Share

Bab 33

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-10-03 20:55:07

Bab 33

Mendengar bisikan sensual yang sangat menantang otoritasnya tepat di ambang pintu kaca tersebut, langkah sepatu Arya terhenti seketika.

​Namun, pria itu sama sekali tidak memancarkan raut kepanikan. Dia juga tidak menunjukkan tanda-tanda gairah murahan yang mudah disetir oleh seorang bawahan.

​Sebagai seorang pria yang secara alami memegang kendali atas emosinya, Arya menolehkan kepalanya perlahan ke arah samping.

​Pria itu menatap lekat lekuk wajah adik iparnya dengan sorot mata mengint
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 89

    Stik golf logam berayun sangat kencang membelah udara pagi.​Besi pemukul itu menghantam bola putih di atas rumput hijau dengan bunyi pantulan yang nyaring.​Bola kecil itu melayang melengkung di udara dan mendarat mulus di dekat lubang kesembilan.​Dokter Hartono menurunkan stik golfnya dengan tawa berderai yang sangat keras. Pria paruh baya berperut buncit itu baru saja mencetak pukulan sempurna di padang rumput klub eksklusif pinggiran kota.​"Pukulan yang hebat, Dokter Hartono," puji salah satu rekan bisnisnya.​"Tentu saja," balas Hartono angkuh. "Mari kita kembali ke area loker dan minum bir dingin."​Dia menyerahkan stik golfnya kepada kedi dan berjalan memimpin rombongan.​Langkah Hartono mendadak terhenti saat dia baru saja memasuki area loker kayu yang sepi.​Seorang gadis muda berpakaian kerja elegan mencegat jalannya. Gadis berkacamata hitam itu berdiri bersedekap menutupi akses lorong utama.​"Siapa kamu? Menyingkir dari jalanku," usir Hartono mengibaskan tangannya kesal.

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 88

    Pintu berbahan kayu mahoni itu tertutup rapat dari arah dalam.​Aroma tajam daun tembakau dan asap cerutu langsung menyengat indra penciuman Arya.​Victor melangkah perlahan menyusuri karpet tebal ruang kerjanya yang luas.​Tongkat peraknya berketuk pelan di lantai marmer sebelum pria tua itu duduk di kursi kebesarannya.​"Duduk, Arya," perintah Victor sambil menunjuk sebuah kursi kulit tepat di seberang mejanya.​Arya menarik kursi tersebut tanpa bersuara sedikit pun.​Dia mendaratkan pinggulnya dan menatap ayah mertuanya tanpa berkedip.​"Kamu punya nyali yang sangat besar pagi ini," buka Victor dengan suara berat.​"Kamu berani membalas setiap seranganku di depan istri dan anak-anakku saat makan siang tadi."​Pria tua itu mengembuskan asap cerutu tebal ke udara ruang kerja yang temaram.​"Aku hanya mengatakan fakta lapangan mengenai Sonia, Pa," balas Arya tenang. "Tidak ada niat menyerang."​Victor tertawa pelan.​Suara tawanya terdengar kering dan sangat meremehkan.​"Tapi aku ini

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 87

    Victor meletakkan gelas kristal kosongnya ke atas meja kayu.​Suara benturan kaca itu mengakhiri perbincangan menegangkan di ruang kerja tersebut.​Pria tua itu berdiri dari kursinya dan meraih tongkat peraknya.​"Panggil semua orang," perintah Victor dengan nada tinggi. "Kita makan siang bersama di ruang utama sekarang juga."​Arya bangkit berdiri dan berjalan mengikuti langkah ayah mertuanya keluar dari ruangan.​Keduanya menyusuri lorong marmer menuju ruang makan keluarga yang berada di sayap kiri rumah.​Meja makan utama berbahan kayu jati panjang itu telah dipenuhi berbagai macam hidangan panas.​Ada sup iga sapi, ayam panggang, dan potongan daging stik berukuran besar di tengah meja.​Namun, suasana di dalam ruangan itu kini terasa sangat kaku layaknya medan perang psikologis.​Victor menarik kursi dan duduk di posisi paling ujung.​Pria tua itu menempati kursi utama sebagai penguasa rumah tanpa terbantahkan.​Mata tajam Victor menatap satu per satu wajah keluarganya yang mulai

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 86

    Mobil mewah hitam itu berhenti mulus di pelataran rumah utama.​Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat mencekam sejak mereka beranjak dari bandara. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara di sepanjang perjalanan.​Victor turun lebih dulu didampingi para pengawalnya. Pria tua itu melangkah masuk menyusuri lantai marmer ruang tengah dengan ketukan tongkat yang sangat konstan.​Tuk. Tuk.​Langkah kaki Victor terhenti tepat di tengah ruangan.​Dia memutar separuh tubuhnya, menoleh menatap istri dan kedua anak perempuannya yang baru saja menyusul masuk dari pintu depan.​"Kalian bertiga," perintah Victor dengan nada suara berat tanpa memberikan ruang bantahan. "Segera kembali ke kamar kalian masing-masing sekarang juga."​Linda, Sonia, dan Manda seketika menelan ludah.​"Tapi Pa, kamu baru saja menempuh penerbangan panjang. Biar Mama siapkan teh hangat dulu ke ruang depan," bujuk Linda mencoba mencairkan ketegangan.​"Aku bilang naik, Linda," potong Victor dingin menatap ta

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 85

    Lampu meja di ruang kerja lantai tiga itu menyala sangat terang.​Jam dinding di atas rak buku baru menunjuk ke angka lima pagi.​Arya mendorong daun pintu kayu itu dan melangkah masuk dengan tenang.​Pemandangan di balik meja direktur sama sekali tidak mencerminkan kewibawaan seorang pemimpin klinik.​Profesor Linda duduk merosot di kursi kebesarannya. Wajah wanita paruh baya itu terlihat sangat kacau.​Kantung mata hitam tercetak jelas di bawah kelopak matanya. Dia tidak merias wajahnya sama sekali sejak pergumulan panas semalam.​"Kamu datang tepat waktu, Arya," sapa Linda dengan suara parau.​Tangan wanita itu bergetar pelan saat mendorong sebuah map tebal berwarna merah melintasi meja kaca.​Sebuah bunyi gemerincing logam menyusul kemudian.​Linda meletakkan seikat kunci berbahan kuningan berat tepat di atas map tersebut.​"Ini kunci brankas utama klinik," jelas Linda dengan napas pendek. "Di dalamnya ada akses ke seluruh rekening cadangan dan sertifikat aset yang selalu aku semb

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 84

    Gaun tidur berbahan sutra tipis itu meluncur turun melewati bahu dan pinggul Sonia.​Kain berwarna hitam pekat itu merosot mulus hingga menumpuk ke atas karpet ruang kerja. Tindakan itu meresmikan penyerahan diri Sonia secara total malam itu.​Arya sama sekali tidak menyambut tubuh polos istrinya dengan kelembutan. Pria itu tidak merentangkan tangannya untuk memberikan pelukan layaknya seorang suami.​Dia berdiri tegak di balik meja kerja, menatap Sonia dari atas ke bawah dengan dominasi penuh.​"Kemari, Sonia," perintah Arya datar.​Sonia melangkah mendekat dengan langkah kaki telanjang. Wanita itu menundukkan pandangannya saat berdiri tepat di depan suaminya.​"Buka sepatuku," suruh pria itu lagi.​Tanpa sedikit pun rasa ragu atau protes, mantan manajer operasional itu langsung berlutut di atas lantai. Kedua tangan Sonia bergerak membuka tali sepatu pantofel Arya.​Dia melepaskan sepatu kulit itu satu per satu, lalu menyisihkannya dengan rapi ke sudut kaki meja.​Arya menatap puncak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status