Share

MJM 120

last update publish date: 2026-07-07 15:28:16
Begitulah kasak kusuk di antara mereka.

Setelah menyelesaikan makan malam dan ngobrol sejenak dengan sesama orang Indonesia di sana, Rangga membayar semua tagihan lalu mengajak anak dan istrinya melanjutkan perjalanan ke AEON Mall terdekat. Kali ini mereka memilih naik bus kota untuk menikmati suasana malam musim semi yang sejuk.

Ibrahim tak banyak bertanya, ia hanya memperhatikan situasi yang benar-benar asing baginya. Anak itu nyaman di gendongan papanya.

"Ini salah satu pusat perbelanj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (22)
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
duh mas Zein pdhl q dah nunggu mas Zein Lo..tp gak nongol2 trs gak ada kabarnya..belom jodoh km mas..
goodnovel comment avatar
Nurmila Karyadi
mas Zein mirip Langit nih cinta dipendam terlalu dalam jdi tdk nampak...
goodnovel comment avatar
Mentary
akhirnya mas zein patah hati juga
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencari Jejak Maria   MJM 217

    Rangga bahagia. Pria itu mencondongkan tubuhnya, menatap Maria dengan tatapan mata yang mendadak berubah intens, sarat akan percikan gairah yang mulai menyala di kamar mereka."Jadi apa hadiah untuk Mas dari istri yang cantik malam ini, hmm?" Rangga mengedipkan sebelah matanya penuh godaan, jemarinya mulai menelusuri raga Maria.Wanita itu merasakan pipinya menghangat. Ia tersenyum, lalu tangan mungilnya mendorong pelan dada bidang suaminya. "Mandi dulu. Setelah Mas bersih dan wangi, nanti hadiahnya menanti.""Siap, Nyonya Rangga," sahut Rangga jenaka. Pria itu langsung menyambar handuk dan menghilang di balik pintu kamar mandi dengan langkah panjangnya.Sambil menunggu Rangga, Maria melepas mukenana. Menyisakan gaun tidur berbahan sutra lembut berwarna merah marun. Membungkus lekuk tubuhnya yang tengah berbadan dua. Memang semenjak kehamilan anak ketiga ini, Rangga sengaja membatasi dan mengurangi intensitas permintaan hubungan biologis mereka. Pria itu selalu diliputi rasa tidak teg

  • Mencari Jejak Maria   MJM 216

    Empat bulan kemudian ...."Sayang, coba tebak kabar apa yang Mas bawa sekarang ini?" Suara berat Rangga memecah keheningan kamar utama. Pria itu menghampiri sang istri yang baru saja selesai menunaikan salat isya. Rangga memang pulang terlambat hari itu karena urusan pekerjaan yang menyita waktu. Maria yang masih berbalut mukena, menatap heran pada suaminya. Wajah Rangga terlihat sangat berseri-seri, gurat lelah seolah menguap begitu saja dari sepasang matanya, padahal pria itu sudah seharian penuh memeras pikiran di kantor."Apa, Mas?" tanya Maria. Ia tidak bisa menebak apa pun.Rangga tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengikis jarak dan duduk di depan Maria, lalu menggenggam kedua tangan istrinya erat-erat. "Minggu depan, surat keputusan resminya keluar. Mas resmi naik jabatan menjadi General Manager."Maria terkesiap. Napasnya tertahan sedetik di tenggorokan akibat rasa terkejut yang bercampur dengan luapan kebahagiaan yang membuncah. Matanya berbinar-binar indah di bawah lampu

  • Mencari Jejak Maria   MJM 215

    MARIA- 79 General Manager Tamara melangkah dari dapur, membawa secangkir kopi hitam lalu meletakkannya di atas meja depan Nino. Pria itu baru saja sampai setengah jam yang lalu dari Malang. Wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa lelah setelah sibuk dengan pekerjaan."Mari makan, Mas." Maria menyodorkan piring pada Nino. Biar laki-laki itu mengambil makanannya sendiri."Makasih." Nino mengambil nasi, tumis brokoli, dan sepotong ayam goreng.Mereka kemudian menyantap makan malam berdua saja. Bu Arsi sengaja memilih beristirahat lebih awal di kamar, untuk memberikan ruang agar Tamara dan Nino bisa mengobrol dengan leluasa."Mas, aku sudah memikirkan semuanya beberapa hari ini. Dan aku sudah mengambil keputusan." Sambil makan Tamara memulai percakapan.Nino yang sedang mengunyah nasi terdiam sejenak. Ia memandang lurus pada perempuan yang statusnya masih menjadi istri sirinya tersebut. Ada kilat kecemasan sekaligus harapan di matanya. Sebenarnya ia juga sudah capek dengan hidup penuh petu

  • Mencari Jejak Maria   MJM 214

    Namun rasa geram campur aduk, antara lelah mengurus dua balita dan kenyataan bahwa ucapan 'aman' suaminya ternyata zonk. Membuatnya ingin sekali menjewer telinga pria di hadapannya ini."Tapi tetap saja aku sebal sama kamu Mas. Mas, selalu bilang tenang saja, aman. Apanya yang aman!" ucap Maria ketus. "Yusuf belum genap dua tahun saat adiknya lahir nanti. Perhatian kita pasti terpecah."Rangga tersenyum hangat, mengecup kening Maria sekali lagi dengan penuh perasaan. "Dengar Mas, Sayang. Yusuf tidak akan kekurangan kasih sayang sedikit pun, Mas jamin itu. Nanti kita tambah pengasuh. Supaya setelah melahirkan, kamu juga punya waktu untuk dirimu sendiri. Mas janji."Maria masih menatap tajam suaminya. Janji mana yang tidak ditepati oleh Rangga semenjak mereka kembali bersama. Lelaki itu selalu memegang ucapannya. Selelah apapun dengan urusan kantor, ia tetap ikut menjaga dan mendidik anak-anaknya.Rasa kesal yang membakar dada Maria sejak pagi perlahan-lahan mulai padam, digantikan oleh

  • Mencari Jejak Maria   MJM 213

    Maria berulang kali mengingatkan, meminta Rangga untuk menggunakan pengaman untuk jaga-jaga. Namun dengan senyum manis yang meruntuhkan pertahanan, Rangga selalu menjawab, "Tenang saja, Sayang. Tidak akan hamil dalam waktu dekat. Mas tahu cara mainnya."Main apa coba? Nyatanya hari ini dua garis merah itu terpampang nyata tanpa bisa dibantah.Saat Maria tengah berdiri melamun dengan dada yang bergemuruh menahan kesal, sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya, disusul sebuah suara hangat yang seketika membuatnya menoleh."Ada apa, Sayang? Melamun di depan jendela pagi-pagi begini?" tanya Rangga yang sudah berdiri di belakangnya. Pria itu tersenyum lebar, tampak segar dengan kaos polo kasualnya. Di lengan kanannya menggendong Yusuf yang sibuk makan biskuit, sementara Ibrahim terdengar bermain di halaman dengan kakak sepupunya.Melihat wajah tanpa dosa suaminya, rasa ingin marah di dada Maria mendadak memuncak ke ubun-ubun. Ia menatap tajam, setajam silet, tepat ke arah bola mata lelaki

  • Mencari Jejak Maria   MJM 212

    MARIA - 78 Rezeki"Nggak apa-apa, Bu," jawab Maria dengan nada suara yang diusahakan sebiasa mungkin. Sementara jemarinya bergerak secepat kilat meraih benda pipih di atas wastafel dan memasukkannya ke dalam saku gamis. Jantungnya berdegup kencang. Ia belum ingin memberitahu yang sebenarnya."Ya sudah kalau nggak ada apa-apa. Ibu pikir kamu sakit. Wajahmu agak pucat," ujar Bu Hasna sembari memicingkan mata, memandang lekat wajah Maria yang saat itu tidak mengenakan cadar."Saya nggak apa-apa, Bu." Maria tersenyum. Entahlah kali ini ia malu kalau bilang sedang hamil lagi."Kalau gitu Ibu mau belanja dulu." Bu Hasna menepuk bahu Maria lantas melangkah keluar rumah.Maria masih mematung. Yusuf baru umur setahun. Bocah ganteng itu baru bisa berjalan beberapa langkah dengan tertatih-tatih. Dan sekarang di dalam saku gamisnya, sebatang testpack dengan dua garis merah pekat menyatakan bahwa ia sudah berbadan dua lagi. Kasihan Yusuf. Nanti belum genap usia dua tahun, adiknya sudah lahir.Kep

  • Mencari Jejak Maria   MJM 69

    "Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 7

    MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 6

    MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send

  • Mencari Jejak Maria   MJM 5

    MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status