แชร์

48. Proses Sembuh

ผู้เขียน: Shaveera
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-29 19:46:01

Perlahan, kabut hitam yang sejak tadi menyelimuti hutan mulai memudar. Satu demi satu bayangan gelap itu larut bersama angin malam. Pepohonan pinus yang sebelumnya tampak seperti sosok menyeramkan kini kembali diam diterpa cahaya bulan.

Hutan berubah terang dan tenang. Aku bernapas lega, semua sudah kembali pada keadaan semula.

Udara dingin yang tadi terasa menyesakkan kini kembali normal, meskipun aroma darah dan energi pertarungan masih tertinggal samar di sekeliling kami.

Aku menunduk menat
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   95. Serangan Balik

    Ilusi? Tapi ini sangat nyata, bahkan aku sama sekali tidak melihat adanya celah. Aku kembali memperhatikan mereka.Edmundo menyerang. Draven menghindar. Kemudian—DUAGH!Draven menghantam wajah Edmundo. Kepala Edmundo terpental ke samping.Darah keluar. Namun hanya beberapa detik kemudian—Darah itu menghilang.Tidak ada luka.Tidak ada memar.Seolah pukulan itu tidak pernah terjadi. Aku menyipitkan mata.'Zena.''Aku tahu.''Ini bukan pertarungan biasa.''Apa maksudmu?'Aku belum sempat menjawab. Karena Draven tiba-tiba menoleh. Tatapannya mengarah kepadaku. Dan untuk pertama kalinya—Senyumannya berubah."Valen."Aku tidak menjawab. Edmundo yang tadi masih berdiri beberapa meter darinya mendadak bergerak.SWISH!Cakarnya mengarah tepat ke tubuhku. Aku menghindar. Cakar itu menghantam lantai.BRAAAK!"Jadi akhirnya kau ikut campur juga."Aku menatap Edmundo dingin. Namun, sebelum aku bergerak—Draven sudah muncul dari sisi lain.Tangannya mengarah kepadaku. Aku memutar tubuh.DUAGH!Ser

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   94. Draven

    "Kalau kau masih hidup."Kalimatku belum sepenuhnya selesai ketika suara benturan keras mengguncang sisi timur Kastil Rosario.BOOOOM!Seluruh bangunan bergetar.Debu berjatuhan dari langit-langit. Beberapa tamu yang masih bertahan di aula kembali berteriak dan berhamburan mencari perlindungan."GERBANG TIMUR JEBOL!"Teriakan seorang penjaga terdengar dari lorong.Edmundo langsung menoleh. "Apa?!"Belum sempat prajurit itu menjelaskan lebih jauh, sebuah tubuh terlempar masuk melalui pintu aula.DUAGH!Tubuh itu menghantam lantai dan berguling beberapa kali sebelum berhenti tepat di depan Edmundo. Prajurit Shadow Pack terlempar begitu saja dengan penuh luka.Seketika wajah Edmundo memuat, hanya sesaat. Selebihnya dengan cepat wajah itu berubah menjadi dingin penuh emosi. Kedua tangannya mengepal kuat dan mata memerah menahan amarah yang berlebih. "Alpha ...."Edmundo menunduk menatapnya. "Apa yang terjadi?"Suaranya dapat kudengar jelas, ada ketakutan, keresahan serta kekhawatiran yan

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   93. mengamuk

    "Kau ... Ini mustahil, siapa kau sebenarnya, Valen?"Aku tidak langsung menjawab.Kemilau emas masih menyelimuti tubuhku. Energi hangat mengalir dari ujung kaki hingga kepala, membuat setiap inderaku bekerja jauh lebih tajam. Aku bisa mendengar benturan cakar di gerbang barat, teriakan para prajurit, bahkan napas berat Edmundo yang berdiri beberapa meter di hadapanku.Wajahnya berubah. Bukan lagi sekadar marah.Dia murka. "Berhenti bermain-main denganku!"Edmundo menerjang.BOOM!Lantai aula retak ketika tubuhnya melesat. Cakarnya yang telah berubah menjadi hitam pekat mengarah tepat ke kepalaku.Aku hanya memiringkan kepala. Cakar itu lewat beberapa senti dari wajahku. Angin yang dihasilkannya menerbangkan beberapa helai rambutku.Edmundo tidak berhenti. Tubuhnya berputar, ekornya menyapu dari samping. Aku mengangkat satu tangan.DUAGH!Telapak tanganku menahan serangan itu. Tubuhku bahkan tidak bergeser.Edmundo membeku sesaat.Aku menatapnya datar. "Ini kekuatan maksimalmu?""Diam!

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   92. panik

    Edmundo terlihat gusar, kuku hitam panjangnya menggores pilar di samping kanannya. "Sudah kukatakan, kirim pasukan cadangan!""Bukan itu, Alpha."Pria itu menarik napas. Ditatapnya wajah sang alpha yang terlihat dingin dan kejam. Napasnya terlihat sedikit tersendat dipenuhi rasa takut untuk berkata jujur. Dan aku, masih berdiri bersandar pada pilar itu. Menyaksikan semua yang terjadi di depanku yang begitu membuatku puas. "Katakan apa yang terjadi di sana!" bentak Edmundo. "Seluruh gerbang selatan sudah dikuasai," jawab prajurit itu sedikit terbatas. Keheningan kembali menyelimuti aula. Beberapa Alpha muda saling tatap penuh tanya a pada sosok prajurit itu. Edmundo perlahan menoleh. Tatapannya tajam dan menyelidiki, awalnya terarah padaku llau berpaling lagi pada prajurit itu, "Apa?""Pasukan kita mundur ke halaman kedua, tetapi meraka masuk tanpa ampun."Wajah Edmundo langsung mengeras. "Mustahil.""Mereka tidak mengejar ataupun menyerang.""Lalu?" Aku tersenyum.Prajurit itu

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   91. masuk perangkap

    "Siapa bilang aku tanpa Pack?"Belum sempat Edmundo menjawab, pintu aula kembali terbuka.Seorang prajurit menerobos masuk dengan wajah penuh darah. Salah satu bahunya robek, sementara napasnya terdengar berat."Alpha!"Edmundo menoleh tajam. "Apa lagi?"Prajurit itu menelan ludah."Pertempuran di gerbang selatan mulai mereda."Wajah Edmundo sedikit berubah. "Bagus. Berarti pasukan kita mulai menekan mereka."Prajurit itu diam. Tatapan Edmundo langsung mengeras. "Kenapa kau diam?""Karena ... bukan itu yang terjadi, Alpha."Suasana aula mendadak sunyi. Edmundo memicingkan mata. Hampir semua yang hadir menatap prajurit itu dan Aku masih tetap berdiri tegak dengan kepala tengadah, sikap menantang. "Maksudmu?""Pasukan kita dipukul mundur."Aku tersenyum tipis. "Apa yang terjadi di sini, Edmundo?" Edmundo menoleh cepat kepadaku, menatapku dingin. Lalu kembali pada prajurit itu. "Ulangi.""Gerbang selatan sudah jatuh ke tangan mereka."BRAK!Tangan Edmundo menghantam meja di sampingnya

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   90. serangan beruntun

    Tidak ada jawaban, perlahan kudorong pintu utama itu dan aku berdiri tegak menatap pada manik mata Edmundo dingin. "Kau telah berhasil naik tingkat, Edmundo. Selamat!"Saat itu juga semua mata berpaling menatapku. Tatapan mereka terlihat berbeda, terkejut, heran dan waspada menyatu di setiap binar mata. Aku menyeringai, dan terus melangkah tegak tanpa sedikit pun bergetar. Wajah Edmundo terlihat pias dan waspada. " Kau...."Edmundo membeku. Tatapan tidak percaya muncul di sorot matanya. Namun, belum sempat bibirnya melanjutkan..... "Serangan dari selatan!" Seorang penjaga lain menerobos masuk."Alpha!""Apa lagi?""Gerbang selatan diserang."Wajah Edmundo berubah. "Apa?""Pasukan mereka sudah mulai masuk!"Suasana semakin kacau. Edmundo menggertakkan gigi. Aku berdiri menatap sekeliling, kutampilkan wajah puas. Kemudian pandangan Edmundo berbalik menatapku. "Apa ini maksudnya, Valen?" "Bukankah aku sudah bicara sejak awal?" "Bangsat. Apa kau pikir dengan menyerangku seperti in

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   43. Serangan Kimberly

    Untuk sesaat aku terdiam, menatap dalam pada sosok Kimberly. Makhluk kecil yang terlihat begitu menyedihkan. Ada sesuatu yang kulihat sedikit berbeda dari makhluk lainnya. Meskipun tubuhnya kecil, dia mempunyai tenaga yang tidak bisa dianggap enteng.Dari struktur tubuhnya ada beberapa yang menurut

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   19.

    Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Tidak lagi dipenuhi kebingungan seperti awal aku tiba di sini. Setiap pagi dimulai dengan latihan ringan, makan teratur, dan malam yang hening, tetapi penuh kesadaran baru akan tubuhku sendiri.Selang beberapa hari, aku mulai merasakannya. Perubahan itu. Aliran

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   7.

    Perlahan bulir bening mengalir dari sudut mataku, aku menatap pada Gilbert. Pria ini begitu lembut memperlakukan tubuh dan serigalaku hingga dia tidak mempedulikan lagi seluruh aktifitasnya pada Pack.Aku mendesah pelan. Kuulurkan lenganku meraih wajah tampan itu."Percayalah, Amoera. Aku akan sela

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   6.

    Bagai angin topan, tubuhku terhempas begitu saja tanpa daya. Kekuatan ini sangat tinggi, aku masih belum mampu menguasai seluruhnya hingga berakibat fatal pada tubuhku.Perlahan tapi pasti, kucoba bangkit dan berdiri tegak menatap pada sosok Fernandes yang angkuh. Bibir wanita itu melengkung sinis,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status