MasukSetelah pertemuan pertamanya dengan wanita galak yang belum dikenal, Willy merasa sedikit canggung. Namun, suasana mulai mencair ketika ia berkenalan dengan kepala asisten rumah tangga di rumah itu, seorang wanita bernama Bu Din.
Berusia sekitar 50 tahun, Bu Din memiliki sikap yang ramah dan keibuan. Senyumnya tulus, dan caranya berbicara membuat Willy merasa diterima. "Selamat datang, Nak Willy. Semoga kamu betah kerja di sini. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita ke Bu Din, ya," ucapnya sambil menepuk bahu Willy dengan lembut. Bu Din kemudian mengajak Willy untuk berkeliling rumah. Mereka berhenti di sebuah kamar berukuran sedang yang terletak di dekat taman belakang. “Ini kamarmu, Nak. Memang sederhana, tapi nyaman kok. Kalau butuh apa-apa, bilang saja ke saya,” ujarnya. Kamar itu memang tidak besar, tetapi bersih dan cukup terang dengan satu jendela kecil yang menghadap ke taman. Ada sebuah tempat tidur, lemari kecil, dan meja kerja sederhana. Willy merasa bersyukur karena tidak perlu bolak-balik dari rumahnya yang jauh. Setelah itu, Bu Din mengenalkan Willy pada semua karyawan yang bekerja di rumah besar itu. Pertama, ada Kuma dan Lia, dua asisten memasak yang bekerja di dapur bersama Bu Din. Usia mereka sedikit di atas Willy, mungkin sekitar 25 tahun. Keduanya tampak ramah, meski Lia lebih pendiam dibandingkan Kuma yang cerewet dan suka bercanda. “Kita bakal sering ketemu di dapur, Willy. Kalau kamu lapar, jangan malu-malu minta makan, ya!” ujar Kuma dengan tawa lepas. Lia hanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Kemudian ada Bu Nick, seorang wanita seusia Bu Din yang bertanggung jawab atas urusan cuci mencuci pakaian. "Kalau bajumu kotor, kasih saja ke saya. Tapi jangan lupa taruh di keranjang, jangan sembarangan," katanya dengan nada serius namun bersahabat. Willy juga diperkenalkan pada Nira dan Sada, yang bertugas membersihkan rumah. Keduanya tampak enerjik dan bersahabat. "Semoga kamu tidak sering membuat berantakan, ya. Kalau tidak, kita yang repot," canda Sada, disambut tawa Nira. Di bagian keamanan, ada Pak Gani dan Pak Dany, dua sekuriti yang bergantian shift. Mereka berada di usia sekitar 30-an dan tampak sangat profesional. Willy ingat bahwa salah satu dari mereka yang membawanya ke paviliun kemarin pagi. Terakhir, ada Pak Deny, sopir keluarga yang berusia sekitar 45 tahun, seumuran dengan Pak Haldi. “Kalau kamu butuh tumpangan, bilang saja, asal tidak melanggar aturan,” katanya sambil tersenyum ramah. Selama ini, Bu Din juga merangkap sebagai tukang kebun. Willy sempat terkejut mendengar hal itu. "Ya, saya memang suka tanaman, jadi tidak masalah. Tapi kalau kamu ada waktu luang, bisa bantu-bantu merawat taman, ya," ujarnya. Setelah selesai berkenalan dengan para karyawan, Bu Din memberikan penjelasan tentang anggota keluarga Haldi. “Yang paling sering kamu temui tentu Nyonya Mira, istri Pak Haldi. Dia memang sedikit galak, tapi kalau kamu kerja dengan baik, dia tidak akan macam-macam,” jelas Bu Din. Willy langsung teringat pada wanita cantik yang membentaknya tadi pagi. “Lalu ada Nona Zalia, anak sulung. Usianya 27 tahun dan sudah menikah dengan Ricky. Mereka menjalankan butik pakaian yang cukup sukses. Tapi hati-hati, Zalia galaknya mirip ibunya,” lanjut Bu Din sambil tersenyum kecil. “Anak kedua, Keenan, masih bujang. Umurnya 25 tahun, tapi... ya, dia agak sulit diatur. Suka mabuk-mabukan. Kalau bisa, hindari konflik dengannya,” pesan Bu Din dengan nada serius. “Yang terakhir, si bungsu Delia. Dia seumuran kamu, Nak, 20 tahun. Anak yang baik, lembut, dan santun. Sekarang masih kuliah di Universitas Arsaka. Kalau ketemu dia, pasti kamu akan merasa nyaman,” ujar Bu Din dengan nada hangat. Mendengar cerita tentang Delia, Willy merasa sedikit lega. Setidaknya ada seseorang yang mungkin bisa menjadi teman baik di rumah besar ini. --- Setelah semua perkenalan selesai, Bu Din mempersilakan Willy untuk istirahat sejenak sebelum mulai bekerja. Namun, baru saja Willy duduk di kamarnya, ia dipanggil oleh Pak Haldi. Di ruang tamu, Pak Haldi sudah menunggunya dengan ekspresi serius. “Willy, saya ada tugas untukmu. Kran air di kamar mandi saya mampet. Sebelum saya pulang sore nanti, saya ingin masalah itu sudah selesai,” katanya tanpa banyak basa-basi. “Baik, Pak. Saya akan segera mengerjakannya,” jawab Willy dengan yakin, meski ia merasa sedikit gugup. Pak Haldi kemudian berangkat ke kantor, meninggalkan Willy dengan tugas pertamanya. Willy segera memeriksa kondisi kamar mandi di kamar Pak Haldi. Kamar itu sangat rapi dan mewah, tetapi kran wastafelnya benar-benar mampet. Air hanya keluar sedikit meski sudah diputar habis. "Ternyata kamu benar-benar kerja disini ya. Awas, kerja yang benar. Jangan hanya mencari gaji buta!" Mira menyambut Willy di kamar itu. Awalnya Willy agak senang melihat Mira yang cantik dengan badan yang bagus meski sudah berusia 40 tahun. Tapi rasa simpatinya langsung luntur saat kembali mendengar ocehan pedas Mira. "Baik, Nyonya. Akan saya perhatikan." Willy mengangguk yakin. Willy kembali ke Bu Din untuk meminta saran. “Bu, saya butuh beberapa alat untuk memperbaiki kran. Apa saya boleh mengambil dari gudang?” “Tentu, Nak. Semua alat ada di gudang belakang. Kalau ada yang kurang, bilang saja. Nanti saya belikan,” jawab Bu Din sambil memberikan kunci gudang. Di gudang, Willy menemukan beberapa alat seperti kunci pas, obeng, dan tang. Dengan perlengkapan itu, ia kembali ke kamar mandi Mira dan mulai bekerja. Di belakang Willy, terlihat Mira yang celingak-celinguk mengamati cara kerja Willy. "Hati-hati, jangan sampai patah krannya!" cicit Mira sok tahu. Willy hanya mengangguk. Awalnya, Willy merasa yakin bahwa ia bisa menyelesaikan tugas ini dengan cepat. Tapi kenyataan berkata lain. Saat membuka bagian dalam kran, ia menemukan karat yang sudah menumpuk dan membuat aliran air terhambat. Willy harus membersihkan karat itu, tetapi alat yang tersedia tidak cukup memadai. Ia kembali ke Bu Din untuk meminta cairan pembersih khusus. “Wah, sepertinya kita kehabisan cairan itu. Tunggu sebentar, saya telepon toko langganan untuk membelinya,” kata Bu Din. Sambil menunggu cairan pembersih datang, Willy memanfaatkan waktu untuk merapikan alat-alat di gudang dan mempelajari cara kerja beberapa alat yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Ia ingin memastikan bahwa ia siap menghadapi tugas-tugas lainnya di masa depan. Saat cairan pembersih tiba, Willy kembali bekerja. Ia membersihkan karat dengan hati-hati, memastikan tidak ada bagian yang rusak. Setelah selesai, ia merakit kembali kran tersebut dan menguji aliran air. Air mengalir deras dan lancar. Willy tersenyum puas. Tugas pertamanya berhasil diselesaikan dengan baik. "Lumayan juga kemampuanmu," kata-kata Mira terdengar samar, antara pujian dan remehan. Ketika Pak Haldi pulang sore harinya, ia langsung memeriksa kamar mandi. Setelah melihat hasil kerja Willy, ia memberikan anggukan kecil. “Bagus. Lanjutkan kerja seperti ini,” katanya singkat sebelum masuk ke ruang kamarnya. Bagi Willy, komentar singkat itu adalah sebuah penghargaan besar. Ia merasa bahwa hari pertamanya di rumah keluarga Haldi adalah awal yang baik. Meski ada banyak tantangan, ia bertekad untuk terus belajar dan memberikan yang terbaik. Willy sejenak merenung, "Perasaanku sedikit tidak nyaman dengan Nona Zalia, Tuan Ricky, dan Tuan Keenan. Padahal belum pernah bertemu dengan mereka. Perasaan apa ini?" ###Gedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c
Pandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri
Willy menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya
MOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam
Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s







