Share

Bab 7

Author: Skyy
last update publish date: 2026-08-14 19:48:00

Jalan utama menuju Kediaman Keluarga Cakrawala telah dipenuhi lautan manusia. Para pedagang kaki lima, kultivator pengembara, hingga tokoh-tokoh dari berbagai keluarga berkumpul di tempat yang sama demi menyaksikan secara langsung murid baru Perguruan Nirakasa.

Revan dan Nayara memilih berdiri di bagian paling belakang kerumunan. Tak seorang pun mengenali keberadaan mereka karena seluruh perhatian tertuju ke halaman utama kediaman.

Di sana, Jayendra tertawa lebar sambil menyambut setiap tamu yang datang membawa hadiah. Sementara itu, ibu Arya tak henti-hentinya memamerkan keberhasilan putra bungsunya kepada siapa pun yang menghampiri, seolah ingin memastikan semua orang mengetahui kebanggaan keluarga mereka.

Arya sendiri berdiri tegak mengenakan pakaian baru yang dihiasi lambang cincin perak mengelilingi gugusan tujuh bintang—Perguruan Nirakasa. Wajahnya memancarkan kebanggaan, sedangkan tatapannya menyapu seluruh kerumunan seolah setiap orang yang hadir memang layak mengaguminya.

Tak lama berselang, suasana yang semula ramai mendadak berubah hening ketika seorang pria berjubah putih melangkah memasuki halaman. Meski tidak memancarkan aura sedikit pun, kehadirannya saja sudah cukup membuat seluruh orang yang berada di sana spontan menundukkan kepala.

"Utusan Perguruan Nirakasa..."

Bisik-bisik segera menyebar di antara kerumunan. Beberapa kepala keluarga bergegas maju memberi salam, sementara yang lain menyerahkan berbagai hadiah berharga demi menarik sedikit perhatian darinya.

Pria berjubah putih itu hanya mengangguk seperlunya. Baginya, perlakuan semacam itu sudah menjadi pemandangan yang biasa.

"Arya."

Suara sang utusan terdengar tenang, tetapi langsung menarik perhatian semua orang.

"Sudah siap berangkat?"

Arya segera membungkukkan badan dengan penuh hormat. "Murid sudah siap."

"Bagus."

Sang utusan mengangkat sebelah tangannya hingga energi spiritual berputar membentuk pusaran angin di sekeliling mereka. Sesaat kemudian, tubuh keduanya perlahan terangkat ke udara, memancing sorak kagum dari seluruh penjuru Kota Jayagiri.

Banyak pemuda memandang dengan mata berbinar. Di dalam hati, mereka menyimpan impian yang sama, yakni suatu hari dapat berdiri di posisi Arya dan memasuki dunia para kultivator sejati.

Di atas langit, Arya sempat menoleh ke arah Kota Jayagiri. Senyum tipis terukir di wajahnya karena kota kecil itu tak lagi mampu menampung ambisinya, sementara tujuan berikutnya adalah dunia yang jauh lebih luas.

Hanya dalam beberapa tarikan napas, sosok mereka berubah menjadi titik cahaya sebelum akhirnya lenyap di balik awan.

Keheningan itu segera pecah oleh riuhnya pembicaraan.

"Mulai hari ini, Keluarga Cakrawala benar-benar akan bangkit."

"Siapa lagi yang berani menentang mereka?"

"Arya memang luar biasa."

Tak jauh dari sana, seorang pria tiba-tiba terkekeh sinis sambil melirik orang-orang di sekitarnya. "Kalau dipikir-pikir, kasihan juga kakaknya," ejeknya. "Adiknya terbang menuju langit, sedangkan dia malah berakhir menjadi menantu keluarga lain."

Ucapan itu langsung memancing tawa beberapa orang di sekitarnya. Tak seorang pun menyadari bahwa sepasang mata tengah mengawasi mereka dari balik kerumunan.

Nayara melirik Revan dengan raut penuh kekhawatiran. Namun alih-alih menemukan kemarahan atau rasa iri, ia justru melihat wajah yang begitu tenang hingga sulit menebak apa yang sedang dipikirkan suaminya.

Revan melangkah perlahan menghampiri pria yang baru saja melontarkan hinaan itu. Tatapannya lurus menembus lawan bicaranya ketika ia berkata, "Coba ulangi."

Pria itu menoleh dengan wajah bingung. "Hah? Apa maksudmu?"

"Kau bilang apa tadi?" tanya Revan sekali lagi dengan nada yang tetap datar.

Bruk!

Pria itu baru saja hendak membuka mulut ketika Revan mengangkat telunjuknya perlahan. Dalam sekejap, seberkas energi melesat tanpa suara dan menghantam dada pria tersebut hingga tubuhnya terpental beberapa meter sebelum terguling di tengah jalan.

“ARGH! UHUK! UHUK!”

Pria itu memegangi dadanya sambil batuk berkali-kali. Meski luka yang diterimanya tidak membahayakan nyawa, benturan tadi cukup membuatnya kehilangan seluruh kesombongan.

Kerumunan langsung panik dan menoleh ke segala arah untuk mencari pelaku. Namun saat mereka mulai menyadari apa yang terjadi, Revan telah berjalan menjauh bersama Nayara seolah tak pernah melakukan apa pun.

"Kenapa tidak menghajarnya lebih keras?" tanya Nayara pelan sambil menyusul langkah Revan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 200

    Di tengah semua perhatian tersebut, Revan tetap tenang. Dia memasukkan Pedang Bara Emas ke dalam cincin penyimpanannya, lalu berdiri tegak sambil menatap Livia.Beberapa saat kemudian, tangan kanannya kembali bergerak. Kali ini, yang muncul dalam genggamannya bukan Pedang Bara Emas.Melainkan sebuah pedang panjang.“Bukankah itu artefak tingkat Luhur?”“Serius? Dia ternyata memiliki dua artefak tingkat Luhur?”Kerumunan kembali riuh. Tidak ada yang menyangka Revan ternyata juga mampu menggunakan pedang. Yang lebih sulit dipercaya, dia bukan hanya memiliki satu artefak tingkat Luhur, melainkan dua.Sejak kapan artefak tingkat Luhur menjadi barang yang bisa dimiliki sembarang orang?Bukankah Revan hanyalah seorang menantu yang selama ini dianggap tidak berguna?Dari mana dia mendapatkan begitu banyak artefak berharga?Di bawah arena, Tio tiba-tiba mengernyitkan kening. Tatapannya langsung tertuju pada pedang panjang yang kini berada di tangan Revan. Dia mengamati bilah tersebut dengan s

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 199

    Revan sendiri mulai terkejut. Dia tahu Livia bukan lawan yang mudah, tetapi dia benar-benar tidak menyangka wanita ini bisa bertarung sekeras itu.Kultivasi Livia sudah mencapai tingkat kesembilan Fase Roh. Sebagai seorang jenius di antara para jenius, kekuatan bertarungnya jelas tidak bisa disamakan dengan kultivator biasa. Dia bahkan mampu menantang lawan yang tingkat kultivasinya lebih tinggi, dan berdasarkan tekanan yang dirasakan Revan, kekuatan Livia sudah mendekati tingkat Puncak Fase Roh.Bahkan sebagian kultivator yang telah mencapai Puncak Fase Roh mungkin belum tentu mampu menghadapinya.“Ganas juga...” gumamnya, Revan menahan satu tebasan lagi sambil merasakan tekanan yang menjalar sampai ke lengannya.Kekuatan pedang Livia hanya sedikit lebih lemah dibandingkan kekuatan Arvin ketika berada dalam kondisi terkuatnya. Yang membuat Revan semakin terkejut adalah Livia saat ini masih bertarung dalam kondisi normal.Dia belum menggunakan seluruh kekuatannya. Jadi, ucapan Livia t

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 198

    Revan menarik napas perlahan sebelum menatap lawannya.Livia berdiri dengan tenang beberapa langkah di depannya. Wajahnya memiliki kesejukan yang membuat orang lain sulit mendekat, tetapi tatapan matanya justru sangat tajam.Wanita itu memperhatikan luka-luka yang masih tersisa di tubuh Revan. Kedua alisnya sedikit berkerut sebelum akhirnya dia membuka suara.“Kau baru saja melewati pertarungan berat dan masih mengalami cedera. Jika aku mengalahkanmu dalam kondisi seperti ini, kemenangan itu tidak akan adil.” Livia menatapnya tanpa berkedip. “Aku hanya akan menggunakan setengah kekuatanku untuk melawanmu.”Suara Livia terdengar dingin, tetapi tetap enak didengar.Revan sempat terdiam. Dia tidak menyangka wanita yang baru pertama kali berbicara dengannya justru mengatakan sesuatu seperti itu. Untuk sesaat, dia bahkan bertanya-tanya apakah dirinya perlu memberinya segelas air agar wanita itu bisa berpikir lebih jernih.Revan berdeham pelan. “Tidak perlu, lukaku baik-baik saja. Kau bisa

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 197

    Sementara itu, setelah mengonsumsi Pil Pemulih Energi, Revan menghela napas perlahan. Darah yang sebelumnya terus mengalir dari luka-lukanya sudah berhenti, sedangkan energi spiritual di dalam tubuhnya juga telah pulih dalam jumlah yang cukup besar.Dia tidak berniat membuang waktu. Begitu meninggalkan arena, Revan mencari tempat yang lebih sepi untuk memulihkan diri. Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikannya, dia bersiap memasuki Cincin Langit.Di arena, Livia masih berdiri dalam diam dengan kedua alis sedikit berkerut.Baik Revan maupun Arvin telah menunjukkan kekuatan yang membuatnya tidak bisa meremehkan mereka. Kalau salah satu dari keduanya berada dalam kondisi terbaik, Livia sendiri tidak berani mengatakan bahwa dirinya pasti mampu menang.Seharusnya pertandingan berikutnya menjadi keuntungan besar baginya karena Arvin sudah tidak mampu bertarung lagi. Namun, anehnya, Livia sama sekali tidak merasa senang.“Tidak bisakah aku menghadapi mereka berdua ketika mereka berad

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 196

    Bayu tersenyum tipis. “Dwiki yang memberikannya kepadamu. Terima saja.”“Dwiki?” Revan sempat terdiam.Tidak perlu berpikir lama untuk mengetahui siapa yang dimaksud Bayu. Dia mengangkat kepala dan menatap ke arah tempat Dwiki berdiri. Tetua itu masih memasang wajah serius tanpa menunjukkan ekspresi apa pun, seakan pemberian pil tadi bukanlah sesuatu yang perlu dibicarakan.Ketika menyadari Revan sedang menatapnya, Dwiki hanya menganggukkan kepala sedikit.Revan tidak mengetahui alasan Dwiki memberinya pil. Namun, dia tetap membungkukkan tubuh dari kejauhan sebagai tanda terima kasih.Setelah itu, Revan membuka botol giok di tangannya. Di dalamnya terdapat tiga pil berwarna hitam. Dia mengambil satu dan langsung menelannya.Begitu pil tersebut melewati tenggorokan, aliran hangat segera mengalir ke dalam tubuhnya. Sesaat setelah mencapai perut, energi obat itu seperti meleleh dan menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh, membuat tubuh Revan yang sebelumnya kelelahan perlahan mendapatkan

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 195

    Energi spiritual Revan terkuras dengan cepat. Dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk memasuki Cincin Langit dan memulihkan kekuatannya. Satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah bertahan.Pertarungan panjang itu terus berlangsung.Hampir seperempat jam kemudian, perubahan akhirnya muncul.Kabut darah yang menyelimuti tubuh Arvin perlahan menipis. Gerakannya tidak lagi secepat sebelumnya, dan setiap serangan yang dilancarkannya mulai kehilangan keganasan yang sejak tadi membuat Revan tertekan.Pupil merah Arvin yang semula menyempit perlahan melebar. Tatapannya yang liar juga mulai kehilangan ketajamannya, kemudian matanya berangsur-angsur kembali ke kondisi semula.“Sudah berakhir.” Bayu menghela napas panjang sambil berdiri di bawah arena.Para tetua di sekitarnya juga menunjukkan ekspresi serupa. Mereka tahu Arvin sudah mencapai batasnya.Di atas arena, Revan tentu menyadari perubahan itu. Tubuhnya sendiri sudah berlumuran darah dan seluruh energinya hampir terkuras habis, teta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status