Share

Bab 108

Author: Skyy
last update publish date: 2026-09-10 20:06:21

Revan langsung menyadari bahwa pengetahuan Tegar mengenai Perguruan Sangkara jauh lebih mendalam daripada yang pernah dijelaskan Tama kepadanya.

Namun, hal itu sebenarnya tidak mengherankan. Tegar merupakan salah satu tokoh penting Balai Perdagangan Harta Langka. Dengan kedudukannya, wajar jika dia mengetahui lebih banyak mengenai berbagai kekuatan besar.

“Tuan Tegar, seberapa banyak yang kau ketahui tentang Perguruan Sangkara?”

Tegar tersenyum tipis. “Perguruan Sangkara memiliki sejarah yang s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 210

    Harsa akhirnya mengumumkan hasil akhir setelah berdiskusi dengan Bayu dan para tetua lainnya.“Seleksi murid luar telah berakhir. Revan Cakrawala berada di peringkat pertama. Livia Varenza dan Arvin Renjana berbagi posisi kedua.”Suara Harsa terdengar jelas ke seluruh penjuru arena.Dengan demikian, peringkat akhir telah ditetapkan.Bayu kemudian melangkah ke tengah arena dan memandang seluruh peserta. “Revan Cakrawala, Livia Varenza, Arvin Renjana, kalian bertiga tetap di sini.”Tatapannya kemudian beralih kepada para peserta lainnya. “Untuk murid-murid lainnya, ikuti para pengurus dan wakil tetua. Mereka akan mengatur seluruh persiapan kalian sebelum resmi memasuki perguruan.”Lima ratus murid yang berhasil lolos telah ditentukan. Peringkat kekuatan mereka pun sudah selesai ditetapkan. Tahap berikutnya adalah bergabung secara resmi dengan perguruan.Para murid kemudian dibawa oleh pengurus Perguruan Sangkara. Mereka akan ditempatkan di halaman masing-masing, menerima jubah biru seba

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 209

    Kerumunan di sekitar arena semakin riuh. Hampir tidak ada yang menduga Revan akan menjadi pemenang terakhir.Memang, kekuatannya sudah terbukti luar biasa, tetapi tingkat kultivasinya masih berada di tingkat ketujuh Fase Roh. Dia bahkan baru saja melewati pertarungan sengit sebelum menghadapi Livia. Dan dia tetap menang.Itu saja sudah cukup menjadi bukti betapa mengerikannya kemampuan bertarung Revan.“Kau menang! Kau benar-benar menang!”Bram berseru penuh kegembiraan. Sampai sekarang dia masih merasa sulit mempercayai bahwa Revan benar-benar berhasil menjadi pemenang.Di sisi lain, Daren yang berdiri tidak jauh dari Arvin juga terlihat termenung. Beberapa bulan lalu, pemuda yang dia kenal dari tambang Kristal Langit itu masih belum dikenal siapa pun. Sekarang, dia justru menjadi kandidat nomor satu dalam seleksi murid luar Perguruan Sangkara.Para tetua yang menyaksikan seluruh pertandingan pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.Tio menatap Revan cukup lama sebelum berk

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 208

    Semua tatapan langsung tertuju ke arena.Sayangnya, benturan kedua kekuatan itu telah menghasilkan kabut abu-abu yang begitu tebal sehingga seluruh permukaan arena tertutup. Tidak ada seorang pun di antara para murid yang mampu melihat apa yang sedang terjadi di dalamnya.“Bagaimana hasilnya?”“Revan sudah mati?”“Serangannya mengerikan sekali. Aku bahkan hampir tidak bisa berdiri tadi!”“Jarak kita sejauh ini saja masih terkena dampaknya…”Bisikan dan seruan terdengar dari berbagai arah. Banyak murid mulai menduga Revan mungkin sudah tidak mampu bertahan setelah menerima serangan sekuat itu.Namun, Bayu dan para tetua tidak menunjukkan kepanikan. Pandangan mereka tetap tajam meskipun kabut abu-abu menutupi arena. Dengan kemampuan mereka, penghalang seperti itu tidak cukup untuk menghalangi penglihatan.“Hasilnya sudah bisa ditentukan,” ujar Bayu perlahan sambil menghela napas. “Anak itu memang bukan lawan biasa.”Para tetua di sekitarnya mengangguk.Beberapa menit kemudian.Kabut abu

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 207

    Livia tidak berniat memperpanjang pertarungan. Tidak ada keuntungan baginya jika terus bertarung dalam kondisi seperti ini. Karena itu, dia memutuskan menggunakan serangan terkuatnya dengan Pedang Penghancur dalam satu serangan.Serangan itu akan menentukan hasil akhir.Revan tetap diam, ekspresinya tidak berubah dan dia tidak memberikan jawaban. Namun, aura di sekitar tubuhnya tiba-tiba melonjak tajam, menunjukkan bahwa dia juga telah mengambil keputusan yang sama.Dia tidak ingin terus membuang waktu melawan Livia. Meskipun dari kondisi mereka saat ini, Revan bisa merasakan bahwa Livia sebenarnya telah kelelahan lebih parah darinya, dia tidak berniat meremehkan lawan yang mampu memaksanya berada dalam keadaan seperti sekarang.Seluruh arena perlahan menjadi sunyi.Para murid yang tadi masih sibuk berbicara kini memusatkan perhatian kepada dua sosok di udara. Semua orang mendengar ucapan Livia dan tidak ingin melewatkan benturan terakhir yang akan segera terjadi.Bahkan para tetua be

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 206

    Revan langsung mengerutkan kening. Dia tidak mencoba menahan serangan tersebut.Pergelangan tangannya justru mengendur, membiarkan tekanan dari pedang besar hitam mendorong tubuhnya ke belakang. Dengan memanfaatkan kekuatan benturan tadi, Revan menjadikan serangan Livia sebagai dorongan untuk menjauh.Tubuhnya melesat mundur. Dalam sekejap, jarak di antara mereka membentang hingga beberapa ratus meter.Revan berhenti di udara, menggenggam pedangnya dengan erat sambil menatap dua senjata di tangan Livia.Pedang besar hitam itu jelas bukan senjata biasa.Revan terengah-engah. Pertukaran singkat tadi berlangsung terlalu berbahaya, dan dia bisa merasakan tekanan yang ditimbulkan kedua senjata Livia.Pedang besar hitam itu memiliki pertahanan yang luar biasa. Gerakannya memang tidak secepat Pedang Azura, namun setiap ayunan membawa kekuatan yang jauh lebih berat. Ditambah lagi dengan nyala biru yang mengerikan, pertarungan jarak dekat menjadi semakin merepotkan bagi Revan.Livia juga tidak

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 205

    Swoosh!Tanpa peringatan, sebuah belati panjang melesat dari samping dengan kecepatan luar biasa, langsung menyelinap menuju Livia.“Apa?!” Livia terkejut.Langkahnya terhenti seketika. Dia buru-buru mengangkat Pedang Azura dan memutarnya ke depan tubuh untuk menghadang serangan yang datang secara tiba-tiba.Tiga belati melesat pada saat yang hampir bersamaan, kali ini langsung mengarah kepada Livia Varenza.Tidak seorang pun di luar arena menduga Revan akan menggunakan cara seperti ini. Lebih mengejutkan lagi, setelah diperhatikan dengan seksama, ketiga belati tersebut ternyata merupakan senjata sihir tingkat Dasar.“Brengsek—! Kau memang pantas mati!” Livia mengumpat kesal.Baginya, tindakan Revan benar-benar keterlaluan. Dia tidak menyangka pemuda itu akan menyergapnya dengan cara seperti ini. Namun, Livia juga tidak menganggap beberapa belati sederhana itu mampu mengalahkannya.Tubuhnya segera melompat ke udara. Tiga belati yang meluncur dari belakang melewati tubuhnya tanpa menge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status