Share

Teman Lama

Author: Shinee
last update publish date: 2026-09-16 07:57:24

"Selamat sore semua!"

Suara bariton tajam yang datang dari pintu depan kantor polisi membuat Monic langsung berbalik. Seorang pria bertubuh tinggi, tegap, dengan setelan jas mahal melangkah masuk membelah ruangan.

Monic langsung berlari kecil menyambut kedatangan pria tampan itu. Jemarinya bergelayut manja di lengan sang pengacara.

"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya pria itu dengan nada rendah dan tenang.

Monic seketika menunjuk memar di wajahnya seraya menceritakan kronologi kejadian
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Salah Paham

    "Pria itu keterlaluan. Dia bahkan menghina fisikku!"Barbara menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan wajah kesal. Tangannya masih mengepal, seolah-olah penghinaan Roland baru saja dilontarkan beberapa detik lalu.Aurelia yang baru tiba di kantor lamanya menatap wajah sahabatnya. Memar samar di dekat pelipis Barbara langsung menarik perhatiannya."Roland menghinamu?" Aurelia mengernyit. "Dia tidak terlihat seperti pria yang suka menghina.""Dia pria idiot." Barbara mendengus. "Tidak pintar memilih kekasih, apalagi menjaga perasaan perempuan."Aurelia menahan tawa kecil. "Kalau begitu, mungkin dia memang punya masalah.""Masalah?""Masalah penglihatan."Barbara menatapnya tajam. "Jangan bercanda. Aku sedang kesal."Aurelia mengangkat kedua tangan. "Baik. Aku serius."Alex memang menghubungi Aurelia pagi itu untuk membicarakan kerja sama dengan perusahaannya. Aurelia tidak menyangka kunjungan singkat tersebut berubah menjadi sesi curhat Barbara.Aurelia kembali memperhatikan wajah sahabatnya

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Jangan Memancing

    "Kau yang melempar tuduhan konyol lebih dulu!"Barbara menancapkan garpunya kencang di atas piring steak, menimbulkan suara denting tajam yang menyita perhatian beberapa pengunjung di meja sebelah."Aku hanya bertanya," sahut Roland santai seraya mengunyah dagingnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Tanggapanmu saja yang terlalu berlebihan.""Kau menyindir ukuran tubuhku, Roland!" sembur Barbara dengan napas memburu kaku. "Sama persis seperti yang dilakukan oleh kekasih idiotmu itu!""Dia bukan kekasihku," pangkas Roland cepat dengan raut kaku. "Dan aku sama sekali tidak pernah menyindir bentuk tubuhmu.""Tapi tatapan matamu barusan jelas-jelas menghakimiku!"Barbara menyambar tas tangannya dari atas kursi, berdiri tegak dengan dagu terangkat kaku. Pendar mata memancarkan kekecewaan yang coba ia sembunyikan rapat-rapt di balik topeng kemarahan."Terserah kau mau bicara apa," cetus Barbara dingin seraya melangkah lekas meninggalkan meja tanpa menoleh lagi.Roland meletakkan pisau dan g

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Siapa Yang Memulai

    "Apa yang salah dengan merayu suamiku sendiri?"Aurelia menaikkan sebelah alisnya, merendahkan bisikannya seraya sengaja mengalihkan pandangan matanya jatuh tepat di atas bibir tebal milik Caleb.Ia memajukan wajahnya hingga jarak di antara hidung mereka terkikis habis. "Apa istrimu ini sama sekali tidak boleh merayumu?" tuntut Aurelia dengan suara serak yang sengaja ia buat sedalam mungkin.Caleb menelan ludahnya kaku. Manik matanya terlempar turun, mengunci fokus pada bibir merekah milik Aurelia.Pria itu memiringkan kepala, mendekatkan parasnya berniat menyatukan bibir mereka dalam satu lumatan tajam. Namun sebelum jarak itu habis, Aurelia mendadak menarik wajahnya menjauh secara cepat. Wanita itu menyandarkan punggungnya ke sofa lalu menguap lebar."Ah, aku mendadak merasa mengantuk sekali," cetus Aurelia santai seraya menepuk mulutnya.Caleb mematung kaku di tempatnya selama beberapa detik. Terkekeh rendah dengan tawa ngebass yang amat seksi, pria itu akhirnya menyadari bahwa san

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Merayuku, Heh?

    "Kenapa aku harus cemburu?"Pertanyaan bernada keras itu terlontar dingin dari mulut Caleb. Pria itu fokus menatap lurus ke depan, mencengkeram erat setir kemudi hingga buku-buku jarinya memutih."Fakta bahwa aku adalah suamimu yang sah, itu saja sudah membuat pria itu kalah telak," tegas Caleb dengan intonasi tajam yang tidak ingin dibantah.Aurelia mengulum senyumnya, menyandarkan punggung ke kursi penumpang. "Tidak ada yang sedang bertanding di sini, Caleb."Rahang Caleb mengeras seketika. Kedua daun telinganya merona merah padam, sangat kontras dengan ekspresi kaku di wajahnya. Aurelia memperhatikan perubahan detail itu dengan cermat. Hatinya membuncah gembira. Binar di matanya mengisyaratkan kepuasan murni. Pria ini jelas-jelas menyimpan perasaan yang sangat dalam padanya. Aurelia bertekad memanas-manasi situasi ini sampai Caleb menyerah dan mengaku."Jika kau memang tidak cemburu, kalau begitu harusnya tidak masalah jika aku pergi makan malam dengannya," pancing Aurelia santai.

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Katakan Kau Cemburu

    "Dia tidak punya waktu untuk makan malam denganmu!"Caleb menyambar cepat sebelum Aurelia sempat membuka mulutnya. Lengan tegapnya merangkul bahu Aurelia secara posesif, menarik wanita itu hingga menempel erat di sisinya.Monic memasang wajah masam di sudut ruangan. Selain terbukti bersalah dari rekaman CCTV, Leon sama sekali tidak bersedia membelanya. Pria itu justru asyik bernostalgia dengan teman masa kecilnya. Mereka akhirnya keluar dari kantor polisi setelah bersalaman dengan wajah enggan dan kaku.Leon melangkah mendekati Aurelia dengan senyum tipis. Caleb berdecak kasar, memancarkan aura menolak yang amat pekat."Aku tidak akan merebut istrimu, Dude," cetus Leon santai, seolah bisa membaca dengan jelas riak frustrasi di dalam pikiran Caleb."Dia tidak akan pergi makan malam denganmu," balas Caleb ketus tanpa kompromi.Leon tertawa rendah, menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana kalau kita dengar dulu jawaban langsung dari Aurelia?"Caleb seketika memutar pandangannya, menatap waj

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Teman Lama

    "Selamat sore semua!"Suara bariton tajam yang datang dari pintu depan kantor polisi membuat Monic langsung berbalik. Seorang pria bertubuh tinggi, tegap, dengan setelan jas mahal melangkah masuk membelah ruangan.Monic langsung berlari kecil menyambut kedatangan pria tampan itu. Jemarinya bergelayut manja di lengan sang pengacara."Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya pria itu dengan nada rendah dan tenang.Monic seketika menunjuk memar di wajahnya seraya menceritakan kronologi kejadian versi kebohongannya sendiri.Aurelia yang duduk di kursi sudut tiba-tiba menyeletuk santai. "Roland, kurasa kau harus mendengarkan saranku dan Barbara. Sebaiknya kau mencari wanita lain untuk kau kencani. Dia ini pembohong ulung."Roland nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar penuturan frontal dari Aurelia. Sementara itu, Caleb berusaha keras menahan kedut geli di sudut bibirnya. Aurelia dalam mode kesal memang sama sekali tidak ada tandingannya.Monic meringis panik, mengeratkan pelukannya

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Pria Itu Caleb

    Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Selamat Tinggal

    Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Berhenti Berulah, Aureli

    Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Malam Pertama

    "Gantikan aku. Untuk malam ini saja." "Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status