Share

Bab 9

Penulis: Falisha Ashia
last update Tanggal publikasi: 2026-09-11 23:07:06

Mata Linda menatap tajam ke arah perpotongan leher Sonia.

​Pandangan wanita itu turun memeriksa kemeja dinas putih yang kusut berantakan di bagian dada. Dia merapatkan rahangnya erat-erat.

​Dia menyadari Arya baru saja mendominasi putrinya sendiri tepat di saat dia mengurung pria itu.

​TIT! TIT! TIT!

​Bunyi nyaring monitor detak jantung Tuan Hartono memutus lamunannya.

​"Tekanan darah pasien turun drastis, Prof!" teriak Manda dari balik mesin anestesi memecah fokus Linda.

​Linda menelan amarahn
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 66

    ​Linda memutar gagang pintu kamar utamanya secara perlahan agar engselnya tidak berdecit sedikit pun.​Dia melangkah keluar menyusuri lorong lantai dua yang gelap gulita.​Langkah kakinya berjalan tanpa suara di atas karpet tebal tanpa memakai alas kaki.​Wanita itu berhenti tepat di depan pintu kamar tamu yang tertutup rapat.​Linda menempelkan telinga kanannya ke permukaan daun pintu berbahan kayu jati tersebut.​Di atas ranjang kamar tamu, Manda merangkak naik menindih perut Arya.​Gadis itu mencoba mengambil kendali permainan dari posisi atas.​"Biar aku tunjukkan staminaku jauh lebih kuat dari Mama," tantang Manda percaya diri.​Kedua tangannya menekan bahu Arya agar pria itu tetap telentang di kasur.​"Aku bisa membuat Kakak lebih puas dari perempuan mana pun di rumah ini," tambahnya lagi.​Namun, Arya sama sekali tidak membiarkan Manda memimpin malam ini.​Kedua tangan pria itu melesat mencengkeram pinggul gadis tersebut.​Arya membalikkan posisi mereka berdua dalam satu entaka

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 65

    ​Arya dengan sangat jelas menangkap sebuah siluet bayangan sepasang kaki menutupi sumber cahaya tersebut.​Seseorang sedang berdiri mematung menempel di luar pintu kamarnya.​Otak Arya langsung tahu persis siapa pemilik bayangan kaki itu.​Satu-satunya penghuni lain yang masih terbangun di lantai dua rumah ini hanyalah ibu mertuanya.​Sudut bibir pria itu terangkat membentuk seringai dingin yang penuh perhitungan.​Bukannya memelankan gerakan pinggulnya, Arya justru melepaskan telapak tangannya dari mulut Manda.​Pria itu sengaja membebaskan bibir adik iparnya untuk bersuara lepas.​Dia menghujamkan tubuhnya berkali-kali lipat lebih keras menumbuk gadis itu tanpa sisa.​Brak! Brak! Brak!​Kepala ranjang berbahan kayu solid itu berderit sangat nyaring dan berirama cepat.​Ujung kayunya beradu keras membentur dinding kamar setiap kali Arya mengentak tubuhnya ke depan.​Kehilangan tangan yang membekap mulutnya, pertahanan vokal Manda langsung jebol berantakan.​Gadis itu tidak sanggup la

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 64

    Tangan Manda langsung menarik turun tali tipis gaun tidur satin merahnya.​Kain licin itu merosot cepat melewati lekuk pinggulnya tanpa halangan.​Pakaian terakhir itu jatuh menumpuk ke atas karpet lantai kamar tamu.​Gadis itu berdiri tegak memamerkan tubuh mudanya tanpa sehelai benang pun di hadapan Arya.​"Kamu lambat, Kak," desak Manda dengan nada tidak sabar.​Dia melangkah maju merapatkan tubuhnya ke depan.​Kulit dadanya yang panas menempel langsung pada permukaan kemeja pria itu.​"Biar aku yang bantu buka bajumu," bisik gadis itu menuntut.​Jari-jarinya bergerak tergesa-gesa membuka satu per satu kancing kemeja Arya dari kerah atas.​Namun, gerakan tangan gadis itu tiba-tiba melambat saat mencapai kancing ketiga.​Kening Manda berkerut samar menatap kain di depannya.​Telapak tangannya menyentuh dada bidang Arya, lalu meraba menyamping hingga ke bagian punggung kakak iparnya.​Ada sesuatu yang terasa sangat tidak beres dari fisik pria di depannya ini.​"Kok punggung Kakak aga

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 63

    Tubuh Linda menegang kaku mendengar suara ketukan keras dari balik pintu berbahan kayu jati tersebut.​Kepanikan luar biasa langsung menyergap dada wanita paruh baya itu.​Dia meronta menggerakkan pinggulnya ke depan secara refleks.​Kedua tangan Linda bertumpu pada kasur, lalu berusaha mendorong perut Arya ke belakang agar menantunya itu segera berhenti bergerak.​"Lepas, Arya," bisik Linda panik.​Keringat dingin mulai bercampur dengan keringat gairahnya.​"Manda ada di luar, dia bisa dengar suara ranjang ini."​Arya sama sekali tidak membiarkan mertuanya mundur satu inci pun dari posisinya semula.​Tangan kanan pria itu melesat cepat membekap mulut Linda rapat-rapat.​"Mmphh!"​Linda memberontak tertahan di bawah telapak tangan yang menutupi separuh wajahnya.​Tangan kiri Arya mengunci erat pinggang wanita itu dari belakang agar tidak bisa menghindar ke mana pun.​Dia justru memacu pinggulnya semakin dalam menembus pertahanan mertuanya tanpa ampun.​Tumbukan terakhir itu terjadi sa

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 62

    Manda merangkak keluar dari bawah kolong meja kayu jati tersebut.​Tangan kanan gadis itu menggenggam sebuah garpu perak yang sengaja dia jatuhkan sebelumnya.​Dia menarik kursinya dan kembali duduk dengan gerakan sangat santai.​Tangan kiri Manda mengambil selembar tisu dari tengah meja makan, lalu menyeka sudut bibirnya perlahan.​Sebuah senyum penuh kemenangan terukir jelas di wajah gadis itu.​Manda menatap lurus ke arah kursi seberang.​Di sana, Linda duduk bersandar dengan tubuh sangat lemas dan bahu merosot. Wajah direktur klinik itu pucat pasi, sementara keringat sebesar biji jagung terus menetes dari dahi hingga ke lehernya.​"Mama kelihatan pucat dan capek banget," sindir Manda tajam.​Tatapan matanya penuh ejekan saat menyapu penampilan ibunya.​"Makanannya kurang enak ya, Ma? Atau asam lambung Mama naik lagi?" tambah gadis itu memancing.​Linda hanya sanggup mengatur napasnya yang masih tersengal di dada.​"Mama... cuma sedikit kurang enak badan, Manda," jawab Linda pelan.

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 61

    Sepersekian detik sebelum tangan Manda menyibak taplak meja, Arya menarik keluar dua jarinya yang basah dari sela paha Linda.​Pria itu bergerak sangat tenang tanpa menimbulkan suara gesekan sedikit pun di atas kursi.​Di saat bersamaan, jari tangannya dengan cepat namun terarah menurunkan sedikit ritsleting celana bahannya.​Gerakan mekanis itu terkoordinasi dengan sangat rapi.​Kepala Manda masuk tepat ke bawah kolong meja.​Gelapnya bagian bawah meja makan kayu jati itu tidak menghalangi penglihatan wanita tersebut. Mata Manda menyapu area di depannya.​Dia langsung menatap tajam ke arah posisi kaki ibunya berada.​Manda melihat kedua paha ibunya sudah tertutup sangat rapat oleh kain jubah mandi tebal tersebut. Kulit wanita paruh baya itu tidak terlihat sedikit pun.​Tidak ada tanda-tanda mencurigakan di sana.​Manda mengernyitkan dahi keheranan.​Namun saat kepalanya menoleh ke arah tengah, pandangannya langsung terkunci pada selangkangan Arya.​Celana bahan pria itu sedikit terbu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status