Beranda / Zaman Kuno / Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa / Bab 60. Tunas, Racun, dan Strategi yang Bertumbuh

Share

Bab 60. Tunas, Racun, dan Strategi yang Bertumbuh

Penulis: nanadvelyns
last update Tanggal publikasi: 2026-01-10 00:01:01

Kereta kuda baru saja berhenti sempurna di halaman Istana Putra Mahkota ketika seorang pelayan berlari tergesa dari arah dalam istana.

Napasnya tampak sedikit terengah, namun ia tetap menjaga sikapnya dengan membungkuk dalam di hadapan kereta.

“Yang Mulia Putri Mahkota,” ucapnya cepat namun jelas, “tanaman Anda sudah bertunas pagi ini!”

Kalimat itu membuat Diana yang tengah bersandar malas di dalam kereta seketika membelalakkan mata. Wajahnya yang sejak tadi tampak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 249. Arthur Melarikan Diri Dari Para Bunga!

    "Maaf, Anda dilarang masuk. Yang Mulia Kaisar menutup akses kunjungan ke Istana Permaisuri untuk siapapun, tanpa pengecualian," ucap salah satu penjaga dengan suara berat, sembari menyilangkan tombaknya di depan pintu.Langkah Isabella terhenti. Ia tidak mundur, tidak pula menunjukkan keterkejutan. Mata biru pucatnya hanya menatap datar ke arah ujung tombak yang menghalangi jalannya, seolah benda tajam itu hanyalah ranting pohon yang mengganggu.Namun, Ana tidak memiliki kesabaran setenang majikannya. Gadis itu maju satu langkah, wajahnya memerah karena tersinggung. "Tidak sopan! Apa kau tidak tahu siapa yang kau hadang sekarang?! Beliau adalah Yang Mulia Selir Kehormatan! Orang yang dipercayakan langsung oleh Kaisar untuk memegang otoritas Harem selama seminggu ini!"Seketika, raut wajah kedua penjaga itu berubah. Keyakinan di mata mereka goyah. Mereka saling tatap, terjepit di antara perintah kaku Kaisar dan kekuasaan baru yang sedang dipegang oleh wanita di hadapan mereka. Bena

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 248. Benang Merah di Balik Kelam

    Isabella duduk dengan sangat anggun di depan meja bundarnya, tangannya yang putih porselen memegang sendok keramik dengan gerakan yang sangat terkontrol. Ia menyesap sup itu perlahan, membiarkan rasa hangatnya menjalar ke seluruh tubuhnya, memberikan sedikit ketenangan di tengah badai intrik yang baru saja pecah kemarin.Namun, perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada makanan di hadapannya. Mata biru pucatnya yang tajam tertuju pada selembar kertas kecil yang baru saja diselundupkan secara rahasia ke dalam istananya melalui kotak kiriman bahan makanan rutin. Kertas itu tampak kusam, namun tulisan di dalamnya membawa pesan yang sangat krusial.Surat dari Denada.Isabella membaca baris demi baris tulisan tangan yang sedikit gemetar namun penuh tekad itu. Sebuah senyuman tipis, nyaris menyerupai seringai kemenangan yang samar, melengkung di bibirnya. Ia meletakkan kertas itu di atas meja, lalu mengetuk-ngetuk jemarinya secara ritmis."Sudah aku duga," gumam Isabella pelan, suarany

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 247. Mahkota Berduri

    Malam itu, salju turun dengan amukan yang lebih dahsyat dari biasanya, seolah-olah langit Norvenia dan wilayah kedaulatan Delore sedang bersekongkol untuk membekukan segala bentuk kehidupan yang tersisa. Di dalam Paviliun Permaisuri yang kini sunyi senyap akibat hukuman kurungan dari Alon, Denada berdiri di balik bayangan pilar kayu yang gelap. Hukuman satu minggu yang dijatuhkan Kaisar seharusnya mengunci langkahnya, namun bagi seorang wanita yang telah terbiasa hidup dalam intrik dan ancaman kematian, tembok istana hanyalah rintangan kecil yang bisa ditembus dengan kepingan emas.Ini adalah minggu ketiga di bulan ini. Sebuah jadwal keramat yang selalu ia jaga dengan nyawanya. Jadwal untuk menemui satu-satunya alasan mengapa ia masih bersedia bernapas di tengah neraka ini, ibunya."Yang Mulia, apa Anda benar-benar yakin akan keluar sekarang?" bisik Cucu, suaranya bergetar hebat karena ketakutan. "Penjagaan di luar sedang sangat ketat. Jika Kaisar atau orang-orang Raja Debi tahu An

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 246. Hanya Ingin Kau dan Aku

    Malam telah larut menyelimuti Istana Norvenia, menyisakan kesunyian yang hanya dipecah oleh desau angin musim dingin yang sesekali mengetuk jendela kaca paviliun Permaisuri. Di dalam kamar, cahaya lilin berpijar temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas permadani sutra. Diana bersandar di tumpukan bantal empuk, jemarinya yang pucat mengelus perutnya yang kian membesar. Tubuhnya terasa sangat berat malam ini, dan rasa lelah yang menghimpit paru-parunya membuat setiap tarikan napasnya menjadi perjuangan kecil yang sunyi.Ia baru saja hendak memejamkan mata, mencari sedikit kedamaian dalam lelap, ketika tiba-tiba ketenangan itu hancur berkeping-keping.BRAK!Pintu kayu mahoni yang berat itu terbanting terbuka dengan kekuatan yang luar biasa. Suaranya menggelegar di dalam ruangan yang sunyi, membuat jantung Diana melonjak liar karena terkejut. Secara insting, ia langsung terduduk tegak, kedua tangannya mendekap perut besarnya secara protektif sementara matan

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 245. Tawaran Aliansi

    Di tengah aula yang kini lengang setelah amukan Alon mereda, Isabella Sinclair berdiri tegak dengan keanggunan yang mengerikan. Ia mengusap punggung tangannya yang baru saja ditepis kasar oleh Denada, memijat jemarinya dengan gerakan tenang, seolah rasa perih itu hanyalah gangguan kecil yang tak berarti.Matanya yang biru pucat—warna yang selalu mengingatkan Denada pada langit musim dingin yang membeku—menatap sang Permaisuri dengan tatapan yang sangat dingin."Anda hanya akan bisa mati membusuk jika terus-menerus bersikap seperti ini, Yang Mulia Permaisuri," ucap Isabella. Suaranya rendah, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris keheningan.Denada, yang masih merasakan panas di pipinya akibat tamparan Alon, tersentak. Ia segera bangkit berdiri, meskipun tubuhnya masih gemetar karena gejolak emosi. Ia merapikan jubahnya yang berantakan dengan gerakan kasar, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa martabatnya yang baru saja diinjak-injak."Kau pikir dirimu pantas berbicara sepe

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 244. Uluran Tangan Tak Terduga

    "Apa yang kau lakukan, Isabella?" Tanya Alon tajam. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang bisa membuat siapa pun kehilangan nyalinya. "Kau berdiri membela wanita yang baru saja meracuni darah dagingku? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu karena terlalu lama mendekam di paviliun belakang?"Isabella tetap pada posisinya. Ia tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Perlahan, ia mendongak, menatap Alon dengan mata biru pucatnya yang jernih—tatapan yang selalu berhasil meluluhkan kekerasan hati Alon karena kemiripannya dengan Diana. Sementara itu, Denada yang berada di sebelahnya hanya bisa menunduk dalam, rambutnya yang berantakan menutupi wajahnya yang membengkak akibat tamparan tadi.Isabella mengerutkan keningnya tipis, ekspresinya berubah menjadi penuh keprihatinan yang sangat meyakinkan. "Yang Mulia, mohon dengarkan hamba. Hamba tidak sedang membela buta. Hamba hanya ingin memastikan bahwa Anda tidak menjadi korban dari muslihat yang lebih besar. Permaisuri telah dijebak

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 75. Ketika Keyakinan Menolak Padam

    Atas perintah Kaisar, Diana dibawa ke sebuah tenda peristirahatan yang terletak agak jauh dari pusat keramaian lapangan berburu. Tenda itu luas dan tertutup rapat, hanya diterangi lampu minyak yang cahayanya temaram dan bergoyang pelan tertiup angin malam. Tirai tebal berwarna

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 76. Darah, Topeng, dan Rencana

    Diana mematung di posisinya.Langkah Arthur terdengar jelas di telinganya, berat namun mantap, mendekat perlahan setelah pria itu menjatuhkan kepala singa ke tanah dengan suara gedebuk tumpul yang membuat beberapa bangsawan refleks mundur setapak. Bau darah segar bercampur tana

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 77. Retakan di Balik Kemarahan dan Pertanyaan yang Terlalu Jujur

    PRANG!!Suara pecahan porselen menggema keras di dalam tenda Selir Agung. Cangkir porselen mahal itu hancur berkeping-keping di lantai kayu, serpihannya berhamburan hingga ke kaki para pelayan yang serentak berlutut dengan tubuh gemetar. Tidak ada satu pun dari mereka

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 78. Di Antara Diam, Jawaban, dan Malam yang Terlalu Panjang

    Diana menyeruput tehnya perlahan, membiarkan rasa hangatnya mengalir turun ke tenggorokan, seolah ia membutuhkan waktu tambahan itu untuk menata pikirannya. Uap tipis dari cangkir porselen mengepul di antara wajahnya dan wajah Perdana Menteri yang duduk berhadapan dengannya. S

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status