LOGINBimo terlibat percakapan dengan Bi Inah, tentang Maisaroh yang menyusui bayi dari istri mudanya Zakki. Bimo mengira, Maisaroh sudah banyak mengobrol dengan Bi Inah, ketika sedang berada di mess, dalam pengawasan Bi Inah.Bimo bertanya, “Kalau enggak kenal, bagaimana Maisaroh bisa menyusui bayi dari wanita lain?”Bi Inah menjelaskan sesuai yang dia ketahui, “Kata Saroh, mulanya suaminya kerja renovasi bangunan bengkel punya Den Zakki. Suaminya Saroh mendengar Den Zakki menelepon seseorang, mencari ibu susu buat bayinya. Suami Maisaroh memberanikan diri menawarkan istrinya untuk menyusui bayi itu. Ternyata Den Zakki setuju.”“Jadi Maisaroh dikasi bayi dari Den Zakki?”“Enggak begitu, Pak. Kata Maisaroh, dia dan suaminya disuruh datang ke sebuah klinik bersalin di Kabupaten Bandung.”“Klinik apa?”“Katanya nama klinik itu “Harapan Ummi”. Di sana, bayi itu diserahkan sama perawat, ke tangan Maisaroh dan suaminya. Begitu ceritanya.”“Oooh, jadi mungkin istri kedua Den Zakki melahirkan di k
Bimo sebenarnyan pesimis jika pemilik warung yang pernah mengobrol dengannya itu, akan menghubungi nomornya. Dia pikir pemilik warung itu hanya berbasa-basi mengobrol dengannya dan memperlihatkan rasa simpati. Namun ternyata pada pukul delapan malam, pemilik warung itu menghubungi nomor Bimo melalui chat.(Ini nomornya bapak yang tadi siang mampir ke warung saya, mau mencari kerabatnya Bi Inah?)Bimo : Iya, benar. Ada kabar baik, Bu?”(Bapak masih mencari ibu susu untuk bayi?)Bimo : Masih.(saya sudah ngomong sama Bi Inah. Kalau bisa, Bapak datang ke warung saya, Bi Inah mau ketemu dengan Bapak.)Bimo : Apakah sekarang warung Ibu masih buka?”(Warung saya tutup jam sepuluh malam.)Bimo yang sudah ada di rumah, segera memacu motornya menuju kawasan Dago, tapi di bagian pemukiman padat kelas menengah ke bawah. Bimo memarkir motor di depan warung sembako yang tadi siang disambanginya. Ternyata di dalam sudah ada seorang wanita usia separuh abad.“Ini Bi Inah.” ucap pemilik warung.“Nama
Bimo, mantan polisi yang jadi detektif swasta, sudah mendapatkan nomor ponsel Ridan, suami Maisaroh. Nomor itu didapat dari tetangga Ridan. Kesaksian Ridan tentang bayi itu sangat penting. Bimo ingin tahu, siapa yang menitipkan bayi itu kepada istri Ridan? Bimo yakin, hanya Ridan yang tahu siapa orang itu, sedangkan istrinya hanya dititipi bayi, yang diberikan oleh suaminya. Bimo menghubungi nomor Ridan, tapi nomor itu tidak aktif. Entah ponsel Ridan dimatikan, atau posisi Ridan sedang berada di daerah yang tidak ada sinyal telepon.Akhirnya Bimo berjalan ke luar dari kafe. Seorang juru parkir mendekatinya. Sebenarnya juru parkir itulah yang sedang ditunggu oleh Bimo.“Kang, sudah lama kerja parkir di sini?” tanya Bimo.“Sudah Pak.”“Tahu atuh soal butik di seberang itu?”“Oh, itu butik punya Ibu Marianne. Ada apa, Pak? Mau belanja di sana, tapi isin?” juru parkir itu menyeringai, “di sana memang jualannya baju perempuan, tapi enggak apa-apa kalau laki-laki mau belanja sendirian, tanp
Bimo masih berbincang dengan seorang wanita yang merupakan tetangga Maisaroh. Bimo berusaha mencari tahu nomor telepon Maisaroh, ataupun suaminya.Bimo berujar, “Begini, nasabah bank memang mencatatkan nomor telepon pada datanya, tapi nomornya Ibu Maisaroh dan suaminya ternyata tidak aktif. Makanya saya ke sini, karena nomor mereka tidak bisa dihubungi. Saya pengin tahu, mereka serius atau tidak, soal pinjaman itu.”Bimo melihat seorang anak laki-laki usia sekitar 10 tahunan, memakai seragam SD, datang ke rumah tetangga Maisaroh, lantas duduk di bale-bale bambu depan rumah itu sembari melepas sepatu dan kaus kakinya.“Ini putra Ibu?” tanya Bimo.“Iya, anak sulung saya.”“Mah, buku tulis sudah penuh, mau beli lagi.” ucap anak itu.“Uang mamah barusan sudah dipakai buat belanja. Nanti tunggu bapak pulang, mudah-mudahan banyak penumpang.”Mendengar obrolan ibu dan anak itu, hati Pak Bimo meleleh. Hanya sekadar buku tulis, wanita itu ternyata tidak punya uang untuk membelinya. Anaknya har
Marco mengambil kertas hasil tes DNA yang masih dipegang oleh Maryam. Dia melipat kertas itu, dimasukkan lagi ke dalam tas kerjanya.Maryam masih terus bertanya, “Kenapa Abang melakukan tes DNA pada seorang bayi? Siapa wanita yang melahirkan bayi itu? Abang menjalin hubungan dengan wanita lain?”Marco menjawab, “Sekarang kamu pikirkan pakai logika!” Marco menyentuh pelipis Maryam. “Kalau misalnya aku punya hubungan pribadi dengan wanita lain, dan saat ini ada bayi yang lahir, coba kamu hitung mundur selama ... sembilan bulan, sampai setahun deh!”“Buat apa?” Maryam cemberut.“Coba saja hitung mundur, kamu tahu ada di mana aku pada saat sembilan bulan lalu.”“Ada di Makassar.”“Pada saat itu, dengan siapa aku hidup di Makassar?”“Dengan aku .... ““Lantas kalau aku hidup denganmu, siapa yang bakal hamil anakku?”Maryam masih cemberut. “Tapi waktu itu Abang kan, sering bepergian ke banyak tempat, sampai beberapa hari enggak pulang.”“Terus kenapa pada saat itu kamu enggak cemburu? Padah
Ketika Pak Bimo bertanya soal istri muda Zakki, Marco tidak bisa menjawab dengan jelas.“Sebenarnya saya tidak tahu banyak soal istri muda kakak saya. Semua info itu saya dapat dari menguping obrolan Zakki dengan papa saya. Saya pribadi tidak pernah menanyakannya, karena ... saya sungkan, khawatir menyinggung kakak ipar saya.”“Bagaimana obrolan antara papamu dengan kakakmu, soal istri muda itu?”“Ehmmm ... saya kira waktu itu papa saya menanyakan isyu yang terlanjur beredar di keluarga besar saya, soal Zakki yang punya istri muda, dan kabarnya istri muda itu sudah melahirkan bayi laki-laki. Papa saya menanyakan bayi itu. Zakki bilang bayinya ada bersama istri muda itu. Lantas papa saya meminta Zakki membawa istri dan anaknya, ke hadapan orang tua. Zakki bilang nanti saja.”“Apakah pada akhirnya orang tuamu bisa bertemu dengan istri muda kakakmu?”“Saya kira tidak, karena Zakki bilang dia sudah bercerai dari istri mudanya itu. Padahal papa saya ingin Zakki tidak perlu bercerai dari wa
“Bapak sakit?” Vino menatap Pak Ardi yang tampak pucat dan berkeringat.“Rasanya dingin, padahal saya sudah pakai jaket.”“Di sini memang dataran tinggi, Pak, suhunya dingin.”Pak Ardi berbaring, lantas menyelubungi tubuhnya dengan selimut, tapi dia masih menggigil.“Pak, waktu kita mau berangkat k
Kedua orang tua Marco sedang saling bicara lewat telepon. Bu Marianne berada di balkon ruko miliknya, sedangkan Pak Ardi berada di tempat yang jauh, di kawasan timur. Mereka membahas tentang uang untuk menebus Marco dari tangan kelompok yang telah menyanderanya selama hampir 20 hari.Pak Ardi bicar
Emaknya Maryam, yaitu Mak Juwariyah, merasakan ada sesuatu yang menurutnya agak aneh, setelah dua hari dia menginap di rumah Bu Marianne.“Maryam, apakah saudara-saudara kandung suamimu ada datang ke sini, untuk menjenguk kamu?”“Ehm ... kakak perempuan Marco tinggal di Eropa, dengan suaminya. Adik
Bu Marianne membawa Maryam ke sebuah rumah sakit untuk periksa kandungan. Walaupun suasana hati Maryam sedang sedih dan selera makannya menurun, tapi kandungannya sehat. Dokter memberi resep berupa vitamin.Karena merasa khawatir dengan kesehatan Maryam yang menurun, maka Bu Marianne menyuruh Marya







