공유

5

last update 게시일: 2026-08-09 12:00:07

​Hujan gerimis malam itu berubah menjadi tirai kelabu yang membungkus jalanan kota. Di atas jok motor sport Marvin, Jihan duduk merosot, membenamkan wajahnya di punggung lebar sang pria. Jaket kulit Marvin yang masih menyisakan kehangatan tubuh dan aroma peppermint-nya membungkus tubuh Jihan yang basah dan gemetar.

​Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka selama perjalanan. Marvin membawa motornya dengan kecepatan konstan, membelah keheningan malam hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat asing—sebuah kedai kopi kecil di sudut distrik seni yang sudah tutup, tapi pintunya dibukakan oleh pemiliknya khusus untuk Marvin.

​Di dalam kedai yang temaram dan hangat, Marvin menyodorkan segelas cokelat panas mengepul ke tangan Jihan yang masih membeku.

​Jihan menerima mug itu dengan tangan gemetar. Ia menatap cairan cokelat di dalam cangkir, sementara air matanya kembali meleleh tanpa suara, membasahi pipinya yang dingin. Semua beban yang ia pendam—rumah yang terasa seperti penjara es, kebohongan Kalandra, hingga kenyataan pahit tentang perjodohan demi biaya rumah sakit—bercampur menjadi satu rasa sesak yang menghancurkan pertahanannya.

​Marvin duduk di kursi seberangnya. Ia tidak mendesak, tidak juga melontarkan kalimat sok puitis. Pria itu hanya melepas jaketnya, menyandarkan punggung, dan membiarkan Jihan menangis. Menangis sejadi-jadinya, melepaskan segala kepedihan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng tawa dan cerewetnya.

​"Menangislah sepuas lo, Han," suara Marvin rendah, memecah sunyi. "Gue nggak bakal nanya apa-apa sebelum lo sendiri yang mau cerita."

​Kata-kata itu justru membuat isak Jihan semakin pecah. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak menuntutnya untuk selalu kuat. Ada seseorang yang melihat kerapuhannya dan tidak lari ketakutan.

​Jihan mendongak, menatap mata elang Marvin yang dipenuhi kilat ketulusan yang menyakitkan. Tanpa sadar, malam itu, di antara sisa isak tangisnya, Jihan mulai berbicara. Ia menceritakan semuanya. Tentang kesepian di rumahnya, tentang Kalandra yang menjadi satu-satunya sandarannya, hingga rahasia rumah sakit dan perjodohan yang baru saja ia dengar di balik pintu bangsal.

​Marvin mendengarkan setiap patah kata dengan saksama. Rahangnya mengetat, emosi bergolak di dadanya mendengar betapa rapuhnya gadis yang selama ini dicintainya dari kejauhan disia-siakan oleh orang-orang terdekatnya.

​"Dia bukan tempat pulang yang aman buat lo, Han," ucap Marvin pelan saat Jihan akhirnya terdiam. Tangannya terulur melintasi meja, ragu-ragu sejenak sebelum menyentuh jemari Jihan yang dingin. "Kalau rumah lo runtuh, lo nggak harus terus-terusan maksain diri berdiri di bawah reruntuhannya."

​Jihan terpaku menatap tautan tangan mereka. Hangat. Begitu kontras dengan dinginnya malam dan hancurnya isi kepalanya.

​Di titik itu, Jihan menyadari satu hal yang selama ini ia takutkan untuk akui: benteng pertahanannya telah jebol sepenuhnya. Dan pria di hadapannya—si berandal kampus yang selama ini ia anggap musuh—kini menjelma menjadi satu-satunya tempat ia bisa bernapas dengan lega.

Pada setiap aksara yang kutitipkan kepada

waktu

ada serpih diri yang sengaja kuasingkan dari tubuhku.

Barangkali ini terdengar ganjl; bahkan sedikit utopis. Namun aku percaya, pada suatu masa ketika jasadku telah menjadi bagian dari tanah dan namaku hanya tinggal gema yang samar di lorong ingatan, seseorang akan menelusuri jejak-jejak yang kutinggalkan. la akan

memunguti makna yang tercerai-berai dari tiap

kalimat, merangkai kepingan batinku yang

berserakan di antara metafora dan sunyi,

hingga akhirnya memperoleh suatu pengertian

yang tak pernah sempat diberikan dunia kepadaku ketika aku masih bernapas.

Sebab sejatinya manusia bukanlah tubuh yang

berjalan, melainkan misteri yang berusaha

diterjemahkan. Dan aku pun demikian; sebuah

teka-teki yang kerap gagal dibaca oleh

dan namaku hanya tinggal gema yang samar di

lorong ingatan, seseorang akan menelusuri

jejak-jejak yang kutinggalkan. la akan

memunguti makna yang tercerai-berai dari tiap

kalimat, merangkai kepingan batinku yang

berserakan di antara metafora dan sunyi,

hingga akhirnya memperoleh suatu pengertian

yang tak pernah sempat diberikan dunia kepadaku ketika aku masih bernapas.

Sebab sejatinya manusia bukanlah tubuh yang

berjalan, melainkan misteri yang berusaha

diterjemahkan. Dan aku pun demikian; sebuah

teka-teki yang kerap gagal dibaca oleh

zamannya sendiri. Maka apabila kelak

seseorang menutup lembar terakhir risalahku, aku berharap ia terdiam sejenak, lalu berbisik kepada semesta yang lengang:

"Betapa malangnya, ia baru dipahami setelah

tak lagi dapat mendengar bahwa dirinya dicintai!

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   6

    Pelukan Kalandra malam itu seharusnya menjadi penawar dari segala luka. Biasanya, dekapan hangat pria inilah yang menjadi satu-satunya tempat Jihan merengkuh kewarasannya kembali setelah dihancurkan oleh sepinya rumah.​Namun malam ini, semuanya terasa berbeda.​Di bawah cahaya lampu teras yang temaram, Jihan bisa merasakan bahu Kalandra yang sedikit bergetar, meski pria itu berusaha keras menyembunyikannya. Aroma parfum Kalandra yang menenangkan kini bercampur dengan bau khas rumah sakit dan keringat dingin akibat kelelahan yang ekstrem.​"Aku nggak butuh kamu berjuang sendirian buat aku, Ndra," bisik Jihan lirih, suaranya teredam di dada Kalandra. Air matanya merembes membasahi kaus pria itu. "Cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban sampai hancur. Gimana aku bisa bahagia kalau kebahagiaan itu dibayar pakai kehancuran kamu?"​Kalandra mengurai pelukan mereka perlahan. Tangan besarnya menangkup kedua pipi Jihan yang basah, ibu jarinya mengusap jeja

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   5

    ​Hujan gerimis malam itu berubah menjadi tirai kelabu yang membungkus jalanan kota. Di atas jok motor sport Marvin, Jihan duduk merosot, membenamkan wajahnya di punggung lebar sang pria. Jaket kulit Marvin yang masih menyisakan kehangatan tubuh dan aroma peppermint-nya membungkus tubuh Jihan yang basah dan gemetar.​Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka selama perjalanan. Marvin membawa motornya dengan kecepatan konstan, membelah keheningan malam hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat asing—sebuah kedai kopi kecil di sudut distrik seni yang sudah tutup, tapi pintunya dibukakan oleh pemiliknya khusus untuk Marvin.​Di dalam kedai yang temaram dan hangat, Marvin menyodorkan segelas cokelat panas mengepul ke tangan Jihan yang masih membeku.​Jihan menerima mug itu dengan tangan gemetar. Ia menatap cairan cokelat di dalam cangkir, sementara air matanya kembali meleleh tanpa suara, membasahi pipinya yang dingin. Semua beban yang ia pendam—rumah yang terasa seperti

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   4

    Kalimat itu jatuh begitu saja di udara, menggantung di antara mereka dengan gravitasi yang luar biasa berat. Jihan merasa oksigen di koridor mendadak lenyap. Otaknya berhenti bekerja, mendadak mengalami buffering hebat mencerna implikasi dari pengakuan telak yang baru saja dilontarkan oleh pria di hadapannya.​Orang yang beneran gue mau?​Jantung Jihan melompat ke tenggorokan. Ia membuka mulutnya, berniat melontarkan protes atau sekadar sarkasme untuk menutupi salah tingkahnya, tapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Matanya berkedip cepat, terpaku pada manik mata elang Marvin yang menatapnya dengan intensitas yang sanggup membakar kulit. Tidak ada topeng berandal, tidak ada seringai mengejek. Yang ada hanya kejujuran yang telanjang—dan itu jauh lebih menakutkan bagi Jihan.​"Marvin, lo..." cicit Jihan, suaranya nyaris tak terdengar di antara debar jantungnya sendiri.​Sebelum Marvin sempat menjawab atau menarik jarak, suara derap langkah kaki dan suara bising sekelompok mahasiswa

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   3

    Jihan mengerjap. Sekali. Dua kali.​Matanya masih terpaku pada pintu kaca kafe yang baru saja tertutup, menelan siluet punggung tegap Marvin dalam temaramnya senja. Aroma peppermint pria itu entah kenapa masih tertinggal di udara, berbaur secara kurang ajar dengan wangi kopi di mejanya, menginvasi indra penciumannya tanpa permisi.​Tangannya perlahan naik, meremas ujung kemejanya tepat di atas dada kiri.​Gila. Jihan menelan ludah. Sistem saraf gue pasti lagi konslet.​Berani-beraninya seorang Marvin Alexander—musuh bebuyutannya, si cowok brengsek bermulut tajam itu—membuat jantungnya berdebar dengan ritme yang memalukan seperti ini?​Dengan kasar, Jihan mengusap wajahnya, berusaha mengusir sisa-sisa debaran aneh itu. Ia kembali menatap layar laptopnya. Kursor yang tadi berkedip mengejek kini seolah menunggunya. Kalimat Marvin terngiang kembali di kepalanya, berputar bagai kaset rusak.​Ngasih mereka keberanian buat pakai 'topeng' saat dunia lagi jahat-jahatnya.​Jari-jari Jihan mulai

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   2

    Keesokan sorenya, aroma biji kopi yang dipanggang dan wangi garam dari arah laut bercampur menjadi satu di udara.​Sesuai rencananya kemarin, Jihan akhirnya menginjakkan kaki di Blue Tides, kafe baru di ujung jalan yang menghadap langsung ke lautan lepas. Hanya saja, ia datang sendirian. Kalandra masih terjebak di rumah sakit, menunggu jadwal kemoterapi ibunya yang mendadak dimajukan.​Jihan duduk di sudut paling sepi, menghadap jendela kaca besar yang membingkai ombak sore. Layar laptopnya menyala terang, menampilkan draf marketing plan yang sudah dua jam terakhir hanya ia tatap kosong. Kursornya berkedip-kedip seolah mengejek kebuntuannya.​Gadis itu menghela napas panjang, menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua tangan. Kepalanya pening. Perasaan sepi dari rumah besar semalam rupanya masih mengikutinya bak awan kelabu.​Tiba-tiba, suara derit kaki kursi yang ditarik paksa membuat Jihan mendongak.​Aroma peppermint yang tajam, bercampur dengan wangi maskulin dari parfum yang sangat

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   1

    Udara siang di kafetaria Fakultas Bisnis terasa pengap, tapi Jihan Andexa seolah memiliki pasokan oksigennya sendiri. Jari-jari lentiknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme cepat, sementara bibirnya tak henti menembakkan rentetan kalimat tanpa koma.​"Pokoknya, abis ini kita harus mampir ke kafe baru yang di ujung jalan itu. Kamu tahu kan, Yang, aku butuh banget ngerjain revisi skripsi dengan view laut lepas," cerocos Jihan, matanya berbinar-binar penuh harap menatap pria di hadapannya. Ia menopang dagu, memajukan wajah. "Biar jiwa aku sejuk. Sama satu lagi, aku butuh banget lari dari kebisingan otakku yang rasanya mau meledak gara-gara ngejar target marketing plan sialan ini!"​Di seberang meja, Kalandra Exder hanya tersenyum. Senyum yang selalu sama: teduh, sabar, dan tak pernah menghakimi sekecil apa pun keanehan Jihan. Tangannya terulur lembut, merapikan anak rambut yang menempel di dahi gadis itu, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.​"Iya, Jihan cantik," suara

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status