LOGINJalan utama menuju Kediaman Keluarga Cakrawala telah dipenuhi lautan manusia. Para pedagang kaki lima, kultivator pengembara, hingga tokoh-tokoh dari berbagai keluarga berkumpul di tempat yang sama demi menyaksikan secara langsung murid baru Perguruan Nirakasa.
Revan dan Nayara memilih berdiri di bagian paling belakang kerumunan. Tak seorang pun mengenali keberadaan mereka karena seluruh perhatian tertuju ke halaman utama kediaman.
Di sana, Jayendra tertawa lebar sambil menyambut setiap tamu yang datang membawa hadiah. Sementara itu, ibu Arya tak henti-hentinya memamerkan keberhasilan putra bungsunya kepada siapa pun yang menghampiri, seolah ingin memastikan semua orang mengetahui kebanggaan keluarga mereka.
Arya sendiri berdiri tegak mengenakan pakaian baru yang dihiasi lambang cincin perak mengelilingi gugusan tujuh bintang—Perguruan Nirakasa. Wajahnya memancarkan kebanggaan, sedangkan tatapannya menyapu seluruh kerumunan seolah setiap orang yang hadir memang layak mengaguminya.
Tak lama berselang, suasana yang semula ramai mendadak berubah hening ketika seorang pria berjubah putih melangkah memasuki halaman. Meski tidak memancarkan aura sedikit pun, kehadirannya saja sudah cukup membuat seluruh orang yang berada di sana spontan menundukkan kepala.
"Utusan Perguruan Nirakasa..."
Bisik-bisik segera menyebar di antara kerumunan. Beberapa kepala keluarga bergegas maju memberi salam, sementara yang lain menyerahkan berbagai hadiah berharga demi menarik sedikit perhatian darinya.
Pria berjubah putih itu hanya mengangguk seperlunya. Baginya, perlakuan semacam itu sudah menjadi pemandangan yang biasa.
"Arya."
Suara sang utusan terdengar tenang, tetapi langsung menarik perhatian semua orang.
"Sudah siap berangkat?"
Arya segera membungkukkan badan dengan penuh hormat. "Murid sudah siap."
"Bagus."
Sang utusan mengangkat sebelah tangannya hingga energi spiritual berputar membentuk pusaran angin di sekeliling mereka. Sesaat kemudian, tubuh keduanya perlahan terangkat ke udara, memancing sorak kagum dari seluruh penjuru Kota Jayagiri.
Banyak pemuda memandang dengan mata berbinar. Di dalam hati, mereka menyimpan impian yang sama, yakni suatu hari dapat berdiri di posisi Arya dan memasuki dunia para kultivator sejati.
Di atas langit, Arya sempat menoleh ke arah Kota Jayagiri. Senyum tipis terukir di wajahnya karena kota kecil itu tak lagi mampu menampung ambisinya, sementara tujuan berikutnya adalah dunia yang jauh lebih luas.
Hanya dalam beberapa tarikan napas, sosok mereka berubah menjadi titik cahaya sebelum akhirnya lenyap di balik awan.
Keheningan itu segera pecah oleh riuhnya pembicaraan.
"Mulai hari ini, Keluarga Cakrawala benar-benar akan bangkit."
"Siapa lagi yang berani menentang mereka?"
"Arya memang luar biasa."
Tak jauh dari sana, seorang pria tiba-tiba terkekeh sinis sambil melirik orang-orang di sekitarnya. "Kalau dipikir-pikir, kasihan juga kakaknya," ejeknya. "Adiknya terbang menuju langit, sedangkan dia malah berakhir menjadi menantu keluarga lain."
Ucapan itu langsung memancing tawa beberapa orang di sekitarnya. Tak seorang pun menyadari bahwa sepasang mata tengah mengawasi mereka dari balik kerumunan.
Nayara melirik Revan dengan raut penuh kekhawatiran. Namun alih-alih menemukan kemarahan atau rasa iri, ia justru melihat wajah yang begitu tenang hingga sulit menebak apa yang sedang dipikirkan suaminya.
Revan melangkah perlahan menghampiri pria yang baru saja melontarkan hinaan itu. Tatapannya lurus menembus lawan bicaranya ketika ia berkata, "Coba ulangi."
Pria itu menoleh dengan wajah bingung. "Hah? Apa maksudmu?"
"Kau bilang apa tadi?" tanya Revan sekali lagi dengan nada yang tetap datar.
Bruk!
Pria itu baru saja hendak membuka mulut ketika Revan mengangkat telunjuknya perlahan. Dalam sekejap, seberkas energi melesat tanpa suara dan menghantam dada pria tersebut hingga tubuhnya terpental beberapa meter sebelum terguling di tengah jalan.
“ARGH! UHUK! UHUK!”
Pria itu memegangi dadanya sambil batuk berkali-kali. Meski luka yang diterimanya tidak membahayakan nyawa, benturan tadi cukup membuatnya kehilangan seluruh kesombongan.
Kerumunan langsung panik dan menoleh ke segala arah untuk mencari pelaku. Namun saat mereka mulai menyadari apa yang terjadi, Revan telah berjalan menjauh bersama Nayara seolah tak pernah melakukan apa pun.
"Kenapa tidak menghajarnya lebih keras?" tanya Nayara pelan sambil menyusul langkah Revan.
Percobaan alkimia kembali berlanjut. Setiap kali kobaran api terasa kurang kuat, Revan menambahkan Kristal Langit tingkat tinggi beratribut api. Jika ia ingin menjaga api tetap stabil dan membara secara perlahan, ia menggunakan kristal beratribut kayu. Sebaliknya, ketika kobaran api terlalu ganas, ia memasukkan kristal beratribut air untuk meredamnya.Metode alkimia yang mengandalkan Kristal Langit dari berbagai elemen ini mungkin hanya bisa dilakukan oleh Revan. Bukan hanya karena ia memiliki persediaan kristal yang luar biasa banyak, melainkan juga karena ia telah menemukan cara memanfaatkan hubungan antar elemen untuk mengatur suhu tungku.Proses itu menuntutnya terus-menerus mengalirkan Qi ke dalam setiap kristal agar energi elemennya aktif. Tanpa disadarinya, latihan tersebut turut mengasah pengendalian Qi dan meningkatkan kemampuannya mengatur intensitas api. Semakin lama ia bereksperimen, semakin baik pula kendalinya atas kobaran yang sebelumnya sulit dijinakkan.Malam pun berl
Anugerah Dao merupakan keberadaan legendaris di Nusaraya. Berdasarkan catatan kuno yang masih tersimpan, benih semacam itu hanya pernah muncul sekali, sekitar sepuluh ribu tahunyang lalu. Setelah sekian lama berlalu, kisah tentang sosok yang memilikinya pun hanya tersisa sebagai desas-desus.Karena itulah, tak seorang pun mengetahui secara pasti kemampuan lain yang dimiliki Anugerah Dao. Pengetahuan yang tercatat hanya menyebutkan bahwa keberadaannya memberikan keuntungan luar biasa dalam bidang alkimia, pemurnian artefak, dan pembentukan susunan.Teks-teks kuno juga menjelaskan bahwa seseorang hanya bisa memperoleh Anugerah Dao melalui kesempatan yang telah ditakdirkan baginya. Benda istimewa itu tidak dapat direbut begitu saja melalui paksaan, bahkan oleh orang yang memiliki kekuatan jauh lebih besar sekalipun.“Sudahlah. Untuk sekarang, biarkan saja.” Revan mengesampingkan rasa penasarannya. Benih Anugerah Dao di dalam Dantiannya telah kembali diam, tanpa menunjukkan tanda-tanda ak
Ia memperhatikan sisa api dengan saksama, lalu mulai menghitung perkiraan kekuatan kedua elemen tersebut. Sebelumnya, ia telah menggunakan sekitar lima Kristal Langit beratribut api. Setelah satu kristal air ditambahkan, kobaran api berkurang setara dengan panas yang dihasilkan kira-kira dua kristal api.Dengan kata lain, satu kristal air mampu menetralkan energi dari sekitar dua kristal api, namun tidak cukup untuk memadamkan seluruh kobaran yang tersisa.Prinsip lima elemen yang saling menekan memang sudah dikenal luas. Namun, menentukan keseimbangan yang tepat antara setiap elemen bukanlah perkara mudah. Revan kini menyadari bahwa ia harus memahami perbandingan kekuatan tersebut jika ingin mengendalikan api alkimia dengan baik.Setelah kobaran api mengecil dan asap hitam dari Porselen Alkemis menghilang, ia akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya, percobaan ini membuktikan bahwa ia masih bisa melanjutkan proses alkimia tanpa harus membiarkan bahan obatnya hangus.“Sekarang, bagaima
Ini adalah pengalaman pertama Revan mencoba alkimia. Sejak mulai mempelajari aksara kuno hingga hari ini, baru beberapa bulan berlalu. Lebih parah lagi, ia bahkan belum pernah menyaksikan alkemis lain bekerja secara langsung.Biasanya, seorang murid alkimia membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mampu memurnikan pil dengan tangannya sendiri. Mereka harus terlebih dahulu belajar mengenali berbagai ramuan dan bahan obat spiritual, membiasakan diri mengendalikan api, memahami perubahan suhu di dalam tungku, serta mengamati cara alkemis senior mempraktekan keahlian mereka.Semua itu merupakan proses panjang yang dipenuhi pengetahuan rumit dan latihan berulang. Karena itulah, seorang pemula umumnya tidak langsung mencoba membuat pil tingkat pertama pada percobaan pertamanya. Mereka biasanya memulai dari pil biasa yang belum memiliki tingkatan.Untuk menjadi alkemis yang andal, bakat saja tidak cukup. Seseorang juga membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar karena kemampuan meracik pil h
Revan terpaksa melepaskan kristal tersebut dan membiarkannya jatuh ke tanah. Namun, ia tidak menghentikan prosesnya. Ia terus menyalurkan kekuatan spiritual dari jarak jauh, meski cara itu menguras jauh lebih banyak energi dibandingkan ketika ia menggenggam kristal secara langsung.Kristal tersebut semakin memerah. Tak lama kemudian, terdengar suara ledakan kecil saat api akhirnya menyala di permukaannya.Revan menyeka keringat di dahinya dengan wajah puas. “Bagus! Ternyata benar. Energi api di dalam Kristal Langit tingkat tinggi bisa dimanfaatkan secara terpisah!”Ia akhirnya menemukan cara untuk mengatasi masalahnya. Kristal Langit tingkat tinggi ternyata bukan sekadar sumber energi untuk kultivasi, melainkan juga bisa menjadi bahan bakar bagi Porselen Alkemis.Pada dasarnya, Kristal Langit tingkat tinggi mengandung energi dari lima elemen utama, yaitu logam, kayu, air, api, dan tanah. Seorang kultivator dapat menyerap energi dari elemen-elemen tersebut untuk memperkuat dirinya, seh
Revan mendekati aksara itu dan mulai membacanya dengan saksama. Ia belum mengetahui tingkatan artefak Porselen Alkemis tersebut, benda yang tersimpan di dalam Cincin Langit tentu layak untuk diteliti. Terlebih lagi, pengetahuan alkimia di hadapannya merupakan sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini.Semakin lama membaca, semakin serius pula Revan menyelami isinya. Tiba-tiba, ia berhenti pada sebuah bagian yang sebelumnya terasa rumit dan sulit dipahami. Kali ini, penjelasan yang dahulu membingungkannya justru terasa jauh lebih mudah dicerna, seakan pemahamannya terbuka dengan sendirinya.“Jangan-jangan ini efek Anugerah Dao?” gumamnya Revan, matanya berbinar.Jika dugaannya benar, Anugerah Dao bukan hanya memberinya kesempatan luar biasa, tapi juga dapat mempercepat prosesnya dalam mempelajari aksara kuno dan memahami teknik kultivasi. Keuntungan semacam itu akan sangat berarti bagi perkembangannya di masa depan.Setelah menghabiskan sekitar satu jam untuk mempelajari berbagai catata







