Share

6

last update publish date: 2026-08-14 20:29:36

Pelukan Kalandra malam itu seharusnya menjadi penawar dari segala luka. Biasanya, dekapan hangat pria inilah yang menjadi satu-satunya tempat Jihan merengkuh kewarasannya kembali setelah dihancurkan oleh sepinya rumah.

​Namun malam ini, semuanya terasa berbeda.

​Di bawah cahaya lampu teras yang temaram, Jihan bisa merasakan bahu Kalandra yang sedikit bergetar, meski pria itu berusaha keras menyembunyikannya. Aroma parfum Kalandra yang menenangkan kini bercampur dengan bau khas rumah sakit dan keringat dingin akibat kelelahan yang ekstrem.

​"Aku nggak butuh kamu berjuang sendirian buat aku, Ndra," bisik Jihan lirih, suaranya teredam di dada Kalandra. Air matanya merembes membasahi kaus pria itu. "Cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban sampai hancur. Gimana aku bisa bahagia kalau kebahagiaan itu dibayar pakai kehancuran kamu?"

​Kalandra mengurai pelukan mereka perlahan. Tangan besarnya menangkup kedua pipi Jihan yang basah, ibu jarinya mengusap jejak air mata gadis itu dengan kelembutan yang menyayat hati. Pria itu tersenyum—senyum teduh yang selalu sama, namun kini Jihan bisa melihat seberapa banyak keputusasaan yang bersembunyi di balik lengkungan bibir itu.

​"Kamu adalah satu-satunya hal baik yang tersisa di hidup aku, Han," ucap Kalandra, suaranya serak tertahan. Tatapannya begitu dalam, memohon agar Jihan mengerti. "Tolong, biarin aku jadi pelindung kamu. Biarin aku ngerasa berguna dengan bikin kamu tersenyum. Masalah Mamah, masalah rumah... itu bagian aku. Kamu cukup ada di sini, jadi Jihan-nya aku yang ceria."

​Kalandra mengecup puncak kepala Jihan lama, menumpahkan segala rasanya di sana. Setelah mengucapkan selamat malam dan menyuruh Jihan istirahat, pria itu berbalik, berjalan gontai menuju mobilnya dan membelah pekatnya malam.

​Jihan berdiri mematung di ambang pintu. Dadanya sesak bukan main. Kalandra memang pria yang sempurna, terlalu sempurna. Dan sayangnya, kesempurnaan Kalandra malam ini justru terasa seperti rantai emas yang mencekik leher Jihan perlahan-lahan.

​Kalandra tidak mengizinkan Jihan masuk ke dalam lukanya. Pria itu menempatkan Jihan di atas tumpuan kaca, menuntutnya untuk selalu menjadi 'Tuan Putri' yang bahagia, sementara Kalandra membiarkan dirinya sendiri hancur berdarah-darah menahan pilar yang nyaris rubuh.

​Dan Jihan membenci kenyataan bahwa ia merasa sangat tidak berguna.

​Keesokan siangnya, udara kampus terasa lebih gerah dari biasanya.

​Jihan duduk sendirian di bangku beton bawah pohon rindang dekat perpustakaan pusat. Di hadapannya, setumpuk draf marketing plan terbengkalai begitu saja. Sejak pagi, ia sengaja menghindari Kalandra dengan alasan bimbingan skripsi dadakan. Ia belum siap menatap wajah lelah kekasihnya sambil berpura-pura tidak tahu soal perjodohan sialan itu.

​Gadis itu menelungkupkan wajahnya di atas lipatan tangan. Kepalanya berdenyut nyeri akibat menangis semalaman.

​Tiba-tiba, rasa dingin yang mengejutkan menempel di pipi kirinya.

​Jihan tersentak, mendongak cepat, dan mendapati sebotol teh hijau dingin baru saja ditempelkan ke wajahnya. Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata elang yang menatapnya dengan raut datar yang khas.

​"Lo kelihatan kayak gembel yang belum tidur tiga hari," komentar Marvin santai. Pria itu menarik kursi kayu di seberang Jihan dan menjatuhkan diri di sana. Ransel hitamnya dilempar sembarangan ke atas meja.

​Jihan tidak langsung merespons dengan makian seperti biasanya. Ia menatap kaleng teh dingin itu, lalu menatap Marvin. Jaket kulit hitam, kaus band usang, dan rambut ikal yang berantakan. Berandal ini... orang yang melihatnya hancur lebur semalam dan menyelimutinya dengan jaket di tengah hujan.

​"Ngapain lo di sini? Fakultas Teknik kan jauh di gedung belakang," suara Jihan terdengar serak dan lelah.

​"Fakultas ini bukan punya bapak lo, kan? Suka-suka gue mau nongkrong di mana," balas Marvin ketus, namun tangannya dengan cekatan membuka tutup botol teh hijau itu dan menyodorkannya tepat ke depan hidung Jihan. "Minum. Bibir lo pucat banget, bikin sakit mata yang lihat."

​Jihan mendengus pelan, tapi tetap mengambil botol itu dan meneguknya. Rasa dingin dan manis yang mengalir di tenggorokannya entah kenapa sedikit meredakan mual di perutnya.

​Hening sejenak. Angin siang meniup anak rambut Jihan yang berantakan.

​Marvin menumpu dagunya dengan satu tangan, menatap Jihan lekat tanpa repot-repot menyembunyikannya. "Jadi, lo mutusin buat pura-pura buta dan lanjut main rumah-rumahan sama cowok lo yang sok pahlawan itu?" tanyanya tiba-tiba, menembak tepat sasaran.

​Tangan Jihan yang memegang botol mengerat. "Jaga omongan lo, Marvin. Lo nggak tahu apa-apa soal Kalandra."

​"Oh, gue tahu," potong Marvin cepat. Senyum sinis terbit di bibirnya. "Gue tahu dia cowok baik. Terlalu baik sampai dia pikir dia bisa menanggung beban dunia sendirian, sementara lo disuruh duduk manis jadi penonton. Dan lo... lo benci itu kan, Han?"

​Skakmat. Napas Jihan tercekat. Matanya melebar menatap Marvin. Bagaimana bisa pria ini selalu membaca isi kepalanya dengan begitu akurat, di saat Kalandra yang sudah memacarinya dua tahun bahkan tidak menyadarinya?

​"Dia cuma... dia cuma nggak mau gue sedih, Vin," bela Jihan, meski suaranya bergetar bimbang. "Dia bilang, dia bakal ngelakuin apa aja asal gue bahagia."

​Marvin mendecak pelan, rahangnya mengetat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menipiskan jarak di antara mereka hingga Jihan kembali meremang.

​"Cinta yang sehat itu jalan berdampingan, Jihan. Bukan satu orang di depan jadi tameng sampai mati, dan yang satu di belakang pura-pura nggak lihat cipratan darahnya," desis Marvin tajam, suaranya rendah namun penuh penekanan.

​Mata elang itu mengunci tatapan Jihan, menyedot habis seluruh sisa udara di sekitar mereka. "Berhenti bohongin diri lo sendiri. Lo nggak butuh cowok yang memperlakukan lo kayak pajangan porselen yang gampang pecah. Lo butuh partner yang berani narik tangan lo buat lari nembus badai bareng-bareng."

​Kata-kata Marvin menghantam dada Jihan bak godam besi. Ia mematung, tak mampu membalas.

​"Gue cabut dulu. Ada kelas," ucap Marvin memecah keheningan yang menyesakkan itu. Ia berdiri, menyandang ranselnya ke bahu. Sebelum benar-benar pergi, Marvin menunduk, berbisik tepat di telinga Jihan.

​"Kalau lo capek jadi Tuan Putri yang harus selalu senyum di istana palsu itu, lo tahu di mana harus cari gue. Gue red flag, Han. Gue nggak akan pernah janjiin lo hidup yang sempurna... tapi gue janji, gue nggak akan pernah nyuruh lo bersembunyi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   6

    Pelukan Kalandra malam itu seharusnya menjadi penawar dari segala luka. Biasanya, dekapan hangat pria inilah yang menjadi satu-satunya tempat Jihan merengkuh kewarasannya kembali setelah dihancurkan oleh sepinya rumah.​Namun malam ini, semuanya terasa berbeda.​Di bawah cahaya lampu teras yang temaram, Jihan bisa merasakan bahu Kalandra yang sedikit bergetar, meski pria itu berusaha keras menyembunyikannya. Aroma parfum Kalandra yang menenangkan kini bercampur dengan bau khas rumah sakit dan keringat dingin akibat kelelahan yang ekstrem.​"Aku nggak butuh kamu berjuang sendirian buat aku, Ndra," bisik Jihan lirih, suaranya teredam di dada Kalandra. Air matanya merembes membasahi kaus pria itu. "Cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban sampai hancur. Gimana aku bisa bahagia kalau kebahagiaan itu dibayar pakai kehancuran kamu?"​Kalandra mengurai pelukan mereka perlahan. Tangan besarnya menangkup kedua pipi Jihan yang basah, ibu jarinya mengusap jeja

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   5

    ​Hujan gerimis malam itu berubah menjadi tirai kelabu yang membungkus jalanan kota. Di atas jok motor sport Marvin, Jihan duduk merosot, membenamkan wajahnya di punggung lebar sang pria. Jaket kulit Marvin yang masih menyisakan kehangatan tubuh dan aroma peppermint-nya membungkus tubuh Jihan yang basah dan gemetar.​Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka selama perjalanan. Marvin membawa motornya dengan kecepatan konstan, membelah keheningan malam hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat asing—sebuah kedai kopi kecil di sudut distrik seni yang sudah tutup, tapi pintunya dibukakan oleh pemiliknya khusus untuk Marvin.​Di dalam kedai yang temaram dan hangat, Marvin menyodorkan segelas cokelat panas mengepul ke tangan Jihan yang masih membeku.​Jihan menerima mug itu dengan tangan gemetar. Ia menatap cairan cokelat di dalam cangkir, sementara air matanya kembali meleleh tanpa suara, membasahi pipinya yang dingin. Semua beban yang ia pendam—rumah yang terasa seperti

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   4

    Kalimat itu jatuh begitu saja di udara, menggantung di antara mereka dengan gravitasi yang luar biasa berat. Jihan merasa oksigen di koridor mendadak lenyap. Otaknya berhenti bekerja, mendadak mengalami buffering hebat mencerna implikasi dari pengakuan telak yang baru saja dilontarkan oleh pria di hadapannya.​Orang yang beneran gue mau?​Jantung Jihan melompat ke tenggorokan. Ia membuka mulutnya, berniat melontarkan protes atau sekadar sarkasme untuk menutupi salah tingkahnya, tapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Matanya berkedip cepat, terpaku pada manik mata elang Marvin yang menatapnya dengan intensitas yang sanggup membakar kulit. Tidak ada topeng berandal, tidak ada seringai mengejek. Yang ada hanya kejujuran yang telanjang—dan itu jauh lebih menakutkan bagi Jihan.​"Marvin, lo..." cicit Jihan, suaranya nyaris tak terdengar di antara debar jantungnya sendiri.​Sebelum Marvin sempat menjawab atau menarik jarak, suara derap langkah kaki dan suara bising sekelompok mahasiswa

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   3

    Jihan mengerjap. Sekali. Dua kali.​Matanya masih terpaku pada pintu kaca kafe yang baru saja tertutup, menelan siluet punggung tegap Marvin dalam temaramnya senja. Aroma peppermint pria itu entah kenapa masih tertinggal di udara, berbaur secara kurang ajar dengan wangi kopi di mejanya, menginvasi indra penciumannya tanpa permisi.​Tangannya perlahan naik, meremas ujung kemejanya tepat di atas dada kiri.​Gila. Jihan menelan ludah. Sistem saraf gue pasti lagi konslet.​Berani-beraninya seorang Marvin Alexander—musuh bebuyutannya, si cowok brengsek bermulut tajam itu—membuat jantungnya berdebar dengan ritme yang memalukan seperti ini?​Dengan kasar, Jihan mengusap wajahnya, berusaha mengusir sisa-sisa debaran aneh itu. Ia kembali menatap layar laptopnya. Kursor yang tadi berkedip mengejek kini seolah menunggunya. Kalimat Marvin terngiang kembali di kepalanya, berputar bagai kaset rusak.​Ngasih mereka keberanian buat pakai 'topeng' saat dunia lagi jahat-jahatnya.​Jari-jari Jihan mulai

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   2

    Keesokan sorenya, aroma biji kopi yang dipanggang dan wangi garam dari arah laut bercampur menjadi satu di udara.​Sesuai rencananya kemarin, Jihan akhirnya menginjakkan kaki di Blue Tides, kafe baru di ujung jalan yang menghadap langsung ke lautan lepas. Hanya saja, ia datang sendirian. Kalandra masih terjebak di rumah sakit, menunggu jadwal kemoterapi ibunya yang mendadak dimajukan.​Jihan duduk di sudut paling sepi, menghadap jendela kaca besar yang membingkai ombak sore. Layar laptopnya menyala terang, menampilkan draf marketing plan yang sudah dua jam terakhir hanya ia tatap kosong. Kursornya berkedip-kedip seolah mengejek kebuntuannya.​Gadis itu menghela napas panjang, menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua tangan. Kepalanya pening. Perasaan sepi dari rumah besar semalam rupanya masih mengikutinya bak awan kelabu.​Tiba-tiba, suara derit kaki kursi yang ditarik paksa membuat Jihan mendongak.​Aroma peppermint yang tajam, bercampur dengan wangi maskulin dari parfum yang sangat

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   1

    Udara siang di kafetaria Fakultas Bisnis terasa pengap, tapi Jihan Andexa seolah memiliki pasokan oksigennya sendiri. Jari-jari lentiknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme cepat, sementara bibirnya tak henti menembakkan rentetan kalimat tanpa koma.​"Pokoknya, abis ini kita harus mampir ke kafe baru yang di ujung jalan itu. Kamu tahu kan, Yang, aku butuh banget ngerjain revisi skripsi dengan view laut lepas," cerocos Jihan, matanya berbinar-binar penuh harap menatap pria di hadapannya. Ia menopang dagu, memajukan wajah. "Biar jiwa aku sejuk. Sama satu lagi, aku butuh banget lari dari kebisingan otakku yang rasanya mau meledak gara-gara ngejar target marketing plan sialan ini!"​Di seberang meja, Kalandra Exder hanya tersenyum. Senyum yang selalu sama: teduh, sabar, dan tak pernah menghakimi sekecil apa pun keanehan Jihan. Tangannya terulur lembut, merapikan anak rambut yang menempel di dahi gadis itu, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.​"Iya, Jihan cantik," suara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status