LOGINJihan mengerjap. Sekali. Dua kali.
Matanya masih terpaku pada pintu kaca kafe yang baru saja tertutup, menelan siluet punggung tegap Marvin dalam temaramnya senja. Aroma peppermint pria itu entah kenapa masih tertinggal di udara, berbaur secara kurang ajar dengan wangi kopi di mejanya, menginvasi indra penciumannya tanpa permisi. Tangannya perlahan naik, meremas ujung kemejanya tepat di atas dada kiri. Gila. Jihan menelan ludah. Sistem saraf gue pasti lagi konslet. Berani-beraninya seorang Marvin Alexander—musuh bebuyutannya, si cowok brengsek bermulut tajam itu—membuat jantungnya berdebar dengan ritme yang memalukan seperti ini? Dengan kasar, Jihan mengusap wajahnya, berusaha mengusir sisa-sisa debaran aneh itu. Ia kembali menatap layar laptopnya. Kursor yang tadi berkedip mengejek kini seolah menunggunya. Kalimat Marvin terngiang kembali di kepalanya, berputar bagai kaset rusak. Ngasih mereka keberanian buat pakai 'topeng' saat dunia lagi jahat-jahatnya. Jari-jari Jihan mulai bergerak di atas keyboard. Awalnya ragu, namun perlahan ketukannya semakin cepat, semakin ritmis. Kata demi kata mengalir begitu saja. Ia tidak lagi menulis strategi penjualan yang kaku dan penuh angka. Ia menulis tentang perasaan. Tentang ketidakamanan, tentang keinginan untuk bersembunyi di balik polesan riasan yang sempurna. Tanpa sadar, Jihan sedang menuangkan isi kepalanya yang paling rapuh ke dalam tugasnya. Dan untuk pertama kalinya sejak berjam-jam lalu, bahu Jihan tak lagi terasa berat. Marvin benar. Pria berandal itu sialnya seratus persen benar. Tapi, yang membuat Jihan gelisah bukan hanya ide brilian itu. Melainkan fakta bahwa Marvin bisa melihat menembus pertahanannya. Fakta bahwa di saat Kalandra—kekasih sempurnanya—hanya melihat Jihan si gadis ceria yang selalu pengertian, Marvin justru menyadari bahwa Jihan sedang bersusah payah menahan tangis sendirian. Malam harinya, rumah mewah Jihan tetap terasa seperti kuburan yang dihiasi lampu kristal. Gadis itu duduk bersila di atas kasur king size-nya yang empuk, memeluk guling dengan pandangan kosong. Getar ponsel di atas nakas membuyarkan lamunannya. Layarnya menyala, menampilkan nama yang paling ia tunggu. Kalandra is calling (Video...) Jihan segera mengatur napas, memaksakan senyum paling cerah sebelum menekan tombol hijau. "Halo, Sayangnya aku!" sapanya dengan nada riang yang dibuat-buat. Wajah Kalandra muncul di layar. Pria itu memakai kaus putih polos yang sedikit kusut. Senyumnya tetap seteduh biasa, tapi kantung matanya menghitam jelas, dan wajahnya pucat karena kelelahan. Latar belakangnya masih berupa dinding putih pucat kamar rawat inap rumah sakit. "Hai, Jihan cantik," balas Kalandra, suaranya serak dan berat. "Maaf ya, aku baru bisa kabarin. Mamah baru aja tidur." Melihat wajah lelah Kalandra, rasa antusias Jihan yang tadinya ingin menceritakan soal marketing plan-nya yang selesai seketika menguap. Ia menelan kembali kata-katanya. Kalandra terlalu lelah untuk mendengarkan celotehannya tentang tugas kampus. "Nggak apa-apa, Ndra. Kamu kelihatan capek banget. Udah makan belum?" tanya Jihan lembut. Kalandra mengusap tengkuknya sambil tersenyum tipis. "Udah, tadi di kantin bawah. Kamu gimana? Tugasnya lancar? Maaf banget aku nggak bisa nemenin kamu cari inspirasi ke kafe." Aku ketemu Marvin, Ndra. Dan dia bantuin aku nyelesaiin semuanya. Kalimat itu tertahan di ujung lidah Jihan. Tidak mungkin ia menceritakan itu pada Kalandra. Ia tidak ingin menambah beban pikiran kekasihnya dengan hal yang tidak penting. "Lancar kok, Yang," bohong Jihan sambil tersenyum manis. "Kamu fokus aja jagain Mamah. Nggak usah mikirin aku." Kalandra menatap Jihan dengan sorot penuh rasa syukur. "Kamu emang pacar terbaik, Han. Makasih ya selalu ngertiin aku. Aku beruntung banget punya kamu yang nggak pernah nuntut macam-macam." Kalimat itu seharusnya membuat Jihan melayang. Tapi entah kenapa, malam ini, pujian itu terasa seperti rantai yang mengikat lehernya. Nggak pernah nuntut macam-macam. Kalandra mencintai versi Jihan yang mandiri, ceria, dan pengertian. Bisakah Kalandra menerima jika Jihan merengek, mengeluh, dan menangis karena kesepian? "Yaudah, kamu tidur gih. Jangan sampai ikutan sakit," ucap Jihan pelan. Setelah panggilan ditutup, Jihan kembali terdiam dalam kamarnya yang luas dan hening. Kalandra adalah rumahnya. Tapi malam ini, mengapa rumah itu terasa berada di benua yang berbeda? Keesokan paginya di kampus, langit cerah tanpa awan tak sejalan dengan hawa dingin yang menguar di koridor utama Fakultas Teknik. "Kamu gila, Marvin?!" Suara melengking Maudy memantul di dinding koridor, mengundang tatapan penasaran dari beberapa mahasiswa yang melintas. Gadis itu berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Matanya melotot menatap pria di hadapannya. Marvin berdiri dengan kedua tangan masuk ke dalam saku jaket jeans-nya. Ia menyandar santai pada loker besi, menatap Maudy dengan ekspresi datar yang begitu dingin, nyaris tak bernyawa. "Tujuh belas missed call, Marvin! Tujuh belas!" rutuk Maudy sambil mengguncang-guncangkan ponselnya di depan wajah Marvin. "Semalam kamu ke mana hah?! Terus jam enam sore tiba-tiba nomor kamu nggak aktif! Kamu lagi sama cewek lain?!" Marvin menghela napas malas. Ia menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam mata Maudy yang dipenuhi ego dan kepanikan. "Udah marahnya?" tanya Marvin dengan nada kelewat tenang. Sangat kontras dengan histeria Maudy. Maudy terdiam sejenak, dadanya naik turun. "Marvin, kamu—" "Kita putus aja, Dy," potong Marvin telak. Singkat, padat, dan tanpa intonasi keraguan sedikit pun. Mata Maudy membulat sempurna. Mulutnya sedikit terbuka, seolah baru saja disiram seember air es di tengah hari yang terik. "K-kamu bilang apa barusan?" "Lo dengar gue," jawab Marvin santai. Ia menegakkan tubuhnya, bersiap pergi. "Gue capek, Dy. Hubungan ini dari awal cuma buat nurutin gengsi lo doang. Lo butuh trofi buat dipamerin, dan gue bukan barang pajangan. Mulai sekarang, berhenti cari gue." "Marvin Alexander!" jerit Maudy tertahan, matanya mulai berkaca-kaca antara marah dan tak terima. Ego-nya terluka parah. "Kamu nggak bisa mutusin aku sepihak kayak gini! Kamu pikir kamu siapa, hah?!" "Gue? Gue cowok brengsek, Dy. Kayak kata orang-orang. Jadi, jangan buang waktu lo buat cowok red flag kayak gue." Marvin memberikan senyum miring andalannya—senyum sinis yang tak pernah mencapai matanya. Tanpa memedulikan Maudy yang mulai menangis dan meneriakkan makian, Marvin membalikkan badan dan melangkah pergi menyusuri koridor dengan langkah panjang nan santai. Ia merasa lepas. Ia sudah terlalu lelah menjadikan gadis lain sebagai pelarian atas perasaannya yang tak pernah bisa ia matikan. Namun, baru beberapa meter ia berjalan melewati tikungan koridor menuju lobi fakultas bisnis, langkah Marvin mendadak terhenti. Sekitar lima meter di depannya, berdiri seorang gadis dengan cardigan krem dan rambut sebahu yang dibiarkan tergerai ditiup angin. Gadis itu memegang tumpukan map, matanya membelalak kaget menatap Marvin. Jihan. Gadis itu berdiri di sana, membeku. Dari jarak sedekat ini dan keheningan koridor pagi, Marvin yakin seratus persen Jihan baru saja mendengar seluruh pertengkarannya dengan Maudy. Mata mereka bersirobok. Terkunci satu sama lain. Jihan dengan keterkejutannya, dan Marvin dengan... kelegaan yang aneh. Marvin tidak memalingkan wajah, tidak juga pura-pura salah tingkah. Pria itu justru melangkah maju, terus mendekati Jihan yang mendadak menahan napas. Langkah sepatu boots Marvin menggema pelan, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma peppermint itu kembali menampar indra penciuman Jihan. Marvin berhenti tepat di hadapan Jihan. Pria itu menunduk, bibirnya menyunggingkan senyum tipis—bukan senyum smirk menyebalkan, melainkan senyum lelah namun tulus yang membuat jantung Jihan kembali berdetak dalam ritme yang sangat berbahaya. "Kenapa ngelihatin gue kayak gitu?" bisik Marvin pelan, suaranya serak dan dalam. "Udah puas dengar gue dicampakkan?" "L-lo yang mutusin, gila," balas Jihan tergagap, merutuki suaranya sendiri yang terdengar sedikit bergetar. Marvin terkekeh pelan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, membuat jarak mereka tersisa hanya sekepal tangan. Matanya menatap bibir Jihan sekilas sebelum kembali mengunci tatapan mata gadis itu. "Gue harus bersihin posisi, Han," bisik Marvin tepat di depan wajah Jihan. "Gue nggak suka ada yang ngalangin pandangan gue... saat gue lagi fokus merhatiin orang yang beneran gue mau."Tujuh tahun setelah malam kelulusan sarjana Aria, ruang keluarga townhouse Jihan dan Marvin kembali berubah menjadi arena gladiator berdarah dingin. Bara, yang kini telah bermetamorfosis menjadi seorang arsitek muda sukses beraura tenang, duduk dengan punggung tegak lurus seolah sedang berhadapan dengan regu tembak. Di atas meja kaca tepat di hadapannya, tergeletak sebuah kotak beludru merah kecil yang terbuka, memamerkan cincin berlian berpotongan zamrud. "Sebuah cincin yang manis, anak muda," Marx Vance memecah keheningan yang mencekik, ujung tongkat singanya menunjuk kotak tersebut dengan gerakan meremehkan. "Tapi apakah kau tahu bahwa cucuku memiliki akses langsung ke tambang berlian mentah di Afrika Selatan? Apa yang membuatmu berpikir sepotong karbon berkilau ini cukup untuk membeli sisa umur pewarisku?" Di seberang sofa, Pak Darmawan sibuk mengetuk-ngetuk layar tabletnya tanpa mengangkat wajah. "Aku sudah menyiapkan draf perjanjian pranikah setebal tiga ratus halaman. Ini
Angin pegunungan Wonosobo yang menggigit tulang menyambut kedatangan Aria beserta konvoi kecilnya. Kabut tebal turun merayap lambat, menyelimuti hamparan kebun teh yang berundak hijau sejauh mata memandang. Di tengah jalanan makadam yang terjal dan licin, deru mesin motor custom Aria memecah keheningan alam dengan ritme yang stabil, membuktikan bahwa ketangguhan rakitan gadis itu sama liarnya dengan insting sang ayah.Setelah berjam-jam membelah rute pedalaman yang menguji adrenalin, mata elang Aria menangkap sebuah plang kayu usang di persimpangan jalan tanah. Sebuah tulisan pudar berbunyi 'Cito-Oko' terpampang di sana, persis seperti informasi rahasia yang ia dapatkan dari forum perajin mesin bawah tanah. Tempat itu sama sekali tidak menyerupai bengkel modern, melainkan sebuah pelataran luas beralaskan tanah padat di belakang rumah kayu. Di sana, para montir lokal tengah menempa bongkahan logam tua menjadi suku cadang handmade bernilai tinggi.Kedatangan sekelompok mahas
Dua minggu sebelum masa orientasi mahasiswa dimulai, langit Kota Bandung menjadi saksi bisu kegilaan dua kakek super kaya yang menolak keras membiarkan cucu mereka hidup seperti mahasiswa biasa. Kesepakatan awal untuk membiarkan Aria "hidup mandiri" ternyata diterjemahkan secara sangat ekstrem oleh Marx Vance dan Pak Darmawan.Perang akuisisi properti dimulai dalam senyap. Pak Darmawan lebih dulu mengutus tim pengacaranya untuk membeli seluruh lantai penthouse di apartemen paling elite di Ciumbuleuit, lengkap dengan taman gantung dan sistem filtrasi air setara rumah sakit. Namun, Marx Vance sang raja mafia merasa itu belum cukup aman. Hanya dalam kurun waktu dua hari, Marx membeli seluruh gedung apartemen tersebut, mengusir sisa penghuni dengan kompensasi sepuluh kali lipat, dan menyulap lobi gedung menjadi pos komando taktis yang dijaga oleh anak buah Carlo yang menyamar secara bergantian sebagai satpam, kurir paket, hingga tukang sapu jalanan.Jihan hanya bisa mengurut d
Waktu melesat lebih cepat dari putaran mesin V8. Aria Vance kini duduk di kelas dua belas, dan kata 'kuliah' resmi menjadi pemicu kepanikan nasional tingkat tinggi di kediaman keluarga Vance-Darmawan.Malam itu, ruang keluarga townhouse Jihan dan Marvin tidak lagi terlihat seperti tempat bersantai, melainkan ruang konferensi intelijen. Meja kaca di tengah ruangan tertutup rapat oleh dua tumpukan dokumen yang saling bersaing.Di sisi kiri, Pak Darmawan menyusun rapi setumpuk brosur universitas Ivy League, lengkap dengan cetak biru rencana ekspansi perusahaan propertinya sepuluh tahun ke depan. Di sisi kanan, Marx Vance membentangkan peta geopolitik dunia, brosur akademi militer swasta dari Swiss, dan dokumen kepemilikan pabrik senjata yang baru saja ia beli atas nama Aria."Harvard Business School adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal, Vance!" Pak Darmawan memulai persidangan, mengetuk brosurnya dengan pena emas murni. "Aria akan mewarisi takhta Darmawan Group.
Keheningan romantis di gazebo itu akhirnya pecah oleh derit halus ban mobil yang bergesekan dengan aspal paving pelataran rumah. Marvin melirik jam tangan chronograph di pergelangan kirinya di bawah temaram lampu gantung. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh sembilan menit. Sisa enam puluh detik sebelum ancaman ban kempes dari sang mantan penguasa dunia bawah itu benar-benar dieksekusi. Dari balik pagar kayu, terdengar suara pintu mobil ditutup dengan sangat tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, Aria berjalan santai memasuki halaman belakang, sementara siluet Bara di kejauhan terlihat berlari kembali ke kursi kemudi seolah nyawanya sedang dipertaruhkan. Deru mesin mobil pemuda itu melesat pergi tepat saat jarum detik menyentuh angka dua belas. Jihan terkekeh pelan di dalam pelukan suaminya. "Nyali anak itu patut diacungi jempol. Dia benar-benar berani menantang batas kecepatan kota Jakarta demi mengalahkan tenggat waktu dari algojo
Deru mesin mobil Bara kembali terdengar di pelataran rumah pada malam Minggu berikutnya. Kali ini, remaja itu terlihat sedikit lebih rileks, meski postur tubuhnya tetap tegap layaknya prajurit yang sedang menjalani wajib militer. Aria turun dari lantai dua mengenakan dress selutut berwarna navy dan cardigan tipis, memancarkan pesona Jihan di masa mudanya namun dengan langkah merdeka ala Marvin."Papa, Mama, Aria pergi dulu," pamit gadis itu seraya mencium pipi kedua orang tuanya.Marvin mengangguk, melipat lengannya di depan dada. "Jam sepuluh tepat, Bara. Lewat semenit, ban mobil lo otomatis gue kempesin dari jauh pakai remote."Bara menelan ludah dan mengangguk kaku, berjanji dengan sungguh-sungguh akan mengembalikan Aria tanpa kurang satu lecet pun. Begitu siluet mobil mereka menghilang di balik gerbang, keheningan yang asing namun mendamaikan turun menyelimuti rumah tersebut. Jihan menoleh menatap suaminya, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa min







