登入Suara ketukan sepatu hak tinggi beradu keras dengan anak tangga kayu dari arah lantai bawah.Langkah kaki yang tergesa-gesa itu menggema memecah kesunyian rumah besar tersebut.Arya menoleh menatap wajah Linda yang kini berubah menjadi sepucat kertas putih. Pria itu sedikit merunduk agar suaranya tidak terdengar hingga ke bawah."Masuk ke kamarmu sekarang, Ma," bisik Arya cepat dengan nada datar. "Kecuali Mama mau semuanya hancur berantakan di sini."Linda mengangguk panik berulang kali tanpa bisa menjawab. Wanita paruh baya itu segera memutar tubuhnya.Dia berlari kecil dengan lutut gemetar menyusuri lorong gelap menuju kamar utamanya di ujung ruangan.Linda masuk ke dalam kamarnya dan mendorong daun pintu dari kayu jati tersebut secara terburu-buru.Namun, sisa gairah dan rasa cemburu di dadanya membuat akal sehat direktur klinik itu tidak berfungsi maksimal.Wanita itu tidak mengunci rapat pintunya. Dia sengaja menyisakan celah kecil seukuran tiga jari di engsel pintu untuk
"Kakak mau ke mana?" tanya Manda dengan suara serak dari atas kasur kamar tamu tersebut.Gadis itu masih terbaring lemas tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.Dadanya naik turun dengan cepat mengambil pasokan oksigen setelah guncangan panjang barusan.Rambut Manda berantakan menempel pada permukaan bantal yang basah oleh keringat.Arya membelakangi ranjang sambil menarik celana panjangnya dari atas karpet."Tenggorokanku kering," jawab pria itu tenang tanpa menoleh ke belakang.Kedua tangannya bergerak cepat memasang kancing dan menaikkan resleting celana."Aku mau turun sebentar ke dapur untuk ambil air dingin."Manda memutar posisi tidurnya menjadi menyamping menghadap punggung kakak iparnya."Jangan lama-lama, Kak," sungut gadis itu merengek manja."Tunggu saja di situ," balas Arya datar.Pria itu melangkah tegap mendekati pintu kamar tamu.Dia memutar tuas kunci pengaman dari dalam, lalu menarik daun pintu kayu tersebut hingga terbuka lebar.Tepat di balik celah
Linda memutar gagang pintu kamar utamanya secara perlahan agar engselnya tidak berdecit sedikit pun.Dia melangkah keluar menyusuri lorong lantai dua yang gelap gulita.Langkah kakinya berjalan tanpa suara di atas karpet tebal tanpa memakai alas kaki.Wanita itu berhenti tepat di depan pintu kamar tamu yang tertutup rapat.Linda menempelkan telinga kanannya ke permukaan daun pintu berbahan kayu jati tersebut.Di atas ranjang kamar tamu, Manda merangkak naik menindih perut Arya.Gadis itu mencoba mengambil kendali permainan dari posisi atas."Biar aku tunjukkan staminaku jauh lebih kuat dari Mama," tantang Manda percaya diri.Kedua tangannya menekan bahu Arya agar pria itu tetap telentang di kasur."Aku bisa membuat Kakak lebih puas dari perempuan mana pun di rumah ini," tambahnya lagi.Namun, Arya sama sekali tidak membiarkan Manda memimpin malam ini.Kedua tangan pria itu melesat mencengkeram pinggul gadis tersebut.Arya membalikkan posisi mereka berdua dalam satu entaka
Arya dengan sangat jelas menangkap sebuah siluet bayangan sepasang kaki menutupi sumber cahaya tersebut.Seseorang sedang berdiri mematung menempel di luar pintu kamarnya.Otak Arya langsung tahu persis siapa pemilik bayangan kaki itu.Satu-satunya penghuni lain yang masih terbangun di lantai dua rumah ini hanyalah ibu mertuanya.Sudut bibir pria itu terangkat membentuk seringai dingin yang penuh perhitungan.Bukannya memelankan gerakan pinggulnya, Arya justru melepaskan telapak tangannya dari mulut Manda.Pria itu sengaja membebaskan bibir adik iparnya untuk bersuara lepas.Dia menghujamkan tubuhnya berkali-kali lipat lebih keras menumbuk gadis itu tanpa sisa.Brak! Brak! Brak!Kepala ranjang berbahan kayu solid itu berderit sangat nyaring dan berirama cepat.Ujung kayunya beradu keras membentur dinding kamar setiap kali Arya mengentak tubuhnya ke depan.Kehilangan tangan yang membekap mulutnya, pertahanan vokal Manda langsung jebol berantakan.Gadis itu tidak sanggup la
Tangan Manda langsung menarik turun tali tipis gaun tidur satin merahnya.Kain licin itu merosot cepat melewati lekuk pinggulnya tanpa halangan.Pakaian terakhir itu jatuh menumpuk ke atas karpet lantai kamar tamu.Gadis itu berdiri tegak memamerkan tubuh mudanya tanpa sehelai benang pun di hadapan Arya."Kamu lambat, Kak," desak Manda dengan nada tidak sabar.Dia melangkah maju merapatkan tubuhnya ke depan.Kulit dadanya yang panas menempel langsung pada permukaan kemeja pria itu."Biar aku yang bantu buka bajumu," bisik gadis itu menuntut.Jari-jarinya bergerak tergesa-gesa membuka satu per satu kancing kemeja Arya dari kerah atas.Namun, gerakan tangan gadis itu tiba-tiba melambat saat mencapai kancing ketiga.Kening Manda berkerut samar menatap kain di depannya.Telapak tangannya menyentuh dada bidang Arya, lalu meraba menyamping hingga ke bagian punggung kakak iparnya.Ada sesuatu yang terasa sangat tidak beres dari fisik pria di depannya ini."Kok punggung Kakak aga
Tubuh Linda menegang kaku mendengar suara ketukan keras dari balik pintu berbahan kayu jati tersebut.Kepanikan luar biasa langsung menyergap dada wanita paruh baya itu.Dia meronta menggerakkan pinggulnya ke depan secara refleks.Kedua tangan Linda bertumpu pada kasur, lalu berusaha mendorong perut Arya ke belakang agar menantunya itu segera berhenti bergerak."Lepas, Arya," bisik Linda panik.Keringat dingin mulai bercampur dengan keringat gairahnya."Manda ada di luar, dia bisa dengar suara ranjang ini."Arya sama sekali tidak membiarkan mertuanya mundur satu inci pun dari posisinya semula.Tangan kanan pria itu melesat cepat membekap mulut Linda rapat-rapat."Mmphh!"Linda memberontak tertahan di bawah telapak tangan yang menutupi separuh wajahnya.Tangan kiri Arya mengunci erat pinggang wanita itu dari belakang agar tidak bisa menghindar ke mana pun.Dia justru memacu pinggulnya semakin dalam menembus pertahanan mertuanya tanpa ampun.Tumbukan terakhir itu terjadi sa







