hatinya.

Kenyataan sekejam itu, mana mungkin bisa ditanggung oleh anak sekecil Zia?

Kesedihan di mata Zia tampak makin dalam dan air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Tapi, kata Ayah, Ayah paling sayang sama Zia dan Ibu? Katanya Ayah nggak bakal pernah marah sama kita berdua."

Vanya tidak sanggup lagi menahannya. Tangisnya pecah seketika.

Dulu, orang yang paling Erik cintai memang hanya dia dan Zia. Namun, sekarang, semuanya sudah berubah.

Erik dikenal sebagai sosok pebisnis yang bertangan dingin dan tak tersentuh di dunia korporat. Sementara Vanya, istrinya yang juga merupakan teman masa kecilnya, adalah satu-satunya pengecualian tempat Erik mencurahkan seluruh kelembutannya.

Hanya karena Vanya mengeluh tidak enak badan, Erik rela membatalkan kerja sama bernilai ratusan miliar malam itu juga, lalu terbang kembali dari luar negeri demi bisa merawat Vanya langsung di sisi ranjang.

Hanya karena Vanya memandangi sebuah barang antik beberapa detik lebih lama, Erik akan mengerahkan segala cara untuk menemukan pemiliknya, bahkan rela membayar jauh di atas harga pasaran demi membelinya.

Begitu Vanya hamil, Erik makin memanjakannya, menuruti apa pun yang dia inginkan.

Orang-orang bilang, pernikahan kalangan elite pada akhirnya akan merenggang dan berujung pada kebohongan masing-masing.

Akan tetapi, saat itu Vanya sangat percaya bahwa dia dan Erik adalah pengecualian.

Sampai akhirnya, saat usia kandungannya menginjak tujuh bulan, dia memergoki dengan mata kepalanya sendiri pria itu sedang tidur bersama dengan seorang mahasiswi.

Hari itu, Vanya yang syok berat sampai mengalami kontraksi. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit dan terpaksa melahirkan Zia secara prematur.

Erik berlutut di sisi ranjang rumah sakit. Pria yang biasanya selalu angkuh itu menampar wajahnya sendiri berkali-kali dengan keras. Dengan pipi yang merah dan bengkak, dia memohon ampun pada istrinya, "Vanya, aku dijebak orang. Kamu harus percaya sama aku, aku nggak pernah ada niat sedikit pun buat khianatin kamu."

Melihat putri mereka yang baru saja lahir, hati Vanya pun melunak.

Erik kemudian memberikan sejumlah uang kepada mahasiswi itu untuk menyuruhnya pergi jauh, lalu kembali melanjutkan perannya sebagai suami dan ayah yang baik.

Sampai akhirnya sebulan yang lalu, Vanya tidak sengaja melihat Erik sedang menggandeng seorang anak laki-laki bersama seorang wanita.

Wajah anak laki-laki itu benar-benar cetakan sempurna dari Erik versi kecil!

Wanita itu langsung melindungi bocah itu di balik punggungnya, menatap Vanya dengan pandangan keras kepala.

"Bu Vanya, Noah cuma anak aku, Nadia Armani, seorang. Dia nggak bakal pernah merebut perusahaan Keluarga Gunawan dari putrimu."

Wajah Erik seketika menunjukkan kepanikan yang jarang sekali terlihat. Dia langsung memeluk Vanya erat-erat dan berusaha menjelaskan semuanya.

"Vanya, dia itu mahasiswi dari malam lima tahun lalu itu, malam saat aku dijebak obat perangsang."

Saat itulah Vanya baru mengetahui bahwa insiden lima tahun lalu ternyata membuat Nadia hamil. Wanita itu memilih melahirkan dan membesarkan anaknya sendirian.

Belum lama ini, Nadia membawa anak itu ke Grup Gunawan untuk wawancara kerja dan di sanalah Erik tidak sengaja berpapasan dengan mereka.

Meskipun Erik sudah lama melupakan wajah mahasiswi itu, anak laki-laki di sampingnya memiliki kemiripan hingga 60% dengannya. Hanya dengan sekali lihat, Erik tahu kalau itu adalah darah dagingnya sendiri.

Sesampainya di rumah, Erik memberikan janji manis kepadanya.

"Biar bagaimanapun, Noah punya hubungan darah sama aku. Kasih aku waktu sedikit lagi, aku bakal atur tempat yang layak buat mereka berdua. Zia bakal tetap jadi satu-satunya ahli warisku, hal itu nggak akan pernah berubah."

Memikirkan putri kecilnya yang begitu bergantung pada sang ayah, Vanya lagi-lagi mengalah dan berkompromi.

Akan tetapi, tidak lama setelah itu, anak laki-laki itu didiagnosis menderita gagal ginjal.

Sejak awal Erik memang sudah didera rasa bersalah yang teramat sangat kepada Nadia dan putranya. Begitu mendengar kabar buruk ini, dia langsung mengerahkan seluruh koneksinya demi mencari donor ginjal yang cocok.

Siapa yang menyangka bahwa satu-satunya donor yang cocok, ternyata adalah Zia.

Vanya semula mengira dengan begitu besarnya rasa sayang Erik kepada Zia, pria itu pasti tidak akan pernah membiarkan putri mereka mendonorkan ginjalnya.

Akan tetapi, kenyataan justru menamparnya dengan begitu keras.

Erik tidak hanya mengusulkan agar Zia mendonorkan ginjalnya, tetapi sekarang, bahkan di saat Vanya menentangnya mati-matian, pria itu masih tega diam-diam menipu Zia hingga naik ke meja operasi.

Melihat kondisi putrinya yang begitu lemah, hati Vanya kini hanya dipenuhi penyesalan.

"Zia, Ibu bawa kamu pergi dari sini, ya? Kita nggak usah sama Ayah lagi."

"Kenapa nggak mau sama Ayah? Apa Ayah masih marah sama Zia?" Suara Zia terdengar makin lirih. "Ibu, aku mau minta maaf sama Ayah, biar Ayah nggak marah lagi. Aku nggak suka di rumah sakit."

Suara Zia lambat laun makin mengecil. Tangan mungilnya terkulai lemas, jatuh lunglai dari pipi Vanya. Dia memejamkan kedua matanya, seolah-olah merasa teramat lelah.

Jantung Vanya seketika berdegup kencang. Dia menggenggam erat tangan mungil Zia, suaranya bergetar hebat penuh ketakutan.

"Zia, kamu kenapa? Buka matamu, Sayang. Tolong jangan menakuti Ibu."

Akan tetapi, Zia tetap bergeming tanpa memberikan respons sedikit pun.

Vanya berteriak histeris, memanggil dokter sekuat tenaganya.

Seorang perawat berlari tergesa-gesa menghampiri. Begitu melihat wajah Zia yang pucat pasi, perawat itu langsung memekik kaget.

"Pasien mengalami infeksi pascaoperasi, harus segera diselamatkan!"

Vanya berteriak sambil berurai air mata, "Cepat panggil dokternya!"

Perawat itu tampak sangat serba salah dan panik.

"Semua dokter sudah dipindahkan sama Pak Erik, nggak ada satu pun dokter yang bisa ke sini buat menyelamatkannya."

Tubuh Vanya gemetar hebat saat dia merogoh ponselnya dengan raut wajah yang luar biasa panik.

"Aku telepon dia sekarang!"

Vanya terus mencoba hingga 18 kali panggilan, tetapi teleponnya sama sekali tidak diangkat.

Vanya masih belum menyerah. Dia kembali menekan tombol panggil untuk ke-19 kalinya.

Telepon itu akhirnya diangkat.

"Erik, Zia ...."

Tiiiiiit!

Semua layar monitor medis mendadak berubah menjadi satu garis lurus, memekikkan suara alarm yang melengking panjang.

Vanya seketika membeku di tempatnya. Dia menatap kosong ke arah putrinya yang kini terbaring kaku di atas meja operasi.

Dari seberang telepon, terdengar suara Erik yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

"Vanya, tadi Noah baru aja selesai operasi. Operasinya sukses besar, dia udah nggak apa-apa sekarang."

"Kenapa telepon sampai berkali-kali begini? Apa Zia udah bangun dan nyariin aku? Aku ke sana sekarang, ya."

Vanya memejamkan matanya, suaranya terdengar serak.

"Nggak usah."

Baik Zia maupun dirinya, tidak akan pernah membutuhkan Erik lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 14

    Saat Erik membuka matanya kembali, dia sudah berada di rumah sakit.Dia menoleh dan langsung melihat Vanya yang sedang membelakanginya."Vanya." Suara Erik terdengar sedikit serak menahan tangis. "Kamu akhirnya mau menemuiku."Vanya berbalik, lalu menatapnya dengan raut wajah tenang."Aku menemuimu kali ini cuma ingin menjelaskan semuanya dengan baik-baik."Sebelum Vanya datang menemui Erik, semua anggota keluarganya menentang keras.Dia tahu mereka khawatir dirinya akan teringat kembali pada rasa sakit di lubuk hati yang terdalam setelah melihat Erik.Akan tetapi, dia paham betul watak Erik, jika tidak benar-benar memutus harapannya, pria itu tidak akan pernah menyerah."Erik, sejak Zia meninggal, hubungan di antara kita sudah sepenuhnya berakhir."Sorot mata Erik memancarkan kepedihan, suaranya terdengar serak."Vanya, maafkan aku, aku benar-benar nggak tahu kalau donor ginjal itu akan menyebabkan Zia meninggal."Meski Vanya sudah menerima kenyataan bahwa Zia telah tiada, tetapi saat

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 13

    Kota Adhikari, vila Keluarga Sadewa.Erik berdiri di depan pintu rumah Keluarga Sadewa. Dia mengangkat tangannya beberapa kali, tetapi tidak berani untuk mengetuk pintu.Begitu mengetahui Vanya telah kembali ke Kota Adhikari, dia langsung menyuruh asistennya membeli tiket pesawat paling cepat untuk terbang ke sana.Saat itu, asistennya sempat membujuk dengan cemas, "Pak Erik, para pemegang saham sudah mulai mengadakan rapat umum untuk mengganti posisi CEO. Bagaimana bisa Anda pergi di saat-saat genting seperti ini?""Terlebih lagi, Keluarga Sadewa sudah mengajukan gugatan hukum terhadap Anda. Anda seharusnya secepat mungkin berkomunikasi dan berdiskusi dengan pengacara."Erik mencengkeram akta cerai di tangannya hingga nyaris remuk, dia tetap bersikeras untuk pergi ke Kota Adhikari."Urusan perusahaan kamu yang bantu tangani. Sekarang, aku harus pergi mengakui kesalahanku pada Vanya, memohon agar dia mau memaafkanku."Asistennya tidak bisa membujuk Erik lagi sehingga hanya bisa pasrah

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 12

    Vanya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Tentang bagaimana Erik menyembunyikan rencana operasi Zia darinya, hingga bagaimana pria itu memindahkan seluruh dokter yang berjaga sampai membuat Zia mengalami infeksi pascaoperasi dan meninggal tanpa ada yang menyelamatkannya.Di tengah cerita, dia berulang kali tersedak tangis dan kehilangan kata-kata.Setelah seluruh kejadian itu selesai diceritakan dengan terbata-bata, ruang tamu Keluarga Sadewa seketika jatuh ke dalam keheningan yang mencekam.Bibir Santi tampak bergetar hebat dan wajahnya pucat pasi."Zia itu anak kandungnya sendiri, tega-teganya Erik sekejam itu!"Umar yang biasanya selalu tenang, kini lehernya sampai merah karena menahan amarah."Bagus. Erik benar-benar hebat! Apa dia pikir Vanya nggak punya keluarga yang bisa membelanya?"Jefri mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya berbunyi."Erik menindas Vanya dan membunuh Zia. Utang ini harus kita perhitungkan matang-matang sampai tuntas."...Di si

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 11

    Pesawat mendarat dengan selamat di Kota Adhikari.Begitu Vanya keluar dari bandara sambil membawa koper, dia langsung melihat orang tua dan kakak laki-lakinya yang sudah menunggu sejak tadi.Sang kakak, Jefri Sadewa, menjadi orang pertama yang melihat sosoknya. Pria itu langsung berlari ke depan dengan penuh semangat dan memeluknya erat-erat."Akhirnya, kamu datang juga ke Kota Adhikari buat jenguk aku, Ayah dan Ibu!"Sejak empat tahun lalu, fokus bisnis Keluarga Sadewa memang perlahan-lahan sudah beralih ke Kota Adhikari.Akan tetapi, karena saat itu Vanya sudah menikah dengan Erik dan melahirkan Zia, dia hanya bisa melepas kepergian orang tua dan kakaknya yang memboyong seluruh keluarga pindah ke Kota Adhikari dengan berat hati.Melihat sudut mata orang tuanya yang tampak berkaca-kaca serta tatapan penuh perhatian dari kakaknya, seluruh rasa sesak yang tertahan selama sebulan ini beserta kepedihan atas kepergian putrinya seketika langsung meledak. Begitu membuka mulut, dia langsung t

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 10

    Akta cerai?Jantung Erik rasanya mendadak jatuh dan rasa panik yang belum pernah terjadi sebelumnya langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.Dengan tangan gemetar, dia mengambil akta cerai itu lalu membacanya dengan sisa harapan terakhir.Begitu melihat nama yang tertera di sana, pria yang biasanya selalu berwajah dingin itu, matanya seketika merah menahan tangis."Mana mungkin ini terjadi? Mana mungkin Vanya menceraikan aku?"Erik terhuyung mundur beberapa langkah karena tidak percaya, tubuhnya hampir tidak bisa berdiri tegak."Ini pasti palsu! Aku nggak pernah menandatangani surat cerai. Pergi periksa sekarang, siapa yang berani memalsukan akta cerai aku dan Vanya!"Asistennya tetap berdiri di tempat tanpa bergerak, lalu berbicara dengan ekspresi serba salah, "Pak Erik, apa Anda lupa? Lima tahun lalu setelah Bu Vanya melahirkan Nona Zia secara prematur, demi membuat Bu Vanya tenang, Anda sendiri yang menyusun surat cerai dan menandatanganinya ...."Ingatan lima tahun lalu perlahan menj

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 9

    Duar!Kepala Erik seketika berdengung hebat. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.Surat keterangan kematian? Siapa yang meninggal sampai Vanya mengirimkan surat ini?Bayangan seseorang samar-samar terlintas di dalam benaknya.Akan tetapi, di detik berikutnya, dia langsung memaksa dirinya untuk menepis bayangan tersebut.Tidak, tidak mungkin!Zia cuma dipindahkan oleh Vanya ke rumah sakit lain, mana mungkin dia meninggal?Dengan tangan yang gemetar, dia perlahan menarik surat keterangan kematian itu keluar dari kantong.Di kolom nama jenazah, tertera jelas nama Zia!Seakan tidak percaya, dia menggosok tulisan di atas kertas itu dengan kuat, berharap bisa melihat nama lain yang muncul, tetapi tulisan itu sama sekali tidak berubah.Begitu membaca penyebab kematiannya, dia bahkan sampai terhuyung mundur beberapa langkah.Meninggal akibat infeksi pasca-operasi! Waktunya tepat di hari operasi donor ginjal itu berlangsung!Kata-kata tersebut bagaikan hantaman palu be

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 6

    Saat Vanya kembali siuman, Erik sedang menggenggam erat tangannya dengan lingkaran hitam yang menghiasi bawah matanya."Vanya, kenapa kamu sama sekali nggak gerak pas di dalam kolam? Kamu tahu nggak seberapa takutnya aku kalau kamu benaran tenggelam?"Vanya menarik kembali tangannya dengan nada data

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 5

    Kuku Nadia yang panjang dan ramping menggores pipi Vanya, meninggalkan luka cakar yang cukup dalam hingga berdarah.Ucapan Nadia barusan membuat Vanya benar-benar bingung."Kamu ngomong apa? Aku nggak tahu apa-apa. Lepasin aku!""Kamu masih mau bohong?" Nadia menunjuk ke arah Noah yang terbaring puc

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 4

    Saat Vanya tersadar, pikirannya masih terasa kacau dan linglung."Vanya, akhirnya kamu bangun juga."Begitu melihat Vanya membuka mata, Erik langsung menyambar tangannya dan mengecupnya dengan mesra."Kamu tahu nggak, pas lihat kamu terkapar pingsan di lantai, rasanya jantungku kayak mau copot. Syuk

  • Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu   Bab 3

    Begitu kembali ke vila, Vanya secara refleks melangkah masuk ke dalam kamar Zia.Kamar itu tampak sangat rapi, sama sekali tidak ada yang berubah sejak mereka tinggalkan tadi pagi.Akan tetapi, tempat ini tidak akan pernah lagi dipenuhi oleh gelak tawa seperti dulu.Tatapannya menyapu setiap sudut k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status