로그인Sudah dua hari Hamish tidak melihat keberadaan Kalea. Saat sarapan pun, meski ia datang lebih awal, gadis itu tak pernah tampak.
“Apa Kalea sakit lagi?” tanya Hamish pada Diana yang sedang membereskan meja.
“Tidak, Tuan. Kalea sehat.”
“Lalu kenapa dia tidak pernah terlihat? Maksudku, kenapa sekarang yang bertugas di meja makan bukan dia lagi?”
“Kami bertukar tugas, Tuan. Kalea meminta pekerjaan di gudang dan area belakang.”
Hamish terdiam. Ingatannya kembali pada kejadian di tepi kolam renang.
“Apa Tuan mencari Kalea?” tanya Diana hati-hati.
“Apa? Tidak!” Hamish menjawab terlalu cepat.
Selepas sarapan, bukannya bersiap ke kantor, Hamish justru berjalan ke belakang rumah, menyusuri petak-petak halaman luas yang dipenuhi pepohonan langka. Langkahnya terhenti ketika dari kejauhan ia melihat Kalea sedang membawa sapu sambil berbicara pada sebatang pohon.
Sesekali gadis itu berkacak pinggang dengan wajah marah, bahkan mengacungkan tinju berkali-kali ke arah pohon, seakan batang kayu itu lawan tandingnya.
“Dia sedang apa?” Hamish bergumam, penasaran. Ia mendekat, mencoba mendengar. “Apa dia sedang berkhayal memarahiku?” pikirnya.
Di saat bersamaan, Kalea menoleh. "HAAHH!" Ia langsung melotot, lalu tanpa pikir panjang menjatuhkan diri, tengkurap di balik rumpun bunga.
Kalea panik. Ingatan akan ucapan Hamish di kolam renang masih jelas menancap di benaknya. Ia berusaha keras agar tak melakukan kesalahan sekecil apa pun lagi. Yang ada di pikirannya hanya satu, jangan sampai dipulangkan pada ayahnya. Ia rela menjadi sosok tak terlihat sekalipun.
“Tidak boleh ketahuan! Tuan menyuruhku jangan muncul di depannya!” bisiknya pada diri sendiri.
Hamish yang semakin keheranan melangkah mendekat. Sementara itu, Kalea semakin ciut, merayap rendah di balik rumpun bunga. Dari celah-celah, ia bisa melihat Hamish kian mendekat.
“Gawat! Dia semakin dekat!” Kalea menggertakkan gigi. Pada hitungan ketiga, saat jarak Hamish tinggal dua meter, gadis itu memutuskan untuk kabur. Ia berlari secepat mungkin tanpa menoleh.
Hamish hendak menghentikannya, tapi hanya bisa berdiri melongo.
“Apa dia benar-benar menghindariku?”
Dugaannya terbukti. Hari-hari berikutnya, setiap kali ia mendekat, Kalea selalu kabur, bersembunyi seolah dirinya wabah penyakit.
Lama-lama Hamish kesal. Ia merasa diperlakukan seperti sesuatu yang menjijikkan.
“Kenapa tidak dipanggil saja, Tuan?” komentar Jordi setelah hampir sepuluh menit Hamish berdiri menatap Kalea yang sedang bolak-balik mengeluarkan isi gudang itu dari jauh.
“Apa Tuan perlu dengan Kalea? Mau saya panggilkan?”
“Apa?” Hamish tersentak, baru sadar dirinya kembali berdiri di halaman belakang tanpa alasan jelas. Ia berdehem keras.
“Ayo pergi! Aku tidak ada urusan dengannya!”
**
Sore itu, Kalea baru selesai menumpuk kotak-kotak bekas dari gudang di depan gerbang, agar mudah diangkut petugas kebersihan. Ia tersenyum puas. Dari tumpukan itu, ia sempat menemukan beberapa kaus berlogo perusahaan yang masih baru dalam plastik. Sayang jika dibuang, maka setelah meminta izin May, ia menyimpannya untuk dirinya.
Ia meregangkan badan, lega karena pekerjaannya selesai. Namun, tepat saat itu, mobil Hamish muncul di ujung jalan, melaju cepat ke arah rumah. Kalea seketika menegak dengan mata membeliak.
“Hah? Kenapa Tuan sudah pulang siang-siang begini?” Kalea panik. Ia buru-buru mencari tempat bersembunyi. Tidak sempat masuk rumah, akhirnya ia memutuskan masuk ke dalam salah satu kotak kosong.
Sialnya, dua petugas kebersihan datang tepat waktu dan mulai mengangkut kotak-kotak itu.
“Yang ini berat, ayo gotong!” seru salah satu dari mereka saat mengangkat kotak berisi Kalea.
“Tidak! Jangan!” Kalea panik. Tubuhnya ikut terangkat. Ia akhirnya berteriak, membuka tutup kotak, dan menjulurkan kepala.
“Pak! Jangan bawa aku! Aku bukan sampah!”
“Huuaaah!” Kedua petugas itu terkejut dan refleks melepaskan kotak. Kalea pun jatuh terguling di jalan, siku-sikunya berdarah karena tergores aspal.
Hamish yang hendak berbelok ke gerbang menyaksikan semuanya. Ia sempat melongo, tapi kemudian mendengkus menahan tawa.
“Dasar bocah! Ada saja kelakuannya.”
Pria itu pun turun dari mobil, lalu menghampiri Kalea yang sedang meringis melihat luka-luka di tangannya.
“Lea!”
Kalea tersentak, lalu mendongak. Seketika wajahnya pias dengan mata membulat sempurna.
“T-Tuan…” ia gugup, sampai lupa soal luka di tangannya.
“Bangun. Naik ke mobil!” perintah Hamish.
“Papi. Aku mau penuhi janji pada Nala. Aku sudah bawa cincin asli.”Semua orang di ruang private itu langsung terdiam. Canda gurau keluarga yang tadinya meramaikan suasana seketika senyap. Perhatian mereka kini tertuju sepenuhnya pada William yang duduk tegak dengan sebuah kotak beludru kecil di tangannya.Hamish melotot, tubuh kekarnya langsung menegang. “Apa-apaan kamu?”“Papi, maafkan aku. Tapi aku sudah berjanji pada Shaynala,” ucap William tenang, meski jakunnya naik-turun menahan gugup.“Tiga tahun lalu aku memberikannya cincin perak suvenir di Thailand. Dan aku bilang padanya kalau aku akan membawakannya cincin asli jika aku sudah mampu. Sekarang, aku sudah memenuhi syarat. Kuliahku sudah selesai. Aku sudah masuk dunia kerja. Walaupun memang belum mapan secara mandiri, tetapi aku sudah bisa diperhitungkan. Aku cerdas dan pekerja keras. Lagipula aku anak dari pemilik rumah sakit swasta terbesar di negara ini. Sepertinya itu privilege juga. Aku tak akan kekurangan lahan untuk bela
Alih-alih menjawab pertanyaan Kalea, Hamish malah tertawa. Pria itu merangkul bahu sang istri dan membantu menerima buket bunga besar itu dari Eldan. “Maaf, jarang mengunjungi Mami,” ucap Eldan. “Ya Tuhan, tak apa, El. Yang penting kamu sehat, semua urusanmu lancar. Astaga, kamu sudah semakin tinggi rupanya.” Kalea mendongak kala Eldan mendekat untuk memeluknya. “Kamu besar sekali sekarang. Sudah mirip papimu,” ucap Kalea seraya mengusap-usap lengan Eldan. “Lihatlah bisep ini,” ucapnya lagi meraba otot-otot Eldan yang terasa bertonjolan. Rasa haru mendadak merekah dalam dadanya. Bayi ringkih sebesar botol yang ia susui dan dirawatnya dulu kini sudah tumbuh begitu sehat. Eldan pun tertawa dan menggandeng satu lengan Kalea. Mereka pun berjalan menuju ruang private yang sudah disediakan khusus. “Tapi, sebenarnya ada apa ini?” Kalea bingung. Sejak tadi ia disuguhi hal-hal tak seperti biasanya. “Apa ini kejutan darimu, El? Kamu mau datang kesini pun tak bilang-bilang,” lanjutnya. El
Tiga tahun berlalu. Shaynala tengah sibuk-sibuknya dengan dunia perkuliahan. Sementara itu, Kalea juga tengah gencar mengembangkan Lunare.Hari ini, Lunare tengah mengadakan sayembara langsung untuk para perancang muda. Memberi kesempatan luas bagi para designer berbakat yang baru lulus kuliah agar bisa bergabung ke Perusahaan.“Sayaaangg!” Hamish bersedekap di ambang pintu. Memperhatikan Kalea yang sejak tadi mengabaikannya.“Apa belum selesai?” tanyanya. Dia pun memutuskan untuk menghampiri Kalea yang masih sibuk koordinasi dengan timnya.“Sebentar lagi. Ada apa memang?” Kalea mendadak merasa bingung melihat Hamish yang tiba-tiba mendatanginya ke Lunare di jam kerja. Rela menunggu pula.“Bukankah kita ada janji makan siang?”“Makan siang? Kapan? Aku perasaan gak ada janji itu.” Kalea akhirnya mendatangi Hamish.“Ada.” Hamish meyakinkan. Tetapi, Kalea masih tak ingat sama sekali. Dari beberapa hari lalu ia bahkan sudah memberi tahu suaminya itu bahwa dirinya akan sangat sibuk pekan i
Kalea menyambut kepulangan suami dan anaknya dengan penuh sukacita. Tak hanya karena mendengar prestasi yang berhasil diraih Shaynala, tetapi juga karena mendapat kabar bahwa putrinya itu telah berbaikan dengan William.Bagaimana mungkin tak senang, ia dan Ginna selama empat tahun terakhir merasa ikut lelah dengan drama anak-anak mereka. Tak bisa lagi pergi berlibur bersama, tak bisa saling kumpul-kumpul dengan bebas, dan banyak hal lagi.Maka, pertanyaan pertama yang terlontar pun tak jauh-jauh dari seputar kabar perkembangan hubungan Shaynala dengan William. Seakan-akan kemenangan tinju Shaynala menjadi skala nomor dua.“Apa kalian jadian?” tanya Kalea menahan senyum.Shaynala tak buru-buru menjawab. Gadis itu hanya tertunduk seraya memainkan garpu di meja makan, menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.“Heey, kalo diam berarti iya. Betul, kan?” Kalea kini tak bisa menahan senyumnya lagi. Baru kali ini melihat Shaynala yang tersipu malu-malu.Sementara Hamish, pria itu hanya mencibi
Hamish memapah Shaynala di tengah hiruk pikuk Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Hari ini, semua orang akan kembali. Tim tinju, Stephen, juga geng Nenek Ling Ling hendak pulang ke Indonesia. Sementara Arsen ke Amerika. Dan William, pemuda itu akan bertolak ke Jepang. “Kamu kuliah di mana nanti?” tanya William pada Arsen. Kedua pemuda itu berjalan di paling belakang rombongan.“Entah. Mamaku menyuruhku di Amerika saja. Tapi, Papa menyuruhku masuk univ negeri di Indonesia biar gampang katanya. Entah apa yang dimaksud gampang papaku. Aku juga gak paham. Tapi, Papi Hamish lain lagi. Dia tak menyuruhku di sana di sini. Dia malah menyuruhku menggali dulu apa yang paling membuatku tertarik. Menyuruhku melihat apa yang sekiranya ingin aku raih.” Arsen menjawab dengan dua tangan masuk ke saku jaket baseballnya.“Hah? Apa tadi? Papi Hamish? Sejak kapan kamu panggil Papi?” William mengernyit.Arsen menyeringai, lalu mengangkat dagunya dengan sombong.“Mulai sekarang, aku juga memanggilnya Papi. Dia
Dari sejak makan malam dimulai, Hamish tak henti memperhatikan interaksi Shaynala dan William. Matanya begitu tajam pada setiap gerak-gerik keduanya, sekecil apa pun itu.Gara-gara ucapan Shaynala tentang perasaannya pada William sebelumnya, membuat Hamish menjadi gelisah sendiri.Dari sejak pulang jalan-jalan sore itu, Hamish mencium aroma-aroma konspirasi masa muda yang sangat mencurigakan di antara keduanya. Apalagi saat ia mendapati sebuah cincin perak yang asing telah melingkar di jari manis putrinya.“Apa mereka jadian? Jangan-jangan mereka pacarana di belakangku! Diam-diam? Hah? Hmmm!” Hamish bicara dalam hati sambil mengawasi William juga Shaynala.Ia sampai tak fokus pada makan malam perpisahan di restoran hotel tersebut. Ia juga beberapa kali tak menanggapi obrolan Johan seputar Shaynala gara-gara terlalu konsentrasi pada dua anak muda itu.Dan sepertinya, hanya ia saja yang tak menikmati makan malam itu tak peduli selezat apa menu-menu yang tersaji. Padahal, semua orang ten
Hamish belum berhenti tertawa melihat tampang cemberut Stephen. Hari ini pria itu berkunjung ke kantor Stephen untuk berkonsultasi.Malam itu, ia menelepon Stephen tetapi tak diangkat dan berikutnya ia sendiri yang mengabaikan telepon dari Stephen, lalu berakhir lupa untuk berkomunikasi.Sekarang,
Kalea mengantar Ginna untuk fitting baju pengantin ke Lunare dan setelahnya, mereka pergi untuk berjalan-jalan keliling mall.Hamish senang mendengarnya karena ini adalah kali pertama sang istri mau pergi bersosialisasi ke dunia luar sejak dari rumah sakit. Berharap, Kalea semakin membaik setiap ha
“Apa?” Sarah yang sedang menggendong Eldan menatap Hamish dan Elias bergantian. Anak dan cucu lelakinya itu mendekatinya dengan wajah-wajah serius.“Ma, Mama yakin mau tinggal di sini?” tanya Elias.“Kalo tak yakin buat apa bicara?” jawab Sarah.“Terus rumah Mama bagaimana? Kosong?” lanjut Elias.“
Hamish mondar-mandir. Ia sedang menunggu satpam rumahnya yang sengaja ia telpon dan diminta tolong untuk membelikan beberapa tespek.Ia begitu gelisah. Antara harapan yang setinggi gunung dan juga ketakutan akan rasa kecewa.“Kalau misal nanti hasilnya negatif ….”“Ssstt! Tak masalah!” Hamish memot







