Share

Bab 252

Author: Skyy
last update publish date: 2026-10-17 23:22:19

“Apa yang baru saja kau lakukan?”

Suara berat dari atas segera mengalihkan perhatian Revan. Seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap dan janggut lebat menatapnya tajam. Usianya tampak sekitar lima puluh tahun, alisnya yang tegas menyerupai bilah pedang.

Revan langsung merasakan tekanan yang mengerikan dari pria tersebut. ‘Kuat sekali!’

Kekuatan orang itu jelas melampaui Fase Inti Roh. Tak seorang pun di antara para tetua berani menyela atau mendahului pertanyaannya. Dari sikap mereka, Revan b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 255

    Revan bahkan sudah memutuskan untuk tidak bergabung dengan garis seni bela diri, apa pun yang terjadi. Dia sendiri tidak kekurangan teknik kultivasi, jadi tidak ada alasan baginya untuk mengambil risiko tambahan.“Para tetua, aku...” Revan berhenti sejenak, berusaha menyusun kata-kata yang tidak akan menyinggung siapa pun. “Aku masih muda. Kurasa aku perlu tinggal di perguruan murid baru untuk sementara waktu agar bisa memperoleh lebih banyak pengalaman.”Itulah satu-satunya jawaban aman yang bisa dia berikan. Dia tidak menerima tawaran siapa pun, namun juga tidak menolaknya secara terang-terangan. Dengan begitu, setidaknya dia bisa menghindari permusuhan langsung.Sayangnya, jawaban tersebut justru membuat lebih dari sepuluh ribu murid yang menyaksikan kejadian itu semakin tercengang. Mereka benar-benar ingin menerobos kerumunan, menarik Revan ke samping, lalu menggantikannya sambil berteriak bahwa mereka bersedia menjadi murid siapa pun yang menawarkan kesempatan tersebut.Bahkan Di

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 254

    Seandainya salah satu tetua datang sendirian dan menawarkan diri menjadi gurunya, Revan mungkin akan langsung menyetujuinya tanpa banyak pertimbangan. Sayangnya, keadaan sekarang jauh berbeda.‘Sebenarnya, aku punya hak untuk memilih sendiri atau tidak?’ gumam Revan menelan ludah.Dia bahkan mulai khawatir kalau sampai salah menjawab, dirinya justru tidak akan bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat.Di sisi lain, wajah Harsa sudah pucat pasi. Dia berulang kali menyalahkan dirinya sendiri dalam hati. Dialah yang pertama kali bertemu Revan, dia pula yang lebih dahulu tertarik kepada pemuda itu dan sempat berniat menjadikannya murid.Namun, karena terlalu banyak mempertimbangkan dan terus menunda keputusan, kesempatan emas tersebut kini nyaris lepas dari tangannya.‘Untuk apa aku terus mengujinya waktu itu?’ Harsa benar-benar menyesali keraguannya. Sekarang, begitu banyak tokoh berpengaruh mengincar Revan, sedangkan peluangnya untuk merekrut pemuda itu semakin tipis.Tak jauh darin

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 253

    Bayu pun tersenyum lebar. Sebagai pemimpin murid baru, dia memahami betapa berharganya penemuan ini. Sudah bertahun-tahun perguruan murid baru tidak melahirkan seorang jenius yang mampu menarik perhatian sebanyak ini.Para murid inti Perguruan Sangkara biasanya berasal dari murid baru yang berhasil menonjol atau para jenius yang direkrut langsung oleh para tetua perguruan dalam. Namun, hanya sedikit murid baru yang memiliki bakat hingga membuat para tokoh penting datang berbondong-bondong.Tahun ini saja, kemunculan Livia dan Arvin sudah cukup menggemparkan perguruan. Kini, Revan hadir sebagai kejutan yang jauh lebih besar. Selain mampu melawan lawan dengan tingkat kultivasi lebih tinggi, dia juga membangkitkan Anugerah Dao.Berbeda dengan mereka yang bersukacita, Harsa justru memasang wajah muram. Firasat buruk mulai menyelimutinya. Jika para tetua perguruan dalam sampai tertarik kepada Revan, mempertahankan pemuda itu di bawah pengawasannya tentu bukan perkara mudah.Belum sempat di

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 252

    “Apa yang baru saja kau lakukan?”Suara berat dari atas segera mengalihkan perhatian Revan. Seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap dan janggut lebat menatapnya tajam. Usianya tampak sekitar lima puluh tahun, alisnya yang tegas menyerupai bilah pedang.Revan langsung merasakan tekanan yang mengerikan dari pria tersebut. ‘Kuat sekali!’Kekuatan orang itu jelas melampaui Fase Inti Roh. Tak seorang pun di antara para tetua berani menyela atau mendahului pertanyaannya. Dari sikap mereka, Revan bisa menyimpulkan bahwa pria tersebut memiliki kedudukan tertinggi di antara semua orang yang hadir.Dia memasang ekspresi terkejut, pikirannya sibuk mencari jawaban yang tepat. Revan sama sekali tidak menyadari cahaya biru yang menyelimuti tubuhnya tadi. Saat kejadian itu berlangsung, seluruh kesadarannya terpusat pada Cincin Langit, hingga dia tidak mengetahui apa pun yang terjadi di dunia luar.“A-aku benar-benar tidak sadarkan diri saat itu,” jawabnya dengan nada ragu.Ucapan tersebut bukan k

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 251

    Satu demi satu berkas cahaya melesat menuju aula utama Perguruan Sangkara. Dalam sekejap, beberapa sosok muncul di udara, termasuk para tetua berpengaruh, pemimpin perguruan dalam, serta Bayu selaku kepala perguruan murid baru.Kedatangan mereka langsung menarik perhatian semua orang. Meski cahaya biru yang sebelumnya menjulang ke langit telah meredup, aura khasnya masih terasa jelas. Pemandangan itu semakin memperkuat dugaan yang sejak tadi memenuhi pikiran mereka.“Ini...” Rigo menatap Revan dengan mata membelalak.Begitu menyadari apa yang mungkin sedang terjadi, tubuhnya sampai menegang karena sulit mempercayai kenyataan di hadapannya.“Anugerah Dao!”Seruan itu nyaris terlontar dari mulutnya sebelum Dwiki langsung membentak dengan suara rendah.“Diam!”Dwiki sama sekali tidak menunjukkan rasa sungkan, bahkan kepada para tetua yang baru tiba. Bentakannya membuat mereka yang semula hendak mengungkapkan keterkejutan langsung menutup mulut.Bayu kemudian mengangkat tangan dan membent

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 250

    Di dalam wilayah perguruan dalam, terdapat sebuah aula besar yang dipenuhi aroma tumbuhan spiritual dan bahan obat. Seorang pria tua berjubah merah dengan wajah ramah sedang mendemonstrasikan proses pemurnian pil di hadapan lebih dari seratus murid inti.Mereka menggunakan jubah berwarna ungu sebagai simbol status murid inti Perguruan Sangkara. Mereka yang berhasil mencapai kedudukan tersebut tentu memiliki bakat dan kemampuan yang jauh melampaui murid biasa.“Saat memurnikan pil, kalian harus menghindari sikap tergesa-gesa dan kegelisahan. Sekalipun sebuah gunung runtuh tepat di hadapan kalian, pikiran harus tetap tenang dan perhatian tidak boleh teralihkan dari proses pemurnian. Kalian mengerti?”Pria tua berjubah merah itu memberikan petunjuk dengan nada tenang. Lebih dari seratus murid inti segera membungkuk hormat dan menjawab serempak.“Baik, Guru. Kami mengerti!”Mereka kembali memusatkan perhatian pada setiap gerakan pria tua tersebut, menyimak seluruh ajarannya dengan sungguh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status