MasukRuangan itu dipenuhi aroma dupa cendana yang menenangkan, beradu dengan wangi teh melati yang mengepul dari cangkir-cangkir porselen halus. Diana melangkah masuk dengan perlahan, tangannya secara refleks menyangga bagian bawah perutnya yang kian membesar, memberikan kesan berat namun tetap anggun.Begitu sosok Diana muncul di ambang pintu, ia segera mengambil posisi untuk membungkuk, memberikan salam formal yang sudah menjadi kewajiban seorang Permaisuri kepada Ibu Suri. Namun, belum sempat lututnya menekuk, Karin sudah lebih dulu berdiri dari singgasana kecilnya."Apa yang kau lakukan, Diana? Tidak perlu, hentikan itu," ucap Karin dengan nada suara yang penuh kecemasan sekaligus kasih sayang. Ia segera melangkah mendekat, tangannya yang masih halus itu menahan bahu Diana agar tetap tegak. "Perutmu sudah sangat besar. Protokol kuno itu tidak lebih berharga daripada kesehatan calon pewaris takhta dan ibunya. Sebaiknya kau langsung duduk saja."Diana tersenyum tulus, merasakan kehanga
Arthur, Sang Kaisar yang baru beberapa hari lalu memimpin pengepungan militer dengan wajah sekeras batu, kini masih membenamkan wajahnya di leher Diana. Tangannya melingkar erat di pinggang istrinya, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, ia akan terseret kembali ke lautan selir yang haus perhatian."Diana... aku benar-benar lelah," gumam Arthur. Suaranya terdengar parau, bukan karena berteriak di medan perang, melainkan karena kelelahan mental yang luar biasa. "Kau tidak tahu betapa beratnya duduk di sana selama berjam-jam, mendengarkan silsilah keluarga yang bahkan tidak aku pedulikan. Aku merasa otakku seperti diperas habis."Diana terkekeh pelan, jemarinya terus bergerak mengelus rambut hitam Arthur yang sedikit berantakan. Ia merasa seperti sedang menenangkan seekor naga raksasa yang sedang merajuk karena tidak mendapatkan waktu tidurnya."Aku tahu, Arthur. Aku tahu," ucap Diana dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti sedang berbicara pada balita. "Tapi bukanka
Denada membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah denyut nyeri di sekujur tubuhnya dan rasa dingin yang menusuk di sisi ranjangnya. Ia menoleh dengan gerakan cepat, napasnya tertahan sejenak, namun seketika ia mengembuskan napas panjang penuh kelegaan. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Selimut sutra yang berantakan itu tidak lagi memerangkap tubuh pria yang paling ia benci di dunia ini.Alon sudah pergi. Seperti biasanya, pria itu akan segera bergegas menuju ruang strategi atau barak militer begitu fajar menyingsing, seolah-olah kehadirannya di kamar Denada hanyalah sebuah persinggahan wajib yang harus segera ia tuntaskan. Denada menatap langit-langit kelambu dengan pandangan kosong. Setidaknya, ia tidak harus terjaga dan dipaksa menatap wajah pria itu di bawah cahaya pagi. Ia tidak perlu berpura-pura tersenyum saat hatinya sedang menjerit jijik.Denada bangkit dengan susah payah, menyelimuti tubuhnya yang penuh jejak kemerahan dengan jubah tidur yang ter
Alon melangkah dengan langkah yang mantap namun tenang, jubah naga peraknya menyapu lantai marmer dengan suara seretan yang halus. Sorot matanya dingin, setajam mata elang yang sedang mengintai mangsa dari kegelapan.Seharusnya, Alon tidak berada di sini. Malam ini adalah masa hukuman kurungan bagi Denada atas kelalaiannya yang menyebabkan kematian janin Selir Murin. Namun, sebuah pesan singkat yang diselipkan secara rahasia oleh pelayan Denada baru saja sampai ke tangannya beberapa jam yang lalu.Pesan itu tidak berisi pembelaan diri atau permohonan ampun, melainkan sebuah undangan yang dibungkus dengan misteri. Rasa penasaran Alon—sebuah ego besar yang selalu ingin memegang kendali—mengalahkan kepatuhannya pada aturannya sendiri.'Krieet...'Alon mendorong pintu kayu mahoni itu perlahan. Begitu ia melangkah masuk, keningnya langsung terlipat dalam. Ia berhenti di ambang pintu, matanya menyapu seluruh ruangan yang telah berubah drastis sejak terakhir kali ia berkunjung dengan ama
Di dalam paviliun utama yang megah namun terasa seperti peti mati berlapis emas, Denada duduk diam di kursi kayunya. Cahaya lilin yang berpijar temaram memantul di matanya yang kini kehilangan binar kehidupan—mata yang seolah telah melihat dasar neraka dan memutuskan untuk menetap di sana.Cucu berdiri di sudut ruangan, jemarinya bertautan gelisah. Ia bisa merasakan aura yang sangat berbeda dari majikannya sejak kepulangan mereka dari penjara bawah tanah Raja Debi tadi malam. Denada tidak lagi menangis, tidak lagi mengeluh. Wanita itu kini menyerupai patung porselen yang dingin dan mematikan.“Cucu,” suara Denada memecah kesunyian, datar tanpa intonasi. “Sampaikan pada pihak Istana Kaisar, bahwa Permaisuri menunggu Yang Mulia Kaisar malam ini. Katakan padanya... aku merindukannya.”Cucu tersentak, matanya membelalak tak percaya. Setelah apa yang Alon lakukan—tamparan itu, penghinaan itu, dan fakta bahwa Alon merencanakan pengkhianatan terhadap keluarga Debi—bagaimana mungkin Denada
Diana membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kekosongan di sisi ranjangnya. Area itu masih terasa hangat, namun sosok tinggi besar yang biasanya mendekapnya dengan posesif sudah tidak ada di sana. Diana menghela napas pendek, sebuah desahan yang sarat akan pengertian namun tetap membawa sedikit rasa pahit.Malam ini ia tidak tidur bersama Arthur. Jadwal baru telah ditetapkan secara resmi melalui segel Harem—sebuah protokol yang Diana susun sendiri dengan tangan gemetar namun hati yang teguh. Sebagai Kaisar dari sebuah negeri yang baru saja menata kembali kekuatannya, Arthur mau tidak mau harus mengikuti tradisi kuno, membagi waktunya di antara wanita-wanita yang kini mengisi sayap belakang istananya. Ini bukan lagi tentang keinginan pribadi, melainkan tentang kestabilan politik dan loyalitas para bangsawan."Yang Mulia... Anda sudah bangun?"Suara lembut itu memecah lamunan Diana. Embun melangkah masuk dengan langkah kaki yang tenang dan teratur. Diana menol
Kereta kuda Diana bergerak pelan memasuki jalan utama menuju Gerbang Emas—pintu masuk terbesar yang menghubungkan dunia luar dengan pusat kekuasaan Kekaisaran. Gerbang itu menjulang tinggi, dilapisi ukiran naga dan burung phoenix yang dijahit dengan emas murni, memantulkan cahaya matahari pagi den
Kereta kerajaan bergerak perlahan menyusuri jalan berbatu yang diterangi cahaya matahari sore. Tirai tipis berwarna emas pucat bergoyang setiap kali roda kayu melewati guncangan kecil, menciptakan bayangan lembut yang menari di wajah Diana. Wanita itu duduk dengan punggung teg
“Di mana Putra Mahkota?”Pertanyaan Kaisar memecahkan lamunan Diana seperti bilah pedang yang memotong benang halus. Diana tersentak kecil, lalu segera menoleh pada pria paruh baya dengan wajah tegas namun berwibawa itu. Senyumnya langsung muncul—tipis, teratur, tidak
Diana menarik napas dalam, dadanya naik turun cepat seperti baru saja berlari jauh. Jantungnya berdegup keras, mengalahkan suara angin yang berhembus lembut dari celah jendela. Kedua matanya terbuka seketika—lebar, tajam, penuh keterkejutan yang bahkan belum sempat







