공유

4

last update 게시일: 2026-08-09 11:58:48

Kalimat itu jatuh begitu saja di udara, menggantung di antara mereka dengan gravitasi yang luar biasa berat. Jihan merasa oksigen di koridor mendadak lenyap. Otaknya berhenti bekerja, mendadak mengalami buffering hebat mencerna implikasi dari pengakuan telak yang baru saja dilontarkan oleh pria di hadapannya.

​Orang yang beneran gue mau?

​Jantung Jihan melompat ke tenggorokan. Ia membuka mulutnya, berniat melontarkan protes atau sekadar sarkasme untuk menutupi salah tingkahnya, tapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Matanya berkedip cepat, terpaku pada manik mata elang Marvin yang menatapnya dengan intensitas yang sanggup membakar kulit. Tidak ada topeng berandal, tidak ada seringai mengejek. Yang ada hanya kejujuran yang telanjang—dan itu jauh lebih menakutkan bagi Jihan.

​"Marvin, lo..." cicit Jihan, suaranya nyaris tak terdengar di antara debar jantungnya sendiri.

​Sebelum Marvin sempat menjawab atau menarik jarak, suara derap langkah kaki dan suara bising sekelompok mahasiswa teknik yang keluar dari ruang sebelah mendadak memecah keheningan. Suasana magis yang sempat tercipta hancur dalam sekejap.

​Marvin menghela napas pelan, mengalihkan pandangannya sesaat ke arah kerumunan sebelum kembali menatap Jihan. Ada kilat penyesalan karena waktunya habis terlalu cepat.

​"Masuk kelas sana, Tuan Putri," bisik Marvin setengah menggoda, kembali memasang topeng santainya meski rahangnya masih mengeras. Ia menepuk pelan puncak kepala Jihan—sebuah gestur spontan yang membuat mata Jihan melebar kaget. "Jangan kebanyakan mikirin omongan cowok brengsek."

​Tanpa menunggu balasan, Marvin berbalik dan melenggang pergi, membiarkan Jihan berdiri mematung di tengah koridor dengan tangan yang masih mencengkeram erat tumpukan map di dadanya.

​Hari-hari setelah insiden di koridor itu berjalan bagaikan mimpi buruk bagi kewarasan Jihan.

​Bayangan Marvin seolah menempel di setiap sudut kepalanya. Kalimat-kalimat pria itu berputar terus-menerus, menggilas habis pertahanan diri yang selama ini ia bangun rapi. Jihan mencoba mengalihkan perhatiannya. Ia menyibukkan diri dengan revisi skripsi, menerima setiap ajakan panggilan video Kalandra, dan tertawa lebih keras dari biasanya saat berkumpul dengan teman-teman kuliahnya.

​Namun, semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin nyata pula retakan di dunia sempurnanya.

​Puncaknya terjadi pada Jumat malam.

​Jihan baru saja keluar dari minimarket dekat kampusnya ketika ponselnya bergetar panjang. Bukan panggilan video dari Kalandra, melainkan sebuah pesan singkat dari calon ibu mertuanya—atau lebih tepatnya, pesan dari suster yang merawat ibu Kalandra di rumah sakit.

​Suster Rina: Halo, Neng Jihan. Maaf mengganggu malam-malam. Kondisi ibu sedang drop lagi, dan beliau terus-menerus memanggil nama Neng Jihan. Kalau bisa, tolong segera ke rumah sakit ya.

​Jihan merasakan darah di tubuhnya berdesir dingin. Tanpa pikir panjang, ia memesan taksi online dan langsung meluncur ke rumah sakit tempat ibu Kalandra dirawat.

​Sesampainya di lantai tiga bangsal khusus, lorong rumah sakit tampak sepi dan mencekam. Jihan berlari kecil menuju kamar VVIP tempat ibu Kalandra berada. Namun, tepat sebelum ia memegang gagang pintu, langkahnya mendadak tertahan oleh suara isak tangis yang tertahan dari dalam ruangan yang sedikit terbuka.

​Bukan suara Kalandra. Itu suara seorang wanita paruh baya—tante Kalandra yang beberapa kali pernah Jihan temui.

​"...kamu harus realistis, Ndra!" suara wanita itu terdengar tajam, menembus celah pintu. "Biaya pengobatan Mamah kamu udah nggak masuk akal! Rumah di bandung udah digadai, tabungan kamu ludes. Sampai kapan kamu mau pura-pura kuat? Kalau kamu terus-terusan maksain diri nutupin semua ini sendirian, hidup kamu bakal hancur!"

​Jihan tertegun di tempatnya. Napasnya tercekat. Kakaknya terasa terpaku di lantai linoleum putih.

​Suara Kalandra menyusul sesudahnya, terdengar lelah, serak, dan begitu putus asa. "Terus aku harus biarin Mamah pergi gitu aja, Tante? Cuma itu satu-satunya keluarga yang aku punya..."

​"Bukan dibiarkan! Tapi kamu harus sadar diri! Kecuali... kecuali kalau kamu mau nerima perjodohan sama anak mitra bisnis papa tiri kamu yang tawarannya udah di meja dari bulan lalu. Mereka siap nanggung semua biaya rumah sakit ini sampai tuntas!"

​Jedar!

​Dunia Jihan serasa runtuh seketika. Perjodohan? Biaya rumah sakit ditanggung orang lain? Dan Kalandra... Kalandra menyembunyikan semua keretakan ini darinya?

​Jihan mundur perlahan, menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan isak tangis yang mendadak melompat keluar dari dadanya. Ponsel di dalam tasnya bergetar lagi, menampilkan notifikasi pesan dari Kalandra yang dikirim setengah jam lalu: Sayang, maaf ya malam ini aku lembur ngerjain tugas kelompok di kampus, jadi nggak bisa nemenin kamu.

​Lembur? Kalandra berbohong. Pria yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia bersandar, pria yang ia anggap sebagai rumah paling aman di dunia, ternyata sedang runtuh dan memilih untuk menutup rapat-rapat pintu dari Jihan. Ia tidak dianggap sebagai tempat pulang. Ia hanya dianggap sebagai beban tambahan yang harus dilindungi dari masalah.

​Dengan air mata yang tumpah membasahi pipi, Jihan berbalik dan berlari keluar rumah sakit.

​Ia menembus udara malam yang dingin tanpa arah tujuan. Taksi yang ia tumpiki tadi sudah pergi. Ia berjalan linglung di trotoar jalan raya yang mulai sepi, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat. Rumah mewahnya kosong, rumah Kalandra penuh dengan kepalsuan. Di mana ia harus bersembunyi?

​Hujan gerimis turun perlahan, menyamar bersama air mata Jihan yang tak bisa lagi dibendung.

​Tiba-tiba, sebuah motor sport hitam melambat di sampingnya. Pengendaranya mematikan mesin, lalu membuka kaca helm full-face-nya.

​Di bawah temaram lampu jalanan kota, mata elang Marvin menatap tajam ke arah Jihan yang basah kuyup dan berantakan. Pria itu tidak bertanya apa-apa. Ia tidak mengeluarkan kalimat sarkas atau ledekan menyebalkan.

​Marvin hanya melepas jaket kulitnya, turun dari motor, lalu menyampirkan jaket itu menutupi tubuh Jihan yang menggigil.

​"Naik," suara Marvin rendah, serak, namun mengandung otoritas mutlak yang membuat Jihan tak punya tenaga untuk membantah. "Gue anter lo pulang... atau ke tempat mana pun yang bikin lo bisa nangis sepuasnya."

​Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Jihan tidak menolak. Ia naik ke boncengan motor Marvin, melingkarkan kedua tangannya erat-erat pada pinggang pria itu, dan membiarkan dirinya hancur berkeping-keping di dalam dekapan sang red flag kampus yang ternyata menjadi satu-satunya orang yang menangkapnya saat ia jatuh.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   6

    Pelukan Kalandra malam itu seharusnya menjadi penawar dari segala luka. Biasanya, dekapan hangat pria inilah yang menjadi satu-satunya tempat Jihan merengkuh kewarasannya kembali setelah dihancurkan oleh sepinya rumah.​Namun malam ini, semuanya terasa berbeda.​Di bawah cahaya lampu teras yang temaram, Jihan bisa merasakan bahu Kalandra yang sedikit bergetar, meski pria itu berusaha keras menyembunyikannya. Aroma parfum Kalandra yang menenangkan kini bercampur dengan bau khas rumah sakit dan keringat dingin akibat kelelahan yang ekstrem.​"Aku nggak butuh kamu berjuang sendirian buat aku, Ndra," bisik Jihan lirih, suaranya teredam di dada Kalandra. Air matanya merembes membasahi kaus pria itu. "Cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban sampai hancur. Gimana aku bisa bahagia kalau kebahagiaan itu dibayar pakai kehancuran kamu?"​Kalandra mengurai pelukan mereka perlahan. Tangan besarnya menangkup kedua pipi Jihan yang basah, ibu jarinya mengusap jeja

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   5

    ​Hujan gerimis malam itu berubah menjadi tirai kelabu yang membungkus jalanan kota. Di atas jok motor sport Marvin, Jihan duduk merosot, membenamkan wajahnya di punggung lebar sang pria. Jaket kulit Marvin yang masih menyisakan kehangatan tubuh dan aroma peppermint-nya membungkus tubuh Jihan yang basah dan gemetar.​Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka selama perjalanan. Marvin membawa motornya dengan kecepatan konstan, membelah keheningan malam hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat asing—sebuah kedai kopi kecil di sudut distrik seni yang sudah tutup, tapi pintunya dibukakan oleh pemiliknya khusus untuk Marvin.​Di dalam kedai yang temaram dan hangat, Marvin menyodorkan segelas cokelat panas mengepul ke tangan Jihan yang masih membeku.​Jihan menerima mug itu dengan tangan gemetar. Ia menatap cairan cokelat di dalam cangkir, sementara air matanya kembali meleleh tanpa suara, membasahi pipinya yang dingin. Semua beban yang ia pendam—rumah yang terasa seperti

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   4

    Kalimat itu jatuh begitu saja di udara, menggantung di antara mereka dengan gravitasi yang luar biasa berat. Jihan merasa oksigen di koridor mendadak lenyap. Otaknya berhenti bekerja, mendadak mengalami buffering hebat mencerna implikasi dari pengakuan telak yang baru saja dilontarkan oleh pria di hadapannya.​Orang yang beneran gue mau?​Jantung Jihan melompat ke tenggorokan. Ia membuka mulutnya, berniat melontarkan protes atau sekadar sarkasme untuk menutupi salah tingkahnya, tapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Matanya berkedip cepat, terpaku pada manik mata elang Marvin yang menatapnya dengan intensitas yang sanggup membakar kulit. Tidak ada topeng berandal, tidak ada seringai mengejek. Yang ada hanya kejujuran yang telanjang—dan itu jauh lebih menakutkan bagi Jihan.​"Marvin, lo..." cicit Jihan, suaranya nyaris tak terdengar di antara debar jantungnya sendiri.​Sebelum Marvin sempat menjawab atau menarik jarak, suara derap langkah kaki dan suara bising sekelompok mahasiswa

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   3

    Jihan mengerjap. Sekali. Dua kali.​Matanya masih terpaku pada pintu kaca kafe yang baru saja tertutup, menelan siluet punggung tegap Marvin dalam temaramnya senja. Aroma peppermint pria itu entah kenapa masih tertinggal di udara, berbaur secara kurang ajar dengan wangi kopi di mejanya, menginvasi indra penciumannya tanpa permisi.​Tangannya perlahan naik, meremas ujung kemejanya tepat di atas dada kiri.​Gila. Jihan menelan ludah. Sistem saraf gue pasti lagi konslet.​Berani-beraninya seorang Marvin Alexander—musuh bebuyutannya, si cowok brengsek bermulut tajam itu—membuat jantungnya berdebar dengan ritme yang memalukan seperti ini?​Dengan kasar, Jihan mengusap wajahnya, berusaha mengusir sisa-sisa debaran aneh itu. Ia kembali menatap layar laptopnya. Kursor yang tadi berkedip mengejek kini seolah menunggunya. Kalimat Marvin terngiang kembali di kepalanya, berputar bagai kaset rusak.​Ngasih mereka keberanian buat pakai 'topeng' saat dunia lagi jahat-jahatnya.​Jari-jari Jihan mulai

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   2

    Keesokan sorenya, aroma biji kopi yang dipanggang dan wangi garam dari arah laut bercampur menjadi satu di udara.​Sesuai rencananya kemarin, Jihan akhirnya menginjakkan kaki di Blue Tides, kafe baru di ujung jalan yang menghadap langsung ke lautan lepas. Hanya saja, ia datang sendirian. Kalandra masih terjebak di rumah sakit, menunggu jadwal kemoterapi ibunya yang mendadak dimajukan.​Jihan duduk di sudut paling sepi, menghadap jendela kaca besar yang membingkai ombak sore. Layar laptopnya menyala terang, menampilkan draf marketing plan yang sudah dua jam terakhir hanya ia tatap kosong. Kursornya berkedip-kedip seolah mengejek kebuntuannya.​Gadis itu menghela napas panjang, menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua tangan. Kepalanya pening. Perasaan sepi dari rumah besar semalam rupanya masih mengikutinya bak awan kelabu.​Tiba-tiba, suara derit kaki kursi yang ditarik paksa membuat Jihan mendongak.​Aroma peppermint yang tajam, bercampur dengan wangi maskulin dari parfum yang sangat

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   1

    Udara siang di kafetaria Fakultas Bisnis terasa pengap, tapi Jihan Andexa seolah memiliki pasokan oksigennya sendiri. Jari-jari lentiknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme cepat, sementara bibirnya tak henti menembakkan rentetan kalimat tanpa koma.​"Pokoknya, abis ini kita harus mampir ke kafe baru yang di ujung jalan itu. Kamu tahu kan, Yang, aku butuh banget ngerjain revisi skripsi dengan view laut lepas," cerocos Jihan, matanya berbinar-binar penuh harap menatap pria di hadapannya. Ia menopang dagu, memajukan wajah. "Biar jiwa aku sejuk. Sama satu lagi, aku butuh banget lari dari kebisingan otakku yang rasanya mau meledak gara-gara ngejar target marketing plan sialan ini!"​Di seberang meja, Kalandra Exder hanya tersenyum. Senyum yang selalu sama: teduh, sabar, dan tak pernah menghakimi sekecil apa pun keanehan Jihan. Tangannya terulur lembut, merapikan anak rambut yang menempel di dahi gadis itu, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.​"Iya, Jihan cantik," suara

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status