LOGINPelukan Kalandra malam itu seharusnya menjadi penawar dari segala luka. Biasanya, dekapan hangat pria inilah yang menjadi satu-satunya tempat Jihan merengkuh kewarasannya kembali setelah dihancurkan oleh sepinya rumah.
Namun malam ini, semuanya terasa berbeda. Di bawah cahaya lampu teras yang temaram, Jihan bisa merasakan bahu Kalandra yang sedikit bergetar, meski pria itu berusaha keras menyembunyikannya. Aroma parfum Kalandra yang menenangkan kini bercampur dengan bau khas rumah sakit dan keringat dingin akibat kelelahan yang ekstrem. "Aku nggak butuh kamu berjuang sendirian buat aku, Ndra," bisik Jihan lirih, suaranya teredam di dada Kalandra. Air matanya merembes membasahi kaus pria itu. "Cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban sampai hancur. Gimana aku bisa bahagia kalau kebahagiaan itu dibayar pakai kehancuran kamu?" Kalandra mengurai pelukan mereka perlahan. Tangan besarnya menangkup kedua pipi Jihan yang basah, ibu jarinya mengusap jejak air mata gadis itu dengan kelembutan yang menyayat hati. Pria itu tersenyum—senyum teduh yang selalu sama, namun kini Jihan bisa melihat seberapa banyak keputusasaan yang bersembunyi di balik lengkungan bibir itu. "Kamu adalah satu-satunya hal baik yang tersisa di hidup aku, Han," ucap Kalandra, suaranya serak tertahan. Tatapannya begitu dalam, memohon agar Jihan mengerti. "Tolong, biarin aku jadi pelindung kamu. Biarin aku ngerasa berguna dengan bikin kamu tersenyum. Masalah Mamah, masalah rumah... itu bagian aku. Kamu cukup ada di sini, jadi Jihan-nya aku yang ceria." Kalandra mengecup puncak kepala Jihan lama, menumpahkan segala rasanya di sana. Setelah mengucapkan selamat malam dan menyuruh Jihan istirahat, pria itu berbalik, berjalan gontai menuju mobilnya dan membelah pekatnya malam. Jihan berdiri mematung di ambang pintu. Dadanya sesak bukan main. Kalandra memang pria yang sempurna, terlalu sempurna. Dan sayangnya, kesempurnaan Kalandra malam ini justru terasa seperti rantai emas yang mencekik leher Jihan perlahan-lahan. Kalandra tidak mengizinkan Jihan masuk ke dalam lukanya. Pria itu menempatkan Jihan di atas tumpuan kaca, menuntutnya untuk selalu menjadi 'Tuan Putri' yang bahagia, sementara Kalandra membiarkan dirinya sendiri hancur berdarah-darah menahan pilar yang nyaris rubuh. Dan Jihan membenci kenyataan bahwa ia merasa sangat tidak berguna. Keesokan siangnya, udara kampus terasa lebih gerah dari biasanya. Jihan duduk sendirian di bangku beton bawah pohon rindang dekat perpustakaan pusat. Di hadapannya, setumpuk draf marketing plan terbengkalai begitu saja. Sejak pagi, ia sengaja menghindari Kalandra dengan alasan bimbingan skripsi dadakan. Ia belum siap menatap wajah lelah kekasihnya sambil berpura-pura tidak tahu soal perjodohan sialan itu. Gadis itu menelungkupkan wajahnya di atas lipatan tangan. Kepalanya berdenyut nyeri akibat menangis semalaman. Tiba-tiba, rasa dingin yang mengejutkan menempel di pipi kirinya. Jihan tersentak, mendongak cepat, dan mendapati sebotol teh hijau dingin baru saja ditempelkan ke wajahnya. Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata elang yang menatapnya dengan raut datar yang khas. "Lo kelihatan kayak gembel yang belum tidur tiga hari," komentar Marvin santai. Pria itu menarik kursi kayu di seberang Jihan dan menjatuhkan diri di sana. Ransel hitamnya dilempar sembarangan ke atas meja. Jihan tidak langsung merespons dengan makian seperti biasanya. Ia menatap kaleng teh dingin itu, lalu menatap Marvin. Jaket kulit hitam, kaus band usang, dan rambut ikal yang berantakan. Berandal ini... orang yang melihatnya hancur lebur semalam dan menyelimutinya dengan jaket di tengah hujan. "Ngapain lo di sini? Fakultas Teknik kan jauh di gedung belakang," suara Jihan terdengar serak dan lelah. "Fakultas ini bukan punya bapak lo, kan? Suka-suka gue mau nongkrong di mana," balas Marvin ketus, namun tangannya dengan cekatan membuka tutup botol teh hijau itu dan menyodorkannya tepat ke depan hidung Jihan. "Minum. Bibir lo pucat banget, bikin sakit mata yang lihat." Jihan mendengus pelan, tapi tetap mengambil botol itu dan meneguknya. Rasa dingin dan manis yang mengalir di tenggorokannya entah kenapa sedikit meredakan mual di perutnya. Hening sejenak. Angin siang meniup anak rambut Jihan yang berantakan. Marvin menumpu dagunya dengan satu tangan, menatap Jihan lekat tanpa repot-repot menyembunyikannya. "Jadi, lo mutusin buat pura-pura buta dan lanjut main rumah-rumahan sama cowok lo yang sok pahlawan itu?" tanyanya tiba-tiba, menembak tepat sasaran. Tangan Jihan yang memegang botol mengerat. "Jaga omongan lo, Marvin. Lo nggak tahu apa-apa soal Kalandra." "Oh, gue tahu," potong Marvin cepat. Senyum sinis terbit di bibirnya. "Gue tahu dia cowok baik. Terlalu baik sampai dia pikir dia bisa menanggung beban dunia sendirian, sementara lo disuruh duduk manis jadi penonton. Dan lo... lo benci itu kan, Han?" Skakmat. Napas Jihan tercekat. Matanya melebar menatap Marvin. Bagaimana bisa pria ini selalu membaca isi kepalanya dengan begitu akurat, di saat Kalandra yang sudah memacarinya dua tahun bahkan tidak menyadarinya? "Dia cuma... dia cuma nggak mau gue sedih, Vin," bela Jihan, meski suaranya bergetar bimbang. "Dia bilang, dia bakal ngelakuin apa aja asal gue bahagia." Marvin mendecak pelan, rahangnya mengetat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menipiskan jarak di antara mereka hingga Jihan kembali meremang. "Cinta yang sehat itu jalan berdampingan, Jihan. Bukan satu orang di depan jadi tameng sampai mati, dan yang satu di belakang pura-pura nggak lihat cipratan darahnya," desis Marvin tajam, suaranya rendah namun penuh penekanan. Mata elang itu mengunci tatapan Jihan, menyedot habis seluruh sisa udara di sekitar mereka. "Berhenti bohongin diri lo sendiri. Lo nggak butuh cowok yang memperlakukan lo kayak pajangan porselen yang gampang pecah. Lo butuh partner yang berani narik tangan lo buat lari nembus badai bareng-bareng." Kata-kata Marvin menghantam dada Jihan bak godam besi. Ia mematung, tak mampu membalas. "Gue cabut dulu. Ada kelas," ucap Marvin memecah keheningan yang menyesakkan itu. Ia berdiri, menyandang ranselnya ke bahu. Sebelum benar-benar pergi, Marvin menunduk, berbisik tepat di telinga Jihan. "Kalau lo capek jadi Tuan Putri yang harus selalu senyum di istana palsu itu, lo tahu di mana harus cari gue. Gue red flag, Han. Gue nggak akan pernah janjiin lo hidup yang sempurna... tapi gue janji, gue nggak akan pernah nyuruh lo bersembunyi."Dua minggu sebelum masa orientasi mahasiswa dimulai, langit Kota Bandung menjadi saksi bisu kegilaan dua kakek super kaya yang menolak keras membiarkan cucu mereka hidup seperti mahasiswa biasa. Kesepakatan awal untuk membiarkan Aria "hidup mandiri" ternyata diterjemahkan secara sangat ekstrem oleh Marx Vance dan Pak Darmawan.Perang akuisisi properti dimulai dalam senyap. Pak Darmawan lebih dulu mengutus tim pengacaranya untuk membeli seluruh lantai penthouse di apartemen paling elite di Ciumbuleuit, lengkap dengan taman gantung dan sistem filtrasi air setara rumah sakit. Namun, Marx Vance sang raja mafia merasa itu belum cukup aman. Hanya dalam kurun waktu dua hari, Marx membeli seluruh gedung apartemen tersebut, mengusir sisa penghuni dengan kompensasi sepuluh kali lipat, dan menyulap lobi gedung menjadi pos komando taktis yang dijaga oleh anak buah Carlo yang menyamar secara bergantian sebagai satpam, kurir paket, hingga tukang sapu jalanan.Jihan hanya bisa mengurut d
Waktu melesat lebih cepat dari putaran mesin V8. Aria Vance kini duduk di kelas dua belas, dan kata 'kuliah' resmi menjadi pemicu kepanikan nasional tingkat tinggi di kediaman keluarga Vance-Darmawan.Malam itu, ruang keluarga townhouse Jihan dan Marvin tidak lagi terlihat seperti tempat bersantai, melainkan ruang konferensi intelijen. Meja kaca di tengah ruangan tertutup rapat oleh dua tumpukan dokumen yang saling bersaing.Di sisi kiri, Pak Darmawan menyusun rapi setumpuk brosur universitas Ivy League, lengkap dengan cetak biru rencana ekspansi perusahaan propertinya sepuluh tahun ke depan. Di sisi kanan, Marx Vance membentangkan peta geopolitik dunia, brosur akademi militer swasta dari Swiss, dan dokumen kepemilikan pabrik senjata yang baru saja ia beli atas nama Aria."Harvard Business School adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal, Vance!" Pak Darmawan memulai persidangan, mengetuk brosurnya dengan pena emas murni. "Aria akan mewarisi takhta Darmawan Group.
Keheningan romantis di gazebo itu akhirnya pecah oleh derit halus ban mobil yang bergesekan dengan aspal paving pelataran rumah. Marvin melirik jam tangan chronograph di pergelangan kirinya di bawah temaram lampu gantung. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh sembilan menit. Sisa enam puluh detik sebelum ancaman ban kempes dari sang mantan penguasa dunia bawah itu benar-benar dieksekusi. Dari balik pagar kayu, terdengar suara pintu mobil ditutup dengan sangat tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, Aria berjalan santai memasuki halaman belakang, sementara siluet Bara di kejauhan terlihat berlari kembali ke kursi kemudi seolah nyawanya sedang dipertaruhkan. Deru mesin mobil pemuda itu melesat pergi tepat saat jarum detik menyentuh angka dua belas. Jihan terkekeh pelan di dalam pelukan suaminya. "Nyali anak itu patut diacungi jempol. Dia benar-benar berani menantang batas kecepatan kota Jakarta demi mengalahkan tenggat waktu dari algojo
Deru mesin mobil Bara kembali terdengar di pelataran rumah pada malam Minggu berikutnya. Kali ini, remaja itu terlihat sedikit lebih rileks, meski postur tubuhnya tetap tegap layaknya prajurit yang sedang menjalani wajib militer. Aria turun dari lantai dua mengenakan dress selutut berwarna navy dan cardigan tipis, memancarkan pesona Jihan di masa mudanya namun dengan langkah merdeka ala Marvin."Papa, Mama, Aria pergi dulu," pamit gadis itu seraya mencium pipi kedua orang tuanya.Marvin mengangguk, melipat lengannya di depan dada. "Jam sepuluh tepat, Bara. Lewat semenit, ban mobil lo otomatis gue kempesin dari jauh pakai remote."Bara menelan ludah dan mengangguk kaku, berjanji dengan sungguh-sungguh akan mengembalikan Aria tanpa kurang satu lecet pun. Begitu siluet mobil mereka menghilang di balik gerbang, keheningan yang asing namun mendamaikan turun menyelimuti rumah tersebut. Jihan menoleh menatap suaminya, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa min
Tujuh hari setelah Aria memberikan ultimatumnya, ruang makan keluarga Darmawan-Vance berubah menjadi arena uji nyali. Alih-alih makan malam kasual yang diharapkan Aria, Marx Vance dan Pak Darmawan menyulap ruangan itu menjadi lokasi jamuan kenegaraan tingkat tinggi.Bara duduk membeku di kursi pualam yang terasa sedingin es. Remaja malang itu mengenakan setelan jas rapi yang kerahnya tampak mencekik lehernya sendiri. Di hadapannya, tersaji hidangan foie gras, caviar, dan irisan truffle putih yang mungkin harganya setara dengan uang jajannya selama tiga tahun."Jadi, anak muda," Marx Vance memotong daging steak wagyu A5-nya dengan gerakan lambat yang sangat mengancam. Pria paruh baya itu menatap tajam layaknya elang yang mengincar mangsa. "Bagaimana pendapatmu tentang fluktuasi pasar gelap... maksudku, pasar saham global pada kuartal ini? Aku perlu tahu apakah kau punya insting bertahan hidup yang memadai."Di sebelah kanannya, Pak Darmawan menyesap air mineral dari g
Pagi di Serambi Pulang selalu diawali dengan aroma biji kopi panggang dan mentega hangat. Namun, ketenangan Jihan yang sedang menata croissant di etalase harus terhenti saat Marvin melangkah masuk dengan wajah ditekuk maksimal. Mantan peretas jalanan itu tidak mengenakan jaket kulitnya, melainkan kemeja kasual yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, menampakkan kalung rantai peraknya.Di tangan Marvin terdapat sebuah map kulit tebal bergembok digital. Pria itu menghempaskan dirinya di kursi bar depan Jihan, meletakkan map itu dengan bunyi bantingan pelan."Biar kutebak," sapa Jihan santai, menyodorkan secangkir espresso ganda kepada suaminya. "Papa dan Daddy berulah lagi?"Marvin mengusap wajahnya frustrasi, lalu meminum kopinya dalam satu tegukan. Ia menatap Jihan dengan sorot mata putus asa yang hanya pernah ia tunjukkan pada istrinya itu. "Mereka berdua menyewa agen intelijen militer swasta, Han."Jihan menghentikan gerakannya. "Intelijen? Untuk apa?""U







