Se connecter“Hah?”
“Apa kamu tuli?”
Kalea mengerjap, lalu buru-buru bangkit dan berlari menuju mobil Hamish.
Pria yang selalu tampil perlente dan rambut tersisir rapi ke samping itu menyusul, lalu membukakan pintu mobil untuk Kalea.
“Masuk!”
Kalea menurut, duduk kaku di kursi depan. Hamish pun masuk ke sisi kemudi.
“Besok mau sembunyi di mana lagi?” tanyanya dingin. “Apa kamu tidak lelah terus-terusan menghindariku?”
Kalea menelan ludah. “Apa selama ini Tuan tahu?” batinnya.
“Tapi… bukankah itu perintah Tuan? Tuan melarang saya menampakkan diri. Saya hanya menjalankan perintah Tuan.”
Hamish terdiam sejenak, lalu mengangguk pendek.
“Tuan… apa saya akan dikirim kembali pada ayah saya?” Kalea memberanikan diri bertanya dengan perasaan was-was.
Hamish menatapnya. Melihat wajah Kalea yang pucat dengan mata berkaca-kaca, ia memilih menjawab singkat.
“Tidak.”
Mendengar itu, Kalea langsung meniup napas lega sambil memegangi dada.
“Lea,” ucap Hamish ketika mobil berhenti di halaman rumah. “Ikut aku ke ruang kerja sekarang,” imbuhnya, lalu turun lebih dulu.
Kalea menyusul kemudian. Meski tadi Hamish sudah berkata tak akan mengirimnya kembali pada sang ayah, tetapi tetap tak membuat rasa gugup juga tegang pergi dari dirinya.
“Tutup pintunya,” perintah Hamish saat Kalea sudah memasuki ruang kerjanya yang didominasi warna hitam.
Kalea mengangguk. Gadis itu menutup pintu perlahan.
“Kemari.” Hamish duduk di sofa besar berwarna hitam. Punggungnya bersandar dengan kaki bersilang santai.
Kalea mendekat ragu. Benarkah ia diperkenankan duduk di dekat tuannya? Gadis itu bertanya-tanya.
Namun, tidak ingin membuat Hamish kembali kesal karena terus menunggu, Kalea maju ragu.
Lalu, tiba-tiba Hamish menarik tangan Kalea, mendudukkan gadis itu di sisinya.
“Diam,” titahnya saat Kalea terus bergerak gelisah.
Hamish mengambil kotak obat, lalu meraih tangan Kalea. Ia membersihkan luka dan menempelkan plester tanpa banyak bicara.
Kalea terpaku. Tegang. Apa benar yang sedang mengobatinya ini Hamish Elias Adhirajasa yang terkenal tak berperasaan itu? Jantungnya berdetak kencang, bukan lagi karena takut, melainkan karena rasa asing yang bergelenyar hangat di dadanya. Ia menatap wajah pria itu tanpa kedip.
Alis pria itu yang tak tipis juga tak begitu tebal, hidungnya yang mancung, garis rahangnya yang tegas, dan juga bibirnya yang berisi. Sungguh, semakin dilihat, semakin patut diakui oleh Kalea bahwa Hamish adalah pria paling tampan yang pernah dia lihat.
“Jangan terpesona padaku,” ucap Hamish datar, meliriknya sekilas.
Wajah Kalea seketika merona. Ia menunduk dalam. Malu karena tertangkap basah sedang menatap Hamish sampai lupa berkedip.
Pria itu mendengkus, lalu bangkit pergi ke meja kerjanya. Tak lama, ia kembali dengan sesuatu di tangan.
“Gambarmu,” ucap Hamish menyodorkan selembar kertas ke hadapan Kalea.
Gadis itu terperangah. Itu adalah sketsa rancangan busananya saat kejadian di tepi kolam itu. Ia ingat meninggalkan kertas itu dan tak berani mencarinya lagi saking takut kembali bertemu Hamish.
“Kupikir kamu hanya membual. Tapi ternyata kamu cukup berbakat,” ujar Hamish datar.
Lalu ia menyodorkan paper bag besar yang tadi dia bawa dari meja kerja.
“Ambil.”
“A-apa ini, Tuan?” Kalea mengintip isinya, lalu ternganga. Matanya perlahan berembun.
“I-ini… alat gambar…”
“Ya. Gunakan untuk mengasah kemampuanmu.”
“Untuk saya?” suaranya bergetar.
Hamish mengangguk singkat.
Sebulir air mata jatuh. Kalea mendekap paper bag itu erat-erat.
Ia sudah sangat lama memimpikan memiliki alat gambar sendiri yang lengkap dan mumpuni. Dan sekarang, peralatan itu ada dalam pelukannya.
“Kamu menangis? Kenapa menangis?” Hamish menatap Kalea yang diam-diam terisak.
“Saya bahagia sekali, Tuan. Terima kasih banyak.”
Hamish hanya menggeleng. “Kenapa kamu ini cengeng sekali?”
Hamish menatap pipi Kalea yang basah. Tangan kanannya terulur ingin menghapus air mata yang terus meleleh itu. Namun, tanpa diduga, tangan yang sudah maju itu malah disambut Kalea.
Gadis itu mengecup punggung tangan Hamish dengan takzim dan penuh penghormatan
“Hei!” Hamish kaget, segera menarik tangannya. Ia tidak suka diperlakukan seolah sudah sangat tua.
“Terima kasih, Tuan. Tuan baik sekali. Tuan yang terbaik!” Kalea tersenyum lebar penuh semangat, bahkan membentuk tanda hati dengan jarinya.
Hamish tersenyum tipis. Rasa bersalah yang beberapa hari mengendap dalam hatinya perlahan terangkat. Meski kemudian, saat logikanya kembali terang ia bertanya-tanya, mengapa dia harus repot-repot seperti ini demi seorang gadis remaja yang jelas tak ada hubungan sama sekali dengannya?
***
“Papi. Aku mau penuhi janji pada Nala. Aku sudah bawa cincin asli.”Semua orang di ruang private itu langsung terdiam. Canda gurau keluarga yang tadinya meramaikan suasana seketika senyap. Perhatian mereka kini tertuju sepenuhnya pada William yang duduk tegak dengan sebuah kotak beludru kecil di tangannya.Hamish melotot, tubuh kekarnya langsung menegang. “Apa-apaan kamu?”“Papi, maafkan aku. Tapi aku sudah berjanji pada Shaynala,” ucap William tenang, meski jakunnya naik-turun menahan gugup.“Tiga tahun lalu aku memberikannya cincin perak suvenir di Thailand. Dan aku bilang padanya kalau aku akan membawakannya cincin asli jika aku sudah mampu. Sekarang, aku sudah memenuhi syarat. Kuliahku sudah selesai. Aku sudah masuk dunia kerja. Walaupun memang belum mapan secara mandiri, tetapi aku sudah bisa diperhitungkan. Aku cerdas dan pekerja keras. Lagipula aku anak dari pemilik rumah sakit swasta terbesar di negara ini. Sepertinya itu privilege juga. Aku tak akan kekurangan lahan untuk bela
Alih-alih menjawab pertanyaan Kalea, Hamish malah tertawa. Pria itu merangkul bahu sang istri dan membantu menerima buket bunga besar itu dari Eldan. “Maaf, jarang mengunjungi Mami,” ucap Eldan. “Ya Tuhan, tak apa, El. Yang penting kamu sehat, semua urusanmu lancar. Astaga, kamu sudah semakin tinggi rupanya.” Kalea mendongak kala Eldan mendekat untuk memeluknya. “Kamu besar sekali sekarang. Sudah mirip papimu,” ucap Kalea seraya mengusap-usap lengan Eldan. “Lihatlah bisep ini,” ucapnya lagi meraba otot-otot Eldan yang terasa bertonjolan. Rasa haru mendadak merekah dalam dadanya. Bayi ringkih sebesar botol yang ia susui dan dirawatnya dulu kini sudah tumbuh begitu sehat. Eldan pun tertawa dan menggandeng satu lengan Kalea. Mereka pun berjalan menuju ruang private yang sudah disediakan khusus. “Tapi, sebenarnya ada apa ini?” Kalea bingung. Sejak tadi ia disuguhi hal-hal tak seperti biasanya. “Apa ini kejutan darimu, El? Kamu mau datang kesini pun tak bilang-bilang,” lanjutnya. El
Tiga tahun berlalu. Shaynala tengah sibuk-sibuknya dengan dunia perkuliahan. Sementara itu, Kalea juga tengah gencar mengembangkan Lunare.Hari ini, Lunare tengah mengadakan sayembara langsung untuk para perancang muda. Memberi kesempatan luas bagi para designer berbakat yang baru lulus kuliah agar bisa bergabung ke Perusahaan.“Sayaaangg!” Hamish bersedekap di ambang pintu. Memperhatikan Kalea yang sejak tadi mengabaikannya.“Apa belum selesai?” tanyanya. Dia pun memutuskan untuk menghampiri Kalea yang masih sibuk koordinasi dengan timnya.“Sebentar lagi. Ada apa memang?” Kalea mendadak merasa bingung melihat Hamish yang tiba-tiba mendatanginya ke Lunare di jam kerja. Rela menunggu pula.“Bukankah kita ada janji makan siang?”“Makan siang? Kapan? Aku perasaan gak ada janji itu.” Kalea akhirnya mendatangi Hamish.“Ada.” Hamish meyakinkan. Tetapi, Kalea masih tak ingat sama sekali. Dari beberapa hari lalu ia bahkan sudah memberi tahu suaminya itu bahwa dirinya akan sangat sibuk pekan i
Kalea menyambut kepulangan suami dan anaknya dengan penuh sukacita. Tak hanya karena mendengar prestasi yang berhasil diraih Shaynala, tetapi juga karena mendapat kabar bahwa putrinya itu telah berbaikan dengan William.Bagaimana mungkin tak senang, ia dan Ginna selama empat tahun terakhir merasa ikut lelah dengan drama anak-anak mereka. Tak bisa lagi pergi berlibur bersama, tak bisa saling kumpul-kumpul dengan bebas, dan banyak hal lagi.Maka, pertanyaan pertama yang terlontar pun tak jauh-jauh dari seputar kabar perkembangan hubungan Shaynala dengan William. Seakan-akan kemenangan tinju Shaynala menjadi skala nomor dua.“Apa kalian jadian?” tanya Kalea menahan senyum.Shaynala tak buru-buru menjawab. Gadis itu hanya tertunduk seraya memainkan garpu di meja makan, menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.“Heey, kalo diam berarti iya. Betul, kan?” Kalea kini tak bisa menahan senyumnya lagi. Baru kali ini melihat Shaynala yang tersipu malu-malu.Sementara Hamish, pria itu hanya mencibi
Hamish memapah Shaynala di tengah hiruk pikuk Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Hari ini, semua orang akan kembali. Tim tinju, Stephen, juga geng Nenek Ling Ling hendak pulang ke Indonesia. Sementara Arsen ke Amerika. Dan William, pemuda itu akan bertolak ke Jepang. “Kamu kuliah di mana nanti?” tanya William pada Arsen. Kedua pemuda itu berjalan di paling belakang rombongan.“Entah. Mamaku menyuruhku di Amerika saja. Tapi, Papa menyuruhku masuk univ negeri di Indonesia biar gampang katanya. Entah apa yang dimaksud gampang papaku. Aku juga gak paham. Tapi, Papi Hamish lain lagi. Dia tak menyuruhku di sana di sini. Dia malah menyuruhku menggali dulu apa yang paling membuatku tertarik. Menyuruhku melihat apa yang sekiranya ingin aku raih.” Arsen menjawab dengan dua tangan masuk ke saku jaket baseballnya.“Hah? Apa tadi? Papi Hamish? Sejak kapan kamu panggil Papi?” William mengernyit.Arsen menyeringai, lalu mengangkat dagunya dengan sombong.“Mulai sekarang, aku juga memanggilnya Papi. Dia
Dari sejak makan malam dimulai, Hamish tak henti memperhatikan interaksi Shaynala dan William. Matanya begitu tajam pada setiap gerak-gerik keduanya, sekecil apa pun itu.Gara-gara ucapan Shaynala tentang perasaannya pada William sebelumnya, membuat Hamish menjadi gelisah sendiri.Dari sejak pulang jalan-jalan sore itu, Hamish mencium aroma-aroma konspirasi masa muda yang sangat mencurigakan di antara keduanya. Apalagi saat ia mendapati sebuah cincin perak yang asing telah melingkar di jari manis putrinya.“Apa mereka jadian? Jangan-jangan mereka pacarana di belakangku! Diam-diam? Hah? Hmmm!” Hamish bicara dalam hati sambil mengawasi William juga Shaynala.Ia sampai tak fokus pada makan malam perpisahan di restoran hotel tersebut. Ia juga beberapa kali tak menanggapi obrolan Johan seputar Shaynala gara-gara terlalu konsentrasi pada dua anak muda itu.Dan sepertinya, hanya ia saja yang tak menikmati makan malam itu tak peduli selezat apa menu-menu yang tersaji. Padahal, semua orang ten
“Apa?” Sarah yang sedang menggendong Eldan menatap Hamish dan Elias bergantian. Anak dan cucu lelakinya itu mendekatinya dengan wajah-wajah serius.“Ma, Mama yakin mau tinggal di sini?” tanya Elias.“Kalo tak yakin buat apa bicara?” jawab Sarah.“Terus rumah Mama bagaimana? Kosong?” lanjut Elias.“
Hamish mondar-mandir. Ia sedang menunggu satpam rumahnya yang sengaja ia telpon dan diminta tolong untuk membelikan beberapa tespek.Ia begitu gelisah. Antara harapan yang setinggi gunung dan juga ketakutan akan rasa kecewa.“Kalau misal nanti hasilnya negatif ….”“Ssstt! Tak masalah!” Hamish memot
Hamish belum berhenti tertawa melihat tampang cemberut Stephen. Hari ini pria itu berkunjung ke kantor Stephen untuk berkonsultasi.Malam itu, ia menelepon Stephen tetapi tak diangkat dan berikutnya ia sendiri yang mengabaikan telepon dari Stephen, lalu berakhir lupa untuk berkomunikasi.Sekarang,
Kalea mengantar Ginna untuk fitting baju pengantin ke Lunare dan setelahnya, mereka pergi untuk berjalan-jalan keliling mall.Hamish senang mendengarnya karena ini adalah kali pertama sang istri mau pergi bersosialisasi ke dunia luar sejak dari rumah sakit. Berharap, Kalea semakin membaik setiap ha







