Share

MJM 18

last update publish date: 2026-06-03 10:49:21

Tidak hanya itu, para tetangga yang tidak pernah lagi melihat Maria di depan rumah, entah menyapu, mengurusi bunganya, atau berbelanja, juga bertanya pada Rangga.

"Lho, Mas Rangga baru pulang? Mbak Maria mana? Kok sudah lama saya nggak melihatnya?" tanya seorang tetangga saat Rangga baru saja turun dari mobil untuk membuka pintu pagar.

"Di rumah orang tua kami, Bu," jawab Rangga canggung. Dia tidak sanggup jujur tentang perpisahannya.

Sekarang Rangga juga tidak pernah lagi salat berjamaah di Ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Ria Nur
he'em,,,,,,,
goodnovel comment avatar
Ria Nur
betyul banget
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
di bakar ya la wes JD mantan kok ya ..ya di hilngkan semua dr kehidupan Marian n ragga biar gak inget trs
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 223

    "Bang, Donat cokelatnya masih ada?" Suara dari seorang mahasiswa berjaket almamater memutus pergolakan batin Zein. Laki-laki itu tersentak kecil, lalu dengan cepat mengubah raut wajahnya kembali menjadi si Abang Donat yang ramah. "Masih ada, Mas. Mau berapa?" "Tiga saja. Lapar saya, Bang. Tapi malas mau makan nasi," jawab pemuda itu. Dan mereka berbasa-basi ramah layaknya penjual dan pembeli. Setelah itu sepasang matanya kembali melirik sekilas ke arah gerbang kampus. Berharap siluet gadis hijab warna navy itu muncul di antara kerumunan mahasiswa yang hendak pulang. 🖤LS🖤 "Bang Zein, besok libur dulu, ya. Saya lagi ada kerepotan di rumah saudara. Lusa baru jualan lagi." Suara parau seorang wanita paruh baya memecah keheningan dari ponsel milik Zein malam itu. Beliau adalah pemilik dari jenama 'Donat Kampung Maknyus'. Sosok yang setiap subuh menyuplai berkotak-kotak donat untuk dijajakan Zein di trotoar depan kampus. "Oh, iya, Bu. Tidak apa-apa," jawab Zein datar, berusaha m

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 222

    Mengingatkannya pada sosok Maria. Wanita masa lalunya yang kini telah hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Ironisnya, setelah hampir tiga bulan gadis itu menjadi pelanggan setianya, Zein bahkan belum mengetahui siapa nama gadis itu. Ia terlalu menutup diri karena penyamarannya menuntut untuk tidak terlalu banyak meninggalkan jejak pribadi. Zein mengembuskan napas panjang, mengalihkan fokusnya kembali ke dunia nyata. Surabaya siang ini sedang tidak baik-baik saja di bawah permukaan yang tampak tenang. Tugas utamanya di kota ini teramat berat dan berbahaya. Menyelidiki jaringan gembong narkoba skala internasional sekaligus jalur penyelundupan senjata api terlarang yang diduga memanfaatkan area sekitar kampus sebagai zona transit mereka. Demi melancarkan misi rahasia negara tersebut, gerobak donat ini adalah tameng terbaiknya. Setiap hari, dari pukul 06.00 hingga 09.00 adalah waktu krusial di mana ia harus tampil se-normal mungkin sebagai pedagang kaki lima. Di jam-jam itulah

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 221

    Zein - 1 Gadis Berjilbab Navy Di atas trotoar yang retak-retak oleh akar pohon peneduh, sebuah gerobak kayu sederhana bercat putih dengan tulisan "Donat Kampung Maknyus" sudah standby di sana sejak pagi. Riuh klakson motor, asap knalpot, dan derap langkah kaki para mahasiswa yang terburu-buru mengejar kelas jam tujuh pagi menjadi musik latar yang akrab di telinga. Di balik etalase kaca yang sedikit berembun, seorang pria yang memakai topi warna abu-abu kumal tengah duduk di atas kursi plastik tanpa sandaran. Ia mengenakan kaos oblong hitam dan celana jin pudar yang ujungnya sengaja digulung kasar di atas sepatu hitamnya. Handuk kecil berwarna biru pudar melingkar di leher, sesekali digunakannya untuk menyeka peluh yang menetes di pelipis. Penampilannya adalah definisi sempurna dari seorang abang penjual donat jalanan yang bertarung mengais rezeki di dekat area kampus ternama Kota Pahlawan tersebut. Namun jika ada yang jeli memperhatikan di balik bayangan topi yang sengaja di

  • Mencari Jejak Maria   MJM 220

    Kurang terpelajar apa coba, seorang lulusan universitas dan seorang General Manager, tapi bisa-bisanya mereka terjebak dalam praduga dan asumsi konyol yang tidak berdasar ilmiah sama sekali. Hanya karena anak pertama dan kedua mereka laki-laki, maka secara otomatis anak ketiga pasti perempuan.Dan puncaknya saat hari persalinan itu. Begitu suara tangis bayi memecah ketegangan di ruang bersalin, dokter kandungan dengan senyum lebar mengangkat sang bayi ke arah mereka. "Selamat ya, Pak Rangga, Ibu Maria. Bayinya laki-laki, tampan dan sangat sehat."Mendengar kata 'laki-laki', Maria dan Rangga seketika saling pandang di atas ranjang bersalin. Detik itu juga ketegangan berubah menjadi momen paling kocak. Rangga terdiam, sementara Maria langsung tersenyum di tengah rasa haru dan sisa-sisa letihnya. Bisa-bisanya ia memercayai 'ramalan' suaminya yang sok tahu itu.Namun begitu tubuh mungil itu diletakkan di atas dada Maria untuk proses inisiasi menyusu dini, air mata kebahagiaan tak lagi bis

  • Mencari Jejak Maria   MJM 219

    Setelah hampir setahun lamanya terpisah oleh jarak, gengsi, dan badai kehidupan, pertemuan siang itu menjadi sebuah penanda bahwa badai telah benar-benar reda. Meninggalkan pelangi baru yang damai bagi masa depan mereka semua.🖤LS🖤Setahun kemudian ....Karpet tebal di ruang tengah rumah kediaman General Manager itu layaknya sebuah medan perang mini yang riuh. Potongan-potongan lego, mobil-mobilan, robot, dan bola berbagai warna menjadi saksi bisu betapa energi anak laki-laki seolah tidak memiliki batas akhir. Di tengah-tengah kekacauan yang menyenangkan itu, seorang bayi laki-laki berusia sembilan bulan tengah bertumpu pada kedua lututnya dan merangkak mengejar kedua kakaknya.Ilyas Rayan Alfarezel. Nama seorang bayi yang memiliki lipatan-lipatan menggemaskan di lengan dan pahanya. Mirip sekali dengan Ibrahim dan Yusuf saat masih seumurannya. Montok, berkulit bersih, dan beraroma khas bedak bayi yang bercampur minyak telon.Baby Ray, begitu ia dipanggil. Menjadi pelengkap di hidup

  • Mencari Jejak Maria   MJM 218

    MARIA- 80 Ending Seminggu kemudian ....Gemercik air dari kolam buatan yang membelah area outdoor rumah makan di tengah Kota Malang berpadu dengan riuh rendah obrolan pengunjung siang itu. Aroma gurami bakar berlumur bumbu rempah dan sambal terasi menguar di udara, membangkitkan selera. "Hai, anak ganteng. Lucunya kamu." Susi yang siang itu tampil anggun dalam balutan gamis pastel dan hijab senada, mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil Nathan dari pangkuan Tamara. Bayi berusia tiga bulan itu memandang sosok yang baru dikenalnya, ia memberikan senyuman saat Susi memangkunya.Tamara tersenyum, meski ada sedikit rasa canggung yang masih tersisa di sudut hatinya. Namun melihat bagaimana hangatnya sambutan Susi dan Rudi, perlahan-lahan ia bisa mulai santai.Pasangan di hadapannya ini begitu luar biasa. Mereka seolah telah mengubur dalam-dalam seluruh memori kelam masa lalu yang pernah menorehkan luka. Susi kini memancarkan aura wanita yang sepenuhnya bahagia, kedamaian hidup baru

  • Mencari Jejak Maria   MJM 7

    MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 6

    MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send

  • Mencari Jejak Maria   MJM 5

    MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la

  • Mencari Jejak Maria   MJM 4

    MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status