LOGIN"Siapa yang mengizinkanmu masuk?"Langkah kaki Caleb terhenti seketika di ambang pintu kamar. Pria itu mematung kaku, menatap Aurelia yang baru saja selesai mandi dengan balutan jubah sutra putih. Caleb menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan raut canggung, memancarkan mata yang sarat akan permohonan.Aurelia memasang wajah ketus tanpa minat. Ia melangkah acuh menuju meja rias, mendaratkan bokongnya di atas kursi lalu mulai mengeringkan helai rambut basahnya di depan cermin besar."Bukankah kau sedang marah padaku dan tidak ingin tidur bersamaku?" cetus Aurelia sarkas, melemparkan sindiran tajam yang menghantam dada Caleb."Sekarang kenapa tiba-tiba kembali lagi."Aurelia meremas handuk di tangannya dengan perasaan dongkol yang membakar dada. Ia sudah ketakutan setengah mati membayangkan kehancuran rumah tangga mereka, namun Caleb justru sengaja memanfaatkan rasa takut itu untuk menarik perhatiannya. Alasan utama yang membuat amarahnya wajar meledak adalah keputusan Caleb yan
"Lepaskan jemarimu dari istriku sebelum aku mematahkan setiap tulang di lenganmu!"Suara bariton Caleb menggelegar di lorong apartemen.Caleb menarik Aurelia ke belakang tubuh tegapnya, memasang dada sebagai benteng pelindung. Tatapan birunya menyala bagai nyala api kelam, menatap Peter."Aku tidak akan segan-segan menghancurkan apa yang kau miliki, Peter. Aku tidak tahu kau bodoh atau bagaimana, kau tidak tahu siapa yang sedang kau lawan," ucapnya tajam, menjanjikan kehancuran total bagi karier dan hidup pria bajingan tersebut.Setelah memberi peringatan keras kepada Peter, Caleb menarik lembut jemari Aurelia untuk meninggalkan lorong apartemen terkutuk itu. Aurelia mengekor langkah tegap suaminya menuju lift, jantungnya berdegup kencang dibakar rasa cemas. Ia takut Caleb kembali terjebak dalam prasangka buruk."Caleb, aku bisa jelaskan," cicit Aurelia saat pintu lift tertutup rapat mengurung mereka berdua.Caleb memutar tubuhnya perlahan, menatap lurus ke dalam manik mata is
"Jadi, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"Roland menyilangkan kedua lengannya di atas meja, menatap lurus ke arah Caleb dengan penuh penasaran. Nada suaranya menuntut penjelasan secara instan.Caleb menghembuskan napas panjang yang amat berat. Pria itu mendaratkan tubuh tegapnya di atas kursi kulit, menyandarkan punggungnya seraya meremas pelipis yang berdenyut nyeri."Aku baru saja melakukan hal konyol," aku Caleb rendah, memperlihatkan keputusasaannya di hadapan sahabatnya. "Aku bertindak seperti pria dungu saat berkencan dengan istriku sendiri."Roland menyunggingkan senyum ejekan yang sangat tipis di bibirnya. "Seorang Caleb Hamilton bisa bertindak dungu di depan seorang wanita? Ini kabar yang sangat mengejutkan.""Tutup mulutmu, Roland," potong Caleb kaku, seraya melayangkan tatapan tajam dari iris mata birunya. "Aku datang ke sini bukan untuk mendengar celotehan merendahkanmu."Roland terkekeh pelan, menegakkan posisi duduknya. "Baiklah. Katakan padaku, kesalaha
"Berhenti menatapku!"Aurelia akhirnya menyerah, mengibaskan tangannya di depan wajah dengan panik. Belum ada satu menit Caleb mengunci pandangan matanya, rasa gelisah luar biasa sudah menyergap dadanya. Matanya bergerak liar ke kiri, ke kanan, ke atas, membuang pandangan ke mana saja asal tidak bertabrakan dengan manik mata biru suaminya.Caleb mengangguk pelan tanpa mengikis jarak. "Baiklah."Aurelia seketika melotot, menatap wajah datar pria di atasnya dengan nada kesal yang membuncah. "Kenapa kau bisa sepatuh itu?!"Caleb menaikkan sebelah alisnya, merespons dengan intonasi rendah yang sangat tenang. "Jika memang itu membuatmu senang, kenapa tidak? Bukankah sikap patuh ini yang kau inginkan dariku?"Aurelia terdiam kaku untuk beberapa saat. Ia menghela napas panjang, meratapi sikap kaku suaminya yang terlampau formal."Kau jadi sama sekali tidak menarik lagi jika begini, Caleb," ujar Aurelia akhirnya seraya bangkit dari paha tegap suaminya. "Kau bergerak dan menjawab persis sepert
"Bisa kau jelaskan apa yang baru saja kau lakukan, Aureli?"Suara Caleb bergetar rendah, mendayu begitu erat hingga meremangkan bulu kuduk Aurelia. Pria itu menghentikan bacaannya seketika, menundukkan kepala demi mengunci tatapan tepat pada iris mata istrinya.Aurelia merutuki kecerobohannya dalam hati. Beberapa saat lalu usai menyantap habis bekal makan siang, ia merogoh tas tangannya untuk mengeluarkan sebuah novel bergaris tebal. Ia menyerahkan buku itu pada Caleb. Caleb menerima benda tersebut dengan kening berkerut kaku, menampakkan raut bingung yang amat kentara.Tanpa meminta izin, Aurelia langsung merebahkan kepalanya santai di atas paha tegap suaminya. Ia menyunggingkan senyum manis, menikmati kepanikan halus yang membayang di paras tampan sang suami.Caleb mengudara buku itu di antara mereka. "Apa yang kau ingin aku lakukan dengan novel ini, Aureli?"Aurelia mendongak, menyahut dengan nada manja yang sengaja ia buat-buat. "Aku sangat penasaran dengan jalan cerita dan akhir
"Duduklah di sini."Caleb mengibaskan tikar piknik berbahan kain tebal di atas rumput hijau taman kota. Pria itu menyapu bersih sisa ranting dan daun kering sebelum menepuk permukaan tikar, mempersilakan istrinya duduk.Aurelia menyunggingkan senyum manis yang merekah sempurna. "Terima kasih, Caleb."Wanita itu mendaratkan tubuhnya dengan anggun, menata gaun mewahnya seraya menatap cemas raut kaku suaminya. Jantungnya berdetak cepat. Ia bertekad memanfaatkan momen piknik ini demi meluluhkan kembali sikap dingin Caleb.Sementara itu, Caleb mendudukkan tubuh tegapnya di samping Aurelia dengan gaya sok cuek. Pria itu membuang pandangan ke arah telaga, berpura-pura bersikap dingin dan tidak tersentuh. Padahal di dalam hatinya, dadanya bergemuruh bahagia melihat tingkah manis dan perhatian ekstra yang dilimpahkan istrinya sepanjang hari. Ia sengaja menahan diri agar bisa menikmati lebih banyak manja dan usaha Aurelia untuk merebut hatinya.Namun kekhawatiran halus tetap menyelusup di benak
Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me
Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela
Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.
"Gantikan aku. Untuk malam ini saja." "Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga







