LOGINPRANG!!
Suara nyaring gelas yang terjatuh memecah keheningan malam, menggema keras di dalam kamar istirahat Pangeran Keempat.Bunyi itu begitu mendadak, begitu kasar, hingga membangunkan Selir Shofia yang semula terlelap dengan tubuh setengah bersandar di tepi ranjang putranya.Selir Shofia tersentak bangun. Matanya langsung membelalak kaget, napasnya tertahan ketika melihat pemandangan di hadapannya.Deon—putranya—meringis kesakitan. Tubuh pemuda itu meneAula utama Kekaisaran berdiri megah dengan pilar-pilar tinggi berukir naga emas yang melilit hingga ke langit-langit. Lantai marmernya berkilau, memantulkan bayangan para pejabat yang berbaris sesuai tingkatan mereka. Namun semegah apa pun ruangan itu, hari ini udara di dalamnya terasa berat—seolah setiap orang menahan napas yang sama.Di atas singgasana naga, Kaisar duduk tegap mengenakan jubah emas bersulam naga lima cakar. Mahkota kebesarannya memancarkan wibawa yang tak terbantahkan. Sorot matanya tajam, memerhatikan barisan pejabat di hadapannya.Di sisi kiri singgasana, berdiri Arthur di barisan paling depan. Posturnya lurus, wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Tepat di belakangnya berdiri Perdana Menteri Mahen, dengan tatapan waspada yang tidak pernah lengah.Di sisi kanan singgasana, Harsa berdiri di posisi terdepan. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya tenang, namun rahangnya sedikit mengeras. Tepat di belakangnya berdiri Alon, senyum tipis yang sulit diartikan selalu
Di antara kerumunan yang masih belum sepenuhnya bubar, Isabella berdiri dengan punggung tegak.Hanfu kuning yang dikenakannya hampir serupa dengan milik Diana—warna emas lembut dengan sulaman awan tipis di bagian lengan. Di kepalanya, tersemat tusuk rambut emas berbentuk phoenix yang berkilau di bawah cahaya matahari.Namun, jari-jarinya yang halus memainkan ujung kuku dengan gelisah.Diana?Pemilik klinik Ruyi?Tidak mungkin.Tidak mungkin!Isabella menggelengkan kepala cepat, seolah hendak menyingkirkan kenyataan yang baru saja ditamparkan ke wajahnya. Matanya menatap ke arah Diana yang masih dikelilingi bangsawan dengan sorot frustasi bercampur kebencian.Selama ini, ia menikmati pujian yang mengalir kepada Tiara karena Ruyi.Ia berdiri di sampingnya sebagai sekutu.Ia merasa berada di sisi yang benar—sisi yang lebih tinggi.Namun hari ini…Semua runtuh dalam satu siang.Saat para tamu mulai bubar satu per satu dan keramaian berubah menjadi bisik-bisik yang menjauh, Diana pun mel
“Tuan Damar.”Suara Diana terdengar tegas, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.Tatapan matanya lurus, mengandung peringatan yang jelas.Tuan Damar yang masih membungkuk segera menundukkan kepala lebih dalam. “Maafkan saya, Putri. Pelayan rendah ini tidak terima karena difitnah telah lancang pada Putri.”Nada suaranya terdengar tulus, namun juga penuh penyesalan.Diana tertawa di dalam hati.Inilah ‘pukulan’ yang ia maksud kepada Embun di dalam kereta kuda tadi.Bukan pukulan dengan kemarahan.Bukan dengan teriakan.Melainkan dengan membiarkan kebenaran berdiri di tengah keramaian dan berbicara sendiri.Ia tidak menjawab permohonan maaf Tuan Damar. Tidak perlu.Sebaliknya, ia menoleh pada tangan yang masih mencengkeram lengannya.“Menepi.”Suaranya datar.Tiara membatu di tempatnya. Jari-jarinya perlahan terlepas dari lengan Diana, seolah baru menyadari apa yang telah ia lakukan.Semua orang melihatnya.Untuk sesaat, Tiara berdiri tanpa suara, lalu lututnya
Tiara seketika tampak pucat.Wajahnya yang tadi berseri karena sanjungan kini kehilangan warna, seolah darah dalam tubuhnya mengalir mundur. Matanya menatap wanita yang berteriak kesakitan itu dengan kebingungan yang nyata—bukan pura-pura.Diana yang berdiri paling dekat memutuskan untuk mendekat. Langkahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam mengamati setiap detail.Wanita itu masih terduduk di tanah, kedua tangannya mencengkeram pipinya sendiri.“Panas… sakit… ahh!”Jeritannya membuat beberapa tamu mundur ngeri.Diana membungkuk sedikit untuk melihat lebih jelas—“Ah!”Ia mendadak mundur satu langkah, menutup setengah wajahnya dengan lengan hanfu, seolah terkejut oleh pemandangan di depannya.Reaksi itu membuat Tiara ikut terdorong rasa penasaran dan ketakutan. Ia menerobos kerumunan, jantungnya berdegup kencang.Begitu melihat kondisi wanita itu, napasnya tercekat.Wajah wanita tersebut kini memerah seluruhnya, bukan sekadar ruam biasa. Kulitnya tampak mengilap aneh, beberapa bagi
Setelah segala persiapan selesai, Diana melangkah keluar dari paviliunnya dengan langkah mantap. Gaun hanfu berwarna biru pucat yang dikenakannya tampak sederhana, namun potongannya elegan dan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi tusuk rambut phoenix yang menjadi lambang kedudukannya sebagai Putri Mahkota.Kereta kuda telah menunggu di depan.Embun berdiri di sampingnya, memegang ujung rok sang Putri agar tidak terseret tanah.Diana menaiki kereta tanpa banyak kata. Tirai ditutup, roda mulai berputar, dan kereta bergerak meninggalkan halaman istana menuju Kediaman keluarga Mahen.Di dalam kereta, suasana hening beberapa saat. Cahaya matahari siang menembus celah tirai, membentuk garis-garis tipis di wajah Diana yang tetap tenang.Embun menatap majikannya dengan raut heran yang sejak tadi ia tahan. Akhirnya ia tidak sanggup lagi.“Putri,” ujarnya pelan namun penuh rasa ingi
Isabella duduk tegak di hadapan cermin peraknya.Pantulan wajahnya terlihat sempurna—kulit pucat tanpa cela, bibir merah muda yang terlukis rapi, dan mata yang dingin bagai danau beku di musim dingin. Tidak ada siapa pun yang akan mengira bahwa di balik ketenangan itu, pikirannya berputar tanpa henti.Di belakangnya, seorang pelayan perempuan berdiri dengan tangan terampil, menyisir rambut panjang Isabella yang hitam berkilau. Setiap helai jatuh lembut di punggung gaunnya, menciptakan kontras indah dengan kain sutra berwarna gading yang ia kenakan.Hari ini ia harus menghadiri undangan Tiara Mahen.Undangan yang tampaknya sederhana—jamuan teh dan perbincangan ringan—tetapi Isabella tahu, tidak ada pertemuan di lingkungan bangsawan yang benar-benar tanpa maksud.Apalagi jika Diana juga akan hadir.Isabella menatap pantulannya tanpa berkedip.Ia tidak boleh kalah.Tidak dalam hal sikap.







