LOGINKalimat itu jatuh begitu saja di udara, menggantung di antara mereka dengan gravitasi yang luar biasa berat. Jihan merasa oksigen di koridor mendadak lenyap. Otaknya berhenti bekerja, mendadak mengalami buffering hebat mencerna implikasi dari pengakuan telak yang baru saja dilontarkan oleh pria di hadapannya.
Orang yang beneran gue mau? Jantung Jihan melompat ke tenggorokan. Ia membuka mulutnya, berniat melontarkan protes atau sekadar sarkasme untuk menutupi salah tingkahnya, tapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Matanya berkedip cepat, terpaku pada manik mata elang Marvin yang menatapnya dengan intensitas yang sanggup membakar kulit. Tidak ada topeng berandal, tidak ada seringai mengejek. Yang ada hanya kejujuran yang telanjang—dan itu jauh lebih menakutkan bagi Jihan. "Marvin, lo..." cicit Jihan, suaranya nyaris tak terdengar di antara debar jantungnya sendiri. Sebelum Marvin sempat menjawab atau menarik jarak, suara derap langkah kaki dan suara bising sekelompok mahasiswa teknik yang keluar dari ruang sebelah mendadak memecah keheningan. Suasana magis yang sempat tercipta hancur dalam sekejap. Marvin menghela napas pelan, mengalihkan pandangannya sesaat ke arah kerumunan sebelum kembali menatap Jihan. Ada kilat penyesalan karena waktunya habis terlalu cepat. "Masuk kelas sana, Tuan Putri," bisik Marvin setengah menggoda, kembali memasang topeng santainya meski rahangnya masih mengeras. Ia menepuk pelan puncak kepala Jihan—sebuah gestur spontan yang membuat mata Jihan melebar kaget. "Jangan kebanyakan mikirin omongan cowok brengsek." Tanpa menunggu balasan, Marvin berbalik dan melenggang pergi, membiarkan Jihan berdiri mematung di tengah koridor dengan tangan yang masih mencengkeram erat tumpukan map di dadanya. Hari-hari setelah insiden di koridor itu berjalan bagaikan mimpi buruk bagi kewarasan Jihan. Bayangan Marvin seolah menempel di setiap sudut kepalanya. Kalimat-kalimat pria itu berputar terus-menerus, menggilas habis pertahanan diri yang selama ini ia bangun rapi. Jihan mencoba mengalihkan perhatiannya. Ia menyibukkan diri dengan revisi skripsi, menerima setiap ajakan panggilan video Kalandra, dan tertawa lebih keras dari biasanya saat berkumpul dengan teman-teman kuliahnya. Namun, semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin nyata pula retakan di dunia sempurnanya. Puncaknya terjadi pada Jumat malam. Jihan baru saja keluar dari minimarket dekat kampusnya ketika ponselnya bergetar panjang. Bukan panggilan video dari Kalandra, melainkan sebuah pesan singkat dari calon ibu mertuanya—atau lebih tepatnya, pesan dari suster yang merawat ibu Kalandra di rumah sakit. Suster Rina: Halo, Neng Jihan. Maaf mengganggu malam-malam. Kondisi ibu sedang drop lagi, dan beliau terus-menerus memanggil nama Neng Jihan. Kalau bisa, tolong segera ke rumah sakit ya. Jihan merasakan darah di tubuhnya berdesir dingin. Tanpa pikir panjang, ia memesan taksi online dan langsung meluncur ke rumah sakit tempat ibu Kalandra dirawat. Sesampainya di lantai tiga bangsal khusus, lorong rumah sakit tampak sepi dan mencekam. Jihan berlari kecil menuju kamar VVIP tempat ibu Kalandra berada. Namun, tepat sebelum ia memegang gagang pintu, langkahnya mendadak tertahan oleh suara isak tangis yang tertahan dari dalam ruangan yang sedikit terbuka. Bukan suara Kalandra. Itu suara seorang wanita paruh baya—tante Kalandra yang beberapa kali pernah Jihan temui. "...kamu harus realistis, Ndra!" suara wanita itu terdengar tajam, menembus celah pintu. "Biaya pengobatan Mamah kamu udah nggak masuk akal! Rumah di bandung udah digadai, tabungan kamu ludes. Sampai kapan kamu mau pura-pura kuat? Kalau kamu terus-terusan maksain diri nutupin semua ini sendirian, hidup kamu bakal hancur!" Jihan tertegun di tempatnya. Napasnya tercekat. Kakaknya terasa terpaku di lantai linoleum putih. Suara Kalandra menyusul sesudahnya, terdengar lelah, serak, dan begitu putus asa. "Terus aku harus biarin Mamah pergi gitu aja, Tante? Cuma itu satu-satunya keluarga yang aku punya..." "Bukan dibiarkan! Tapi kamu harus sadar diri! Kecuali... kecuali kalau kamu mau nerima perjodohan sama anak mitra bisnis papa tiri kamu yang tawarannya udah di meja dari bulan lalu. Mereka siap nanggung semua biaya rumah sakit ini sampai tuntas!" Jedar! Dunia Jihan serasa runtuh seketika. Perjodohan? Biaya rumah sakit ditanggung orang lain? Dan Kalandra... Kalandra menyembunyikan semua keretakan ini darinya? Jihan mundur perlahan, menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan isak tangis yang mendadak melompat keluar dari dadanya. Ponsel di dalam tasnya bergetar lagi, menampilkan notifikasi pesan dari Kalandra yang dikirim setengah jam lalu: Sayang, maaf ya malam ini aku lembur ngerjain tugas kelompok di kampus, jadi nggak bisa nemenin kamu. Lembur? Kalandra berbohong. Pria yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia bersandar, pria yang ia anggap sebagai rumah paling aman di dunia, ternyata sedang runtuh dan memilih untuk menutup rapat-rapat pintu dari Jihan. Ia tidak dianggap sebagai tempat pulang. Ia hanya dianggap sebagai beban tambahan yang harus dilindungi dari masalah. Dengan air mata yang tumpah membasahi pipi, Jihan berbalik dan berlari keluar rumah sakit. Ia menembus udara malam yang dingin tanpa arah tujuan. Taksi yang ia tumpiki tadi sudah pergi. Ia berjalan linglung di trotoar jalan raya yang mulai sepi, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat. Rumah mewahnya kosong, rumah Kalandra penuh dengan kepalsuan. Di mana ia harus bersembunyi? Hujan gerimis turun perlahan, menyamar bersama air mata Jihan yang tak bisa lagi dibendung. Tiba-tiba, sebuah motor sport hitam melambat di sampingnya. Pengendaranya mematikan mesin, lalu membuka kaca helm full-face-nya. Di bawah temaram lampu jalanan kota, mata elang Marvin menatap tajam ke arah Jihan yang basah kuyup dan berantakan. Pria itu tidak bertanya apa-apa. Ia tidak mengeluarkan kalimat sarkas atau ledekan menyebalkan. Marvin hanya melepas jaket kulitnya, turun dari motor, lalu menyampirkan jaket itu menutupi tubuh Jihan yang menggigil. "Naik," suara Marvin rendah, serak, namun mengandung otoritas mutlak yang membuat Jihan tak punya tenaga untuk membantah. "Gue anter lo pulang... atau ke tempat mana pun yang bikin lo bisa nangis sepuasnya." Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Jihan tidak menolak. Ia naik ke boncengan motor Marvin, melingkarkan kedua tangannya erat-erat pada pinggang pria itu, dan membiarkan dirinya hancur berkeping-keping di dalam dekapan sang red flag kampus yang ternyata menjadi satu-satunya orang yang menangkapnya saat ia jatuh.Tujuh tahun setelah malam kelulusan sarjana Aria, ruang keluarga townhouse Jihan dan Marvin kembali berubah menjadi arena gladiator berdarah dingin. Bara, yang kini telah bermetamorfosis menjadi seorang arsitek muda sukses beraura tenang, duduk dengan punggung tegak lurus seolah sedang berhadapan dengan regu tembak. Di atas meja kaca tepat di hadapannya, tergeletak sebuah kotak beludru merah kecil yang terbuka, memamerkan cincin berlian berpotongan zamrud. "Sebuah cincin yang manis, anak muda," Marx Vance memecah keheningan yang mencekik, ujung tongkat singanya menunjuk kotak tersebut dengan gerakan meremehkan. "Tapi apakah kau tahu bahwa cucuku memiliki akses langsung ke tambang berlian mentah di Afrika Selatan? Apa yang membuatmu berpikir sepotong karbon berkilau ini cukup untuk membeli sisa umur pewarisku?" Di seberang sofa, Pak Darmawan sibuk mengetuk-ngetuk layar tabletnya tanpa mengangkat wajah. "Aku sudah menyiapkan draf perjanjian pranikah setebal tiga ratus halaman. Ini
Angin pegunungan Wonosobo yang menggigit tulang menyambut kedatangan Aria beserta konvoi kecilnya. Kabut tebal turun merayap lambat, menyelimuti hamparan kebun teh yang berundak hijau sejauh mata memandang. Di tengah jalanan makadam yang terjal dan licin, deru mesin motor custom Aria memecah keheningan alam dengan ritme yang stabil, membuktikan bahwa ketangguhan rakitan gadis itu sama liarnya dengan insting sang ayah.Setelah berjam-jam membelah rute pedalaman yang menguji adrenalin, mata elang Aria menangkap sebuah plang kayu usang di persimpangan jalan tanah. Sebuah tulisan pudar berbunyi 'Cito-Oko' terpampang di sana, persis seperti informasi rahasia yang ia dapatkan dari forum perajin mesin bawah tanah. Tempat itu sama sekali tidak menyerupai bengkel modern, melainkan sebuah pelataran luas beralaskan tanah padat di belakang rumah kayu. Di sana, para montir lokal tengah menempa bongkahan logam tua menjadi suku cadang handmade bernilai tinggi.Kedatangan sekelompok mahas
Dua minggu sebelum masa orientasi mahasiswa dimulai, langit Kota Bandung menjadi saksi bisu kegilaan dua kakek super kaya yang menolak keras membiarkan cucu mereka hidup seperti mahasiswa biasa. Kesepakatan awal untuk membiarkan Aria "hidup mandiri" ternyata diterjemahkan secara sangat ekstrem oleh Marx Vance dan Pak Darmawan.Perang akuisisi properti dimulai dalam senyap. Pak Darmawan lebih dulu mengutus tim pengacaranya untuk membeli seluruh lantai penthouse di apartemen paling elite di Ciumbuleuit, lengkap dengan taman gantung dan sistem filtrasi air setara rumah sakit. Namun, Marx Vance sang raja mafia merasa itu belum cukup aman. Hanya dalam kurun waktu dua hari, Marx membeli seluruh gedung apartemen tersebut, mengusir sisa penghuni dengan kompensasi sepuluh kali lipat, dan menyulap lobi gedung menjadi pos komando taktis yang dijaga oleh anak buah Carlo yang menyamar secara bergantian sebagai satpam, kurir paket, hingga tukang sapu jalanan.Jihan hanya bisa mengurut d
Waktu melesat lebih cepat dari putaran mesin V8. Aria Vance kini duduk di kelas dua belas, dan kata 'kuliah' resmi menjadi pemicu kepanikan nasional tingkat tinggi di kediaman keluarga Vance-Darmawan.Malam itu, ruang keluarga townhouse Jihan dan Marvin tidak lagi terlihat seperti tempat bersantai, melainkan ruang konferensi intelijen. Meja kaca di tengah ruangan tertutup rapat oleh dua tumpukan dokumen yang saling bersaing.Di sisi kiri, Pak Darmawan menyusun rapi setumpuk brosur universitas Ivy League, lengkap dengan cetak biru rencana ekspansi perusahaan propertinya sepuluh tahun ke depan. Di sisi kanan, Marx Vance membentangkan peta geopolitik dunia, brosur akademi militer swasta dari Swiss, dan dokumen kepemilikan pabrik senjata yang baru saja ia beli atas nama Aria."Harvard Business School adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal, Vance!" Pak Darmawan memulai persidangan, mengetuk brosurnya dengan pena emas murni. "Aria akan mewarisi takhta Darmawan Group.
Keheningan romantis di gazebo itu akhirnya pecah oleh derit halus ban mobil yang bergesekan dengan aspal paving pelataran rumah. Marvin melirik jam tangan chronograph di pergelangan kirinya di bawah temaram lampu gantung. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh sembilan menit. Sisa enam puluh detik sebelum ancaman ban kempes dari sang mantan penguasa dunia bawah itu benar-benar dieksekusi. Dari balik pagar kayu, terdengar suara pintu mobil ditutup dengan sangat tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, Aria berjalan santai memasuki halaman belakang, sementara siluet Bara di kejauhan terlihat berlari kembali ke kursi kemudi seolah nyawanya sedang dipertaruhkan. Deru mesin mobil pemuda itu melesat pergi tepat saat jarum detik menyentuh angka dua belas. Jihan terkekeh pelan di dalam pelukan suaminya. "Nyali anak itu patut diacungi jempol. Dia benar-benar berani menantang batas kecepatan kota Jakarta demi mengalahkan tenggat waktu dari algojo
Deru mesin mobil Bara kembali terdengar di pelataran rumah pada malam Minggu berikutnya. Kali ini, remaja itu terlihat sedikit lebih rileks, meski postur tubuhnya tetap tegap layaknya prajurit yang sedang menjalani wajib militer. Aria turun dari lantai dua mengenakan dress selutut berwarna navy dan cardigan tipis, memancarkan pesona Jihan di masa mudanya namun dengan langkah merdeka ala Marvin."Papa, Mama, Aria pergi dulu," pamit gadis itu seraya mencium pipi kedua orang tuanya.Marvin mengangguk, melipat lengannya di depan dada. "Jam sepuluh tepat, Bara. Lewat semenit, ban mobil lo otomatis gue kempesin dari jauh pakai remote."Bara menelan ludah dan mengangguk kaku, berjanji dengan sungguh-sungguh akan mengembalikan Aria tanpa kurang satu lecet pun. Begitu siluet mobil mereka menghilang di balik gerbang, keheningan yang asing namun mendamaikan turun menyelimuti rumah tersebut. Jihan menoleh menatap suaminya, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa min







