LOGIN"Masalah utamanya adalah tidak ada satu pun pria yang bisa kumanfaatkan untuk membuatnya cemburu!"Barbara membuang napas kasar dengan raut frustrasi yang membakar wajah cantiknya."Banyak pria di luar sana, Barbara," sahut Aurelia cepat tanpa membuang waktu. "Kau hanya tidak pernah sudi memberi mereka kesempatan sedikit pun. Masalah sebenarnya ada pada dirimu sendiri. Hati dan pikiranmu sepenuhnya terkunci hanya untuk Alex. Kau sudah tergila-gila padanya sejak kalian masih remaja."Barbara bungkam total. Wanita itu tidak mencoba membantah patah kata pun dari kalimat sahabatnya.Aurelia menarik napas panjang, menatap mata Barbara yang meredup. Ia paham betul apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu. Ia mengalami hal yang sama persis selama bertahun-tahun. Tergila-gila dan memperjuangkan satu nama pria tanpa kepastian yang jelas."Posisi kita memang sangat sulit," bisik Aurelia rendah dengan raut wajah melunak. "Kita diperbudak oleh perasaan kita sendiri."Barbara menghembuskan n
"Jadi maksudmu Serena berselingkuh dengan Peter?!"Pekikan kaget Barbara memotong alunan musik lembut yang mengalun di dalam ruang perawatan salon eksklusif. Barbara membelalakkan matanya lebar-lebar, menatap Aurelia dari balik cermin tempat mereka sedang menikmati perawatan wajah akhir pekan.Aurelia menganggukkan kepalanya pelan. Keheningan menyergap sejenak saat terapis mereka merapikan handuk hangat di bahu masing-masing.Caleb sebenarnya mengajak Aurelia pergi berkencan lagi hari ini. Aurelia menolak ajakan tersebut secara halus dengan alasan masih jengkel atas kelakuan suaminya yang mendoktrin Maxi soal wanita. Bertepatan dengan itu, Barbara mengontaknya untuk pergi berbelanja dan merawat diri."Sampai sekarang Caleb bahkan tidak menjawab panggilanku lagi," aku Aurelia seraya menatap layar ponselnya yang sepi. "Menurutmu, apa kemarahanku padanya bisa diterima?"Barbara langsung mengangguk mantap tanpa ragu. "Sangat wajar jika kau marah, Aurelia! Serena membawa malapetaka besar d
"Selamat pagi, Ibu!"Maxi menerjang masuk ke dalam kamar orang tuanya, melompat bebas ke tengah kasur empuk di antara Caleb dan Aurelia. Bocah kecil itu melingkarkan lengan mungilnya di leher ibunya, menduselkan wajahnya dengan manja.Caleb seketika meraih tubuh mungil putranya dari samping, merengkuhnya erat lalu mulai memutar tubuh Maxi hingga tawa riang bocah itu pecah memenuhi kamar. Gelak tawa keduanya bergaung hangat. Hari ini akhir pekan. Tidak ada jadwal pekerjaan, tidak ada berkas yang menunggu di kantor."Bagaimana, Buddy? Kau sudah memutuskan gadis mana yang ingin kau jadikan pacar?" tanya Caleb seraya mendudukkan Maxi di dadanya.Aurelia hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah dua generasi Hamilton di depannya. Selalu saja topik wanita yang menjadi bahan pembicaraan mereka setiap pagi.Maxi mendesah berat, memasang raut wajah seolah menanggung beban hidup yang amat besar. "Sejauh ini Moza yang terbaik, Ayah. Tapi mau bagaimana lagi? Gadis-gadis lain di sekolah tida
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?"Langkah kaki Caleb terhenti seketika di ambang pintu kamar. Pria itu mematung kaku, menatap Aurelia yang baru saja selesai mandi dengan balutan jubah sutra putih. Caleb menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan raut canggung, memancarkan mata yang sarat akan permohonan.Aurelia memasang wajah ketus tanpa minat. Ia melangkah acuh menuju meja rias, mendaratkan bokongnya di atas kursi lalu mulai mengeringkan helai rambut basahnya di depan cermin besar."Bukankah kau sedang marah padaku dan tidak ingin tidur bersamaku?" cetus Aurelia sarkas, melemparkan sindiran tajam yang menghantam dada Caleb."Sekarang kenapa tiba-tiba kembali lagi."Aurelia meremas handuk di tangannya dengan perasaan dongkol yang membakar dada. Ia sudah ketakutan setengah mati membayangkan kehancuran rumah tangga mereka, namun Caleb justru sengaja memanfaatkan rasa takut itu untuk menarik perhatiannya. Alasan utama yang membuat amarahnya wajar meledak adalah keputusan Caleb yan
"Lepaskan jemarimu dari istriku sebelum aku mematahkan setiap tulang di lenganmu!"Suara bariton Caleb menggelegar di lorong apartemen.Caleb menarik Aurelia ke belakang tubuh tegapnya, memasang dada sebagai benteng pelindung. Tatapan birunya menyala bagai nyala api kelam, menatap Peter."Aku tidak akan segan-segan menghancurkan apa yang kau miliki, Peter. Aku tidak tahu kau bodoh atau bagaimana, kau tidak tahu siapa yang sedang kau lawan," ucapnya tajam, menjanjikan kehancuran total bagi karier dan hidup pria bajingan tersebut.Setelah memberi peringatan keras kepada Peter, Caleb menarik lembut jemari Aurelia untuk meninggalkan lorong apartemen terkutuk itu. Aurelia mengekor langkah tegap suaminya menuju lift, jantungnya berdegup kencang dibakar rasa cemas. Ia takut Caleb kembali terjebak dalam prasangka buruk."Caleb, aku bisa jelaskan," cicit Aurelia saat pintu lift tertutup rapat mengurung mereka berdua.Caleb memutar tubuhnya perlahan, menatap lurus ke dalam manik mata is
"Jadi, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"Roland menyilangkan kedua lengannya di atas meja, menatap lurus ke arah Caleb dengan penuh penasaran. Nada suaranya menuntut penjelasan secara instan.Caleb menghembuskan napas panjang yang amat berat. Pria itu mendaratkan tubuh tegapnya di atas kursi kulit, menyandarkan punggungnya seraya meremas pelipis yang berdenyut nyeri."Aku baru saja melakukan hal konyol," aku Caleb rendah, memperlihatkan keputusasaannya di hadapan sahabatnya. "Aku bertindak seperti pria dungu saat berkencan dengan istriku sendiri."Roland menyunggingkan senyum ejekan yang sangat tipis di bibirnya. "Seorang Caleb Hamilton bisa bertindak dungu di depan seorang wanita? Ini kabar yang sangat mengejutkan.""Tutup mulutmu, Roland," potong Caleb kaku, seraya melayangkan tatapan tajam dari iris mata birunya. "Aku datang ke sini bukan untuk mendengar celotehan merendahkanmu."Roland terkekeh pelan, menegakkan posisi duduknya. "Baiklah. Katakan padaku, kesalaha
Tubuh Clarissa tiba-tiba limbung.Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring yang membuat jantung Aurelia seperti berhenti berdetak sesaat.“Clarissa!”Aurelia berlari, menangkap tubuh kakaknya sebelum benar-benar jatuh. Ia terduduk di lantai ruang keluarga, memangku
"Gantikan aku. Untuk malam ini saja." "Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga
Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela
Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.







