LOGINHujan gerimis malam itu berubah menjadi tirai kelabu yang membungkus jalanan kota. Di atas jok motor sport Marvin, Jihan duduk merosot, membenamkan wajahnya di punggung lebar sang pria. Jaket kulit Marvin yang masih menyisakan kehangatan tubuh dan aroma peppermint-nya membungkus tubuh Jihan yang basah dan gemetar.
Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka selama perjalanan. Marvin membawa motornya dengan kecepatan konstan, membelah keheningan malam hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat asing—sebuah kedai kopi kecil di sudut distrik seni yang sudah tutup, tapi pintunya dibukakan oleh pemiliknya khusus untuk Marvin. Di dalam kedai yang temaram dan hangat, Marvin menyodorkan segelas cokelat panas mengepul ke tangan Jihan yang masih membeku. Jihan menerima mug itu dengan tangan gemetar. Ia menatap cairan cokelat di dalam cangkir, sementara air matanya kembali meleleh tanpa suara, membasahi pipinya yang dingin. Semua beban yang ia pendam—rumah yang terasa seperti penjara es, kebohongan Kalandra, hingga kenyataan pahit tentang perjodohan demi biaya rumah sakit—bercampur menjadi satu rasa sesak yang menghancurkan pertahanannya. Marvin duduk di kursi seberangnya. Ia tidak mendesak, tidak juga melontarkan kalimat sok puitis. Pria itu hanya melepas jaketnya, menyandarkan punggung, dan membiarkan Jihan menangis. Menangis sejadi-jadinya, melepaskan segala kepedihan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng tawa dan cerewetnya. "Menangislah sepuas lo, Han," suara Marvin rendah, memecah sunyi. "Gue nggak bakal nanya apa-apa sebelum lo sendiri yang mau cerita." Kata-kata itu justru membuat isak Jihan semakin pecah. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak menuntutnya untuk selalu kuat. Ada seseorang yang melihat kerapuhannya dan tidak lari ketakutan. Jihan mendongak, menatap mata elang Marvin yang dipenuhi kilat ketulusan yang menyakitkan. Tanpa sadar, malam itu, di antara sisa isak tangisnya, Jihan mulai berbicara. Ia menceritakan semuanya. Tentang kesepian di rumahnya, tentang Kalandra yang menjadi satu-satunya sandarannya, hingga rahasia rumah sakit dan perjodohan yang baru saja ia dengar di balik pintu bangsal. Marvin mendengarkan setiap patah kata dengan saksama. Rahangnya mengetat, emosi bergolak di dadanya mendengar betapa rapuhnya gadis yang selama ini dicintainya dari kejauhan disia-siakan oleh orang-orang terdekatnya. "Dia bukan tempat pulang yang aman buat lo, Han," ucap Marvin pelan saat Jihan akhirnya terdiam. Tangannya terulur melintasi meja, ragu-ragu sejenak sebelum menyentuh jemari Jihan yang dingin. "Kalau rumah lo runtuh, lo nggak harus terus-terusan maksain diri berdiri di bawah reruntuhannya." Jihan terpaku menatap tautan tangan mereka. Hangat. Begitu kontras dengan dinginnya malam dan hancurnya isi kepalanya. Di titik itu, Jihan menyadari satu hal yang selama ini ia takutkan untuk akui: benteng pertahanannya telah jebol sepenuhnya. Dan pria di hadapannya—si berandal kampus yang selama ini ia anggap musuh—kini menjelma menjadi satu-satunya tempat ia bisa bernapas dengan lega. Pada setiap aksara yang kutitipkan kepada waktu ada serpih diri yang sengaja kuasingkan dari tubuhku. Barangkali ini terdengar ganjl; bahkan sedikit utopis. Namun aku percaya, pada suatu masa ketika jasadku telah menjadi bagian dari tanah dan namaku hanya tinggal gema yang samar di lorong ingatan, seseorang akan menelusuri jejak-jejak yang kutinggalkan. la akan memunguti makna yang tercerai-berai dari tiap kalimat, merangkai kepingan batinku yang berserakan di antara metafora dan sunyi, hingga akhirnya memperoleh suatu pengertian yang tak pernah sempat diberikan dunia kepadaku ketika aku masih bernapas. Sebab sejatinya manusia bukanlah tubuh yang berjalan, melainkan misteri yang berusaha diterjemahkan. Dan aku pun demikian; sebuah teka-teki yang kerap gagal dibaca oleh dan namaku hanya tinggal gema yang samar di lorong ingatan, seseorang akan menelusuri jejak-jejak yang kutinggalkan. la akan memunguti makna yang tercerai-berai dari tiap kalimat, merangkai kepingan batinku yang berserakan di antara metafora dan sunyi, hingga akhirnya memperoleh suatu pengertian yang tak pernah sempat diberikan dunia kepadaku ketika aku masih bernapas. Sebab sejatinya manusia bukanlah tubuh yang berjalan, melainkan misteri yang berusaha diterjemahkan. Dan aku pun demikian; sebuah teka-teki yang kerap gagal dibaca oleh zamannya sendiri. Maka apabila kelak seseorang menutup lembar terakhir risalahku, aku berharap ia terdiam sejenak, lalu berbisik kepada semesta yang lengang: "Betapa malangnya, ia baru dipahami setelah tak lagi dapat mendengar bahwa dirinya dicintai!Dua minggu sebelum masa orientasi mahasiswa dimulai, langit Kota Bandung menjadi saksi bisu kegilaan dua kakek super kaya yang menolak keras membiarkan cucu mereka hidup seperti mahasiswa biasa. Kesepakatan awal untuk membiarkan Aria "hidup mandiri" ternyata diterjemahkan secara sangat ekstrem oleh Marx Vance dan Pak Darmawan.Perang akuisisi properti dimulai dalam senyap. Pak Darmawan lebih dulu mengutus tim pengacaranya untuk membeli seluruh lantai penthouse di apartemen paling elite di Ciumbuleuit, lengkap dengan taman gantung dan sistem filtrasi air setara rumah sakit. Namun, Marx Vance sang raja mafia merasa itu belum cukup aman. Hanya dalam kurun waktu dua hari, Marx membeli seluruh gedung apartemen tersebut, mengusir sisa penghuni dengan kompensasi sepuluh kali lipat, dan menyulap lobi gedung menjadi pos komando taktis yang dijaga oleh anak buah Carlo yang menyamar secara bergantian sebagai satpam, kurir paket, hingga tukang sapu jalanan.Jihan hanya bisa mengurut d
Waktu melesat lebih cepat dari putaran mesin V8. Aria Vance kini duduk di kelas dua belas, dan kata 'kuliah' resmi menjadi pemicu kepanikan nasional tingkat tinggi di kediaman keluarga Vance-Darmawan.Malam itu, ruang keluarga townhouse Jihan dan Marvin tidak lagi terlihat seperti tempat bersantai, melainkan ruang konferensi intelijen. Meja kaca di tengah ruangan tertutup rapat oleh dua tumpukan dokumen yang saling bersaing.Di sisi kiri, Pak Darmawan menyusun rapi setumpuk brosur universitas Ivy League, lengkap dengan cetak biru rencana ekspansi perusahaan propertinya sepuluh tahun ke depan. Di sisi kanan, Marx Vance membentangkan peta geopolitik dunia, brosur akademi militer swasta dari Swiss, dan dokumen kepemilikan pabrik senjata yang baru saja ia beli atas nama Aria."Harvard Business School adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal, Vance!" Pak Darmawan memulai persidangan, mengetuk brosurnya dengan pena emas murni. "Aria akan mewarisi takhta Darmawan Group.
Keheningan romantis di gazebo itu akhirnya pecah oleh derit halus ban mobil yang bergesekan dengan aspal paving pelataran rumah. Marvin melirik jam tangan chronograph di pergelangan kirinya di bawah temaram lampu gantung. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh sembilan menit. Sisa enam puluh detik sebelum ancaman ban kempes dari sang mantan penguasa dunia bawah itu benar-benar dieksekusi. Dari balik pagar kayu, terdengar suara pintu mobil ditutup dengan sangat tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, Aria berjalan santai memasuki halaman belakang, sementara siluet Bara di kejauhan terlihat berlari kembali ke kursi kemudi seolah nyawanya sedang dipertaruhkan. Deru mesin mobil pemuda itu melesat pergi tepat saat jarum detik menyentuh angka dua belas. Jihan terkekeh pelan di dalam pelukan suaminya. "Nyali anak itu patut diacungi jempol. Dia benar-benar berani menantang batas kecepatan kota Jakarta demi mengalahkan tenggat waktu dari algojo
Deru mesin mobil Bara kembali terdengar di pelataran rumah pada malam Minggu berikutnya. Kali ini, remaja itu terlihat sedikit lebih rileks, meski postur tubuhnya tetap tegap layaknya prajurit yang sedang menjalani wajib militer. Aria turun dari lantai dua mengenakan dress selutut berwarna navy dan cardigan tipis, memancarkan pesona Jihan di masa mudanya namun dengan langkah merdeka ala Marvin."Papa, Mama, Aria pergi dulu," pamit gadis itu seraya mencium pipi kedua orang tuanya.Marvin mengangguk, melipat lengannya di depan dada. "Jam sepuluh tepat, Bara. Lewat semenit, ban mobil lo otomatis gue kempesin dari jauh pakai remote."Bara menelan ludah dan mengangguk kaku, berjanji dengan sungguh-sungguh akan mengembalikan Aria tanpa kurang satu lecet pun. Begitu siluet mobil mereka menghilang di balik gerbang, keheningan yang asing namun mendamaikan turun menyelimuti rumah tersebut. Jihan menoleh menatap suaminya, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa min
Tujuh hari setelah Aria memberikan ultimatumnya, ruang makan keluarga Darmawan-Vance berubah menjadi arena uji nyali. Alih-alih makan malam kasual yang diharapkan Aria, Marx Vance dan Pak Darmawan menyulap ruangan itu menjadi lokasi jamuan kenegaraan tingkat tinggi.Bara duduk membeku di kursi pualam yang terasa sedingin es. Remaja malang itu mengenakan setelan jas rapi yang kerahnya tampak mencekik lehernya sendiri. Di hadapannya, tersaji hidangan foie gras, caviar, dan irisan truffle putih yang mungkin harganya setara dengan uang jajannya selama tiga tahun."Jadi, anak muda," Marx Vance memotong daging steak wagyu A5-nya dengan gerakan lambat yang sangat mengancam. Pria paruh baya itu menatap tajam layaknya elang yang mengincar mangsa. "Bagaimana pendapatmu tentang fluktuasi pasar gelap... maksudku, pasar saham global pada kuartal ini? Aku perlu tahu apakah kau punya insting bertahan hidup yang memadai."Di sebelah kanannya, Pak Darmawan menyesap air mineral dari g
Pagi di Serambi Pulang selalu diawali dengan aroma biji kopi panggang dan mentega hangat. Namun, ketenangan Jihan yang sedang menata croissant di etalase harus terhenti saat Marvin melangkah masuk dengan wajah ditekuk maksimal. Mantan peretas jalanan itu tidak mengenakan jaket kulitnya, melainkan kemeja kasual yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, menampakkan kalung rantai peraknya.Di tangan Marvin terdapat sebuah map kulit tebal bergembok digital. Pria itu menghempaskan dirinya di kursi bar depan Jihan, meletakkan map itu dengan bunyi bantingan pelan."Biar kutebak," sapa Jihan santai, menyodorkan secangkir espresso ganda kepada suaminya. "Papa dan Daddy berulah lagi?"Marvin mengusap wajahnya frustrasi, lalu meminum kopinya dalam satu tegukan. Ia menatap Jihan dengan sorot mata putus asa yang hanya pernah ia tunjukkan pada istrinya itu. "Mereka berdua menyewa agen intelijen militer swasta, Han."Jihan menghentikan gerakannya. "Intelijen? Untuk apa?""U







