Share

BAB 3

Author: Skyy
last update publish date: 2026-08-05 00:23:23

Ketika kembali membuka mata, aroma ramuan obat langsung memenuhi indra penciumannya.

Pandangannya disambut langit-langit kayu yang terasa asing. Rasa nyeri di dadanya masih tersisa, meski tidak lagi separah sebelumnya.

"Syukurlah... akhirnya kau sadar."

Suara lembut seorang perempuan terdengar dari samping ranjang.

Mendengar suara asing itu, Revan menoleh, seorang gadis berbusana sederhana tengah duduk sambil membawa semangkuk ramuan hangat. Kerudung tipis menutupi sebagian wajahnya, tetapi tanda lahir kemerahan yang membentang di sisi kiri pipinya tetap terlihat jelas.

Meski begitu, tatapan matanya yang bening justru membuat tanda lahir tersebut sama sekali tidak mampu menyembunyikan kecantikannya.

"Kau..."

"Aku Nayara Draksa."

Gadis itu menundukkan kepala dengan sopan sebelum kembali berkata pelan. “Aku Istrimu.”

Dua kata terakhir itu membuat Revan terdiam cukup lama. Barulah ia menyadari pakaian pengantin berwarna merah yang masih melekat di tubuhnya. Ingatan terakhir yang tersisa di benaknya hanyalah pukulan Arya. Setelah itu, semuanya berubah menjadi kegelapan.

"Sebenarnya... apa yang terjadi?"

Nayara menggenggam mangkuk di pangkuannya sejenak sebelum mulai menjelaskan. "Kau dibawa ke Keluarga Draksa tiga malam yang lalu. Orang-orang dari Keluarga Cakrawala datang menjelang tengah malam. Mereka mengatakan pernikahan harus dilangsungkan saat itu juga."

"Mereka mengantarkanmu dalam keadaan tidak sadarkan diri."

Sorot mata Revan perlahan berubah dingin.

Dengan suara lirih, Nayara melanjutkan penjelasannya. "Awalnya ayahku menolak. Tidak ada keluarga yang ingin menerima seseorang yang sudah berada di ambang kematian."

"Namun..." Ia terdiam sesaat sebelum kembali berbicara. "Arya memanfaatkan statusnya sebagai murid Perguruan Nirakasa untuk menekan Keluarga Draksa."

Tak perlu mendengar penjelasan lebih panjang. Revan langsung memahami seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi. Pukulan itu bukan sekadar luapan amarah.

Sejak awal, Arya memang berniat memastikan kesepakatan antara kedua keluarga tetap terlaksana. Hidup atau matinya Revan sama sekali bukan sesuatu yang layak dipedulikan. Yang terpenting bagi mereka hanyalah seribu Kristal Langit beserta teknik kultivasi warisan Keluarga Draksa tetap berpindah ke tangan Keluarga Cakrawala.

Senyum pahit perlahan terukir di bibir Revan. "Jadi... bahkan saat hampir mati pun aku masih sempat dijual."

Nayara tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengulurkan mangkuk ramuan ke hadapan Revan. "Minumlah dulu. Kalau tidak, luka dalammu akan semakin parah."

Revan menerima mangkuk itu tanpa banyak bicara. Ramuannya terasa begitu pahit saat melewati tenggorokannya, tetapi kehangatan yang perlahan menyebar ke seluruh tubuh justru membuatnya jauh lebih nyaman daripada rasa pahit yang masih tertinggal di lidah.

"Selama ini... kau yang merawatku?"

Nayara mengangguk pelan. "Kau tidak sadarkan diri selama tiga hari. Mana mungkin aku membiarkan suamiku terlantar."

Jawaban yang begitu sederhana itu membuat Revan tertegun sejenak.

Sejak kecil, hampir tak pernah ada orang yang benar-benar memperlakukannya dengan tulus. Ironisnya, perempuan yang baru dikenalnya itu justru menjadi orang pertama yang merawatnya tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun.

"Terima kasih."

Nayara membalas dengan senyum tipis sebelum bangkit dari tempat duduknya. "Aku akan mengambilkan makanan. Jangan memaksakan diri untuk banyak bergerak."

Setelah pintu kamar tertutup, suasana kembali diselimuti keheningan.

Sorot mata Revan perlahan berubah tajam. Jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memucat. "Arya..."

"Keluarga Cakrawala… Di mata kalian, hidupku bahkan tak lebih berharga daripada segumpal Kristal Langit."

Ia menghembuskan napas panjang, berusaha meredam amarah yang bergolak di dalam dada.

"Kalau begitu, mulai hari ini aku tidak lagi memiliki hutang apa pun kepada keluarga itu."

Saat hendak merebahkan tubuhnya kembali, telapak tangannya tanpa sengaja menyentuh bagian dada.

Di balik lilitan perban, masih terselip sepotong kain lusuh yang selalu ia bawa sejak kecil. Dahulu ia menganggap benda itu hanyalah peninggalan biasa yang tak memiliki arti apa pun. Namun kini, ketika jemarinya menyentuh kain tersebut, cahaya redup perlahan berdenyut dari balik permukaannya, mengikuti irama detak jantungnya.

Tatapan Revan terpaku tanpa berkedip. "Jadi selama ini... kau memang selalu berada di sisiku."

***

Tiga hari telah berlalu sejak Revan siuman di kediaman Keluarga Draksa.

Bagi kebanyakan orang, tiga hari mungkin belum cukup untuk mengubah apa pun. Namun bagi Revan, setiap jam yang terlewati menjadi satu langkah menuju kehidupan yang sama sekali berbeda.

Setiap malam, saat suasana benar-benar sunyi, kesadarannya memasuki ruang di dalam Cincin Langit. Di sanalah ia terus mendalami Raga Adiwira, warisan pertama yang diperolehnya dari salah satu Rasi Bintang.

Teknik itu berada pada tingkatan yang bahkan belum pernah dibayangkan oleh siapa pun di Kota Jayagiri.

Setiap kali energi spiritual mengalir mengikuti jalur kultivasinya, tubuh Revan seolah ditempa berulang kali. Otot, tulang, hingga meridiannya mengalami perubahan sedikit demi sedikit, sementara luka-luka yang sebelumnya hampir merenggut nyawanya pulih dengan kecepatan yang sulit dipercaya.

Hanya dalam tiga hari, kultivasinya telah melonjak dari tingkat kedua menuju tingkat kelima Fase Raga. Kecepatan seperti itu nyaris mustahil terjadi. Beruntung, belum ada seorang pun yang menyadari perubahan tersebut.

Selama tiga hari terakhir, Revan sengaja berpura-pura masih terbaring lemah akibat luka beratnya. Selain Nayara, tak seorang pun di kediaman itu pernah memasuki kamarnya.

Ia sadar dirinya masih belum cukup kuat. Cincin Langit adalah rahasia terbesar yang kini dimilikinya. Selama keberadaan artefak itu tetap tersembunyi, ia masih memiliki kesempatan untuk tumbuh tanpa menarik perhatian siapa pun.

Di sisi lain, Nayara tetap merawatnya dengan penuh ketulusan. Setiap pagi, perempuan itu selalu datang membawa makanan hangat, mengganti perban di dadanya, lalu membereskan kamar tanpa banyak bicara sebelum kembali menjalani kesibukannya.

Tak ada rayuan manis ataupun janji yang diucapkan, tetapi perhatian sederhana yang Nayara berikan sedikit demi sedikit mampu meruntuhkan tembok dingin yang selama ini membungkus hati Revan.

Selama bertahun-tahun tinggal bersama keluarga kandungnya, ia tak pernah sekali pun merasakan kepedulian seperti itu. Ironisnya, kehangatan yang selama ini ia cari justru diberikan oleh perempuan yang baru dikenalnya beberapa hari lalu.

"Hampir selesai..."

Revan menghembuskan napas panjang setelah menuntaskan satu putaran kultivasi. Aliran energi spiritual di dalam tubuhnya kini terasa jauh lebih mantap daripada sebelumnya. Ia bahkan yakin hanya membutuhkan sedikit waktu lagi untuk menembus tingkat berikutnya.

Namun tepat pada saat itu, keributan tiba-tiba pecah dari arah halaman.

"Biarkan aku masuk!"

Bentakan seorang pria memecah kesunyian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 165

    Wanita itu mengenakan pakaian putih sederhana. Wajahnya tanpa ekspresi, aura dingin yang terpancar dari tubuhnya membuat orang-orang di sekitarnya secara alami menjaga jarak. Namun, yang paling mencolok adalah wajahnya yang cantik.Kecantikannya begitu menonjol hingga membuatnya tampak seperti sosok yang tidak seharusnya berada di tengah kerumunan manusia biasa.Revan juga segera menyadari bagwa wanita itu sangat kuat dan berbahaya. Bahkan dari kejauhan, dia bisa merasakan tekanan samar yang membuatnya waspada.Karena penasaran, Revan menyenggol Bram dan bertanya pelan, “Siapa wanita itu?”Bram mengikuti arah pandangan Revan. Begitu melihat sosok berpakaian putih tersebut, ekspresinya langsung menjadi serius.“Namanya Livia,” bisiknya. “Dia berada di tingkat ke delapan Fase Roh dan merupakan nona muda Keluarga Varenza. Dari semua peserta yang datang kali ini, kabarnya dia adalah salah satu yang paling kuat.”“Keluarga Varenza?” Revan sedikit terkejut.Dia pernah mendengar nama keluarg

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 164

    Di sisi lain, Naren tampak jauh lebih serius daripada sebelumnya. Kekuatan Revan sudah cukup mengerikan bahkan sebelum menerobos. Sekarang tingkat kultivasinya telah meningkat lagi, kekuatan pemuda itu jelas tidak bisa dianggap sama seperti sebelumnya.Naren menatap Revan beberapa saat sebelum akhirnya berbalik. Dia kemudian menyusul Dito yang telah lebih dulu pergi.Pertarungan mereka memang belum menghasilkan akhir yang benar-benar memuaskan, tetapi setelah menerima sejumlah keuntungan dari Dito, membantu orang itu sekali lagi juga bukan sesuatu yang berlebihan.***Tiga hari berlalu dalam sekejap. Dengan hanya dua hari tersisa sebelum seleksi murid Perguruan Sangkara dimulai, jumlah peserta yang berdatangan telah melampaui lima ribu orang.Sebagian besar di antara mereka merupakan talenta muda dari berbagai tempat. Namun, bangunan penginapan yang disediakan perguruan hanya mampu menampung sekitar tiga ribu orang. Bahkan setelah seluruh Paviliun Kecil yang tersedia digunakan, masih

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 163

    Di atas langit, dua sosok berdiri melayang tanpa menyentuh tanah. Salah satunya adalah seorang lelaki tua berambut putih, sedangkan yang lain merupakan pria paruh baya dengan aura berwibawa. Pria paruh baya itulah sosok misterius yang sebelumnya turun tangan untuk menyelamatkan Revan dari hukuman.“Anak ini benar-benar bukan orang biasa.” Lelaki tua berjubah putih tersenyum tipis, tetapi ada kilatan licik di matanya. “Dia baru saja menembus tingkat ke tujuh Fase Roh, tetapi sudah mampu menimbulkan gejolak sebesar ini.”Pria paruh baya di sampingnya ikut mengamati halaman yang bergetar. “Memang tidak sederhana. Saat masih berada di tingkat ke enam Fase Roh, kekuatannya sudah mampu mencapai tingkat ke sembilan. Setelah sekarang mencapai tingkat tujuh...”Dia tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi lelaki tua itu sudah memahami maksudnya.“Jenius seperti ini sudah lama tidak muncul di Perguruan Sangkara.”Semakin tinggi tingkat lawan yang mampu dihadapi seseorang, semakin luar biasa pula ba

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 162

    Paviliun Kecil itu telah berubah menjadi reruntuhan. Hanya bangunan kecil di bagian dalam yang masih berdiri kokoh, seolah tidak terpengaruh oleh pertarungan sengit sebelumnya.Revan masuk ke dalam bangunan tersebut tanpa banyak bicara. Bram hanya bisa tinggal di luar sambil membersihkan halaman yang berantakan dengan wajah masam.Untungnya, Bram tidak perlu bekerja sendirian terlalu lama. Tidak lama kemudian, sejumlah murid Perguruan Sangkara berjubah abu-abu datang dan ikut membantu membersihkan puing-puing.Revan sempat menanyakan identitas mereka kepada Bram. Ternyata, Bram sendiri merupakan murid dengan status paling rendah di Perguruan Sangkara. Dia sebelumnya gagal dalam seleksi masuk, tetapi tidak ingin meninggalkan perguruan sehingga memilih menetap dan mengerjakan berbagai pekerjaan kasar dengan harapan suatu hari nanti mendapat kesempatan menjadi murid luar.Sementara itu, para murid yang mengenakan jubah biru memiliki status lebih tinggi. Mereka merupakan murid dalam, sepe

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 161

    Pengurus itu menatap Revan dengan dingin. “Revan Cakrawala, karena telah membuat keributan, merusak bangunan perguruan, dan tidak menghormati para tetua, kau dijatuhi hukuman mematahkan kedua lenganmu. Hukuman akan dilaksanakan sekarang.”Suaranya menggema ke seluruh area sehingga setiap orang yang berada di sekitar dapat mendengarnya dengan jelas.Para pemuda yang datang untuk mengikuti seleksi Perguruan Sangkara langsung menunjukkan ekspresi terkejut. Mereka memang tidak menyaksikan awal pertarungan secara langsung, namun dilihat dari situasi yang terjadi, mereka bisa menduga bahwa Dito dan rombongannyalah yang lebih dahulu membuat masalah.Namun, orang yang akhirnya dijatuhi hukuman justru Revan. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara. Tidak ada yang cukup bodoh untuk menyinggung seorang pengurus perguruan hanya demi membela orang yang sama sekali tidak mereka kenal.“Tuan, tunggu!” Bram buru-buru maju. “Bukankah tadi Anda mengatakan hukuman hanya seratus cambukan? Bukan sepert

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 160

    “Bocah, siapa sangka kau ternyata seorang menantu yang tinggal serumah dengan keluarga istrimu.” Dito menyeringai mengejek. “Kalau begitu, bukankah seharusnya kau tetap di rumah dan mengurus istrimu? Untuk apa repot-repot datang ke sini?”Empat orang yang berdiri di belakang Dito sebenarnya ingin ikut mencemooh. Namun, begitu melihat tatapan Revan yang dingin, mereka langsung menelan kembali kata-kata yang sudah berada di ujung lidah.Dito boleh saja berani tertawa karena memiliki sandaran. Mereka tidak memiliki keberanian yang sama.Pengurus Perguruan Sangkara yang berdiri di hadapan mereka justru mencibir. “Jadi kau memang seorang menantu yang tinggal di rumah keluarga istrimu.”Tatapannya terhadap Revan berubah semakin merendahkan. “Orang yang hidup dari seorang wanita seharusnya menerima hukuman lebih berat. Aku akan mematahkan salah satu lenganmu sebagai pelajaran. Setelah ini, ingat baik-baik aturan Perguruan Sangkara dan jangan membuat masalah lagi.”Pengurus itu pernah mendeng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status