Share

Bab 225. Murka Raja Debi

Author: nanadvelyns
last update publish date: 2026-04-15 13:22:34

Suasana di dalam kamar peristirahatannya yang tadi terasa dingin, kini mendadak terasa menyesakkan, seolah oksigen telah dihisap habis oleh kehadiran sosok pria paruh baya di hadapannya.

Denada masih memegangi pipinya yang berdenyut panas.

Rasa sakit akibat tamparan itu menjalar hingga ke telinganya, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih tajam.

Raja Debi tidak berhenti di sana. Matanya yang merah karena amarah menatap Denada seolah-olah wanita itu adalah kotoran yang menempel di sepatunya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Netty Tya
Diana bener2 Seorang Permaisuri yang di Damba RakyatNya...hehehehehe
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 225. Murka Raja Debi

    Suasana di dalam kamar peristirahatannya yang tadi terasa dingin, kini mendadak terasa menyesakkan, seolah oksigen telah dihisap habis oleh kehadiran sosok pria paruh baya di hadapannya. Denada masih memegangi pipinya yang berdenyut panas. Rasa sakit akibat tamparan itu menjalar hingga ke telinganya, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih tajam.Raja Debi tidak berhenti di sana. Matanya yang merah karena amarah menatap Denada seolah-olah wanita itu adalah kotoran yang menempel di sepatunya. Ia melangkah maju lagi, membuat Denada mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang yang keras."Kau pikir siapa dirimu, Denada?!" Raja Debi berteriak, suaranya menggelegar hingga debu-debu di langit-langit kuil seolah berjatuhan. "Aku memberimu nama, aku memberimu kemewahan, dan aku memberimu takhta Permaisuri Kekaisaran Delore! Semua itu kulakukan agar kau bisa menjadi wajah kekuasaan kita di hadapan Norvenia! Bukan untuk menjadi an

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 224. Cahaya yang Menundukkan Bayangan

    Aula Utama Kuil Fan Gu adalah sebuah ruang yang diselimuti oleh aura keabadian. Langit-langitnya yang tinggi ditopang oleh pilar-pilar batu hitam yang dipahat dengan relief teratai dan naga yang melilit. Di tengah aula, sebuah patung Buddha raksasa yang dilapisi emas murni duduk bersila, memancarkan ketenangan yang kontras dengan gejolak politik di luar tembok kuil. Ribuan lilin merah berjejer di rak-rak kayu, apinya menari-nari ditiup angin pegunungan yang menyelinap masuk, menciptakan bayangan yang bergetar di lantai marmer abu-abu.Aroma dupa cendana dan gaharu bercampur dengan wangi bunga teratai segar yang diletakkan di dalam jambangan perunggu. Suara detak muyun—kayu yang dipukul secara ritmis oleh para biksu—bergema di ruangan itu, menciptakan frekuensi yang memaksa setiap jiwa untuk tunduk dan merenung.Diana Sinclair dan Denada duduk berdampingan di atas bantal sutra putih di barisan paling depan. Keduanya

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 225. Murka Raja Debi

    Suasana di dalam kamar peristirahatannya yang tadi terasa dingin, kini mendadak terasa menyesakkan, seolah oksigen telah dihisap habis oleh kehadiran sosok pria paruh baya di hadapannya. Denada masih memegangi pipinya yang berdenyut panas. Rasa sakit akibat tamparan itu menjalar hingga ke telinganya, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih tajam.Raja Debi tidak berhenti di sana. Matanya yang merah karena amarah menatap Denada seolah-olah wanita itu adalah kotoran yang menempel di sepatunya. Ia melangkah maju lagi, membuat Denada mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang yang keras."Kau pikir siapa dirimu, Denada?!" Raja Debi berteriak, suaranya menggelegar hingga debu-debu di langit-langit kuil seolah berjatuhan. "Aku memberimu nama, aku memberimu kemewahan, dan aku memberimu takhta Permaisuri Kekaisaran Delore! Semua itu kulakukan agar kau bisa menjadi wajah kekuasaan kita di hadapan Norvenia! Bukan untuk menjadi anjing kecil yang gemetar dan menyerahkan kehormatan pada

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 223. Dua Bayangan di Lorong Suci

    Angin pegunungan yang menggigit berhembus melewati celah-celah pilar kayu Kuil Fan Gu, membawa aroma pinus dan salju yang kian menebal. Di dalam salah satu kamar peristirahatan yang disediakan untuk tamu agung, Diana Sinclair berdiri diam sementara Embun membantunya melepaskan jubah beludru merahnya yang berat.Sesuai peraturan kuno Kuil Fan Gu, setiap penguasa atau anggota keluarga kerajaan yang datang untuk memohon berkat harus menanggalkan segala atribut kemewahan duniawi. Tidak boleh ada emas yang berkilau, tidak boleh ada permata yang mencolok, dan tidak boleh ada warna-warna yang menantang kesucian kuil.Diana kini mengenakan hanfu berbahan katun halus berwarna putih polos. Potongannya sangat sederhana, tanpa sulaman phoenix ataupun benang emas. Satu-satunya hiasan yang tersisa adalah sebuah tusuk rambut dari giok putih susu yang disematkan untuk menahan sanggul sederhananya. Pakaian itu membuat kulitnya yang

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 222. Persimpangan Dua Takhta

    Pagi itu, Diana Sinclair bersiap meninggalkan kehangatan istana demi sebuah janji suci di perbatasan.Ia berdiri di depan cermin besar, membiarkan Embun dan Bibi Erna memakaikan jubah luar berbahan beludru tebal berwarna merah tua. Di bagian kerahnya, bulu serigala putih memberikan kehangatan tambahan bagi lehernya yang kini terasa semakin sensitif terhadap hawa dingin. Diana menarik napas panjang, mencoba meredam rasa gatal di tenggorokannya yang seolah siap meledak menjadi batuk berdarah kapan saja. Ia telah mengonsumsi pil herbal dosis tinggi pagi ini, hanya demi menjaga agar tubuhnya tetap tegak di hadapan publik."Yang Mulia, kereta sudah siap," lapor seorang kasim dengan kepala tertunduk.Diana mengangguk pelan. Ia melangkah keluar dari kediamannya, menyusuri koridor panjang menuju gerbang utama istana. Ini adalah pertama kalinya ia melangkah keluar dari tembok perlindungan istana sejak kematian Kaisar Naga. Be

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 221. Rahasia di Ujung Napas

    Keheningan yang mencekam menyelimuti paviliun utama setelah hiruk-pikuk tabib berakhir. Aroma anyir darah yang tadi memenuhi ruangan perlahan tersamar oleh wangi dupa gaharu yang baru saja dinyalakan oleh Embun sebelum ia diperintahkan keluar. Di atas ranjang sutra yang luas, Diana bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya masih sepucat kertas meskipun sisa-sisa darah di sudut bibirnya telah dibersihkan.Arthur berdiri di sisi ranjang. Ia masih mengenakan jubah kebesarannya yang kini ternoda bercak merah di bagian lengan—darah Diana. Tangannya yang besar terkepal erat di sisi tubuh, rahangnya mengeras hingga otot-pikirnya menonjol. Matanya yang biru gelap menatap Diana dengan campuran antara kemarahan, keputusasaan, dan ketakutan yang murni."Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?" Tanya Arthur cepat. Suaranya rendah namun bergetar hebat, menembus kesunyian ruangan seperti getaran petir sebelum badai. "Sejak kap

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 120. Retak yang Tak Terlihat, Hangat yang Tak Disadari

    Isabella duduk diam di hadapan cermin besar berhias ukiran perak. Tirai kamarnya setengah tertutup, membiarkan cahaya sore masuk dengan malas, jatuh di wajahnya yang pucat. Sangat pucat—bahkan bagi standar kecantikannya yang selalu sempurna. Bibirnya sedikit kering, matanya sayu, namun bukan kare

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 122. Peringatan Pertama

    Di Istana Selir Shofia, aroma dupa memenuhi udara, membungkus ruangan dengan ketenangan palsu yang rapuh. Wanita itu duduk bersila di depan altar Buddha, tasbih kayu cendana melingkar di jemarinya. Bibirnya bergerak pelan melantunkan doa, namun tak satu pun kata benar-benar me

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 118. Persiapan Tahun Baru

    “Bagikan semua ini kepada seluruh pelayan sebelum malam tahun baru,” ujar Diana sambil menyusun ulang daftar nama di tangannya, lalu menoleh pada dua wanita yang berdiri di sisinya. “Pastikan tidak ada yang terlewat.”“Baik, Putri,” jawab Bibi Erna dan Embun hampir bersamaan.Gu

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 124. Arwah Gentayangan Selir Agung

    Kereta yang membawa Diana berhenti perlahan di depan gerbang Istana. Salju tipis menyelimuti halaman batu, membuat suasana tampak sunyi dan dingin, berbeda dengan kehangatan yang biasa ia rasakan di Istana Putra Mahkota. Begitu pintu kereta dibuka, Embun segera turun lebih dul

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status