เข้าสู่ระบบPRANG!!
Suara nyaring gelas yang terjatuh memecah keheningan malam, menggema keras di dalam kamar istirahat Pangeran Keempat.Bunyi itu begitu mendadak, begitu kasar, hingga membangunkan Selir Shofia yang semula terlelap dengan tubuh setengah bersandar di tepi ranjang putranya.Selir Shofia tersentak bangun. Matanya langsung membelalak kaget, napasnya tertahan ketika melihat pemandangan di hadapannya.Deon—putranya—meringis kesakitan. Tubuh pemuda itu menegang, jemarinya gemetar hebat.Air dari cangkir yang terjatuh barusan membasahi lengan dan bagian kulit di sisi tubuhnya.Kulit yang sudah rusak karena penyakit panas beracun itu langsung memerah lebih parah, bahkan terlihat mengilap seolah terbakar.“A—ah… ibu…” Deon mengerang lemah.“Deon!” Selir Shofia bangkit seketika. Jantungnya terasa seolah diremas. “Pelayan! Pelayan!!”Teriakannya menggema panik.Pintu kamar segera terbuka lebar. Be“Salam, Putri Mahkota.”Sai yang pertama kali menyadari kedatangan Diana segera membungkuk hormat seperti biasa. Gerakannya tetap rapi dan terlatih, namun kali ini sepasang matanya tak bisa menyembunyikan kebingungan. Tatapannya sekilas terangkat, mencuri pandang ke wajah Diana—raut yang jelas tidak biasa. Terlalu pucat. Terlalu dingin. Terlalu… menekan.Diana berhenti beberapa langkah dari kereta kuda. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari sosok Arthur dan kereta di belakangnya. Tanpa basa-basi, tanpa intonasi bercanda, ia bertanya lugas, “Itu Selir baru Yang Mulia?”Pertanyaan itu jatuh seperti pedang.Sai terbatuk pelan, refleks. Wajahnya langsung berubah. Terkejut, panik, dan seolah rohnya melayang sesaat meninggalkan raga.“Bu—bukan, Putri,” jawabnya tergagap. “Wanita itu adalah—”Belum sempat Sai menyelesaikan kalimatnya, suara wanita yang asing namun nyaring terdengar dari dalam kereta kuda.“Sai! Apa kau mau aku mati di tangan Putra Mahkota? Cepat bantu aku!”Diana terp
Diana membuka dua surat itu satu per satu dengan tenang, meskipun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia duduk di tepi ranjang kediamannya, cahaya sore menyusup masuk melalui jendela berukir, membuat kertas di tangannya tampak berkilau lembut.Ia membuka surat pertama.Meskipun tidak ada nama pengirim yang tertulis di sana, Diana tahu betul dari mana asalnya. Aroma tinta dan gaya bahasa yang terlalu berhati-hati itu sangat khas.Istana Selir Shofia.Pandangan Diana menyusuri barisan kalimat pendek yang tertulis rapi.“Saya harap setelah hari bakti berakhir, Putri bersedia memenuhi undangan Selir ini untuk meminum teh bersama di Istana.”Hanya satu kalimat. Tidak lebih. Tidak kurang.Namun Diana justru tersenyum tipis, senyum yang perlahan mengembang di bibirnya. Jari-jarinya mengepal lembut di atas kertas itu.“Begitu rupanya…” gumamnya pelan.Undangan itu bukan sekadar ajakan minum teh biasa. Itu adalah sebuah pernyataan sikap. Artinya Selir Shofia telah mengamb
“Apa yang kau lakukan di sini?”Suara Arthur terdengar datar, dingin, dengan kening yang terlipat sedikit. Nada itu cukup untuk membuat para pelayan yang berada di sekitar halaman menunduk lebih dalam, sementara udara pagi yang semula terasa ringan mendadak menegang tanpa alasan yang jelas.Diana yang baru saja menata ekspresi manisnya seketika menoleh ke arah Arthur. Tatapan matanya sempat melirik sekilas ke arah rombongan peti-peti besar yang masih terus diangkut masuk ke dalam istana, lalu kembali menatap pria di hadapannya dengan senyum sopan yang dipaksakan.“Ah… ini…” Diana menunjuk samar ke arah peti-peti itu. “Aku sedang mengawasi bahan herbal serta alat pembuatan obat baru.”Nada suaranya terdengar santai, seolah ia hanya sedang mengawasi pengiriman kain atau perhiasan biasa. Namun sebelum Arthur sempat bereaksi atau melontarkan komentar pedas seperti biasanya, Diana dengan sigap menambahkan kalimat lanjutan,
Pagi itu, halaman depan Istana Putra Mahkota tampak jauh lebih ramai dibanding hari-hari biasanya. Sejak matahari baru saja naik dan sinarnya menimpa atap-atap bangunan istana, para pelayan sudah lalu-lalang dengan langkah cepat dan wajah penuh konsentrasi. Beberapa di antara mereka memanggul peti-peti besar dari kayu tebal, sementara yang lain membantu membuka jalan atau memberi aba-aba agar barang-barang itu tidak saling berbenturan.Deretan peti besar itu disusun rapi, satu per satu diangkat melewati gerbang utama menuju bagian dalam istana. Dari luar saja sudah terlihat bahwa isinya bukan barang biasa. Kayunya kokoh, diikat kuat dengan tali tebal, dan beberapa peti bahkan diberi tanda khusus berupa kain merah kecil di sudutnya—penanda barang penting yang harus diperlakukan ekstra hati-hati.Diana duduk santai di kursi yang sudah disiapkan pelayan di sisi halaman. Kakinya menyilang anggun, tangannya menopang dagu
PRANG!!Suara nyaring gelas yang terjatuh memecah keheningan malam, menggema keras di dalam kamar istirahat Pangeran Keempat. Bunyi itu begitu mendadak, begitu kasar, hingga membangunkan Selir Shofia yang semula terlelap dengan tubuh setengah bersandar di tepi ranjang putranya.Selir Shofia tersentak bangun. Matanya langsung membelalak kaget, napasnya tertahan ketika melihat pemandangan di hadapannya.Deon—putranya—meringis kesakitan. Tubuh pemuda itu menegang, jemarinya gemetar hebat. Air dari cangkir yang terjatuh barusan membasahi lengan dan bagian kulit di sisi tubuhnya. Kulit yang sudah rusak karena penyakit panas beracun itu langsung memerah lebih parah, bahkan terlihat mengilap seolah terbakar.“A—ah… ibu…” Deon mengerang lemah.“Deon!” Selir Shofia bangkit seketika. Jantungnya terasa seolah diremas. “Pelayan! Pelayan!!”Teriakannya menggema panik.Pintu kamar segera terbuka lebar. Be
Kereta kuda baru saja berhenti sempurna di halaman Istana Putra Mahkota ketika seorang pelayan berlari tergesa dari arah dalam istana. Napasnya tampak sedikit terengah, namun ia tetap menjaga sikapnya dengan membungkuk dalam di hadapan kereta.“Yang Mulia Putri Mahkota,” ucapnya cepat namun jelas, “tanaman Anda sudah bertunas pagi ini!”Kalimat itu membuat Diana yang tengah bersandar malas di dalam kereta seketika membelalakkan mata. Wajahnya yang sejak tadi tampak lelah langsung berubah cerah.“Sungguh?” balas Diana spontan, bahkan sebelum Embun sempat membantunya turun.Arthur yang duduk berhadapan dengannya ikut terangkat alisnya.“Tanaman apa?” tanyanya datar, meski jelas terdengar sedikit heran.Namun Diana tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum lebar, lalu tanpa menunggu bantuan siapa pun, ia turun dari kereta dan berlari kecil menuju arah kediaman pribadinya. Hanfunya berkibar tertiup angin sore, la







